Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Restu


__ADS_3

Suasana menjadi sedikit canggung karena  ketiganya tampak berusaha untuk bisa mencairkan suasana yang kaku. Ajeng sendiri tampaknya sedang mempersiapkan untuk berbicara.


 


 


"Apa Nenek masih ingin kalau Raka ada jodoh lain yang disiapkan?" tanya Ajeng mulai bisa berani bersuara.


 


 


Nenek mendelikkan matanya mendengar pertanyaan dari Ajeng itu. Wajahnya terlihat berusaha untuk menahan segala rasa yang ada di dadanya.


"Kalau memang Nenek masih ingin Raka menikah dengan wanita lain. Aku tidak akan diam lagi sekarang," jawab Ajeng.


"Apa maksudmu?" tanya Nenek Sarah tak mengerti dengan arah pembicaraan Ajeng.


"Ajeng tidak akan diam lagi kalau sampai Raka dijodohkan lagi dengan wanita lain," jawab Ajeng sambil menatap wajah Nenek Sarah dengan wajah yang tak kenal takut.


 


 


Nenek Sarah terlihat mengerutkan dahinya ketika mendengar perkataan Ajeng. Sementara Raka tertegun mendengar ucapan Ajeng tak percaya kalau Ajeng bisa berani berkata seperti itu pada neneknya.


 


 


"Apa kau mencoba membuat drama di sini?" Sebuah suara berasal dari arah lain. Dia adalah Khansa.


 


 


Ajeng dan Raka langsung melihat ke arah Khansa yang sedang berjalan menuju tempat mereka duduk.


 


 


"Hei Raka, bawa cewek loe lekas pergi dari sini!" usir Khansa sambil menunjuk Ajeng. Kedua mata Khansa tampak tidak selaras. Tubuhnya pun sedikit limbung


 


 


Telinga Ajeng menjadi panas karena ocehan Khansa yang tiba-tiba datang mengusirnya. Sekilas Ajeng melihat Khansa yang masih memakai piyama dan belum mandi. Sepertinya dia baru bangun.


 


 


"Kenapa kau mengusirnya, apa mabukmu masih belum hilang!" bentak Nenek Sarah pada Khansa.


"Mami, aku tidak suka dia ada di sini!" rengek Khansa seperti anak kecil. Padahal usianya sudah mau menginjak 40 tahun.


"Enak saja kau main usir dia, dia adalah calon cucu menantu di sini. Lebih baik kau mandi sana. Baumu sungguh busuk!" ucap Nenek Sarah sambil menutup hidungnya.


 


 


Raka dan Ajeng memang bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari Khansa. Mungkin semalaman dia habis minum-minum di klub malam. Raka hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan tantenya itu. Tapi yang lebih kagetnya lagi neneknya tadi menyebut Ajeng sebagai calon cucu menantu. Bukankah itu tandanya neneknya sudah setuju dia menikah dengan Ajeng.


 


 


"Nek, makanan sudah siap di meja makan."


 


 


Tania datang dan menghampiri mereka. Khansa yang masih dipengaruhi mabuk itu pun kemudian berjalan menuju ruang makan. Tapi seketika Nenek Saraha langusng menarik kerah Khansa menagan tubhnya agat tidak bisa berjalan.


"Mami lepasin aku!" kata Khansa meronta-ronta. Dia tidak mau mamanya itu mempermalukannya di depan Raka dan Ajeng.


 

__ADS_1


 


"Mandi dulu sana! Kau akan menghilangkan selera makan orang jika kau masih dalam keadaaan seperti ini!" Nenek Sarah terlihat marah dan emosi pada Khansa. Anak bungsunya itu.


 


 


"Isshhh ... menyebalkan!" dengus Khansa kemudian melepaskan cengkraman Nenek Sarah lalu segera kembali ke kamarnya dengan langkah yang sempoyongan.


 


 


"Ajeng, Raka kita makan dulu!" ajak Nenek Sarah setelah Khansa pergi menjauh.


 


 


Raka kemudian mengenggam tangan Ajeng untuk berdiri dan berjalan menuju ke ruang makan. Nenek Sarah dan Tania berjalan di depan mereka. Ajeng berbisik-bisik pada Raka.


 


 


"Kak, apa Nenekmu sudah setuju kalau kita menikah?" tanya Ajeng sambil berbisik.


 


 


"Sepertinya iya. Wahh aku enggak nyangka kalau Nenek bisa mengatakan itu tadi sama Tante Khansa," bisik Raka.


 


 


Tania menoleh ke belakang dan melihat Raka dan Ajeng yang saling berjalan berdempet kayak perangko dan saling berbisik-bisik. Wajah Tania terlihat tidak suka. Namun segera Nenek Sarah menarik tangan Tania agar tidak terllau memperhatikan kedua sejoli itu.


 


 


 


 


Setelah makan siang selesai, kemudian Nenek Sarah mengajak Raka dan Ajeng untuk pergi ke belakang rumah. Di belakang rumah nampak halaman yang luas yang ditanami beberapa pohon dan tanaman hias. Hawa sejuk langsung terasa begitu mereka menginjakkan kaki di rumput halaman belakang itu. Namun kesejukan itu tidak berlaku bagi Tania. Dia merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Terutama melihat Ajeng yang begitu memamerkan kemesraannya dengan Raka di depan mereka.


 


 


"Raka, bagaimana keadaan Hotel sekarang?" tanya Nenek Sarah membuka percakapan mereka di halaman belakang dengan menyinggung keaadaan perusahaan mereka.


 


 


"Ada sedikit masalah, tapi kita sedang menyelesaikannya kok Nek," kata Raka.


 


 


"Ya aku mendengarnya dari Tania. Semoga kau cepat menemukan Bastian. Agar dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya!" seru Nenek Sarah.


"Baik Nek, urusan Hotel Mahesa biar Raka yang mengurusnya," ucap Raka.


"Nenek dengar kamu mau membuka cabang hotel baru lagi. Tapi kau belum menyampaikannya di rapat dewan direksi?" tanya Nenek Sarah.


"Iya Nek, rencananya memang Raka akan membuka cabang Hotel Mahesa lagi. Tapi setelah Raka menikah, baru rencana itu akan Raka sampaikan dan memang masih dalam tahap pembuatan perencanaanya. Jadi Raka belum bisa mengadakan rapat dewan direksi," jawab Raka.


 


 


"Oke, jadi benar kalian sudah siap untuk menikah dan mengumumkannya pada publik?" tanya Nenek Sarah kemudian menatap Raka dan Ajeng dengan sorot mata menginginkan jawaban yang puas.


"Iya Nek, semua sudah Raka urus, Minggu depan Raka akan menikah secara sah dan legal," ucap Raka sambil tersenyum memandang wajah Ajeng yang juga tak bisa berhenti tersenyum menatap wajah Raka. Sorot mata mereka berdua memang sangat terlihat jelas kalau keduanya saling mencintai.

__ADS_1


 


 


"Baiklah kalau begitu, Nenek akan merestui kalian berdua," ucap Nenek Sarah sambil tersenyum pada mereka berdua.


 


 


Raka dan Ajeng kemudian terlihat senang atas restu dari Nenek. Tapi tidak terlihat serupa dengan Tania. Rona wajahnya terlihat memerah menahan segala rasa dalam dadanya.


 


 


"O-ya Raka, Tania kalau bisa bekerja di Hotel. Sepertinya posisi Arabella di Hotel belum ada yang mengisi," kata Nenek.


"Iya Nek, Raka tidak keberatan. Selama ini sepertinya Tania sudah mampu untuk pindah ke Pusat," kata Raka.


 


 


Sementara Ajeng yang mendengar itu hanya tersenyum sinis. Dia sangat tidak suka kalau Tania bisa bekerja satu atap dengan Raka.Dia tahu kalau Tania itu menyukai Raka. Dan Ajeng harus waspada dan tidak menganggapnya remeh.


 


 


Tania pun hanya tersenyum dan mencoba bersikap biasa saja saat Raka menerimanya bekerja di Hotel Mahesa.


 


 


"Nek, apa Nenek ada acara sore ini?" tanya Ajeng mengalihkan topik pembicaraaan.


"Kenapa?" tanya Nenek Sarah.


"Ajeng ingin mengajak Nenek pergi jalan-jalan ke mall. Mau ya!" kata Ajeng mencoba akrab dengan Nenek Sarah.


"Ya, boleh juga. Apa Raka ikut?" tanya Nenek Sarah.


"Hmm, Raka ada urusan sama Daniel, jadi biar kalian berdua saja," kata Raka.


 


 


"Aku ikut!" ucap Tania.


 


 


Ajeng hanya membulatkan kelopak matanya mendengar Tania malah ingin ikut dengannya dan Nenek Sarah.


 


 


"Kau kan ada pekerjaan yang harus kau lakukan Tania. Nanti lain kali saja!" jawab Nenek Sarah membuat Tania menjadi cemberut.


"Tidak apa-apa Nek, ajak saja biar tambah rame!" ucap Ajeng berpura-pura baik.


"Benarkah. Ya sudah kita jalan bertiga," kata Nenek Sarah pada akhirnya.


 


 


Ajeng mencoba memberikan senyuman palsunya pada Tania. Padahal dia sebenarnya malas kalau dia sampai pergi dengan Tania.


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2