Restu Membawa Cinta

Restu Membawa Cinta
Barter


__ADS_3

Laksmi tidak bisa berhenti menatap wajah Daniel dengan rasa tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Daniel bisa mempunyai keberanian langsung melamar dirinya pada orangtuanya.


Sementara Daniel terlihat langsung akrab dengan kedua orang tuanya Laksmi. Bahkan tidak segan Papanya Laksmi memuji-muji Daniel yang begitu tampan dan sukses dalam karirnya. Papanya Laksmi bahkan mengatakan kalau Daniel adalah menantu idaman nomor satu di Indonesia. Mendengar itu hidung Daniel tak berhenti push up. Namun ketika melihat reaksi Laksmi ketika papanya memujinya malah melihat dirinya dengan ekspresi datar tanpa senyum sedikitpun. Daniel mencoba tersenyum manis pada Laksmi. Agar Laksmi bisa tersenyum sedikit saja. Namun Laksmi langsung membuang muka ke arah lain. Daniel hanya bisa mengelus dadanya perlahan untuk bisa lebih sabar lagi menghadapi sifat Laksmi yang seperti itu.


"Laksmi, bagaimana menurutmu Daniel ini, bukankah dia cocok sekali denganmu?" tanya Kevin Liu.


Laksmi tidak menjawab.


"Kau kan menjadi calon ibu, sudah seharusnya kau ada yang menjaga dan membantumu merawat keperluanmu," kata Kevin Liu.


"Pa, Laksmi terserah Papa saja, kalau Papa inginkan Laksmi cepat menikah. Lakukan saja! Aku hanya perlu menikah kan?" tanya Laksmi masih dengan wajah yang dingin.


Daniel kemudian memegang gelas minumnya untuk mencoba mengendalikan rasa sedihnya. Dia melihat jelas sekali kalau Laksmi sangat terpaksa melakukan pernikahan ini. Hatinya merasa terluka. Namun dia tidak akan menyerah.


"Kalau begitu, Papa akan menyiapkan pernikahanmu satu minggu lagi!" kata Kevin Liu.


"Apaaa!" seru Laksmi dan Daniel kompak kaget.


"Papa sudah memesan WO nya dari seminggu kemarin. Persiapannya sudah 70%," kata Kevin Liu.


"Kalian hanya tinggal mencari cincin," kata Mariana.


"Pak, Bu, saya akan mempersiapkan semuanya sampai tuntas."


Kevin Liu dan Mariana terlihat puas dengan jawaban Daniel. Kemudian Daniel mengeluarkan sebuah kotak cincin.


"Laksmi, aku sudah mempersiapkan sebuah cincin, tadinya ini untuk  melamar kamu. Sekarang karena kita akan segera menikah. Cincin ini jadikan pengikat janjiku, kalau pria yang bernama Daniel ini berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Laksmi seumur hidup," kata Daniel kemudian akan menyematkan cincin itu di jari Laksmi. Namun Laksmi nampak ragu menyodorkan jarinya.


Namun tangan mamanya memegang tangan Laksmi membuat jari itu akhirnya tersematlah cincin indah dari Daniel di jari  manis Laksmi.


Laksmi kemudian menatap jari manisnya yang sudah tersemat cincin dari Daniel. Seolah tak percaya kalau dirinya sudah menjadi milik lelaki bernama Daniel.


"Daniel, kita akan melakukan pemberkatan pernikahan kalian dia aula pernikahan Hotel Mahesa. Bisa kau urus itu?" tanya Kevin Lie.


"Tentu saja, itu bisa diatur," jawab Daniel dengan tegas.

__ADS_1


"Baguslah, tempat ini memang sangat pas dan paling bagus di antara semua hotel yang pernah aku datangi. Hotel Mahesa sekarang memang sangat menawan sekarang," kata Kevin Lie memuji.


"Terimakasih, ini tidak lepas dari kerja keras Pak Raka sebagai Presdir," kata Daniel membanggakan bosnya itu.


"Laksmi, bukankah kau bekerja sebagai Manajer mantan istri Presdir Raka?" tanya Mariana.


"Bukan mantan bu, tapi masih istrinya," jawab Daniel meralat ucapan mamanya Laksmi itu. Untung tidak ada Raka, kalau dia sampai dengar lagi kalau ada orang yang memanggil Ajeng adalah mantan istrinya. Dia akan mengamuk.


"Oh, jadi bukan mantan, masih istrinya?" ujar Mariana manggut-mangggut.


"Hebat betul. Suaminya seorang Presdir Hotel, istrinya adalah seorang aktris dan artis terkenal," kata Kevin Liu memuji.


Laksmi hanya menanggapinya dengan datar.


"Pak, Bu. Untuk membicarakan pernikahan ini orangtuaku mungkin akan datang ke Jakarta minggu depan," kata Daniel memberitahukan itu.


"Baiklah, pokoknya kalian dalam waktu dua minggu lagi, harus menikah. TITIK!" kata Kevin Liu dengan memandang wajah Laksmi dengan tatapan tajam. Seolah Laksmi akan menolak pernikahan itu.


Daniel kemudian menjawab dengan penuh keyakinan. Dan Laksmi hanya menunduk pasrah dengan semuanya itu.


****    ****   ****


"Aku tidak mau ke rumah, bawaanku kan di Hotel," kata Ajeng.


"Kalau begitu, ayoo kita kembali lagi Hotel!" bisik Raka nakal di telinga Ajeng.


Tapi baru saja Ajeng hendak menjawab. Sebuah teriakan dari dapur mengganggu mereka.


"Nyeeet, ken helep mi plisss!" teriak Bang Gor dari dapur membuat Raka menjadi gagal lagi untuk membawa Ajeng pulang dari rumah Bang Gor. Sebenarnya tidak menjadi masalah kalau Ajeng mau tidur di rumah Bang Gor, asal dia juga bisa tidur berdua dengan Ajeng. Tapi Shanum malah memonopoli Ajeng, sehingga dia hanya bisa tidur di sofa ruang temu dan hanya bisa memeluk bantal sofa yang keras seperti batu.


Penasaran dengan apa yang dikerjakan Bang Gor sampai dia minta dibantu Ajeng. Dia pun segera menyusul ke sana. Dan rupanya di sana Bang Gor sedang membuat sebuah hasil karya dari sebuah bahan plastik bekas. Di sampingnya nampak Shanum sedang kesusahan membuat sebuah prakarya.


"Nyet, loe kan pernah menjadi guru TK. Nih tolong bantuin Shanum buat prakarya bahan bekas ini!" kata Bang Gor sepertinya dia merasa putus asa dan menyerah untuk membantu tugas rumah putrinya itu.


Ajeng pun tidak keberatan membantu Shanum. Tapi tidak dengan Raka. Dia sangat kesal dengan berbagai macam alasan Shanum membuat Ajeng semakin berlama-lama di sini. Lalu Raka menjadi teringat sesuatu. Sesuatu yang bisa menghentikan Shanum menguasai Ajeng. Lama-lama kalau dibiarkan terus. Ajeng akan seperti terlihat ibunya si Shanum.

__ADS_1


Perlahan Raka pun meninggalkan mereka dan keluar untuk menelepon seseorang.


"Halo Daniel,kau ada di mana?" tanya Raka.


"Aku baru saja selesai bertemu dengan calon mertua Pak, ada apa ya?" tanya Daniel.


"Bisa tidak kau ke rumah Bang Gor sekarang!" kata Raka. Dia tidak tahu kalau sebenarnya kondisi Daniel yang merasakan kelelahan.


"sebenarnya, aku sedang lelah, kalau itu darurat saya akan usahakan," jwab Daniel.


Raka nampak ragu menjawab pertanyaan Daniel. Sebenarnya cara satu-satunya agar Shanum tidak mengusai Ajeng lagi. Kapan buka puasanya kalau Ajeng terus menerus bersama Shanum.


"Niel, bisakah kau membantuku?" tanya Raka.


"Iya Pak, bantu apa dulu?" tanya Daniel.


"Kau sebaiknya ke sini dulu!" kata Raka membuat Daniel menjadi mau tidak mau menuruti bosnya itu.


Dan barulah Daniel sadar, ketika dirinya datang ke rumah Bang Gor, rupanya Raka menjadikan dirinya untuk menjadi tumbal. Begitu dirinya datang, Shanum langsung menempel padanya.


"Pak, jadi ini maksudnya?"tanya Daniel sambil menunjukkan Shanum yang sedang memintanya mengerjakan PR.


Raka hanya tertawa terkekeh. Dan begitu Ajeng bisa bebas. Raka kemudian mengajak Ajeng untuk pulang ke hotel dengan alasan kalau Ajeng harus menemui Laksmi, manajernya.


"Ajeng, Tante pulang dulu ya!" kata Ajeng pamitan.


"Iya Tante, dadaaaah!" seru Shanum malah tak melihat Ajeng yang akan pergi. Dia malah asyik memperhatikan Daniel yang sedang membantunya mengajarinya PR.


Daniel kemudian menatap sinis ke arah Raka. Dia mendengus kesal. Karena bosnya itu sudah memanfaatkan dirinya sebagai tebusan atas kebebasan Ajeng dari Shanum. Raka baru saja melakukan barter. Mengganti Ajeng dengan dirinya.


Daniel meski lelah, dia memang harus mengiklaskan acara barter itu. Agar bosnya itu senang dan bahagia karena sudah tidak sabar buka puasa itu.


Catatan Author.


Jangan lupa untuk mendukung author dengan memberi vote banyak, komen dan like. Semakin banyak semakin membuat level karya ini naik.

__ADS_1


Kalau ingin cerita ini bisa bertahan. Buktikan dengan cara yang kalian punya. Hehhee.


Yang punya banyak koin. Bagi tip nya untuk author. Yang ingin memberikan tip atau hadiah tapi tidak punya koin. Bisa membeli dengan Gopay harga yang paling murah 14.000 atau pakai pulsa. Selamat berbagi! 😊 😍 😘 😚


__ADS_2