
Raka melajukan mobilnya menuju bandara. Untuk menjemput Pak William yang katanya hendak berkunjung ke Hotel Mahesa untuk urusannya dengan Raka yang memang belum selesai.
Sampai di bandara, Pak William rupanya bersama dengan istrinya.
"Selamat Pak William dan Bu Maryn!sapa Raka sopan saat dirinya sampai dan melihat keduanya sedang berdiri menunggunya.
"Pagi juga Nak Raka," balas sapaan mereka.
"Silakan ikut ke mobil saya Pak!" ajak Raka menunjuk mobilnya yang terparkir.
"Maaf merepotkanmu pagi-pagi ini ya!" ucap Pak William merasa tidak enak dengan Raka.
"Tidak apa-apa kok Pak, ini kan tidak setiap hari."
Raka kemudian mempersilakan masuk Pak William dan Bu Maryn naik ke dalam mobilnya. Setelah mereka berdua masuk, Raka pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya kembali menuju hotelnya.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu dengan Ajeng?" tanya Pak William yang mengetahui istri Raka tersebut.
"Sedang dipersiapkan kok Pak, sedikit terlambat karena memang kesibukan kami berdua.Tapi kalau tidak ada aral melintang, akhir bulan ini kami akan meresmikan pernikahan kami," jawab Raka.
"Baguslah itu, semakin cepat semakin baik!"
"Nak Raka, apa Nak Raka bisa mempertemukan aku dengan Khansa?" tanya Ibu Maryn.
Raka mengangkat alisnya ketika ibu Maryn menyebut nama bibi atau tantenya itu.
"Apa Ibu mengenal tante saya itu?" tanya Raka.
"Tentu saja, dia sudah aku anggap adikku. Dulu ayahmu sering mengajak adiknya itu kalau kemana-mana. Dan sering main juga sama saya," jawab Ibu Maryn,
"Dia sih orang sibuk,entahlah sibuk apa.Padahal jarang main film dan sinetron, heheehhe," jawab Raka.
Khansa adalah adik dari Restu Mahesa, umurnya hampir sama dengan Bayu Demian, kakaknya. Memang Khansa itu adalah anak tiri dari Nenek Sarah. Suaminya memberi anak hasil pernikahannya dengan wanita lain. Kakek Raka itu menitipkan Khansa setelah meninggal dan Khansa terpaksa ia asuh dan dibesarkan olehnya. Namun itu semata-mata hanya karena Khansa mempunyai harta yang ditinggal oleh suaminya dan istrinya itu. Tetapi di luar dugaan Khansa tumbuh menjadi anak yang bisa menghibur semua keluarga Mahesa, karena Restu Mahesa sendiri menganggap Khansa seperti adik dari ibu kandungnya sendiri. Bahkan Khansa sering dimanjakan oleh Restu Mahesa, yang kala itu harusnya dia sudah pantas memiliki seorang anak. Namun diusianya yang hampir mendekati senja, Restu belum menikah dan pada akhirnya menikah dengan Rika dan lahirlah anak bernama Raka Mahesa. Raka dan Khansa pun dibesarkan bersama. Karena perbedaan usia yang tidak jauh. Pada akhirnya Khansa menolak dipanggil Bibi atau Tante. Dia lebih senang kalau Raka memanggilnya dengan sebutan nama saja atau Kakak saja.
"Dia belum menikah juga?" tanya Ibu Maryn.
"Belum, tapi kayaknya sih kalau pacar ada," jawab Raka.
"Huuftt, harusnya dia sudah menikah ya Pah," sesal Ibu Maryn pada Pak William.
"Ya mungkin karena belum berjodoh."
"Nanti saya usahakan untuk menghubungi Khansa," jawab Raka untuk tidak mengecewakan Ibu Maryn yang nampaknya ingin sekali bertemu dengan Khansa Brigita. Artis Indonesia yang sudah tiga puluh delapan tahun tapi masih hidup melajang itu.
"Terimakasih Nak Raka, aku memang sudah lama tidak bertemu dengannya," ucap Ibu Maryn.
"Oke nanti akan aku panggil berkunjung ke Hotel,"janji Raka.
Percakapan kemudian berlanjut pada urusan-urusan bisnis Raka. Pak William berkali-kali memuji Raka yang sama persis dengan ayahnya dulu.Sangat pekerja keras dan bertanggung jawab. Namun Raka hanya menjawabnya dengan merendah. Kalau sebenarnya passion dia bukan dalam bisnis. Seni perfilman yang membuat dia lebih cocok dan sangat menikmati dirinya ketika menjadi seorang sutradara. Pak William pun meresponnya dengan luar biasa. Katanya Raka juga hebat juga dalam bidang itu. Apalagi katanya istrinya juga seorang aktris yang hebat.Dia memuji Raka dan Ajeng adalah pasangan yang serasi.
Tentu saja hati Raka menjadi senang dipuji seperti itu.
__ADS_1
Sampai di Hotel, Raka kemudian meminta karyawannya untuk mengantar Pak William dengan istrinya menempati kamar yang paling bagus dan mewah. Setelah mengantar keduanya dilayani dengan baik oleh para pegawai hotelnya, Raka kemudian pamit untuk mengurus urusan yang lain. Pak William dan istrinya pun mengucapkan terimakasih karena sudah menjemput dan melayani mereka dengan baik.
Raka kemudian mencoba menghubungi ponsel Ajeng, baru saja beberapa jam dia berpisah dengan Ajeng. Hatinya sudah kembali lagi rindu.
"Ajeng, kamu di mana Sayang?" tanya Raka.
"Aku lagi di kamar Kak Laksmi, Kak Laksmi sakit Kak, dia sepertinya demam dan mengigau menangis terus," kata Ajeng.
"Sakit, kok bisa sih?" tanya Raka.
"Ya namanya juga manusia, pasti bisa sakit dong Kak," kata Ajeng.
"Nah terus kenapa dia menangis?" tanya Raka heran.
"Engga tahu Kak," jawab Ajeng.
"Sudah coba telepon Daniel?" tanya Raka.
"Kak Laksmi ngelarang aku ngasih tahu Daniel Kak," sambung Ajeng.
"Huffffhht." Raka membuang napas berat. Merasa heran dengan Laksmi. Seharusnya kan calon suaminya tahu kalau dia lagi sakit.
"Aku hubungi seorang dokter," kata Raka.
"Iya Kak, kayaknya mungkin ada hubungannya dengan kehamilannya," tambah Ajeng terdengar cemas.
"Atau kita bawa saja langsung ke rumah sakit?" tanya Raka.
"Sepertinya lebih baik memang kita langsung bawa saja ke sana!"
"Oke, sekarang ini aku sedang menuju kamar kalian!"
Sampai tiga kali barulah teleponya itu dia angkat.
"Ada apa Pak, ini kan hari libur?" tanya Daniel dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Kamu masih di rumah Bang Gor?" tanya Raka.
"Sudah pulang tadi subuh Pak, sekarang aku lagi nuntasin tidurku yang semalam kurang nyenyak," jawab Daniel sambil menguap.
"Tidak ada kata nuntasin tidur sekarang Niel,cepatlah datang kemari!"kata Raka.
"Saya nolak lembur Pak, hari ini saya mau tidur judulnya." Daniel menolak.
"Judul pale lo peang Boon. Buruan kemari kalau enggak mau disebut calon suami durhaka!" ketus Raka.
"Maksud Bapak apa kok jadi nyebut calon suami yang durhaka?"kali ini nada suaranya sudah berubah. Mungkin nyawanya sudah terkumpul.
"Laksmi sakit, harus segera dibawa ke rumah sakit!" kata Raka.
"Apaaaaa!" teriak Daniel kaget.
"Buru kagak usah lama, kalau enggak mungkin Laksmi bakal ogah jadi istrimu!" kata Raka dengan sedikit mengancam.
"Si-siap Pak, saya langsung meluncur!"jawab Daniel dan langsung menutup sambungan teleponnya. Sepertinya memang ancaman tadi cukup berhasil juga membuat Daniel panik. Raka pun tersenyum karena merasa berhasil.
Triiing
__ADS_1
Pintu lift terbuka, dan Raka segera melangkahkan kakinya menuju kamar Laksmi. Dia cukup cemas juga sih karena sudah memberi tahu Daniel sementara Laksmi sendiri tidak mau Daniel mengetahuinya sakit.
Raka kemudian membunyikan bel di pintu kamar Laksmi. Tak lama kemudian Ajeng pun membukakan pintu.
"Bagaimana keadaaanya?" tanya Raka.
"Masih demam, aku sudah coba kompres tadi pakai air hangat," jawab Ajeng.
"Ya, apa dia masih menangis?" tanya Raka penasaran.
"Kadang berhenti, tapi nanti nangis lagi," lapor Ajeng.
"Dia bisa nangis juga?" tanya Raka aneh. Dia tidak percaya kalau Laksmi yang berwajah jutek dan dingin itu bisa menangis.
"Mungkin karena panasnya tinggi, dia jadi tidak sadar menangis Kak," ujar Ajeng. Raka kemudian dengan langkah yang sengaja tidak bersuara mencoba melihat Laksmi dari kejauhan. Nampaklah Laksmi yang sedang terbaring pucat dengan kening masih menempel kompresan.
"Dia sedang tidur."
"Yang, tadinya aku mau ngajak kamu jalan-jalan!" kata Raka.
"Jalan-jalan bagaimana, kan kita mau antar dia ke rumah sakit," desis Ajeng.
"Ya tadinya sebelum tahu dia sakit," jawab Raka sambil mencubit pipi Ajeng.
"Terus gimana, kita bawa Kak Laksmi ke rumah sakit sekarang?" tanya Ajeng.
"Tunggu Baboon datang dulu!" jawab Raka.
"Kakak ngasih tahu dia?" tanya Ajeng.
Raka mengangguk sambil nyengir.
"Calon suaminya harus tahu dan harus siaga lah!" kata Raka beralasan.
Ajeng hanya menarik napas dalam-dalam. Karena takut Laksmi akan marah padanya kalau Daniel tahu dan sampai datang ke sini.
"Tenang saja Sayang, Laksmi hanya sedikit jaga gengsi saja, sebenarnya dia juga butuh Daniel ada di sampingnya."
Ajeng kemudian manggut-manggut paham. Bagi seorang seperti Laksmi memang tidak mungkin dia terang-terangan minta perhatian dari calon suaminya. Sudah sifatnya yang seperti itu.
Bersambung.
Kumpulkan terus dukungannya untuk author ya!
Dengan memberikan vote poin yang banyak.
Like dan juga komentar kalian supaya author mengetahui keberadaan kalian wahai pembca setia EEX.
Dan bagi yang belum mengirimkan tip. Yuuuk berbagi tip pada author yang menyayangi kalian.
__ADS_1