RETAK

RETAK
PART 12


__ADS_3

Davin dikamar langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kasar, sambil mengacak-acak rambutnya


"argh kenapa gue gini" ucap Davin dengan nada frustasi


Tok!Tok!Tok


suara ketukan pintu membuat Davin bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamarnya, dia mendapati Bu Ina dengan wajah cemas


"ada apa Bu?" tanya Davin khawatir


"didepan-"


"depan ada siapa bu?"


"nyonya" singkat Ina bisa membuat raut wajah Davin berubah datar


"usir saja" ujar Davin lalu langsung masuk ke kamarnya dan duduk di sofa yang berada di kamar tersebut, Bu ina menghampiri Davin


"nak, coba temui nyonya."


"untuk!"


"dia masih ibu kandungmu, kamu tidak boleh begitu dengan seorang wanita tanpa wanita kamu tidak ada di dunia ini Davin!" ucap Ina yang terbawa emosi, Davin menatap Ina dengan tajam, tatapan yang selalu dia berikan kepada semua orang kecuali Ina tapi kini tatapan membunuh itu dia tunjukan ke Ina membuat Ina merasa bersalah dengan ucapanya, ucapan Ina malah membuat Davin bersedih, ini hanya bisa mengerutuki ucapanya tadi


"Kalo Davin boleh milih, Davin juga gak mau terlahir dari rahim dia! Davin temuin dia" kata Davin lalu meninggalkan Ina dikamar lalu menuju pintu utama untuk ketemu dengan ibunya


"ada apa?" ucap davin saat berada di depan orang tua yang selama ini dia benci dan dan sekarang muncul dihadapannya


"Davin ini mami, kamu kenapa bicara seperti itu"ucap wanita paruh baya itu dengan nada drama


"pantelas anda bicara begitu dengan saya!?" serkas Davin tajam membuat Irene-ibu Davin bungkam

__ADS_1


"Apa kamu pantas bicara seperti itu dengan orang yang sudah melahirkanmu?hah!" Irene emosi, Davin tersenyum miring menatap Irene


"sudah selesai bicaranya? mungkin anda salah tempat, ini bukan rumahnya Davin Alges munawan nyonya, dan saya bukan anak anda saya adalah anak Bu ina. Paham!" ucap Davin sambil menutup pintu utama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba Ina datang didepan Davin


"maafkan perkataan ibu tadi" lirih ina, Davin memegang bahu Ina membuat wanita yang berumur hampir sama dengan ibunya menatap Davin dengan mata yang memerah


"ibu nangis?" tanya Davin lembut sambil menghapus sisa-sisa air mata di kelopak mata Ina


"ibu, Davin sayang ibu" ucap Davin lalu mencium pipi Ina dengan kasih sayang dan memeluknya


"Davin hanya mempunyai ibu, jangan menangis lagi ya? Davin tau tadi salah" kata Davin di sela-sela berpelukanya, Ina mengangguk


mungkin yang kalian tau Davin jahat, Davin cuek tapi didalam sifat Davin saat ini karena masa lalu nya yang mengubah sifatnya, lingkungan tentu menjadi faktor utama, bagaimana dibesarkan tanpa sosok orang tua! belajar tanpa bimbingan orang tua? dari dulu Davin hanya tinggal dengan Bu ina, Davin sudah merasakan hidup susah bahkan dia sampai makan nasi dan garam untuk menempuh pendidikannya saat ini, dari semua biaya pendidikannya Ina lah yang selalu membayarnya berkerja keras demi davin yang jelas-jelas bukan anak kandungnya! tapi dia masih mau merawatnya tidak seperti orang tuanya.


mungkin sisi baik Davin belum banyak orang yang tau(?).


🔥🔥🔥


Rara memperhatikan seseorang anak gadis yang harusnya sekolah tapi malah berjualan minuman dipinggir jalan, Rara merogoh saku celananya dan ternyata dia masih memiliki uang ya lumayan buat gadis itu. kalo kalian tau uang itu Rara dapat dengan cara apa? jadi uang itu Al yang memberikan ke Rara padahal Rara menolak tapi Al memaksa. tapi bermanfaatkan sekarang.


"kakak mau beli minumannya?" tawar gadis itu sambil mengusap pelipis yang dipenuhi keringet


"kakak beli ini ya" ucap Rara lalu mengambil satu minuman yang berwarna merah itu, lalu menyodorkan uang berwarna merah satu lembar


"kak uangnya tidak ada yang pas, harga minuman itu hanya lima ribu. aku tidak punya kembaliannya" ucap gadis itu Rara menggeleng


"itu buat kamu semua, kamu udah makan?" tanya rara, gadis itu menggeleng


"nih kakak punya nasi kotak ini buat kamu" Rara langsung memberikan satu kantung kresek yang berisi satu nasi kotak, mata gadis itu terbinar


"kakak baik banget" ucap gadis itu sambil tersenyum menerima nya

__ADS_1


"terima kasih kak, kalo boleh tau nama kakak siapa?" tanya gadis itu, Rara langsung menjulurkan tangannya dan disambut sama gadis itu


"Keira"


"Nita" ucap gadis yang bernama Nita


"apa kakak sudah makan?"


"sudah kok" ucap Rara berbohong


"kamu masih sekolah?" tanya Rara lalu mereka duduk di kursi kayu deket jalan


"masih kak, kalo kak Keira?"


"masih juga, kamu udah kelas berapa?"


"aku masih kelas 7 kak" ucap Nita


"kenapa kamu kerja begini? bukannya kamu sekolah?"


"aku butuh uang buat sekolah, jadi aku harus kerja. aku juga bantu bantu mamah, aku bukan orang yang terlahir dengan keluarga yang kaya seperti orang, jadi aku harus kerja"


jelas Nita, Rara terus beristighfar dalam hati ternyata bukan dia yang lebih menderita di dunia ini, masih banyak orang yang lebih menderita dari kita, kuncinya kita harus tetap bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang.


"fight!" sorak Rara ceria membuat Nita mengangguk


"terimakasih, kak Keira udah baik, cantik, ceria pula" puji Nita membuat Rara tersenyum


"terimakasih" ucap Rara tulus lalu tersenyum lebar


"kakak kalo senyum manis banget, pasti banyak cowok yang suka sama kakak ya?"

__ADS_1


"masih pelajar gak boleh pacaran, sekolah yang bener dulu. lagian pacaran gak boleh cuma nambah dosa" nasehat Rara membuat Nita mengangguk paham


{Bersambung}


__ADS_2