
Persaingan kendaraan yang
berebut keinginan untuk saling mendahului, bising memekakkan telinga.
Hiruk pikuknya aktivitas
menjadi rutinitas di kota Jakarta. Seolah semua itu sudah menjadi ciri khas kota yang memiliki julukan kota metropolitan itu.
24 jam! bisa jadi lebih! aktivitas kota Jakarta tanpa henti. Jika Tuhan, berkenan menambahkan waktunya, kota Jakarta bisa jadi kota yang tidak terkendali.
Aktivitas pagi yang padat, kadang membuat orang tidak adil pada lingkungan juga diri sendiri. Menerjang derasnya arus ombak ribuan manusia yang memiliki rutinitas masing -masing berbaur dengan bising debu dan perdebatan waktu. Tidak peduli dengan adanya hujan badai bahkan penyakit menular sekali pun kota jakarta tetap berjalan dengan aktivitasnya.
Alih -alih dengan alasan berjuang demi keluarga, aktivitas tidak bisa di jeda sama sekali. Terkadang hal itu menjadi ujian terberat bagi setiap individu.
Aaaaaah...papa juga begitu! keluh Erlangga.
Mengingat papanya yang harus sibuk dengan dunia bekerja, merawat dirinya juga yang tidak bisa move on dari sang mama.
Erlangga melajukan motor King kesayangannya menerobos keramaian, dengan kecepatan rata-rata.
“Kinan! apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Erlangga mencoba menciptakan obrolan ringan.
Suaranya timbul tenggelam berlomba dengan kebisingan motornya sendiri.
Hati Kinan yang tidak terlihat baik-baik saja membuat Erlangga serba salah.
Mungkin dia marah gara-gara tidak di angkat telfonnya atau gara-gara dia pergi kemarin. Pikir Erlangga menerka-nerka.
__ADS_1
Mengingat-ingat kesalahan yang kemungkinan di lakukan olehnya tanpa sengaja.
"Maafkan aku, Kinan! aku tidak bermaksud untuk meninggalkan kamu." Ucap Erlangga bersalah.
Kinan masih membisu, tetapi pelukan tangannya mengencang di pinggang Erlangga.
Punggung Erlangga terasa hangat, jelas itu air mata. Rasa bersalah Erlangga bertambah tidak karuan.
"Aku tidak akan mengulangi nya lagi, janji!"
Erlangga mengacungkan dua jarinya ke atas. Lalu mencubit telinganya menampilkan Emboji memohon.
"Aku akan pergi keluar negeri! jangan berikan aku siksaan seperti ini, Kinan!"
Pelukan Kinan semakin erat, tangannya mencengkram pinggang Erlangga dengan kuat. Air matanya semakin deras mengalir.
Erlangga tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Meskipun dia masih muda memiliki pesona dan di kagumi banyak wanita, dia tidak pernah ragu untuk bucin dengan wanita yang di cintainya.
Kinan adalah cinta pertama dan wanita yang mengikat kuat nyawanya. Baginya Kinan adalah jantungnya, yang akan berhenti jika terpisahkan.
"Kinan! berbicaralah, aku mohon, maafkan aku."
Kinan masih saja membisu, sesekali dia menarik nafasnya dengan tersegal-Segal. Air matanya masih terus membasahi punggung Erlangga.
"Sayang, kita sudah dekat. Apakah kamu tidak masalah jika teman-teman mu melihat mu seperti itu?"
Kinan mengendurkan pegangan tangannya, menyeka air mata dan membersihkan sisa kekacauan di wajahnya.
__ADS_1
"Yank, nanti jemput Kinan ya? kinan ingin menghabiskan waktu berdua saja!"
Erlangga merasa lega, mendengar kalimat yang keluar dari bibir kekasihnya.
Tanpa kata-kata Erlangga mencengkram tangan Kinan.
"Maafkan aku, kemarin meninggalkan kamu."
Kinan hanya dapat menyimpan rapat rahasia hatinya, di hadapan Erlangga, Kinan hanya memiliki sesak dalam sesal.
Wajah tampan Robby telah menghipnotis kesadarannya.
Wanita yang menjadi sekertaris Robby itupun tidak dapat menghilang dari ingatan.
Semua begitu sesak memprofokasi keadaan, bagai api dalam sekam, Kinan merintih dalam kesakitan dan diam.
"Om Robby," rintihnya pelan bersama hembusan nafasnya.
*
Seketika mendung menjelma, menjadi rintik hujan berirama...
Yang menggores lukisan senja, menjadi hitam tak bermakna
#Kopi Senja #
__ADS_1