
Wening menatap Robby lekat-lekat, lelaki di sebelahnya itu terlihat risau! dia selalu kisruh dengan sekitarnya, yang salah duduklah! yang panas lah! semua hal bisa di permasalahkan Robby.
Pikiran menepis hal konyol, kecurigaannya pada Robby dan kinan hadir kembali. Diam -diam Wening mengumpat panjang pendek, mengolok-olok dirinya dan menyindir, jika dia sampai kalah saing dengan kinan, memalukan! edisi menghakimi Kinan di mulai.
Wening terus mencari letak keburukan dan ketidak menariknya Kinan, dari badan kurus, rambut yang di gulung acak-acakan juga usianya yang masih anak-anak.
Wanita kuring itu harus segera di singkirkan! pikir nya jahat.
Wanita memang terkenal dengan pikiran yang tidak masuk akal. Selalu menyimpulkan sesuatu sepihak! mana yang menurut dia benar makan akan di benarkan tanpa pertimbangan tanpa mencari dasar masalah juga tanpa ada kesimpulan jelas!
Sifat menguasai dan sifat tidak mau mengalah menjadi sebuah fenomena alami mereka. Masih ada satu lagi sifat yang tidak bisa di hilangkan dari wanita yaitu merasa menjadi korban.
Rasa sukanya pada Robby menjadikan Wening seorang yang menghalalkan segala cara.
Wening menyimpan kekesalan dan rasa cemburu akan tatapan Robby pada Kinan.
“Bukannya itu pacarnya Erlangga pak?” Katanya sarkasme pada Robby yang terlihat serba salah.
“Heh!” Robby tergagap mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dan tidak di sangkanya, dia mengangguk membenarkan pernyataan Wening.
“Iya, kenapa?” tanya Robby pura-pura santai.
“Cantik ya?”
“Anak jaman sekarang memangnya ada yang jelek?” Jawab Robby dengan nada yang di tekan. Nafasnya sedikit berat demi menahan emosi. Jelas terlihat dari wajah Wening, bahwa dia menyimpan tidak suka pada Kinan. Wanita memang pandai berbohong tapi tubuh wanita adalah gumpalan daging darah dan tulang yang jujur. Wajah Wening memerah, bibirnya mencoba menciptakan senyuman konyol.
"Kenapa?" tanya Robby lagi.
Bukan tidak ada maksud Wening membicarakan Erlangga dan Kinan dengan Robby, dia sengaja melakukan hal itu. Berharap Robby sadar jika bukan wanita yang bernama Kinan itu yang harus di pikirkan olehnya melainkan dirinya, wanita lajang yang memiliki karier dan berusia matang.
Robby melirik Wening yang tiba-tiba terus berbicara soal Erlangga, Kinan dan hubungan mereka.
Dia merasa jengah dan risih! namun dia hanya mengiyakan saja apapun yang di katakan Wening.
Mobil yang di Kendari Robby sudah parkir di parkiran eksklusif sebuah perusahaan swasta.
Gedung sepuluh lantai itu tempat Robby mengendalikan beberapa perusahaan miliknya.
“Wening kamu langsung antarkan dokumen pemasukan untuk beberapa rumah makan yang belum kamu selesaikan kemarin.”
“Baik pak!”
Robby memotong pembicaraan Wening seputar Erlangga. Dia langsung menuju lift.
__ADS_1
“Eh, Wening...!”
Robby menghentikan langkahnya, dia menatap cukup lama pada Wening yang juga menghentikan langkahnya.
Ah! “Lupakan!” tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Robby langsung pergi.
Robby jadi kisruh sendiri dengan otak nya yang mulai berpikir salah!
Jika Kinan berjodoh dengan Erlangga, itu berarti dia adalah seorang yang sangat jahat! Merampas milik anak sendiri. Jikalau pun Kinan tidak berjodoh dengan Erlangga, Robby tetap merasa buruk, mengapa dia harus lepas kendali.
Dengan serampangan dia duduk di kursinya, menatap jauh ke arah jendela, wajah Kinan menjadi layar membentang di setiap sudut pandangan.
Gadis kecil itu tiba-tiba menjadi primadona dalam pentas kehidupan sehari-harinya.
Huuuuuuuufffg...! Robby mengusap wajahnya mencoba menghilangkan jejak bayangan kinan.
JRRRRR!
Handphone di sakunya bergetar, Robby meraihnya dan membuka layar biru tanpa embel-embel welpaper.
Tidak ada nama, hanya nomor yang juga tidak familiar. Robby langsung meng off kan nomor itu.
Tidak ada urusan! nomor tanpa nama langsung delete!
JRRRRR
"Siapa sih!?"
Robby langsung mencari nama Wening di barisan paling sering di hubungi.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"
Menyebalkan, jawaban apa itu? yang jelas ketika bos menghubungi ada perlu lah! pakai tanya! hardik Robby dalam hati.
"Datang lah padaku,"
Tidak lama wanita yang di maksud Robby sudah masuk dengan tersenyum manis.
"Ada apa pak?"
Robby menatap Wening hangat, dia meneliti wanita di depannya. Cukup cantik menarik dan memiliki buah dada indah! mengapa aku tidak bersamanya saja?
"Ada apa pak?" tanya Wening risih, mata Robby terlihat mesum. Di perhatikan begitu manis oleh lelaki incarannya,. Wening mulai tinggal di awang-awang.
__ADS_1
"Ada acara nggak malam ini?"
Eh, apa yang di tanyakan Robby melenceng dari tujuan.
"Bapak suruh saya selesaikan laporan berkas yang belum selesai, saya pikir saya bakal lembur malam ini."
"Kamu ada asisten, untuk apa dia?"
"Ya mereka membantu saya pak!"
"Wening coba kamu telfon balik nomor ini, pakai nomor mu,"
Wening memperhatikan nomor yang tertera di barisan atas pangilan tak terjawab di layar handphone Robby.
Lalu mengambil handphonenya dan mulai melayangkan panggilan suara.
"Ya, siapa?" suara wanita di sebrang. Wening meng lospeker suara di sebrang.
Suara yang di kenal Robby.
"Matikan!" perintah Robby selanjutnya.
"Pergilah, makasih? selesaikan tugasmu."
Wening benar -benar kesal di buat oleh bos kurang ajarnya. Dia pikir akan ada makan malam romantis, atau setidaknya akan ada acara resmi.
Selama ini Robby selalu sendiri untuk urusan penting. Belum ada seorang wanita yang pernah di bawanya.
Siapakah yang akan di bawa Robby nantinya? entahlah
*01*
Ada banyak kisah
Tapi tak semua harus tau
Seperti halnya matahari
dia tak harus berkata
bahwa dia sanggup menyinari seisi bumi
__ADS_1
*KOPI SENJA*
*****