
Aaaaarg !!!
KINAN mengerang menahan diri. Dia menelungkupkan tubuhnya memeluk bantal guling. Air matanya tumpah ruah membanjiri bantal guling dengan gambar pangeran kodok berwarna hijau kesayangannya.
Membayangkan wajah Robby yang begitu cuek melewatinya, Kinan merasa stres dan tidak terima.
Kinan melampiaskan kemarahan dengan bantal tak berdosa, memukulinya tanpa ampun.
Tidak ada maaf bagimu! Pekik Kinan!
Biasanya Ketika Kinan pulang dan tidak ada siapa pun di rumah, dia akan mendatangi Erlangga menghabiskan waktu di sana sampai ketiduran.
Terbayang malam panas yang di habiskan bersama Robby membuat Kinan merasakan desiran hebat. Rasa menginginkan selalu hadir setelah malam itu.
Meskipun dalam pengaruh obat perangsang dan dalam keadaan mabuk sedikit. Kinan masih bisa merasakan dinginnya cekalan tangan Robby.
Kecupan bahkan hisapan bibir sensual lelaki itu begitu nikmat dan manis.
Hempasan nafasnya yang begitu kuat menekan wajahnya. Menyapu bersih seluruh tubuhnya.
Aaaaaaaah... lenguhan nya pelan penuh desir.
Kinan tak kuasa menahan panas dingin saat membayangkan Duren legit satu itu.
Dia menghempaskan nafasnya yang tiba-tiba memanas dan semakin panas.
“Om Robby,”
Wajah macho duren tetangga itu memenuhi kamarnya. Aroma wangi yang di tebarkan tubuh atletis dengan bulu halus itu memenuhi seluruh pernapasannya.
“Om, Robby.”
Kinan Enggan menghidupkan lampu di kamarnya, dia ingin memeluk kegelapan, karena dalam kegelapan tidak akan ada yang tau seberapa besar sebuah rasa ingin yang menguasainya.
“Aku harus mendapatkan Om Robby! Harus!” tegas Kinan dengan dirinya sendiri.
Dia meninju bantal dengan keras memuaskan keinginan dan kekesalan untuk terakhir kalinya.
Dari kamarnya, Erlangga masih mengintip Kinan. Kamar Kinan yang terlihat dari balik kamarnya tertutup rapat, tidak ada cahaya lampu. Kamar itu gelap. Ada bersit khawatir di hati remaja itu.
Erlangga modar mandir sebentar keluar sebentar masuk melihat halaman rumah, lalu kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Seolah-olah dia menunggu satu kebiasaan yang sering datang berkunjung.
“Mbak Dian, jangan pulang dulu ya, papa nggak pulang hari ini.”
“Biasanya non Kinan menemani kamu,”
Erlangga menunduk, kali ini dia sadar, kemungkinan dia akan sendirian. Atau dia saja yang ke rumah Kinan! Erlangga mengepalkan tangan semangat.
“Mbak Dian aku mau ke rumah Kinan.”
Belum mendapatkan jawaban dari asisten rumahnya, Erlangga sudah jauh meninggalkan pintu.
Dian hanya menggeleng, dia sangat menyayangi anak majikannya itu.
Rumah Kinan sepi, tidak ada tanda tanda kehidupan. Lampunya mati bahkan lampu teras.
“Kinan!” pangil Erlangga.
“Yank, ini aku! Buka pintu. Aku di rumah sendiri, takut!”
Lama menunggu menahan dingin udara malam akhirnya pintu terbuka.
“Kok...?”
Dia dengan santai dan cuek menuju kamar Kinan dan meringkuk manis berselimut.
“Er,”
Dengkuran halus langsung terdengar.
“Alanglah enak dia tidur.”
Kinan melepaskan bajunya yang memang belum sempat dia ganti, keringat menempel membuat badannya lesu dan tidak nyaman.
Mengguyur tubuhnya dengan air dingin terasa melegakan.
Jika ini di ruangan pribadi Om Robby pasti bisa berendam air hangat.
Huuuuuuuufffg sejuknya guyuran air mengalir.
Jam dinding menunjukkan pukul 01.12 mata Kinan tidak juga meredup. Menatap Erlangga yang tidur seperti orang mati, Kinan menyadari bahwa dia sangat menyayangi Erlangga.
__ADS_1
Setelah membenarkan letak selimut Erlangga, Kinan pun menutup pintu depan berlahan. Dia merebahkan badannya di kamar ibunya. Mencoba memejamkan mata yang masih bersinar bagaikan bintang kejora.
JEKREK...! SREK...SREK...
Suara langkah kaki memasuki rumah, jika di teliti, langkah halus itu pasti ibunya.
Tapi, tidak ada suara mobil terparkir. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.36 sudah pagi. Pasti ibu! Pikir Kinan yang belum juga bisa memejamkan matanya.
“Ibu!” panggil Kinan Berlahan-lahan.
Ibunya berhenti menuang air, dia heran mengapa Kinan belum tidur di jam -jam segini.
Lagian kenapa anak gadisnya itu ada di kamarnya.
“Kamu cari apa? Di kamar ibu.”
“Ada Erlangga di kamar sebelah. Dia datang langsung tidur begitu saja.”
“Oh, ya sudah kamu tidur bareng Ibu.”
Kinan benar -benar tidak bisa tidur. Dia terus terbayang malam panas bersama Robby. Semua rasa yang di tinggalkan oleh Robby menjadi urakan menguasai akal sehatnya.
Dengan susah payah Kinan memejamkan mata dan mencoba merilekskan pikiran, namun hasilnya tetap sama. Dia tidak bisa memejamkan mata.
Jarum Jam dinding terus berdetak, berirama pasti.
TEK...TEK...TEK...
Arjuna Bayu
Seperti lelahnya dalam penantian
Rasa kesal rindu marah juga keindahan
Larut dalam segelas kopi yang di seduh dengan takaran pas
Sehingga menghasilkan aroma lega
Dan rasa nikmat yang sulit untuk di lupakan
__ADS_1
TNBBS LAMBAR 23012022/13.40