
Laki-laki ibarat seekor elang, yang senang berpetualang. Mencari ribuan warna di belahan dunia, senang menjelajahi tempat-tempat baru meskipun memiliki resiko yang mematikan.
Sudah alamiah sifat lelaki menginginkan kepuasan, kepuasan dan tidak pernah puas.
Akan tetapi untuk urusan wanita lelaki sangat lemah, bahkan laki-laki bisa kehilangan harga diri, martabat, harta dan keluarga, demi wanita yang di puja.
Bagi seorang lelaki jarak waktu dan harta bukan sebuah persolan demi cintai.
Ribuan mil jarak adalah penjara bagi lelaki yang memuja.
Erlangga menatap luruh pada hubungan cinta yang telah di rajutnya bertahun lamanya.
Dia menatap punggung papanya yang berjalan mendahuluinya bersama Mbak Dian asisten rumah tangga mereka. Kali inipun mas Aji suami mbak Dian tidak ikut, alasannya sama ada pekerjaan di luar.
Mbak Dian turut serta di acara ziarah ke makam mamanya. Dia ingin mengadukan kelakuan papa pada mama katanya.
Di bawah hembusan angin pemakaman yang sejuk, Erlangga menumpahkan kekesalan juga keberatan akan maksud papanya mengirim dia ke Jepang.
"Ma, Erlangga nggak mau ke Jepang! Er, mau bersama Kinan."
Erlangga mengusap wajahnya, air mata mengalir, merembes membuat wajah tampannya berubah menjadi seekor anak beruang yang sangat imut.
Pada gundukan tanah kering yang telah basah oleh siraman air bercampur bunga yang di taburkan papanya, Erlangga menumpahkan kekesalan.
Robby, hanya terdiam bersimpuh.
"Pa!"
Remaja yang berangkat dewasa itu menengelamkan diri dalam pelukan papanya. Dia mengeluhkan keinginan keluarganya yang tidak sepaham dengannya.
"Er, nggak mau pergi, pa! Bagaimana Kinan? aku ingin bersamanya."
“Er...! papa tidak ingin berpisah darimu, tapi kita tidak boleh tidak adil pada kakekmu."
"Er, maafkan papa!"
Erlangga menatap pada papanya yang terlihat ragu-ragu. Tumben! pikirnya.
Papanya tampak terlihat tidak ingin melihat wajahnya.
Erlangga penasaran, biasanya ketika dia menengelamkan tubuhnya yang hampir menyamai tinggi papanya itu, dia akan mendapatkan kecupan manis berulang -ulang.
“Ada apa beberapa hari ini kamu menghindari papa?”
"Erlangga, yang harus bertanya, ada apa sama papa?"
Robby terdiam, ragu. Apa benar dirinya yang berbeda? perasaan mengatakan. Erlangga yang terlihat emosional, menghindari percakapan dengannya juga sangat kasar.
"Pergilah ke Jepang, meskipun untuk beberapa tahun."
"Pa!"
“Maafkan papa Er, papa tidak bisa tidak adil dengan mereka.”
__ADS_1
“Di sana dingin pah!” jawabnya menolak. "Selain itu Erlangga tidak mau jauh -jauh dari Kinan!"
"Sejak kamu lahir, papa belum sempat membawamu bertemu mereka. Bahkan, saat mamamu meninggal, papa pun tidak mengabari mereka. Papa mungkin memang gila Er, entah mengapa papa mengabaikan mereka. Tidak sekalipun papa bertanya kepada mereka meskipun itu hanya bertanya tentang khabar."
Robby tidak memiliki alasan tepat untuk berargumen mempertahankan Erlangga dengan keluarga Meylana di Jepang. Dia menanggung semua kesalahan. Meskipun berpisah dari anaknya itu adalah sebuah hukuman baginya. Dia harus belajar beradaptasi dengan waktu.
Kehilangan Erlangga kali ini sama sakitnya dengan berpisah dari istrinya kala itu.
“Er,”
Robby menyibakkan anak rambut Erlangga yang mulai menjuntai menutupi kening hingga mata anak itu. Erlangga benar -benar mewarisi semua yang ia miliki, hanya mata sipitnya dan kulitnya yang bersih menyamai Meylana.
"Ah!"
Erlangga menepis tangan Robby dan melangkah menghampiri Kinan yang diam berdiri di sisi Mbak Dian.
Dengan lembut Erlangga menggenggam tangan Kinan. Membawa mendekati gundukan tanah di mana di sana berbaring tenang mamanya yang belum sekalipun dia tau seperti apa rupanya. Kecuali dalam bingkai foto yang di simpan papanya.
"Angin dan tanah pekuburan ini menjadi saksi ma, aku ingin menikah dengan Kinan. Kinan maukah kamu menikah denganku."
"Kamu harus sekolah Er,"
"Kinan, apakah kamu akan menungguku?"
Wajah Kinan masih sendu dan terdiam bisu. Tidak ada jawaban yang terucap dari bibirnya.
"Kinan! kamu akan menunggu aku kan?"
Erlangga menatap Kinan dengan tatapan memohon. Di matanya Kinan terlihat ragu untuk sekedar mengucapkan kata iya.
"Kinan! apa kamu terpaksa menjadi kekasihku? apa kamu tidak bahagia bersamaku? apa aku hanya sebuah penjara bagimu?"
Gadis kurus itu hanya diam, dia melirik pada lelaki yang duduk bersimpuh di sebrang. Ingin rasanya dia mengatakan betapa banyak uneg-unegnya. Ingin rasanya dia di tanya seperti pertanyaan Erlangga oleh lelaki itu. Tapi, mustahil. Mimpi yang tidak akan terjadi.
"Duduk Er,"
Mbak Dian duduk menarik Erlangga dan Kinan untuk turut bersimpuh.
"Kita doakan mamamu." Ucap Mbak Dian serius.
"Rob!"
Robby masih gelisah menatap batu nisan di hadapannya. Di sana tertulis nama dan tanda pengenal wanita yang sangat di cintainya.
Robby mengingat betapa banyak penghianat yang di lakukan olehnya.
'Mey...aku telah meniduri banyak wanita untuk kepuasan ku, tapi aku tidak menyangka akan meniduri Kinan, yang seharusnya menjadi menantu kita.
Mey, apakah engkau akan mengutuk ku, atau engkau akan membunuh aku karena perbuatanku? Mey, aku tidak menyangka bahwa aku akan memilih rasa serumit ini di usiaku yang tua.
Mey, aku ingin kita bersama di duniamu sana, jemput lah aku Mey'
Jari telunjuk Robby terus mengelus batu nisan itu. Kesedihan nya tidak teruraikan.
__ADS_1
Kinan dan semua orang tau, lelaki itu sedang rapuh.
Ada perbincangan romantis di dalam diamnya dengan pemilik makan itu.
Rasanya Kinan ingin berlari menghampiri dan memeluk Robby, meminta agar dia mau berbagi beban dengannya.
Aaaah! lenguhnya pelan di sisi Mbak Dian.
"Kita berdoa, ala Om Robby." katanya kemudian mengundang perhatian.
"Berdoa mulai."
Kinan memulai acara, berdoa sendiri dengan memejamkan matanya, rasanya dia sudah tidak kuat melihat Robby lama -lama memeluk kesedihan.
'Jika boleh aku tawarkan, cintaku untukmu Om Robby.'
Bisiknya pelan di dalam hati. Di tempat yang tidak akan ada orang tau tersimpan ribuan rindu dan cinta pada sosok Robby Patrick.
Hatinya teramat sakit di lamar Erlangga sebegitu rupa di tempat yang sakral itu. Ini pemakaman tapi Erlangga masih seperti anak kecil saja. pikirnya, bukan serius berdoa malah justru melamar nya.
Angin pemakaman berhembus sejuk di siang hari. Pohon -pohon Kamboja berjejer rapih memproduksi oksigen dengan baik.
Ada satu dua Pohon menjulang tinggi bagai raksasa. Suara riuhnya dedaunan mengusik sepi menggenggam sunyi memberikan kesan sangat mistis. Menjadi saksi rahasia yang tidak terungkap kan.
Bismillah...
Arjuna Bayu
Ini masih terlalu dini untuk layu dan mati
karena bercinta hanya menunggu musim semi
Aku masih di sini
terbelenggu menunggu
kebebasanku
Kebebasan
menyayangi
mengasihi
dan memiliki
Ini hanya dongeng
malam yang kelabu
Janji menjadi ingkar
__ADS_1
Hati habis terbakar
KOPI SENJA 06022023/12.02