
KINAN berdiri di depan pintu gerbang, melambaikan tangan. Gadis kecil itu terlihat lincah kesana kemari, menggoyang-goyangkan badannya yang kurus.
Robby mengendarai mobilnya melewati Kinan, dia mencoba bersikap sesantai mungkin. Sekelebat bayangan Erlangga benar -benar bisa menjadi rem baginya agar tidak terlihat seperti anak-anak di mabuk cinta.
Betapa sulit dia menahan matanya untuk tidak menyapa gadis itu. Tapi toh akhirnya dia berhasil menjadi pura -pura.
KINAN sangat bahagia, dia melirik duren itu dengan harapan dapat teguran manis.
Namun, harapannya sia-sia, jangankan menegur melirik pun tidak.
Kinan kecewa, kesal dan marah. Membayangkan wajah Robby yang seperti tidak mengenalnya lewat begitu saja.
Dia merasa di abaikan, setelah malam nikmat mereka lewati. Bahkan malam itu Robby di mata Kinan adalah sosok malaikat, tampan, Lembut, harum juga hangat.
Kinan merasa hanya dirinya yang memiliki perasaan suka. Ini perasaan sepihak! Pikirnya.
Kinan marah, sangat marah terlebih saat membayangkan Wening mengandeng tangan Robby.
Banyak kemungkinan dan prasangka yang kemudian terlahir.
*****
Senja yang indah di pantai Ancol. Pantai yang tidak pernah sepi itu menjadi tempat terbaik untuk menghabiskan waktu.
Ancol tidak hanya terkenal di wilayah kota Jakarta tapi juga sangat terkenal sampai luar kota bahkan daerah terpencil pun mengenal Ancol.
Ancol memiliki keindahan pantai yang juga di kenal sampai ke luar negeri.
Yoga adalah jenis olahraga santai yang sangat cocok dengan lanskap pantai nan aduhai di sekitar Symphony of the Sea.
Bersepeda keliling Kawasan Ancol sambil menikmati udara pagi. Lari menyusuri Pantai Carnaval sampai ke ujung Pantai Ancol Beach MallJalan.
Wajah Kinan bersemu merah. Matahari mulai tergelincir di ujung barat. Udara pantai sejuk dengan angin yang sedikit kencang.
Udara Sore yang remang -remang akan terasa sejuk, perpaduan dari angin yang di hasilkan oleh ombak yang mulai pasang dan pepohonan yang mulai memproduksi oksigen.
Angin yang Sepoi-sepoi menyibakkan rambut Kinan, gadis manis dengan hidup bangir itu menyapukan seluruh pandangan ke lepas pantai. Dia membiarkan Erlangga sibuk menikmati wajah ayunya dan jahil dengan semua aksesorinya. Sudah biasa Erlangga seperti itu.
Memainkan ujung rambutnya, meremas pingulnya dengan nakal, terkadang Erlangga dengan berani menikmati keindahan buah dadanya.
Erlangga memang sedikit nakal, tapi bisa di pastikan dia hanya melakukan nya dengan Kinan.
“Ujian sudah selesai, yank, waktu kita tidak akan lama.”
Tatapan Erlangga tampak sedih, dia menarik tangan Kinan untuk mendekatkan tubuhnya.
Duduk di tepian pantai Ancol bukan yang pertama, namun suasana kali ini berbeda. Kaki Kinan berayun-ayun menyetubuhi lapisan air.
__ADS_1
Dengan bahagia bersama riak ombak yang semakin nakal kepadanya.
Air laut menelan kaki Kinan dalam kenikmatan.
Pantai Ancol mulai gelap namun semakin gemerlap. Aktivitas orang-orang tidak berkurang sama sekali. Bisa di bilang semakin malam semakin ramai.
Menurut informasi pantai Ancol di buka pukul 06.00 dan berakhir pukul 22.00. Demi ketertiban stabilitas keamanan, katanya.
Kinan mengeluarkan kamera handphone untuk mengabadikan cahaya Senja juga keindahan berdua-duaan dengan Erlangga.
“Aku akan terlihat hitam di kamera,”
Kinan tidak memperdulikan protes Erlangga.
“Kinan! Aku akan pergi, katakanlah sesuatu.”
“Berarti waktu kita bersama semakin pendek!” Ucap Kinan luruh.
“Akan kah kita masih bisa saling setia?” ucapnya lagi.
Ucapan Erlangga seperti anak panah yang langsung menancap di ulu hati Kinan. Wanita yang tengah asyik mengabadikan beberapa jepretan manis itu menghentikan aktivitasnya, dia menatap Erlangga dengan wajah penuh bersalah.
“Er, mengapa aku merasa kita akan berpisah selamanya.”
“E....! Mulut! kalau ngomong nggak di pikir dulu!” geram Erlangga kesal! Mood nya Ambyar.
“Iist,” Kinan merenggut merasa di ledek oleh Erlangga.
“Kenapa sih Nggak di sini saja sekolah nya? Di Jogja, di Jakarta, atau di kota-kota lain di Indonesia. Indonesia banyak melahirkan universitas bagus.”
“Di Jepang ada kakek nenekku, mereka juga ingin berkenalan denganku. Itu sih, alasan papa.”
Suasana pantai Ancol memang asyik untuk dikunjungi muda mudi. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu bersama pasangan sepanjang malam.
“Kita pulang nya agak nanti, aku ingin bersamamu malam ini.”
“Kita berganti baju, tidak bagus mengenakan pakaian sekolah dalam acara luar.”
“Nggak ah, kita pulang saja.”
Heeh!
Erlangga menatap Kinan heran, baru saja mengatakan ingin bersama, sedetik kemudian ingin pulang. Kinan benar -benar berbeda hari ini.
“Serious?”
“Aku ingin pulang! Er, Aku sayang kamu.”
__ADS_1
Mata Kinan meredup, ada pergulatan hebat terpancar di matanya.
Erlangga ingin menebak, namun di urungkan. Jika Kinan tidak ingin jujur, berarti dia belum siap.
Meskipun Kinan berubah emosional, agresif dan sangat sensitif. Erlangga hanya menebak, bahwa masalah Kinan, karena mereka akan berpisah.
Erlangga sangat hafal dengan perubahan cuaca sikap Kinan, empat belas tahun bersama bukan waktu yang singkat untuk saling memahami.
Pukul 20.06 Erlangga sudah memarkirkan kendaraannya di depan rumah, meskipun dia terus bertanya -tanya dalam hatinya, tidak ada yang bisa dia dapatkan kecuali menebak-nebak kosong.
Sedikit bertanya pun Kinan sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaan Erlangga dengan jujur.
Sepanjang jalan Kinan hanya berdiam diri. Dia bahkan menolak apapun yang di tawarkan Erlangga. Bahkan saat di ajak makan di tempat favorit mereka.
'Mungkin aku sudah melakukan kesalahan-kesalahan? Atau menyinggung perasaannya? Atau kemungkinan Kinan marah dengan rencana kepergianku ke Jepang?'
Di halaman rumah, sudah terparkir mobil papanya, mobil itu terlihat basah, kemungkinan papanya dari pergi jauh.
“Tumben.” Bisiknya pelan,
Kinan sendiri langsung berlari pulang masuk rumah.
Hatinya kacau balau. Dia takut mata Erlangga akan menebus tubuhnya sehingga dapat melihat ke dalam hatinya yang sudah ternoda.
Bayangan Robby tidak mau menghilang dari matanya, terus mengikuti ke manapun dia pergi.
Semua benda-benda di sekitarnya menjelma menjadi sosok duren legit itu.
Erlangga menatap punggung Kinan yang langsung menutup pintu depan dengan rapat.
Tidak ada kecupan selamat tinggal, lambaian tangan atau kebiasaan Kinan yang selalu rewel. Bahkan langkah kaki Kinan terkesan buru-buru seperti menghindari sesuatu.
Tidak seperti biasanya? Yang ini dan itu! mau ini mau itu! sebelum berpisah.
**********.
"TC, Kalimantan punya cerita"
Entahh, di musim mana kita akan bertemu ...? jeda peristiwa itu selaksa cerita semu.
Aku masih di tempat kita pernah tertawa bersama, melipat lembaran hari di bilangan puisi.
Hingga pada akhirnya aku lelah
Lalu menghilang di bebatuan zaman
__ADS_1
161022