
MAGRIB
Acara makan malam yang menegangkan.
"Mana Kinan?" tanya Robby pada mamanya yang masih saja sibuk bersama Mbak Dian asisten rumah tangganya.
Sulatri terlihat sengaja menghindari meja, dia lebih asyik dengan membantu mbak Dian dari pada harus ngobrol ringan bersama Robby yang sebenarnya sangat ingin dia perhatikan.
Bukan tanpa alasan Sulatri menghindari meja makan, tapi kehadiran Wening yang berstatus bos baginya, juga seorang wanita yang sok berkuasa atas diri Robby.
Sebagai seorang bawahan Sulatri cukup tau diri, dia hanya seorang pelayan sementara Wening seorang asisten pribadi Robby di kantor pusat. Perbandingan keduanya sangat besar.
Sulatri hanya diam, meskipun tidak rela.
"Mana mas Aji, mbak Dian?" lanjut Robby mengabsen.
Wening duduk di samping Robby dengan senyum kemenangan. Dia melihat semua orang yang menurut dia tidak layak untuk menjadi saingan.
Apalagi saat memperhatikan Sulastri, Wening benar -benar tidak merasa memiliki pesaing.
Di lihat dari sisi manapun, wanita itu tidak akan mampu merebut Robby darinya.
"Sebenarnya ini acara resmi apa mas?"
Wening menatap Robby yang langsung mengalihkan pandangan padanya. Kening Robby berkerut sedikit ambigu.
Pupil mata Wening membesar, dia memberikan jawaban atas pandangan Robby dengan sedikit catatan bisu melalui bias wajahnya.
"Oooooohhhh..."
Robby manggut-manggut mengerti. Hampir saja Robby lupa Jika memiliki perjanjian kosong sebagai kekasih bohongan.
"Pa, acara apa ini?" Erlangga muncul dari pintu depan Santai. Tangan kanan Erlangga terus menggenggam tangan Kinan.
"Acara makan! Kok tanya seperti itu, kamu tidak bahagia?"
"Ah, selama ada Kinan di sampingku, aku selalu bahagia." jawab Erlangga, wajahnya Erlangga tampak berseri.
"Begitukah?"
"Yo'e ma man!"
"Nah, sekarang sudah ngumpul, ayok kita lanjutkan acaranya."
"Mbak Dian ayok duduk dengan benar! sayang mas Aji nggak ada, jadi kurang lengkap." Ungkap Robby sedikit kecewa.
"Ayok Robby, pimpin doa." Mbak Dian sepertinya melupakan sesuatu, dia membimbing Sulatri untuk duduk bersebelahan dengannya.
"Yos! ayok kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing! berdoa mulai."
Robby memejamkan matanya, tidak pedili dengan semua tatapan heran. Dia komat Kamit sendirian, seolah sedang membaca do'a.
"Amin." Ucapnya kemudian, sembari mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah, dan memulai acaranya sendiri.
Semua orang menatap Robby geli. Seperti itukah? cara berdoa ala Robby.
__ADS_1
"Selesai...ayok kita makan!"
Meskipun tatapan mata semua orang terlihat tidak faham dengan cara berdoa Robby, tapi bagi Erlangga dan Dian asisten rumah tangganya. Robby memang begitu.
"Mas..."
Kinan mencuri pandang pada pasangan di hadapannya, melihat Wening yang mencoba menyuapkan makanan pada Robby, bukan main marahnya Kinan.
Wening begitu asyik menyiapkan kebutuhan Robby dari piring, nasi, dan lauk pauk, segelas air putih di ambil sendiri orang Robby. Momen itu membuat mata Robby dan kinan saling tatap.
BOM!
Robby merasa seluruh tubuhnya di sengat listrik. Mata berkaca-kaca Kinan laksana lautan yang akan membuatnya tengelam.
"Kinan, mau air minum?"
PLAK!
Serasa tamparan di wajahnya sangat keras, Robby terlihat bodoh di depan semua orang.
Wening melihat perubahan wajah Robby, sudah di pastikan wanita yang di hindari oleh Robby adalah Kinan.
Heh! segitunya seorang Robby dengan kekasih anaknya itu, sampai -sampai dia menginginkan dirinya menjadi kekasih bohongan.
Baiklah! kali ini Wening dengan mantap memainkan perannya. Mengusir nyamuk seperti Kinan tanpa di minta pun akan di lakukan olehnya.
"Mas, nanti kembung lho! minum terus."
Wening menyingkirkan gelas di hadapan Robby.
"Aaaak..." Wening menyuapkan sesendok demi sesendok makanan pada Robby.
"Er, kamu akan berangkat ke Jepang beberapa hari lagi, siapkan mental mu."
"Rob?"
Mbak Dian yang sendari tadi diam memperhatikan ikut berbicara.
"Iya, mbak?"
"Inikan acara di buat sebagai bentuk kepedulian dan dukungan untuk Erlangga, jadi tolong kesampingkan dulu urusan pribadi."
"Iya Mbak."
Susana tegang masih saja terlihat. Sulatri yang hanya diam saja, menikmati makanannya. Kinan pun sibuk dengan acara sendiri.
Duda legit satu itu, sepertinya sedang berperang dengan pikirannya.
Alih-alih membawa wanita sebagai bentuk pelarian, justru dia terjebak dalam situasi rumit.
"Aku mau ke belakang dulu." Ucap Robby kemudian di sela sela makan asyik.
Huuuuuuuufffg...
Robby menghempaskan nafasnya begitu berat.
__ADS_1
"Harus bisa, aku harus bisa!" Robby mencoba berbicara dengan dirinya sendiri.
"Setiap orang punya masalah, dan nggak semua masalah harus di sampaikan ke orang lain." Tegas mbak Dian yang sudah berdiri di belakang Robby .
"Jangan terbawa suasana Robby, ingan Erlangga adalah hidupmu." Ujarnya lagi.
"Iya mbak." Robby menunduk, dia tidak bisa berbicara banyak.
"Aku nggak kenapa-kenapa Mbak!"
"Aku tau itu! tapi...? Apaaa...? kamu naksir Kinan?!" Bisik mbak Dian di telinga Robby.
Kalimat yang lebih menegangkan dari pada petir di siang hari. Tembakan mbak dia semua benar. Tentang rasanya pada Kinan.
Ucapan asisten rumah tangganya itu mampu membuat gendang telinganya mendengung. Bagaimana Mbak Dian tau hubungannya dengan Kinan?
"Jangan di lanjutkan Robby!" Mbak Dian menepuk punggung Robby, sekedar tepukan tangan yang ringan namun mengandung arti yang sangat penting.
Robby terkejut dia diam. Dia menahan nafasnya untuk waktu lama.
DI 2 TAHUN PERJALANAN
By. Arjuna Bayu
Kita adalah sepasang belibis yang terbang mengitari langit senja menorehkan cerita
Kita adalah sepasang cincin yang melingkar di jari manis sepasang kekasih
untuk menyaksikan sebuah perjalanan panjang suatu hubungan
Kita adalah campuran kopi dan gula yang di aduk dalam segelas air panas
Kita adalah kekasih yang mencoba mengadukan nasib dengan hubungan rumit
Kita adalah pertengkaran sengit
kemudian memaafkan
malu malu tapi menunggu
menjauh tapi merindu
Kita adalah aku dan kamu
yang tengah menikmati segelas kopi nikmat di senja hari
sembari menatap sepasang belibis yang pulang ke sarang
sebagai sepasang kekasih
KOPI SENJA
31JANUARI2023
__ADS_1