
Jam dinding di kamar kinan menunjukkan pukul 22.05 ketika Ibunya masuk. Robby sudah duduk di kursi meja rias kamar Kinan.
“Mengapa lama Er?” tegurnya pada Erlangga.
Erlangga tidak menggubris papanya, dia langsung berlari menghampiri Kinan dengan penuh kekhawatiran.
“Kinan! Maafkan aku. Aku tidak peka.” Erlangga memeluk Kinan, yang terlihat sayu. Tangannya menyentuh kening Kinan memastikan bahwa Kinan baik-baik saja. Kinan terlihat basah,
“Pa, aku tidak ingin ke Jepang.” Keluh Erlangga memohon.
Robby hanya diam tidak bergeming. Jika saja dia mampu, diapun tidak ingin berpisah dengan Erlangga.
“Kinan, aku tidak akan meninggalkan kamu.” Erlangga menciumi wajah Kinan dengan penuh gelisah. Dia tidak ingin Kinan mengalami nasib buruk hanya karena kepergiannya.
“Maafkan aku sayang! Aku tidak peka! Kamu pasti menunggu lama.”
Sulastri menyuguhkan segelas kopi panas, juga toples berisi camilan.
“Om, minap di sini ya?” Kinan menunjukkan wajah memelas, memohon dan mengharapkan.
Permintaan tidak masuk akal! aneh-aneh saja. pikir Robby dalam diamnya.
Tentu saja permintaan Kinan di tolak oleh Robby. Duren legit itu tersenyum samar dengan permintaan yang tidak masuk akal Kinan.
“Hus! Sembarangan kamu Kinan.” Sulastri dengan malu -malu membesarkan matanya, menatap sedikit gerah pada putrinya.
Tidak di pungkiri, Robby memang memiliki wajah menggoda juga kaya. Dia adalah sosok yang di idolakan para wanita. Termasuk Sulastri sendiri.
Wanita yang sudah memiliki usia kepala tiga itu diam -diam menyimpan segenggam rasa cinta. Namun Robby memiliki sifat dingin pada semua perempuan, pernah diisukan dekat dengan sederetan wanita kalangan atas, namun tidak satu pun menunjukkan bukti.
Robby sendiri enggak berkomentar jika ada pertanyaan yang di lontarkan padanya seputar hubungan cinta atau hubungan yang bersifat pribadi.
Robby tidak pernah merespons siapapun yang mencoba mendekatinya. Dia seperti biasa, tanpa ekspresi dan argumentasi pembenaran atau menyalahkan pihak manapun.
Sulastri cukup tau diri, usia dan wajahnya tidak memungkinkan untuk memperjuangkan rasanya, karena dia tau Robby di keliling wanita muda dengan pesona model juga dari keluarga sepadan.
Meskipun Sulastri belum Pernah melihat Robby terlibat mesra dengan wanita. Bisa di bilang Robby duren legit yang dingin dan jomblo akut.
Itu tuduhan yang sedang marak di perusahaan Robby sendari.
“Oke, aku pamit ya.” Robby berdiri untuk pulang setelah tegukan terakhirnya.
Kopi buatan janda muda itu lumayan nikmat, seperti orangnya. Menggoda, sebenarnya. Hanya saja Robby tidak tertarik.
“Erlangga tidak ikut pulang?” tegur Robby memahami situasi anaknya.
“Pa...”
“Baiklah! Aku titip anakku ya?” Ujarnya kemudian pada Sulastri.
Nama yang kuno! di zaman modern masih ada nama seperti itu. Senyum Robby sepintas tipis sembari melangkahkan kakinya untuk pulang.
__ADS_1
Erlangga menatap Punggung papanya sedikit, lalu beralih pada Kinan.
Mata papanya terlihat licik, menatap Kinan tidak berkedip. Memberikan isyarat apa sebenarnya? Mangkinkah papanya memiliki transaksi tersembunyi dengan Kinan? Diam-diam Erlangga menangkap tatapan aneh kedua mahkluk kesayangannya itu.
Mungkin papanya hanya memberikan banyak nasehat pada kekasihnya, sebelum dia datang bersama mamanya tadi, atau mungkin Kinan melakukan hal buruk dan di marah oleh papanya.
Dengan pelan dan lembut papanya jelas -jelas ada maksud menyentuh pundak Kinan yang duduk di kursi seberangnya tepat dalam rengkuhan Erlangga.
“Baik-baik ya,” pesan Robby.
Sepanjang malam Robby membully dirinya sendiri. Menghakimi kekonyolan dan Kebodohannya. Mengapa Robby menyukai Kinan yang masih anak-anak dan terlihat lugu? Mengapa harus Kinan? Akan lebih baik Jika yang di inginkannya adalah mamanya saja.
“Aku menyukai Kinan?” Bisiknya pelan pada hatinya yang kosong.
Tidak! Robby mencoba menyangkal perasaannya itu.
Menjelaskan panjang lebar, sebab akibat jika dia meneruskan perasaannya.
Ini hanya rasa simpati dan kasih sayang seorang papa, elaknya.
Lalu apa yang terjadi malam kemarin? kemarin dan kemarin.
"Tadi!"
Aaaaaah! Robby berteriak sendirian, menjambak rambutnya dengan kencang. Lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Malam pertama kali dia menyentuh Kinan. Robby sadar dia tidak benar-benar dalam keadaan fly? Robby mengakui semua dia lakukan karena dia memang tidak bisa menahan hasratnya.
Buksit!
Robby mencoba tidak perduli. Biarkan saja nanti lama-lama Kinan akan tau bahwa perasaan mereka bukan cinta tapi hanya butuh sesaat.
Mungkin Kebersamaan yang terjalin sejak lama, yang membuat suasana seperti saling suka, nyaman dan menginginkan itu ada.
Mata Robby tak mau terpejam. Sesekali dia melihat pintu yang tertutup rapat di sebrang
Berharap Erlangga pulang membawa Kinan.
Bulsit! perasaan apa ini?
Asap rokok mengepul melingkar -lingkat seperti penari ular. Robby tergeletak di sofa tidak berdaya.
Mengapa justru dia yang harus menjadi bulan-bulanan perasaan menginginkan.
Apa ini? Robby terus
menyiksa dirinya dengan perasaan anehnya.
“Aku sudah tua, mengapa jadi seperti anak-anak.”
Pasti ini karena Erlangga terlalu sayang pada Kinan, sehingga diapun ikut Sayang! Mulailah dari perdebatan sengit di hatinya, hadir perasaan menyudutkan sisi lain. Menyalahkan.
__ADS_1
BIARKAN KUPELUK PELANGI YANG SUNYI
Arjuna Bayu
Aku menterjemahkan tragedi
menjadi arti sebuah kisah nyata yang elegan
kueja satu persatu kenangan yang hilang
dan kurakit menjadi sebuah pelangi sebelum hujan datang
untuk menjadi payung perjalananku ke langit biru
Ada kelopak bunga jatuh bersama cahaya gaduh di pagi hari menimpa wajahku
Oh, itu serpihan rindu yang pernah aku tanam di negeri kayangan
Heeem,
Ada apa dengan ladangku Sehingga daun-daun rindu berguguran
Kukayuh rakit semakin cepat
Tunggu...
jangan layu...
Aku datang
akan kubawa segenggam bahagia untuk membuatmu bersemi kembali
Akan kubawa sejuta cinta untuk menyirami
Bagaimana aku bisa lupa
jika di ladangku
telah aku tanam setengah jiwa yang rapuh
Kebodohanku yang terlena
adalah musim yang menggenggam luka
meratapi perih hanya sebuah kata
Semua terlambat sudah
BIARKAN KU PELUK PELANGI YANG SUNYI
__ADS_1
KOPI SENJA 05022023/ 12.01