RETAK

RETAK
REDUP


__ADS_3

Ini sebuah situasi yang rumit bagi seorang Robby. Menyesal hanya sebuah perkara saja, apapun itu tanggung jawab yang utama.


Robby sadar dia bukan lagi anak ABG yang bisa mabuk kepayang dan berbunga -bunga. Atau bisa dibilang Robby sudah terlalu bangkotan untuk urusan cinta cintaan dengan warna pink.


Lelaki dewasa akan mempertimbangkan sebab akibat untuk semua tindakannya.


Robby menyadari dia terjebak dalam suasana ambigu. Menghindari Kinan demi Erlangga atau meneruskan hubungan demi tanggung jawab.


Ah! Mungkin dengan terus memperhatikan Kinan, semua bisa membaik.


Robby harus memastikan tidak ada janin yang tinggal di rahim Kinan. Karena dengan adanya janin itu, semua akan berantakan.


Bukan hanya hubungan Kinan dan Erlangga yang menjadi taruhan tapi juga ada hubungan yang lebih di perhatikan Robby. Hubungannya dengan Erlangga.


Dari sisi manapun Robby jelas tidak ingin terpisah dari anaknya.


Lalu jika ternyata Kinan hamil bagaimana?


Aaah...


Bodoh! Robby terus mengeluhkan atas kecerobohan dirinya.


'Harusnya aku memakai pengaman'


Robby benar -benar menyesali satu kebodohan yang dengan sengaja dilakukannya.


"Rob,"


Seorang wanita memeluk Robby dengan hangat. Siapa?


"Makasih untuk hari ini."


"Heeem."


Robby bergumam tanpa mengubah posisi berdirinya. Tatapannya masih pada langit yang biru di tengah malam.


"Aku melihat kamu bengong sepanjang malam, apa kamu tidak puas?" tangan wanita itu menyusuri lekukan leher Robby hingga menyentuh jakun dan dagu Robby. Pelukan nya mengencang.


Robby tersenyum. Malam panas bersama Kinan benar -benar menjadi malapetaka. Sejak malam itu Robby tidak bisa menahan hasratnya pada wanita.


Malam -malam panjang selalu Robby habis'kan bersama wanita di luar rumah. Namun tidak ada yang bisa mengobati dahaganya akan ranjang Kinan.


Kinan...


Apa sebenarnya yang sedang di alami Robby? jatuh cinta kah?


Mengapa bayangan kinan tidak mau hilang. Wajah Kinan selalu membentang menutupi pandangan.


Di manapun dia berada gadis kecil itu seolah mengikutinya, menganggu dan terus saja memberikan desiran aneh.

__ADS_1


"Rob, bisa tak saat bersamaku, kamu tidak memikirkan yang lainnya?"


"Wen, buatkan aku kopi, kamu tau kan kopiku?"


Wanita yang memeluk Robby tidak lain dan tidak bukan adalah Wening. Wanita dewasa berselimut orens itu melangkah dengan anggun.


Robby tidak ingin memalingkan wajahnya meskipun sekedar hanya ingin tau, betapa seksinya wanita itu tanpa busana sama sekali. Dia lebih asyik mencari satu pendar bintang yang berkeliaran di atas sana. Bintang itu kecil dan mungil, namun bercahaya dengan terang. Wajahnya yang manis seolah memanggilnya.


Kinan...


Setelah sekian lama Meylana pergi, mengapa baru kali ini Robby mendapatkan rasa yang mengaduk-aduk emosi nya.


"Mey, aku jatuh cinta Mey,"


Robby membekap wajahnya Gusar.


Robby harus jujur pada diri sendiri bahwa dia jatuh cinta pada Kinan.


Orang dewasa akan mengambil keputusan tidak berdasarkan keinginan pribadi, banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh orang dewasa untuk memilih jalan akhir.


Robby memilih untuk tidak mengikuti apa yang di inginkan hatinya tentang cinta.


Setelah di amati dengan baik, sepertinya Wening bisa menjadi tempat untuk mengalihkan perhatiannya pada kinan.


"Kopi kesukaan mas Robby, buatan Wening, siap."


Robby baru mengalihkan tatapannya pada wanitanya. ia menjulurkan tangannya mengapai Kopi yang di pegang Wening. Asap yang di keluarkan dari campuran gula dan kopi yang di seduh dengan air panas mendidih. Sangat nikmat.


Robby mengamati Wening beberapa saat, di tau di balik selimut yang di pakainya ada pemandangan nan luar biasa.


"Ada apa? kamu menginginkan lagi?"


Wening memasang wajah menantang. Setelah beberapa ronde mereka lewati, apa mungkin Robby masih mampu? bisiknya dalam hati menantang.


"Wening? apa kamu seyakin itu dengan cintaku?"


Tangan kanan Robby menyelinap di bagian belakang leher Wening, menyibakkan sedikit rambut sebahu yang menebarkan aroma wangi shampoo Shin zhui itu. tangan kirinya yang masih memegang secangkir kopi panas, meletakkannya di atas meja yang tidak jauh dari keduanya berdiri.


"Aku tidak perduli, seperti apa rasamu padaku, yang aku peduli aku bahagia bersamamu,"


Di antara sesapan Robby yang memaksakan lidahnya memasuki ruang hampa mulutnya, Wening menjawab dengan terbata-bata.


Arg!


Wening mengerang, mendapatkan dirinya yang sudah berada dalam dekapan Robby. Robby membopongnya seperti sekarung jerami yang tidak memiliki berat. Begitu mudah dan melemparkan dirinya ke ranjang dengan sedikit kasar.



REDUP

__ADS_1


Arjuna Bayu


Siang ini


langit yang biasanya biru


Terlihat redup


Awan kelabu menutupi rautnya hingga pekat dan hitam


Siang ini


matahari berlari ketakutan


bersembunyi di antara ranting cemara


Aku mengigil


Sepi memecah siang yang riuh oleh hujan


Luka yang mulai biru membeku


Kini kembali me,merah


Rasanya ingin menyerah


Aku ter,amat lelah


Siang ini


Sajak yang kutuliskan


Adalah penggalan pengalaman


Kalimah yang kususun


Antara ada dan tiada


Siang ini


Ladang jiwaku tandus


Tidak ada benih kata -kata yang dapat ku petik


Dalam Lelah jiwaku yang koyak


Kucoba menikmati secangkir rasa manismu


Untuk melepaskan dahaga di musim kemarau dalam hujan tandus

__ADS_1


Lampung 25052022/14.07


__ADS_2