RETAK

RETAK
REMBULAN YANG PUCAT PASI


__ADS_3

“Sayang nanti kita jalan ya? Ini kan ujian terakhir! Refreshing.’’ Lanjut Kinan tidak ingin melanjutkan berprasangka apapun dengan menambah beban pikirannya tentang Robby.


Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan ke dunia yang selayaknya tempat mereka.


Apapun yang terjadi, Kinan jelas dengan keras menolak desiran aneh yang datang saat berdekatan dengan papanya Erlangga. Biarkan malam itu menjadi kenangan terindahnya, bersama lelaki yang ada di hatinya selama ini.


“Oke, apapun untuk bidadariku.” Kali ini Erlangga mendapatkan satu ciuman manis sebelum Bell berdentang tiga kali tanda masuk.


Pintu gerbang sudah di tarik kencang oleh pak bakat. Erlangga bergegas lari untuk segera masuk, dua rentang telapak tangan lagi pintu gerbang itu tertutup rapat, Erlangga menerobos masuk, membuat pak bakat marah.


Bu Meysi yang masih berdiri tidak jauh dari pintu gerbang mengayunkan bambu sepanjang satu meter ke arah Erlangga, berlaga hendak memukul.


“Eits! No no no...” elak Erlangga sembari berlari menuju kelas.


****


Sisa satu mata pelajaran. Erlangga sudah menyelesaikannya. Haaah...Dia menguap sangat nikmat.


Erlangga meletakkan pensil dan perlengkapan ujian di meja dengan rapih. Tidak ingin cepat-cepat keluar, dia malah merentangkan tangan rileks lalu dengan pelan melipatnya, menyangga kepala dengan lembut, kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


Soal semudah itu mengapa mereka begitu lambat mengerjakannya. Pikir Erlangga sembari memejamkan mata.


“Erlangga!”


Wanita yang begitu manis berdiri di sisi mejanya. Tangannya yang indah dan lentik menyentil telinga Erlangga.


“Ya, Bu Meysi.”


Erlangga meraba -raba bagian telinganya yang terasa seperti di gigit semut.


“Sudah selesai?”


Erlangga hanya mengangguk, pelan. Matanya masih terasa mengantuk. Semalaman dia tidak bisa tidur, selain dia begitu repot dengan mainan barunya ‘Motor king’ Dia juga menunggu kabar papanya yang sempat mengabarkan tentang Kinan.


“Usai sudah ujian Nasional. Kamu tinggal menunggu hasilnya.”

__ADS_1


“Iya Bu.”


“Ada papamu di kantor.”


Erlangga langsung bergegas menuju kantor selesai menyerahkan lembar ujiannya.


Bu Meysi mengabarkan bahwa papanya menjemput dan sudah menunggu cukup lama.


“Ah, aku kan ada janji dengan Kinan.” Mengingat janjinya dengan Kinan.


“Bisa ngambek Kinan, jika aku tidak bisa pergi lagi. Tapi... dia tidak pernah marah.”


“Asallamualikum...” Erlangga berdiri di ambang pintu.


Pandangan yang tidak pernah berubah, ketika papanya datang ke sekolah. Langsung melihat papanya yang di kerumuni guru-guru.


Semua mata menghampiri Erlangga, tidak ada yang mempersilahkan dia masuk. Seharusnya mereka sadar untuk mendapatkan papanya harus melewati seleksinya.


Jika aku bilang tidak! Makan no!


Dasar! Mata wanita tidak bisa melihat duda menganggur!


Cukup lama berdiri menjadi bahan perhatian Erlangga akhirnya masuk dan duduk di samping papanya.


“Kalian mirip ya?” Ujar seorang guru wanita mengomentari mereka. Papa tersenyum sangat manis, jangankan mereka kaum hawa, Erlangga sendiri yang anaknya, dan setiap hari bertemu, terpesona oleh karismatik papanya.


Papanya adalah lelaki yang tidak banyak omong tapi bertindak. Dia jarang menciptakan obrolan yang tidak ada kepentingannya. Apalagi dengan orang-orang sekitar yang sangat menyukai obrolan basa basi, papanya sangat tidak suka.


Meskipun tergolong ramah dan dermawan papanya bukan seorang yang pandai bersosialisasi dengan lingkungan.


“My time is money." Itu katanya.


“So, Jangan suka buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting, Er.”


Papanya orang yang tegas, satu satunya hal yang tidak bisa membuatnya tegas hanya lah Erlangga.

__ADS_1


‘‘Hidup itu harus tegas! Jika tidak kamu akan di permainkan oleh keadaan. Orang -orangan sawah pun memiliki arti dalam kehidupan, apalagi kita manusia yang sempurna! Jangan buat dirimu terlihat bodoh di depan orang. Lebih baik diam saja dari pada sok tau. Karena sok tau akan menunjukkan karakter burukku secara tidak langsung. Dan jangan banyak omong! Lelaki itu harus bisa menjaga sikap. Jika tidak! kamu akan berakhir menjadi badut!"


Erlangga dalam diamnya sangat mengidolakan papanya, dia selalu mengikuti gaya, tampilan, cara bicara dan keseharian papanya.


“Baiklah, karena keperluan saya di sini sudah selesai, saya ijin pulang.” Robby mengakhiri perbincangan umum dengan pihak sekolah.


Beramah-taman dan juga mengucapkan salam perpisahan dengan baik sudah selesai.


Sebagai salam perpisahan papanya mengulurkan tangannya menyalami semua orang. Tidak lupa papanya membawakan bingkisan sebagai kenang-kenangan untuk mereka.


“Assalamualaikum...” Ujarnya.


Erlangga mengikuti langkah papanya keluar.


“Pa aku ingin pulang bareng Kinan! Aku sudah janji mau menghabiskan waktu bersamanya.”


Robby menatap Erlangga, dan mengangguk. Matanya sendu mengingat sebuah kejadian di malam gelap dan dingin bersama kekasih anaknya itu.


Rasa bersalah menyeruak membuat dadanya sesak untuk waktu cukup lama.



*Tc, Kalimantan punya cerita*


Lembaran awan aku menunggumu di sini


hingga rindu berganti risau


Seperti menanti hujan di musim kemarau


Jangan biarkan aku mengigau namamu pada sekelebat bayang semu


Hingga rembulan pucat pasi kau tak menepati janji


Membiarkan rindu membakarku menjadi abu

__ADS_1


Kau tak jua datang padaku


TNBBS LAMBAR 20012022/18.11


__ADS_2