RETAK

RETAK
PART 6


__ADS_3

Hari sudah petang, sekarang rara entah mau kemana, alfian sebenernya mau mengantarnya kerumah jasmine tapi rara memilih untuk turun di dekat halte bus dengan alasan ada keperluan sempet lama rara menunggu alfian menjauh tapi akhirnya alfian percaya.


dan sekarang rara hanya berjalan dengan pikiran melayang, dirinya disini tapi otaknya entah kemana,Yang ada dipikiran rara hanya 'Hamil' ya cuma itu yang rara takutin? apalagi pria itu ngeluarinnya didalam, bagaimana kalo nanti bener rara hamil apa dia mau tanggung jawab? ah membayangkan saja membuat rara merinding bagaimana kalo itu bener2 terjadi dan dia tidak mau bertangung jawab? Arghh rara pusing memikirkan ini.


mungkin kalo jalan ini ramai rara dikira orang gila teriak2 sendiri sambil menjambak rambutnya dia lelah, katakan saja rara rapuh.


"ya allah rara capek, rara lelah denga hidup ini?" teriak rara air matanya lolos dari pelupuk mata.


"Rara nyerah, mamah papah rara mau nyusul mamah papah!? Rara mau bahagia cuma itu yang Rara mau tapi kenapa sulit sekali untuk rara gapai sekarang rara bukan seorang gadis polos lagi rara gadis kotor, mah apa boleh rara nyerah, pah apa boleh rara nyusul kalian" ucap rara bermonolog dengan dirinya sendiri sambil melihat ke atas langit, banyak bintang yang bersinar.


rara melanjutkan jalannya sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan menangis dia gak bisa menahan air matanya lagi, saat diperjalanan rara melihat tali tambang yang ada didekat semak2 rara mendekat dan menatap tali itu sambil tersenyum miring air matanya lolos seketika, rara mengambil tali tambang itu.


▫️▫️▫️


Rara mengikat tali itu di pohon yang cukup tinggi lalu mengukur lehernya sendiri dan rara mengalukan tali itu dilehernya sebelum mengantung diri.


"ya allah maafkan hamba mu ini yang sudah ngambil jalur iblis" ucap nya


"mah pah tunggu rara ya" setelah itu rara.


dan.....


kejadian selanjutnya..........


rara.....


"nak jangan" teriak seorang setengah paruh baya dari belakang rara.

__ADS_1


"nak turun lah jangan lukain dirimu sendiri" ucap wanita tersebut yang sudah memegang pergelangan tangan rara, rara melihat kearah ibu itu


▫️▫️▫️


rara duduk di tempat tak jauh dari pohon tadi, rara dan ibu itu duduk di pinggir jalan, hari sudah gelap pengendara pun dikit yang halu lalang


"ada masalah apa?" tanya ibu tersebut, rara hanya menatap lurus dengan air mata nya jelas, ibu itu paham bahwa gadis dihadapanya tidak bisa menjawab hanya air matanya yang mampu ia keluarkan, ibu itu langsung memeluk tubuh rara dan mengusap punggung rara dengan sayang ini membuat rara semakin menjadi nangisnya


ibu itu pun melepaskan pelukanya, rara menghapus air matanya dengan punggung tangan.


"nak seberat apapun masalahmu jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, hidup terus berjalan dan masalah itu adalah kunci kamu menjadi dewasa atau menjadi yang lebih baik lagi, jadikan masalah itu sebagai pelajaran untuk kamu, hidup ini memang banyak cobaan untuk menuju kebahagian" Ucap ibu itu dengan tulus.


"Yang ibu bilang gak berlaku untukku" ucap rara sambil menatap langit gelap


"kenapa gak berlaku setiap orang memang punya masalah, kamu dan ibu punya masalah nak"


"buktinya Allah gak pernah memberikan aku kebahagiaan" ucap rara


"Bu, aku lelah aku capek sama hidup ini, kenapa aku harus dilahirkan jika akhirnya menderita? apa aku di lahirkan untuk merasakan penderitaan" ucap rara


"gak gitu, coba kamu ceritakan ke ibu siapa tau ibu bisa bantu, daripada kamu pendam masalah ini sendiri" ucap ibu tersebut, rara menoleh menatap ibu tersebut, apakah ia harus menceritakannya? kalo rara tidak menceritakanya mungkin apa mungkin rara kuat?


"huft, Pertama aku merasakan bahagia disaat mamah dan papah masih hidup, saat aku Baru masuk SMP mamah ninggalin aku dan setelah dua tahun papah menduda akhirnya papah nikah sama ibu setiap papah kerja ibu menjadikan aku pembantu dirumahku sendiri, bahkan kakak tiriku selalu mengadu dombaku dengan papah dan membuat papah benci sama aku" jelas rara, rara gak bisa ngebanyangin saat papahnya marah besar karna dia pulang malam dan tidak ijin kepada papah. tapi sebenernya aku disekap digudang sekolah, aku tau pelakunya tapi papah gak mau mendengarkan penjelasan.


"jadi ini yang membuatmu mengakhiri hidupmu" ucap ibu tersebut


"bukan itu, bu."

__ADS_1


"lalu kenapa, apa papahmu berbuat kasar"


"papah sudah meninggal, penyebab papah meninggal aku, karna aku ngadu ke papah kelakuan ibu dan kakak tiri aku, aku gak tau kalo dampaknya bakal seperti ini, disaat aku ngadu ternyata ibu dan kakakku mengedit foto ku yang enggak2 membuat papah kena seranggan jantung dan meninggal, dan ibu tau tidak papah meninggal saat aku baru masuk SMA, hehe bisa samaan gitu ya" jelas rara di akhir kalimat ketawa sumbang


"dan disaat itu aku disiksa sama ibu, bahkan aku gak boleh ngelanjutin sekolah tapi karna aku ingin melanjutkan pendidikanku hingga nanti aku jadi sarjana aku menentang kata ibu, aku bahkan ikhlas dijadiin pembantu di rumahku sendiri, aku bersyukur karna SMA aku mendapatkan beasiswa di SMA yang ternama jadi aku tidak membayarnya. dan saat kuliah pun aku dapat beasiswa ya walaupun kuliah banyak kegiatan yang menggunakan biaya tapi itu bisa aku dapetkan dengan berkerja sampingan, tapi bu..." rara jeda 5 menit menetralkan jantungnya dan berusaha tidak menangis "Ibu tega menjualku" aku bisa liat ibu itu terkejut dikalimat terakhirku, dia menganga menatapku tidak percaya.


"jangan kaget seperti itu bu" ibu itu kembali memeluk rara kini erat dan dengan kasih sayang


"ibu gak bisa ngomong apa-apa ibu hanya bisa bilang bersabarlah dibalik ini semua pasti ada hikma yang tersembunyi, jangan lagi nyakiti diri mu" ucap ibu itu disela-sela berpelukan, rara mengangguk dia bisa merasakan pelukan sosok ibu walaupun dia baru kenal tapi pelukan ini yang rara rindu dan lagi2 rara menangis, ibu itu yang mengetahui rara menangis melepaskan pelukanya lalu menghapus air mata rara dengan ibu jarinya


"jangan sedih lagi, ibu mau kamu senyum" pintanya, rara pun tersenyum.


"gitu dong senyum, senyum kamu manis jangan nangis terus, semangat jalanin hidup ini, ibu memang tidak berada diposisimu tapi ibu bisa merasakanya" jelas ibu tersebut.


"oh iya nama kamu siapa?" tanya ibu tersebut


"Rara, kalo ibu"


"Rara nama yang bagus, nama ibu ina"


"oh ya sudah ibu pulang dulu ya, inget jangan mencoba bunuh diri lagi itu dosa" ucap bu ina


lalu bangkit dari duduk, rara mengangguk dan melambaikan tanganya dan bu ina pun jalan.


▫️▫️▫️


**bersambung....

__ADS_1


khusus bab ini aku panjangin aku gak bisa buat yang lebih sedih lagi kalo bagi aku segitu sih sedih tapi gak tau kalo bagi kalian, semoga suka ya ini cerita kedua aku.


oh iya tadinya aku mau pasang visualnya tapi nyari visual cowok yang cocok susah, visual rara aku udah dapet tapi yang cowoknya susah jadi mohon bersabar**


__ADS_2