RETAK

RETAK
TENTANG KITA


__ADS_3

Robby terkejut melihat Kinan sudah ada di dalam rumah. Ada curiga, jika Kinan tidur di rumahnya bersama Erlangga.


Apa mungkin mereka berdua...?


Kinan tampak lebih terkejut melihat Robby muncul di ambang pintu. Tidak ada suara mobil atau yang lainnya. Ini semua gara-gara Erlangga yang tidur di rumahnya, sehingga membuat Kinan harus membangunkan anak itu lalu mengikutinya pulang. Erlangga sangat manja, apa-apa minta di temeni. Pikir Kinan mencoba menjelaskan pada pandangan Robby yang terlihat curiga. Namun semua alasan dan penjelasan nya hanya ada di dalam hati, Kinan tiba-tiba tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dia gagu, kaku dan gemetar, salah tingkah sendari dan risau.


Seperti dua ekor tikus yang kehilangan akal keduanya langsung melangkah ke arah yang selalu bertabrakan.


“Kinan dulu, mau kemana?”


Robby berhenti bergerak, dan mempersilahkan Kinan mengambil langkahnya.


Robby merasa geli melihat tingkahnya sendari. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Astaga! Bisa bisanya dia merasa seperti apa itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hatinya terus berdesir.


“Pa, Erlangga mau ke sekolah dulu ya?!”


Dari luar terdengar suara Erlangga yang kencang. Bukan tidak ingin menjawab anaknya yang berpamitan, tapi rasa malu yang di akibatkan oleh tingkatnya di depan Kinan Baru saja tidak bisa di tahan, Robby memilih pura-pura tidur.


“Papa dah tidur, lembur kali semalam.” Terdengar Erlangga menjelaskan pada Kinan. Tidak lama dari Erlangga berpamitan terdengar suara motor King menjauh.


Robby mendekap wajahnya. Mengapa dia bisa sebodoh ini karena Kinan, bahkan menghadirkan Wening tidak berpengaruh apapun. Apa yang di rasakan hatinya pada Kinan masih sama.


Ah! Harus bisa menghindar! ini tidak boleh di lanjutkan.


(“Halo Wening, aku akan adakan makan malam, datanglah ke rumah.”)


(“Tapi pak! Pekerjaan masih begitu numpuk! Apa tidak ada masalah jika saya tinggalkan?”)


(“Datanglah, aku membutuhkan mu.”) Harap Robby.


Wening berpikir sejenak, tapi sekeras apapun dia berpikir dia tetap mendapatkan dirinya dalam masalah. Wening tidak yakin bisa datang di acara makan malam bosnya itu.


(“Wening! Datanglah, dan jadilah kekasihku malam ini,”)


(“Maksudnya?”)


(“Eeeewh, maksudku, pura-puralah jadi kekasihku malam ini.”)


Wajah Wening memerah, awalnya dia merasa salah mendengar, tapi ternyata dia memang salah mengartikan.


Bukan menjadi kekasihnya tapi pura-pura menjadi kekasihnya.


Sialan! Untungnya belum kepedean! Umpat Wening bersyukur terhindar dari rasa malu.


Tapi, Wening penasaran, ada siapa di acara makan malam itu, sehingga Sang Robby harus menjadikan dirinya kekasih bohongannya.


("Baiklah pak, saya akan datang.")


Kening Wening mengerut, rasa penasaran membuat dia menarik garis bibirnya sinis.


Aku akan datang!


Di dorong rasa penasarannya, akhirnya Wening mengesampingkan kesibukan yang akan membelenggu dirinya di kemudian hari.


Robby bersikekeh bahwa rasa yang ada di hatinya harus segera di akhiri, tidak ada jalan lain yang bisa di lakukan olehnya kecuali menghadirkan orang ke tiga.


“Assalamualaikum...?”


Robby melongok ke arah pintu, melihat dari mana sumber suara datang.


Jam dinding menunjukkan pukul 11.35. Erlangga menyelonong masuk mendahului pemilik suara yang mengucapkan salam.


Sulastri masuk dengan banyak sekali bawaan.

__ADS_1


“Apa itu?”


Robby berdiri untuk membantu Sulastri.


“Anak-anak sudah lulus ujian, tidakkah kita membuat acara. Sekedar memberikan ruang rileks buat mereka, lagi aku dengar Erlangga akan segera pergi." Keluh Sulatri seolah anaknya yang akan meninggalkan dirinya.


Robby berdiri saja, bahkan dia sudah meminta Mbak Dian untuk belanja keperluan.


“Iya sih,tapi kan belum sekarang.” Ucapnya kemudian sembari meletakkan semua bawaan.


"Ini berat! untuk apa kamu belanja sebanyak ini? lagi jika memang mau belanja banyak kan bisa bareng mbak Dian."


“Mas lupa ya, Erlangga mau pergi, kita harus buat kesan yang manis!”


Robby mengerutkan keningnya. Bahkan Sulatri bisa lebih peka dari papanya sendari.


"Nanti kita bakal tidak bertemu dia lama. Inilah obat kangen kita nanti." Lanjut Sulatri lagi. wanita yang sudah setengah umur itu terus sibuk dengan dapur, tanpa menghiraukan Robby yang memperhatikan dirinya sendari tadi.


Robby mengeluhkan dirinya yang menyimpan rasa salah. Bahkan dirinya tidak menginginkan wanita satu itu.


Jika begini kejadiannya, untuk apa dia menelfon Wening! Kan bisa saja dia dekat dekat dengan Sulatri untuk menyingkirkan anaknya.


Huh!


“Nanti Wening ke sini ikut makan malam.”


Sulastri terdiam mendengar ada nama wanita lain yang akan ikut meramaikan acara keluarga mereka. Terlebih itu nama wanita yang sangat tidak dia suka.


Wening, di lihat dari sisi manapun memilih banyak kelebihan di bandingkan dirinya.


“Apa tidak bisa acara ini kita saja yang rayakan?” ucap Sulatri menunjukkan wajahnya yang tidak suka.


Robby menatap wanita di hadapannya, ada cemburu di sana.


“Aku sudah terlanjur meneleponnya. Tadinya aku mau pesan makanan dan minuman untuk acara makan malam kita, kupikir kamu sibuk.”


Sulastri meletakkan kedua tangannya di atas meja, matanya beralih menatap Robby yang masih berdiri tidak jauh darinya.


"Bukannya begitu, tapi...?"


"Ya sudahlah! aku pamit pulang, nanti aku ada acara jadi kemungkinan nggak bisa menemani mu makan bersama anak-anak."


Suasana menjadi sedikit aneh. Robby jadi bingung dengan keadaan yang tiba-tiba berubah menjadi Medan panas.


Sulastri sudah mencapai pintu, ketika Robby tersadar dari lamunan.


"Lastri!" panggilnya.


"Aku sudah terlanjur menelefon Wening, tidak mungkin aku batalkan begitu saja, harga diri!"


"Ya, nggak papa mas, aku juga baru ingat ada acara malam ini. Alhamdulillah jika mbak Wening menemani mas."


Robby mengangguk, "Tapi datang ya, malam nanti! aku tidak mau tau alasannya! kamu harus datang." Tegas Robby memaksa.


Dia tau, Sulatri cemburu dengan Wening, tapi dia sudah terlanjur melakukan kesalahan.


Robby melirik Erlangga yang gelisah.


“Ada apa Er? Ganti bajumu sana!"


Robby duduk di depan TV, dia dengan cuek merampas remote control yang di pegang Erlangga.


“Aaaah! Pa...!”


“Apa?!”

__ADS_1


“Itu lagi Acaranya!”


“Emang mau nonton drama Korea?! Ada apa sih? Kok kayak gitu wajahnya?”


“Pa! Hari ini Kinan aneh lho! Dia marah sepanjang hari.”


“Lagi Pms kali.”


“Dah lewat itu pa!”


Robby menatap Erlangga dengan tatapan skeptis. Bagaimana Erlangga tau pms Kinan sudah lewat.


“Sana datangi saja! Nggak usah sinting sendiri!”



TENTANG KITA


#Arjuna Bayu


Tentang kita


biarkan saja


terukir indah dengan warna-warna


membias merona di ujung senja


Tanpa harus meminta


tanpa harus bicara


biarkan waktu berjalan seperti roda


kisah air mata kita menjadi sempurna


tanpa batasan


karena dunia kita memang cinta dan air mata


Aku tak ingin ini berlalu


semua rasa tak ingin aku akhiri


meskipun getir


langkahku masih ingin menyisir


akan apa yang dapat kulihat


di sana di akhir cerita kita


aku telah menemukan cinta yang membuatku


damai


Tentang kesungguhan rasa jangan kau ragukan


Tenang rindu usah kau tanyakan


Kau telah berhasil menghujaniku dengan risaunya


Menahan rindu sepanjang waktu


menahan resah sepanjang sejarah

__ADS_1


Menahan sakit cinta yang tak tersampaikan


KOPI SENJA SEL24012023/07.56


__ADS_2