
Pagi yang manis di awali dengan sinar matahari yang cerah, angin bertiup sepoi-sepoi menerobos masuk melewati celah-celah jendela dan pintu yang terbuka.
Robby tidak menoleh bahkan melirik saat Erlangga dan Kinan melangkah pergi meninggalkan rumah. Bahkan ketika terdengar suara motor king peninggalan istrinya itu menjauh, Robby masih saja duduk di depan TV tidak bergerak.
Dia terus menyeruput secangkir kopi yang di buat oleh Dian.
“Tumben pa, di rumah!”
Erlangga melemparkan tasnya di atas meja depan Robby, membuat duren yang sedang santai dengan acara TV itu terkejut.
Erlangga langsung duduk ikut menikmati kopi miliknya.
“Ngopo! Nggak suka, Papa di rumah? Emangnya gw pikirin!”
“Ya tumben aja!”
“Kok sudah pulang? Perasaan baru keluar! Papa saja belum gerak dari kursi, mager! Bahkan kopi papa belum habis.”
Erlangga melihat pintu yang tertutup rapat, seperti menanti seseorang.
“Ada apa? Kok gelisah.”
“Kinan suka marah-marah! Kenapa ya pa?”
“Kamu lebih tau dia.”
“Nggak biasanya.”
“Biarkan saja, nanti juga sembuh sendiri.”
“Nggak, Khawatir aja pa! Kinan pulang, nggak mau ke sini.”
“Ya elah, itu rumah dia Erlangga!”
“Tapi nggak biasanya gitu pa.”
Robby menatap punggung Erlangga yang menghampiri pintu, melihat di arah rumah kinan.
Huuuuuuuufffg...
Erlangga memiliki wajah dan postur tubuhnya.
“Jaga anak kita, sayang!” pesan terakhir mendiang sang istrinya terngiang.
Mata Robby berubah sendu, ada kesedihan yang mendalam di sana. Mengapa istrinya pergi begitu cepat.
Terkadang Robby menyesali kepergian istrinya yang terburu-buru. Meninggalkan dirinya dengan keadaan seperti ini.
Tidak sekalipun Robby melupakan tentang Meylana istrinya.
__ADS_1
Meylana pergi untuk selamanya setelah melahirkan buah hati mereka yaitu Erlangga.
Melahirkan secara normal dan lancar, namun Meylana kehabisan darah di satu bulan pasca melahirkan.
Dan, tubuhnya tidak mampu menahan sakit perjuangan bertahan hidup. Dia pergi dengan tenang tanpa ada tetesan air mata dan keluhan dari Robby.
Sebagai seorang lelaki yang baru saja menikah dan baru saja di karuniai seorang momongan, Robby tentu saja masih dalam keadaan sangat bahagia.
Kepergian Meylana seolah membawa separuh nyawanya. Robby menahan semua keluhan dalam hati, berusaha tersenyum meskipun melihat nafas istrinya melepaskan raga.
Hanya genggaman tangannya yang mengencang! menggambarkan betapa hancurnya kehilangan.
Seandainya dia sanggup menarik kembali nyawa yang mulai meninggalkan raga itu, ingin rasanya dia melawan malaikat maut! Tuhan tolong biarkan kami bahagia! Malaikat izrail tidak memberikan pilihan sebagai kompensasi.
"Tugasku mencabut nyawa, dan tugasmu melanjutkan hidup!"
Takdir memang tidak memiliki belas kasihan. Mempermainkan kehidupan di muka bumi ini selayaknya sebuah Game Online. Merenggut nyawa-nyawa tanpa perasaan dan tidak memberikan kesempatan untuk sebuah perjuangan.
Meylana 28 tahun berkebangsaan Jepang Wafat di kota Surabaya.
“Mey...” Tanpa terasa Robby menyebutkan nama mendiang istrinya, lirih dan luruh.
“Apa pa?” Erlangga masih duduk di hadapan Robby, menatap sekilas -sekilas wajah papanya yang selalu sedih.
Sudah biasa papanya menyebut nama mamanya jika sedang melamun atau sedang tidur.
“Oh, ya! Erlangga ada apa?”
Robby membekap mulutnya menahan Isak. Mengingat Meylana istrinya.
Momen terakhir istrinya menghembuskan nafas terekam dalam memorinya.
Meylana menghembuskan nafasnya dalam dekapan hangat Robby Patris. Tidak ada keluh kesah air mata, Meylana pulang dalam ketenangan.
Hingga akhir pemakaman, Robby masih bisa diam menahan sedihnya kehilangan.
Lima tahun waktu cepat berjalan, Robby masih terus mendatangi area pemakaman. Menumpahkan kerinduannya.
Dia selalu mengabarkan perkembangan Erlangga. Berkeluh kesah tentang keperluan rumah, dan kesibukannya antara pekerjaan dan kegiatannya mengurus anak mereka.
Dia pun selalu membawa putra kesayangan mereka dalam gendongan.
“Mey, anak kita sudah besar, dia sangat tampan. Mey... aku lelah harus masak sendiri, harus mencuci sendiri, harus menggosok sendiri! Mey...”
Tidak jarang Robby menumpahkan air mata di atas gundukan tanah yang sudah mengering itu. Memeluk batu nisan. Mengenang betapa indahnya waktu singkat yang sempat di berikan istrinya.
“Mey, aku sangat rindu ranjang! Akankah aku meniduri wanita lain? Bukankah itu berarti aku mengkhianati kamu? Mey, berikan aku jawaban!”
Habis sudah air mata Robby, habis sudah semangatnya, landas bersama acara pemakaman.
__ADS_1
Cukup lama terpuruk! Memakan waktu hampir lima tahun Robby baru bisa sedikit menikmati hidup.
Kadang dalam diamnya dia menyalahkan diri sendiri, yang tidak mampu melindungi istrinya. Terkadang diapun bersembunyi di lorong waktu menenggelamkan kepedihan dan kerinduannya.
Robby tidak menyukai orang lain tau betapa lemah dan rapuhnya dia. Betapa hancurnya dia kehilangan.
Orang mengatakan Robby seorang yang tabah, namun di balik itu dia hanya sepotong daging dan tulang yang tak berpenghuni.
Entah kapan lagi akan terisi kekosongan hidupnya? Entah siapa yang akan berhasil menggenggam hatinya.
Erlangga yang begitu manis menjadi satu satunya nyawanya.
Bertahun-tahun lamanya sudah dia hidup sendiri, tidak pernah melupakan untuk mengunjungi makam istrinya.
“Papa menikahlah, aku janji akan menerima mama baruku dengan baik.” Ucap Erlangga sedih, Erlangga begitu tidak rela melihat papanya larut dan tenggelam dalam masa lalu mamanya.
Hal yang paling tidak disukai Erlangga saat papanya libur kerja adalah wajah sedihnya.
“Aku sangat tidak menyukai itu papa.”
Robby selalu menghabiskan waktunya lama-lama hanya untuk menatap album kenangan mereka.
Mama yang mengenakan pakaian kebesaran rumah sakit sedang menggendong bayi yang pasti itu adalah Erlangga, dan Robby yang memeluk Keduanya dari sisi kanan dengan senyuman bahagia.
“Itu pasti hari yang istimewa bagi papa. Ini sudah enam belas tahun, pa! Menikahlah.”
Robby hanya menggeleng saat anak kesayangannya itu memaksa dirinya menikah.
“Belum Er, belum ada yang bisa menggantikan mamamu.” Jawab Robby singkat tanpa memperhatikan wajah Erlangga yang kecut.
Usia Erlangga sudah enam belas tahun. Selama itulah Robby sendiri tenggelam dalam kesepian. Robby bersikeras untuk tidak mau menikah.
“Papa akan bertemu mamamu nanti.” Ujar Robby pada Erlangga yang selalu memaksa dirinya untuk mencari penganti mamanya.
Entahlah hati Robby seperti telah berhenti pada satu titik, menyerah. Satu satunya kekuatan Robby untuk hidup hanya Erlangga.
*
Apapun rasa itu,
jika bersyukur akan terasa nikmat...
Meski kopi tanpa gula sekalipun,
akan terasa luar biasa...
di atas rasa syukur yang ikhlas
__ADS_1
KOPI SENJA 02022023/21.44