RETAK

RETAK
MAAFKAN PAPA


__ADS_3

Lambaian tangan Robby tidak di hiraukan oleh Erlangga. Dia berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Meskipun ada kesedihan dalam perpisahan mereka namun Erlangga tidak ingin goyang dan mengambil inisiatif untuk berbaikan dengan papanya.


Aku akan pergi pa, selamat tinggal. Jagakan gadisku dengan baik. Hati ini tak ingin goyang. Papa...papa...papa...entah kapan aku bisa menerima kenyataan, jika papa ku akan menikahi kekasihku, atau bisakah hati ini menerima kenyataan memiliki seorang adik dari wanita yang ku puja selama ini. Tuhan berikan aku kekuatan untuk bisa hidup di kemudian hari.


KEBERANGKATAN Erlangga memakan waktu sekitar 11 jam 10 menit lebih dengan maskapai penerbangan yang tersedia 1 penerbangan saja untuk 3 pemberhentian.


Ada dua bandara besar di dekat Tokyo yang menjadi tempat pendaratannya. Pertama adalah Bandara Haneda, kedua adalah Bandara Narita. Dan Erlangga memilih pendaratan di bandara Narita, tempat yang lebih dekat dengan domisili neneknya.


SEORANG wanita dengan tinggi sekitar seratus enam puluh dengan kulitnya yang putih dan badannya kurus, ada keriput di sana sini namun masih terlihat seksi. Wanita itu membentangkan papan nama. "ERLANGGA CUCUKU DARI INDONESIA."


Erlangga mendatangi nenek itu, mencolek sedikit pundaknya.


"Me," katanya singkat.


Erlangga menunjuk dadanya dengan ujung jari dan menunjuk papan nama yang di bawa neneknya. Dia yang tidak pandai bahasa lokal, hanya bisa mengunakan sedikit bahasa Inggrisnya yang berantakan dan gerakan tangannya sebagai bahasa isyarat.


Wanita tua itu meneliti wajah Erlangga, mengapai daun telinganya. Baru kemudian dia melompat ke dalam gendongan Erlangga seperti bayi besar. Nenek itu menciumi wajah Erlangga tidak henti hentinya.


Seorang kakek dengan tongkat menghampiri mereka. Kedua orang tua itu lalu mengobrol dengan bahasa mereka. Erlangga tidak begitu menikmati momen pertemuannya dengan sang kakek nenek. Dia mengeluarkan handphone dari sakunya.


Remaja ini menghela nafas dalam, sebelum kemudian dia membongkar handphonenya, mengeluarkan kartu nomor dan mematahkannya menjadi beberapa bagian.


"Nenek ayok kita pulang," Erlangga menghampiri kedua orang tua itu dan melemparkan kartu nomor itu berserakan ke lantai tong sampah. Good bye, From today I will live by myself.


ROBBY melangkahkan kakinya Masuk ke dalam rumah sederhana yang selama ini menjadi tempatnya menghabiskan waktunya bersama anak kesayangannya.


Kini tempat itu menjadi kosong. Erlangga tidak membalas semua pesan yang di kirim nya, anak itu langsung menghilang begitu saja.


Langit mulai temaram, hari mulai remang-remang. Meskipun tidak ada mendung menutupi wajah langit, namun langit pun tidak ingin memperlihatkan wajah cerah.


Robby menghela nafas tak berdaya, dia membanting tubuhnya di kursi. Rasanya kesal dalam momen perpisahan Erlangga marah tidak henti hentinya. Anak itu bahkan tidak memberikan kesempatan padanya meskipun hanya untuk memeluk. Saat matanya terkantuk-kantuk tiba tiba...


BRAAAAK....


Pintu yang tertutup rapat di buka dengan kasar, itu mengagetkan Robby duren itu berdiri sempoyongan.

__ADS_1


Sulastri masuk dengan wajah sangat marah.


"Bajingan kamu Rob!"


PLAK... PLAK... PLAK...


Duren legit itu hanya bengong, terkejut dan menahan rasa sakit. Meskipun seorang perempuan Sulastri cukup memiliki tenaga yang kurang. Robby mengelus ke-dua pipinya yang terasa panas.


"Bisa-bisanya kamu..." Hampir tanggan wanita itu hinggap di wajahnya lagi.


Sulastri menarik tangan yang sudah di ayunkan olehnya, menatap berkaca-kaca pada sosok idolanya.


"Kamuuuu....," Sulastri memalingkan wajahnya, menahan air mata yang sudah tumpah tanpa ampun. Hatinya begitu hancur membayangkan Erlangga.


Robby masih berdiam diri tidak mengerti.


"Tunggu...


ada apa?"


"Ada apa ini?"


"Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Erlangga? papa macam apa kamu?"


"Tunggu, ada apa dengan Erlangga?"


BRAK!


Wanita separuh baya itu membanting beberapa lembar kertas di atas meja.


"Lihat!"


Robby mengapai beberapa lembar kertas, sepertinya dari rumah sakit.


Mata duren itu terbelalak, mana kala tertera nama Kinan yang positif sedang mengandung.

__ADS_1


Tubuh Robby bergetar hebat. Mengingat perubahan sikap Erlangga yang tiba-tiba.


Kinan muncul di ambang pintu.


"Kapan kamu ke rumah sakit?" tanya Robby di sela -sela getaran hatinya. Dia langsung menghampiri Kinan yang hanya tertunduk.


"Itu Erlangga yang tinggalkan di meja belajarku."


Tiba-tiba ruangan begitu gelap, Robby kehilangan kendali dan roboh. Di antara kesadarannya dia sempat mengucapkan nama Erlangga.


-----------------TAMAT---------------------


Pagi ini aku ingin bertanya pada secangkir kopi


apakah ada yang salah dalam rinduku?


atau diri ini terlampau mencintai


sehingga kabur semua kebenaran


Pagi ini aku menghisap Aroma tubuh maskulin kekasihku


sisa semalam rasanya masih menggebu


Apakah aku salah memiliki rasa?


atau rasa yang salah karena telah menghampiri aku


Pagi ini aku baru sadar dia, bukan milikku


aku hanya membayangkan betapa nikmatnya aroma tubuhnya


betapa indahnya di cintai dirinya


Rupanya aku hanya menghayalkan dirinya menjadi milikku

__ADS_1


Arjuna Bayu 20032022/12.28


__ADS_2