RETAK

RETAK
MERAGU


__ADS_3

SENIN acara pengumuman kelulusan.


Itu berarti dua hari lagi Erlangga akan terbang ke Jepang dan akan berpisah dengan Kinan sang pujaan hati.


Ayahnya sudah mengurus dan mempersiapkan keperluannya berangkat dengan sangat sempurna.


Sebagai seorang ayah sekaligus seorang ibu, Robby memang terbilang sangat teliti dalam urusan anaknya.


Dengan susah payah Erlangga mengeluarkan motor kesayangan yang terjepit mobil ayahnya.


Hari ini adalah hari terakhir dia berada di lingkungan sekolah. Dia harus bertemu dengan semua orang yang berarti baginya sekedar untuk berpamitan.


“Paaaaa! Tolonglah mobil pisahkan dulu.”


“Emang mereka berantem? Pakai di pisahkan!” Robby berdiri di ambang pintu, hanya memperhatikan anaknya yang kesusahan dengan kendaraannya.


"Er, bukan motor dan mobil itu yang harus di pisahkan tapi isi kepalamu itu yang harus di benarkan."


"Mau kemana? sekolah?" lanjut Robby masih dengan cueknya.


"Hari ini pengumuman kelulusan," Jawab Erlangga ketus. Suasana hati Erlangga sedang tidak baik-baik saja, kepergiannya yang semakin dekat membuat dia begitu tertekan.


"Kan semua urusanmu di sekolah sudah selesai."


Robby sendiri memilih untuk santai sampai hari perpisahan dengan anaknya tiba. Dia sengaja ingin menghabiskan waktu bersama Erlangga meskipun kebersamaan yang terkadang menjadi sumber pertengkaran bagi keduanya.


Benar kata mbak Dian 'berikan kesan manis sebelum berpisah, nanti itu akan menjadi obat rindumu padanya'


Robby menghampiri Erlangga yang uring-uringan. Dengan ciri khas Robby bangun tidur, celana pendek, rambut acak-acakan, juga kemalasannya.


“Pagi pak?”


Sulastri sudah berdiri di ujung jalan. Wanita itu terlihat sengaja menghampiri Robby dan Erlangga yang terlibat pertengkaran.


“Pagi,”


Janda mudah setengah umur yang tidak menarik itu tersenyum teramat manis. Menyebarkan aura menggoda, yang tidak mengoda.


“Shift pagi ya?” Tanya Robby basa basi.


“Iya pak! Bapak sepertinya sedang liburan?”


“Iya, ingin menghabiskan waktu bersama Erlangga.”


Melihat Erlangga yang marah-marah karena motor kesayangan terjepit mobil miliknya, Robby benar -benar menikmati.


“Bodoh yang mendarah daging!"

__ADS_1


CK ck ck ck ck ck


Robby menggelengkan kepala.


"Kamu bisa memundurkan sendiri mobil papa!”


CK


“Lalu papa untuk apa? Kalau aku harus gerak sendiri.” Sahut Erlangga masam.


“Kamu saja yang paling nggak suka lihat papa santai.”


"Pagi Om?"


Kinan muncul di belakang mamanya.


Matanya yang bulat sempat melirik sekilas pada Robby yang berantakan.


“Belum cuci muka ya Om?”


Robby ingin tertawa mendapatkan pertanyaan Kinan. Bahasa tubuh Kinan sebenarnya menolak kalimat yang keluar dari mulutnya.


Mulut dan bahasa tubuhnya berlawanan.


Rasanya Robby ingin langsung menerkam gadis kecil itu. Ada yang bergerak sedikit sensual di bagian sensitifnya.


“lho Kinan mana?”


Sedang berfantasi dengan otak mesumnya tiba tiba Kinan sudah tidak ada di tempat semula.


Kinan menghilang, “Mungkin dia bareng mamanya?”


Benar juga baru saja Kinan mengomentari Robby, juga berdiri tidak jau dari kedua lelaki ini.


“Mobil mamanya sudah tidak ada, kemungkinan sudah berangkat.”


“Er! Pulang cepat ya? Kita minum -minum."


Erlangga heran melihat papanya yang terlihat bengong memperhatikan Kinan. Lalu kemudian bingung sendiri dan mengatakan di mana Kinan. Aneh-aneh saja. Bukannya Kinan pergi dengan berpamitan! apa mungkin papanya sudah terkenal pikun alias pelupa akut.


Aaaah.... Erlangga tidak menggubris papanya. Dia menarik gas motor dengan kasar.


Kinan berjalan cepat tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepertinya kinana kesal dengan mamanya.


INI yang pertama dalam sejarah hidupnya dia berangkat sekolah tanpa Erlangga.


Hatinya benar -benar hancur membayangkan kata-kata Robby yang ingin menikahi ibunya. Saat melihat ibunya mendatangi duda itu hanya sekedar menyempatkan untuk menegur, Kinan sudah di landa cemburu.

__ADS_1


“Kinan! ayok ibu antar!" Panggil Sulastri bingung. Anaknya terus berjalan tidak ingin di antaranya.


"Kinan! tidak apa berangkat sendiri, tapi kamu kenapa?"


Kinan terus berjalan dengan kasar. Melihat ibunya yang tidak bergeming saat di ajaknya pergi membuat dia mengingat kata kata Robby.


"Sudahlah ma! Kinan mau jalan kaki saja! lagian sebentar lagi Erlangga pasti menyusul ku."


Benar yang di katakan Kinan. Erlangga menghentikan motornya tepat di depan kinan.


“Aku rasa kita tidak memiliki masalah! Kok kamu pergi sendiri?”


Erlangga tidak habis pikir dengan perubahan Kinan akhir -akhir ini.


“Dah nggak usah kesel, jelek!” lanjut Erlangga menghibur kekasihnya itu.


Erlangga mencium kening Kinan dengan manis melunturkan kekesalan Kinan. Terbukti sedetik kemudian Kinan sudah menggenggam tangan Erlangga dan duduk di atas motornya.


“Hari ini kita melihat hasil ujian, aku mau kita menghabiskan waktu selepas ini.’’


Kinan menunduk, tidak kuasa rasanya menatap wajah Erlangga. Sejak malam panas bersama Robby Kinan menjadi keranjingan. Dia seolah dengan mudah menggantikan potret wajah Erlangga yang sudah menghiasi dinding hatinya sekian lama dengan wajah papanya yang baru saja hadir.


“Mau berapa lama sayang? Kamu pergi.” Kalimat tanya akhirnya keluar juga dari mulut Kinan yang mungil. Kinan tidak bisa menahan apa yang menjadi uneg-unegnya.


Mendengar bahwa Erlangga akan pergi selepas kelulusan, Kinan menjadi labil. Antara melepaskan juga tak rela. Hati Kinan ragu.


Kinan tidak yakin dengan dirinya sendiri. Apa mungkin? Dia mampu menunggu Erlangga dalam kurun waktu yang panjang.


Sementara dirinya sendiri pun telah goyah oleh perasaan yang selalu ia tepis pada seorang lelaki yang sangat dekat dengan mereka berdua.


Jika sampai Erlangga pergi jauh, apa mungkin mereka masih ada kesempatan untuk bertemu? Akankah Erlangga setia? Atau tergoda wanita Jepang yang memiliki pesona bidadari surga.


Atau... justru dirinya sendirilah yang akan berpaling. Kinan merasa kesal pada dirinya yang mulai goyah dan meragu.


Huuuuuuuufffg... bukan Erlangga yang di ragukan kinan. Tetapi dia sadar bahwa dialah yang berkhianat.


Setelah cukup lama terjadi perdebatan dalam hati kecilnya, Kinan akhirnya memberikan banyak pertanyaan juga serentetan keberatan akan kepergian Erlangga.


Belum terlambat untuk memulai dari awal. pikirnya.


Setidaknya jika Erlangga tidak pergi, mereka akan segera menikah dan kemungkinan untuk melupakan Robby lebih luas.



Arjuna Bayu


Rasa pahitnya kopi akan menjadi nikmat saat tau bagaimana caranya menikmati

__ADS_1


LAMBAR 10022023/22.06


__ADS_2