RETAK

RETAK
TERBONGKARNYA RAHASIA


__ADS_3

JRRRRR...JRRRR


Suara handphone bergetar. Erlangga meraih handphone itu dari sakunya.


("Mau ikut party nggak?”)


Ternyata Dion yang mengirimkan pesan singkat.


(“Kita akan berpisah Erlangga! Ini yang terakhir! Bawa pacarmu.”)


Erlangga menatap Kinan matanya memohon persetujuan.


Kinan mengangkat bahunya.


“Oke, ini untuk perpisahan.”


(“Kita sudah ada tempat asyik untuk kumpul, nanti kita hubungi kamu!”) Ucap Dion lagi pada pesan singkat di WhatsApp.


Cahaya matahari di pantai Ancol mulai redup. Erlangga mengandeng tangan Kinan untuk pulang, tidak sekalipun dia melepaskan genggamannya.


Ada rasa bahwa dia sudah bukan anak -anak lagi. Dia sudah bisa bekerja dan menghidupi keluarga. Erlangga pikir menikahi Kinan adalah ide yang bagus.


“Kadang aku merasa kita akan berpisah selamanya! Mengapa bisa seberat ini perpisahan kita.” Ujat Kinan pelan.


Erlangga menatap Kinan, dia tidak ingin berlama-lama memeluk suasana tidak nyaman.


"Kita pulang dulu, setelah itu kita akan menghabiskan waktu bersama teman-tamam."


“Ini adalah hari yang menyenangkan mengapa harus bahas sesuatu yang menyedihkan!” kata Erlangga lagi, sembari menggenggam tangan kinan. Memangnya kamu tidak bosan apa bersamaku selama ini, nggak ada sensasinya.” lanjut Erlangga lagi.


"Eeeeeeeeeh..."


“Berpisah dalam kurun waktu yang panjang bisa mempererat hubungan! Rasa rindu akan mengikat kita, dan memberikan cobaan tentang setia! Kita akan tau seberapa besar kesetiaan yang kita miliki, meskipun selama ini kita terlihat baik-baik saja. Kinan! Sudikah engkau menunggu aku kembali.”


Kekuatan emosi yang di pertahankan Erlangga, akhirnya jatuh bersama harga dirinya.


Erlangga yang mati-matian selalu mengalihkan pembicaraan agar tetap terlihat tegar akhirnya luruh dan tenggelam.


“Erlangga...kapan berangkat?”


Hembusan angin pantai Ancol membelai rambut keduanya, itu adalah anugerah.


Bukan tidak sedih berpisah dengan wanita yang di cintai, namun Erlangga sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


Menghabiskan waktu bersama Kinan di pantai Ancol, memeluk dingin berdua saja, tanpa peduli dengan apapun dan siapapun.


“Aku yakin dengan diriku sendiri! Aku sanggup setia, Tapi, entah denganmu?” mata Erlangga menatap Kinan dengan tatapan harap.


Mata Kinan mendelik tidak suka dengan ucapan Erlangga, ia menghentikan ayunan kakinya.


“Kamu meragukan aku?”


“Tidak! Tapi papa bilang, waktu mampu merubah segalanya.”


“Kamu meragukan aku? Erlangga!”


“Manusia mahkluk yang paling tidak konsekuen, sedetik A sedetik kemudian menjadi B, bisa jadi lebih parah sedetik nya lagi bisa sampai Z.”

__ADS_1


Kinan sedikit tertohok dengan ucapan Erlangga. Dia merasa kalimat itu di tujukan padanya. Namun, dia tidak berani mengambil tidakkan menyerang, dia hanya mengerucutkan bibirnya sedikit sebagai bentuk ekspresi wajah yang tidak puas.


“Bibirnya diikat buat kail, umpan mancing!” kelakar Er-langga kemudian melihat Kinan yang tiba-tiba uring-uringan.


Erlangga tidak ingin suasana yang harusnya menjadi hari bersejarah bagi mereka akan berantakan hanya karena kesalahannya berbicara.


"Ayok kita pulang."


"Er... kepalaku pusing! aduh!"


Kinan tiba-tiba terhuyung kebelakang. Tubuhnya limbung menabrak Erlangga yang berada di belakangnya.


"Kinan!"


“Sayang, aku...aku..."


Tubuh kurus itu akhirnya lemas dan jatuh pingsan di dada Erlangga.


ERLANGGA tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Mungkin dokter salah diagnosa."


Dokter yang memeriksa Kinan tersenyum.


"Kalian masih sekolah? atau sudah lulus?"


"Hari ini kami merayakan kelulusan."


"Itu Bagus, berati kalian bisa menikah, belum terlambat."


Kinan masih belum sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat. Mengapa Erlangga tidak menyadari bahwa sejak kemarin wajah Kinan tampak pucat.


"Dok tolong rahasiakan ini dari dia. Saya ingin memberikan kejutan buat dia."


Dokter yang memeriksa Kinan tersenyum sembari menyiapkan beberapa vitamin terbaik untuk ibu hamil.


"Er!"


"Ada apa? kamu mimpi?"


"Aku kenapa Er?"


Kinan memeluk Erlangga, dia ketakutan sendiri.


"Tadi tiba-tiba semua berputar -putar Er,"


"Iya kita lekas pulang."


Hati Erlangga menjadi kacau. Kinan hamil! spekulasi bahwa Kinan memiliki kekasih lain begitu mengincar dirinya. Tiba-tiba ancaman itu datang bagaikan kilat.


"Kinan?"


"Ada apa Er? kamu seperti sedang menagis?"


Erlangga menahan kesedih semampunya. Kabar tentang kehamilan Kinan adalah rasa sakit baru bagi dirinya.


Tidak pernah Erlangga membayangkannya bahwa Kinan memiliki laki -laki lain selain dirinya. Siapakah ayah dari anak yang ada di rahim Kinan?

__ADS_1


Suara motor king meraung-raung keras membuat Kinan tidak bisa mendengar suaranya yang pelan. Erlangga ragu untuk bertanya tentang kehamilan Kinan, dia memilih diam dan mencoba menenangkan dirinya. Ketakutan yang berlebih-lebihan hadir menjadi tamu dalam hatinya.


ISYA keduanya sampai rumah. Kinan menyandarkan motonya sedikit ke sudut.


"Er, kamu kenapa? wajahmu pucat."


"Kinan?"


Dengan pelan dan hati-hati Erlangga membantu Kinan.


"Aku sakit apa?"


"Kamu pulang dulu, aku ada yang mau di bahas sama papa."


"Katanya mau ikut party."


"Nggak jadi."


"Er, kamu pucat."


"Ya, aku lelah sekali hari ini."



JALAN TAK BERUJUNG


---------------------------Arjuna Bayu ------


Pada sepi ini aku mencoba menepi


Membuat cerita ramai pada diri sendiri


Pada waktu yang terus berlalu


Ku sandarkan betapa leleh menyimpan rindu


Pada lelah raga aku kalah


Mencoba berdamai dengan takdir dan diri sendiri


Lalu aku mencoba memahami arti kalut yang kabut


Dan aku mengerti


Mungkin ini yang ku cari


Di jalan ini aku tak tau


Akan kemana kaki sampai


Jalan ini seperti tak berujung


Terus tanpa ada tujuan pasti


Jalan atau langkah yang salah


Atau keduanya memang sudah kalah

__ADS_1


Lampung 05082022/ 12:13


__ADS_2