RETAK

RETAK
KEBERSAMAAN SINGKAT


__ADS_3

KINAN memeluk tubuh jangkung Erlangga. Seharian dia menemani Erlangga berkeliling menemukan semua orang untuk berpamitan. Lalu keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua di tepi pantai Ancol. Menikmati pemandangan yang indah, kemungkinan bisa membuat hati Kinan teduh dan bisa membuat otaknya berfikir lebih jernih.


Huuuuuuuufffg...


Kinan menghempaskan nafasnya panjang. Rasanya sangat berat.


“Jangankan tiga tahun! Tiga jam pun berpisah darimu, berasa tiga abad!” Jawabnya tanpa mengindahkan wajah Erlangga yang berubah ragu.


Bohong! Benarkah? Heh! Kinan mencibir dirinya sendiri.


Apa benar yang di katakan olehnya pada Erlangga barusan! Bukankah sebaliknya?


Kinan merasa otaknya menjadi fulgar. Dia dengan tegas menginginkan Erlangga cepat -cepat pergi dan dia akan lebih leluasa menguasai papanya.


Gila! Kinan akui hatinya, pikirannya, memang menjadi Gila. Semenjak kehadiran Robby Kinan menjadi seorang wanita yang haus akan sentuhan laki -laki.


“Keep going? Honey.” Ujar Erlangga.


Kinan mengencangkan pegangan tangannya pada pinggang Erlangga. Kedua remaja ini berpelukan dan tengelam dalam pikiran masing-masing.


Dalam diamnya Kinan selalu membandingkan dekapan dia lelaki yang ada di hatinya, sekedar memberikan penjelasan dan alasan akan tindakan pembenaran.


Genangan air mata mulai mematuhi sandiwara cinta Kinan. Mata bulat bening itu mulai di genangi air mata. Kebohongan yang sempurna.


“Er, kamu jadi lanjut kuliah ke luar negeri?” pertanyaan konyol! Sudah jelas.


Namun Kinan masih bertanya. Meskipun tidak di pungkiri dia bahagia dengan kepergian Erlangga, namun dia juga ragu akan keputusan yang di ambilnya.


Hati seolah-olah selalu mengingatkan bahwa yang dia lakukan salah.


Berpisah dengan Erlangga yang sudah bersamanya selama dua belas tahun meskipun itu keinginan hati kecilnya tetap saja bukan hal yang mudah baginya.


Erlangga adalah lelaki yang sudah mengisi seluruh waktunya selama ini. Dan selama itu Erlangga sudah menjadi sosok yang sempurna.


Berulang kali Kinan menyakinkan dirinya bahwa semua hanya lelucon saja.


Terkadang harapnya begitu kuat agar kepergian Erlangga batal.


"Er, di sini banyak universitas bagus, tidak kalah dengan universitas luar negeri."


Erlangga hanya melirik wanita yang di dalam pelukannya. Dia berkonsentrasi dengan kehangatan cintanya.

__ADS_1


Suara ombak dan bisikan angin adalah lagi alam yang syahdu.


"Jangan bahas Apapun, aku ingin bersamamu." Bisiknya lirih di telinga kanan Kinan.


Kinan menengadahkan wajahnya, melihat wajah kekasihnya yang begitu indah menghirup udara segar. Mata Erlangga terpejam. Dia begitu menghayati suasana kebersamaan mereka.


"Kinan."


“Er!”


Keduanya saling tatap, tersenyum simpul. mengucapkan nama bersamaan.


Di kecupnya dengan manis rambut Kinan dan mengencangkan genggaman tangannya.


"Katakanlah," ucapnya kemudian memberikan kesempatan pada kinan.


"Er, aku...aku..." Erlangga melirik Kinan yang terlihat ragu -ragu.


"Jika belum bisa mengatakan, nggak usah di paksa."


"Aku keberatan kamu pergi, aku ingin kita segera menikah."


Mengingat papanya. 'Duren sawit, menyebalkan!' gerutu Erlangga, ia mengerang keras.


"Apa kamu tidak bisa membatalkan rencana kepergian mu."


"Kinan, betapa ingin aku membatalkan rencana itu. Tapi, bagaimana papa akan menghadapi keluarga kami di Jepang."


"Er, aku ragu, aku takut kehilanganmu."


"Sepertinya bukan kamu yang akan kehilangan, tapi aku."


"Maksudnya apa?"


"Kamu terlalu cantik, dan terlalu baik, saat kita jauh akan banyak orang-orang menarik mendekati mu."


"Orang Jepang sangat cantik, bagaimana kamu bisa menghindari mereka?"


"Sekarang aku tanya, bagaimana caramu menghindari banyak lelaki yang akan mengejar kamu, saat aku tidak ada?"


Kinan berfikir sejenak, mencerna apa yang di katakan Erlangga.

__ADS_1


"Ku rasa cara kita sama," lanjut Erlangga tanpa memperhatikan wajah Kinan.


"Apa kamu meragukan aku?" tanya Kinan basa basi. Erlangga tidak begitu teliti dengan perubahan sikap Kinan. Kinan jadi kikuk saat mengobrol dengan Erlangga prihal hubungan mereka.


"Tidak! aku percaya padamu. Dan lagi ada papa yang akan menjagamu."


“Papa akan menjaga mu seperti anak sendiri Kinan! Aku tidak meragukan itu."


“Apa papamu tidak ingin menikah Er?”


Erlangga mengangkat pundaknya, namun buka itu jawaban yang di inginkan Kinan.


Kinan sengaja bertanya hal itu memastikan untuk dirinya sendiri bahwa lelaki yang dalam diamnya sudah memenuhi seluruh hasrat nya itu masih sendiri.


“Itu...siapa ya namanya?”


“Tante Wening?’’


Kinan mengangguk pelan tidak ingin terdeteksi perasaan posesifnya. Dia hanya ingin tau atau sekedar sangat menyenangkan membahas Robby.


“Ntah, ya! Kadang aku ingin papa menikah lagi, kadang aku merasa di khianati Jika melihat papa sama cewek lain, Sakit!” Ekspresi serius Erlangga menekan bagian ulu hatinya.


“Er! Hati-hati! apa papamu tidak pernah mengatakan tentang seorang wanita?"


Erlangga mengeleng kepala. Memang kenyataannya Robby tidak pernah sekalipun membahas soal wanita dengannya.


"Apa papamu sangat menyayangi mu Er?"


Erlangga menatap Kinan kali ini. Dia sedikit heran dengan pertanyaan Kinan. Bukannya mereka semua tau hubungan Erlangga dengan papanya sangat erat.


"Kinan, aku sanggup menukar nyawaku untuk papaku. Ada apa dengan pertanyaan mu?"


"Er, kepalaku pusing."


"Kinan!"



Kopiku kopi tubruk. Kopi tradisional, dengan takaran tiga sendok makan ukuran sedang kopi bubuk, satu sendok makan ukuran penuh gula, kopiku berselera.


LAMBAR 11022023/1409

__ADS_1


__ADS_2