RETAK

RETAK
DI BAWAH JARUM GERIMIS


__ADS_3

"Wen, terimakasih atas kunjunganmu, aku akan pulang dan mengurusi kepentingan Erlangga untuk melanjutkan pendidikan ke luar negri."


Wening masih mendekam di bawah selimut, dia sangat malas untuk beranjak. Matanya terus menatap laki-laki yang bersamanya sepanjang malam. Robby sangat indah dengan sedikit jambang, kumis tipis, dan buah jakun nya.


Huuuuuuuufffg,...


Robby melirik Wening yang menghempas nafasnya berat.


"Ada apa, kamu terpesona dengan ketampananku?" tanya Robby sembari mengenakan arloji branded import miliknya.


"Arlojinya bagus,"


"Heem, pemberian istriku. Made in Japan."


"Berapa tua usianya?" Wening mengejek Robby yang meneliti, mengusap dan mencium arlojinya.


"Lebih tua setahun dari Erlangga."


Robby sudah rapih dengan baju santainya.


"Ini masih terlalu pagi Rob!"


Wening menarik selimut penutupi seluruh tubuhnya dengan baik yang masih dalam keadaan bugil.


"Bukannya hari ini ada rapat yang harus kamu hadiri?" tanya Robby sembari membenarkan jaketnya.


Wening mengangguk, dia tampak bahagia merasa umpannya termakan oleh Robby.


"Rob, kamu menyukai Kinan!"


Robby terdiam, dia menghentikan aktivitasnya sebentar. Kali ini dia menatap Wening yang cengar-cengir merasa berhasil menonjok hatinya.


"Kenapa kamu tanyakan itu?"


"Nggak! aku hanya penasaran. Saat kamu menikmati aku, apa kamu tidak terbayangkan wajahnya."


Bangsat! wanita satu ini, bagaimana bisa di menyindir dengan benar.


Bahkan wajah Kinan tidak mau menghilang sedetikpun dari matanya meskipun dia sedang mendesah nikmat.


Robby hanya nyengir menanggapi ucapan Wening.


"Ya ha ha ha.... ternyata benar dugaan ku, kamu mencintai kekasih anakmu. Memalukan!" Wening tersenyum sarkas, dia dengan kasar menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya.


Itu dapat di lihat, bodoh! wanita sialan itu tidak menutup pintu.


"Wen..." Teriak Robby, dia ingin berpamitan untuk segera pergi.

__ADS_1


"Apa! pergilah ambil Kinan dari anakmu! selamat menikmati persainganmu, semoga menang!" Wening menjawab Robby tanpa perasaan. Dia benar-benar tidak peduli bagaimana perasaan Robby saat dia mengatakan hal itu. Tapi, benarkah yang di katakan Wening?


Aaaah... Robby memuku pelan wajahnya. mengambil nafas dalam dan mencoba cuek dengan pergulatan batinnya.


Wening tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.


Hati yang cemburu mulai menduga -duga yang belum tentu benar. Namun wanita memiliki kekuatan untuk membenarkan banyak hal.


Bagaimana bisa Robby menidurinya tapi membayangkan Kinan.


Bangsat! umpatnya lirih. Air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya yang meninggalkan jejak Robby. Entah apa yang menjadi risau Wening, air matanya mengalir mengikuti setiap tetesan air dari shower.


Rob...


Sebenarnya Wening tidak begitu peduli dengan kinan, jika dia bisa menjebak Robby dalam ranjang Panasnya, Wening yakin Robby tidak akan berpaling darinya. Secara dia lebih berpengalaman dari gadis kecil itu.


Robby terlihat puas akan dirinya. Terlihat dari aura yang di berikan Robby padanya.


"Aku mau mandi, ikut?" Wening melongok kan lagi wajahnya di pintu. Berharap Robby kembali mau singgah menemani nya. Dia yang sudah basah mencoba mengoda Robby.


"Aku sudah kekenyangan semalam! lecet semua Wening!" Elak Robby cuek.


Robby mengedikkan bahunya, dia sudah siap di depan pintu keluar.


"Wen, tolong tinggalkan ruangan ini setelah fajar, aku takut Erlangga ke sini!" teriak Robby sebelum benar -benar pergi.


Langit masih terlihat gelap, Robby berlari lari kecil sepanjang trotoar. Dia sengaja ingin meliburkan diri, menjauh dari pekerjaan kantor.


Hari ini Robby sengaja ingin membawa Erlangga ke makam mamanya. Berziarah sebelum pergi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wb..."


Robby berdiri mematung, dia tidak menyangka bahwa sepagi ini akan bertemu Kinan.


"Waalaikumsallam wt wb, pa! dari manalah? kok baru pulang?"


Robby Erlangga dan Kinan. Kisah cinta dalam kehidupan di ranah yang berbeda.


Keyakinan dan kenyataan itu sudah beda konteks. Toh semua sudah di atur oleh sang dalang, kisah cinta, kisah luka, kisah nyata dan gaib, sudah menjadi sebuah drama yang di ciptakan sebagai bentuk keindahan dalam kehidupan di muka bumi.


Semua yang di ciptakan oleh Tuhan mengajarkan manusia untuk berpikir dengan rasional, bukan hanya mendengarkan mengikuti kata hatinya sendiri.


Manusia hanya mahluk hidup yang tidak bisa di percaya, terkadang merasa sakit oleh tindakannya sendiri, menyalahkan orang lain atas kegagalan lalu membuly pencipta dengan dalih 'ini tidak adil'


Bulsit, semua ciptaan Tuhan sudah di takar dengan adil dan benar kawan! Apapun kedepannya itu sudah takdir.


__ADS_1


DI BAWAH JARUM GERIMIS


Arjuna Bayu


Dibawah jarum gerimis


aku mengemis cahaya


yang menimang luka dalam kubangan rindu


Ingin kubantai saja senja yang selalu menjanjikan langit abu -abu


Perih ini menusuk tulang


membakar aku dalam kerinduan


aku hanya bisa terkapar


di rerumputan ilalang


meratapi mimpi yang tak kesampaian


Tatapku jauh menembus langit ketujuh


Menghisap asap kehidupan dengan sesak


Haaaaaah! takdir ini begitu


Biadab!


kejam mempermainkan kenyataan


Usahaku sia -sia


Gerimis seperti jarum


Berjatuhan membasahi sayatan


Hujan!


Jangan datang


Diam, bisu, aku berteriak lantang dalam gema hatiku


Semua sama saja


Langit tetap jauh di atas sana

__ADS_1


Ia tidak akan tau keluhku


TMBBS LAMBAR 10082022/09.37


__ADS_2