
Sepuluh langkah dari pemakaman, Erlangga menghentikan langkahnya. Dia berlari kembali menghampiri makan mamanya.
"Maaaa..."
Erlangga memeluk bati nisan yang bisu.
"Aku tidak ingin pergi!"
Robby yang terkejut dengan langkah Erlangga yang tiba-tiba, hanya menatap punggung anaknya.
"Biarkan aku yang menyusulnya." Ucap Mbak Dian menahan langkah Robby yang ingin putar arah.
Robby mengayunkan kakinya hendak menyusul Erlangga mengekor asisten rumah tangganya.
"Om,"
Matanya beralih pada Kinan. Gadis kecil ini mampu menggodanya sedemikian rupa.
"Kinan, kamu cantik, teramat cantik! boleh aku bertanya?"
Kinan menatap Robby yang terlihat sangar. Lelaki di hadapannya itu maju beberapa langkah seolah ingin memakannya.
"Aku akan menikahi ibumu Kinan, jangan sampai kamu mengangguk rencana itu. Kita sudah selesai, jangan goda aku."
Bagaikan petir di siang hari, menghempaskan tubuh ringkih kinan. Gadis itu berlari menuju mobil.
MOBIL parkir di halaman rumah pukul 17.00.
Kinan langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa basa-basi. Hatinya hancur menjadi kepingan, membayangkan mamanya yang akan menikmati lelaki yang di puja nya.
“Pa! Kamar Kinan gelap! Erlangga takut terjadi sesuatu dengan dia.”
Hari memang sudah sangat gelap, langit yang biasanya cerah terlihat mendung.
“Ya sudah datangi saja!”
Erlangga tampak berfikir sejenak menimbang usul papanya. Sebelum kemudian dia memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Kinan.
Cukup lama Erlangga mengetuk-ngetuk pintu itu, berdiri menunggu, lalu mengetuk lagi. Jangankan pintu terbuka, sahutan dari Kinan pun tidak ada.
“Paaaa...! Nggak ada sahutan, aku khawatir pa!”
Robby berdiri, menunda keasyikannya menonton TV.
Melihat Erlangga yang terlihat Panik dan terengah-engah. Bolak-balik balik dengan kegelisahan, wajahnya penuh kekhawatiran. Tidak tega rasanya.
“Kamu yakin Kinan nggak pergi lagi setelah pulang tadi?”
Robby mengikuti Erlangga yang menariknya buru-buru.
Rumah Kinan memang sepi gelap dan terkunci rapat.
“Kinan!” panggil Robby dengan volume tinggi.
Jangan-jangan dia...? Robby menepis pikiran negatif yang tiba-tiba muncul.
Kejadian demi kejadian yang memungkinkan Kinan melakukan hal nekat membayang di kepalanya.
“Kinan! ini Om Robby!"
Tidak ada tanda-tanda kehidupan muncul.
"Dobrak pa!" pinta Erlangga gelisah.
"Kinan! ini Om, buka pintunya. Kinan! Buka pintunya! jika Kinan tidak menjawab, Om dobrak beneran nih.”
“Sudah lebih dari satu jam pa! Kinan di dalam.”
“Kamu yakin dia di dalam?”
“Iya lah pa! Kan kita pulang bareng!”
“Ambil handphone papa, kita telfon mamanya.”
__ADS_1
Erlangga melesat pergi untuk mengambil handphone Robby yang tertinggal di rumah.
Sementara Robby masih terus memanggil-manggil Kinan.
Gadis itu tidak memberikan respons sama sekali, meskipun sekedar suara *******.
“Kinan! Buka pintu. Maafkan Om! Ayok kita bicara.”
JEGREK!
Satu tendangan Robby membuat pintu terbuka. Robby masuk dengan kasar.
Dia menghidupkan lampu. Seketika Rumah menjadi terang benderang.
"Kinan!"
Dengan cepat Robby mencari Kinan di semua tempat.
“Kinan!” kamar Kinan kosong. “Di mana dia?”
Suara gemercik air mengalir memanggil Robby untuk menghampiri kamar kecil di sudut itu.
“Kinan?!”
Seorang gadis kecil duduk di sudut kamar mandi dengan badan mengigil.
Dia tidak menggubris Robby yang mendatanginya. Air matanya mengalir sama derasnya dengan air dari shower.
“Ada apa? Kinan! Mengapa kamu seperti ini?”
Robby mengapai tangan Kinan mencoba membimbing Kinan untuk berdiri.
“Ada apa?!” Kinan menghentak kan Robby, mendorong tubuh tinggi di depannya hingga mundur beberapa langkah.
“Om masih tanya ada apa?” Suara Kinan mengencang, menyadarkan Robby akan malam panjang yang mereka lewati, juga semua peristiwa yang mereka lewati.
Robby tidak bisa mengelak, dia memang terdakwa dalam kasus Kinan dan dirinya. Sebagai lelaki yang sudah dewasa, seharusnya dia bisa lebih bijak menghadapi tantangan dunia meskipun itu tentang wanita. Tapi, Robby di depan Kinan lumpuh total, dia akui itu.
Kinan meronta-ronta melepaskan diri, dia sangat kecewa dengan Robby yang ingin menikahi ibunya.
"Tapi, Om mau menikah dengan ibu! lalu bagaimana aku?"
Robby masih berusaha memeluk Kinan yang terus melepaskan diri dari dekapan nya.
"Lalu maumu apa? kita menikah? bagaimana dengan Erlangga?"
"Om memikirkan Erlangga! lalu aku?"
Robby kehabisan kata-kata, dia terus memeluk tubuh kurus itu, berusaha menenangkan.
"Aku akan berfikir, untuk sementara kita sedikit jaga jarak."
Kali ini kinan mengencangkan pelukannya, ada banyak hal yang ingin di sampaikannya sebagai bentuk protes, umpatan kekesalan juga kerinduan.
"Om, janji, berikan Kinan kepastian."
Robby mengangguk pelan, mencium kening Kinan dengan lembut.
"Kita akan bicara setelah Erlangga pergi."
Tangan Robby menjimpit dagu Kinan, membuat Kinan menengadahkan wajahnya.
“Lihat Om, Om akan melakukan yang terbaik?”
“Om, jahat!”
“Kok bisa?”
“Om, sadar nggak sih, Om sudah nyuekin Kinan seharian.”
"Oh, jadi itu masalah yang terjadi." Robby mengecup bibir yang terus berbicara itu dengan lembut.
“Kita akan bicara selepas ini, Kinan tidak boleh menyiksa diri sendiri."
__ADS_1
“Tapi....” Kinan tidak bisa mengatakan apapun, bibirnya telah di sumpal kecupan manis dan lidah Robby yang langsung menarik getaran.
Tangan Robby Memeluk pinggang ramping Kinan, memeluknya dengan erat.
“Om...”
“Heeem.”
Robby keranjingan sendiri terus menelusupkan tangannya menjelajahi seluruh tubuh Kinan dengan liar.
Tubuh yang memang masih kencang itu merespon sentuhan demi sentuhan.
“Uuuuuh... Om.”
Tidak hanya sekedar di situ saja, Kinan yang juga mulai terbakar, ikut mengaktifkan jari jemari, menyusuri dada bidang berbulu halus, menguasai semua yang menegang pada tubuh Robby.
“Kinan!” Robby mengangkat wajah Kinan untuk menjauhinya.
Suara pintu berderit menandakan seseorang datang, membuat acara keduanya melepaskan rindu tertunda.
TENTANG KITA
#Arjuna Bayu
Tentang kita
biarkan saja
terukir indah dengan warna-warna
membias merona di ujung senja
Tanpa harus meminta
tanpa harus bicara
biarkan waktu berjalan seperti roda
kisah airmata menjadi sempurna
tanpa batasan
karena dunia kita adalah cinta dan airmata
Aku tak ingin ini berlalu
semua rasa tak ingin aku akhiri
meskipun getir
langkahku masih ingin menyisir
akan apa yang dapat ku lihat di akhir cerita kita
Aku telah menemukan cinta yang membuatku
damai
Tentang kesungguhan rasa jangan kau ragukan
Tenang rindu usah kau tanyakan
Kau telah berhasil menghujaniku dengan risaunya
Menahan rindu sepanjang waktu
menahan resah sepanjang sejarah
Menahan sakit yang tak tersampaikan
KOPI SENJA 24012023/07.56
__ADS_1