
SETELAH mengantar Kinan pulang, Erlangga langsung masuk ke kamarnya.
"Malam pa?" Sapanya pada Robby yang duduk santai di depan TV.
"Ada apa Er, kok pucat."
Erlangga tidak mengindahkan pertanyaan papanya, dia sibuk dengan isi hatinya.
Pantaslah Kinan sering uring-uringan, bersikap dingin juga menolaknya. Ternyata ini penyebab dari perubahan sikap Kinan selama ini! pikir Erlangga.
Tunggu! Erlangga menghentikan langkahnya. Mengapa dia tidak mencoba sesuatu dengan Kinan. Bukannya Erlangga berhak atas Kinan berdasarkan setatus hubungan.
Erlangga membalikkan tubuhnya. Dia berjalan dengan cepat menuju pintu.
"Mau ke mana Er? papa masak enak lho malam ini."
Erlangga hanya melengos tidak mengindahkan perkataan Robby. Dia dengan cepat melesat menuju rumah Kinan.
Bagus! rumah Kinan sepi. Itu menandakan tidak ada siapapun di rumah itu selain dia dan Kinan.
"Eh, Erlangga! ada apa? kok?" Kinan bangkit dari kursi, dia secara pelan meletakkan piring di tangannya.
Melihat Erlangga datang dengan ekspresi wajah dingin, Kinan sedikit terkejut.
"Ada apa? kamu kenapa?" Tanya Kinan terbata -bata.
Erlangga ingat ketika mereka berciuman. Akhir-akhir ini Kinan secara tidak langsung menepisnya. Terlalu dingin memang!
“Kinan!” Erlangga yang sudah pada fase menginginkan langsung memburu Kinan.
Nafasnya bergetar hebat bersama emosinya, selama ini dia menahan hasratnya, menjaga Kinan dengan begitu baik. Betapa sakit hati Erlangga mendapatkan kenyataan Kinan hamil.
Siapakah? ayah dari anak itu. Tapi, masa bodok siapa ayahnya! Kinan tetap milikku.
******* Erlangga panjang, menahan sesuatu keinginan yang lama dia tahan.
Rasa yang mengusik jiwa lelakinya selama ini meledak ingin segera di salurkan secara brutal.
Kinan tidak bisa bernafas. Bibirnya yang mungil di jajal bibir dan lidah Erlangga secara paksa.
“Er!”
Kinan berusaha menangkap tangan Erlangga yang merajalela nakal. Dia meronta melepaskan diri dari ciuman Erlangga dengan sedikit kasar.
"Kenapa?! apa kamu memiliki orang lain selain aku? apa kurangnya aku?!" Kejar Erlangga.
Pertanyaan yang terus di ucapakan Erlangga sempat membuat Kinan terkejut. Kinan menatap Erlangga dengan heran. Matanya mengisyaratkan permohonan.
“Apa? Bukannya biasa kita berciuman!” Ucap Erlangga sarkasme.
“Iya! tapi tidak nakal tangannya!”
“Kinan! kita sudah lulus. Aku bisa menikahi dirimu kapanpun aku mau.”
“Lalu! Mengapa kita tidak menikah saja!” Nada suara Kinan ikut meninggi, Kinan mengimbangi bahasa Erlangga yang terlihat marah.
“Ayok! selepas ini kita ijin sama papa! kita akan menikah."
Erlangga kembali memaksakan semua keinginannya. Dia terus mendorong tubuh kurus Kinan untuk mengikutinya. Menurut jiwa muda Erlangga yang seharusnya menjadi miliknya harus di ambil apapun caranya.
Selam dua belas tahun Erlangga menahan diri, apakah ini balasan Kinan? Seseorang mendahului dirinya menanam benih bukan pada tempatnya. Erlangga merasa emosi dalam diam. Hati kecilnya tidak bisa menerima kenyataan atas penghianatan Kinan. Tapi, Erlangga terlampau mencintai gadis mungil itu.
__ADS_1
Mood Erlangga sedang buruk. Dia tidak bisa berdamai lagi dengan yang mengatas namakan pengertian.
Hari ini harus ku ambil milikku! Pikirnya geram.
“Er....!"
Sementara kinan sendari yang belum tau dengan keadaannya terus memberikan penolak akan tidakan Erlangga.
******
Robby duduk termangu di depan televisi. Menonton TV one acara yang selalu menjadi pilihannya. Ada banyak berita terkait kejadian yang tengah marak di Indonesia.
Acara TV terus berganti judul dari waktu ke waktu. Sesekali dia mengambil koran di kolong mejanya. Satu Minggu sudah Robby menganggur menikmati indah dan nyamannya rebahan.
Dia sengaja melakukan hal itu sekedar memberikan ruang pada dirinya sendiri untuk melihat Erlangga sedikit lama. Menghabiskan waktu bersama anak kesayangannya.
Nada dering dengan hentakan keras westlife if i let you mengganggu acara duduknya.
Layar handphone mengembang biru tanpa welpaper mengatakan Wening yang menghubungi dirinya.
Robby sengaja membiarkan handphone itu, tidak menggubris apa yang akan di laporkan padanya.
“Aku mau libur seminggu handle semua pekerjaan kantor! Jangan ganggu aku.”
Robby sudah dengan tegas mengatakan pada Wening hal itu. Masak iya dia tidak bisa melakukan pekerjaan kantor hanya untuk beberapa waktu saja. Pikir Robby cuek.
Semua keperluan Erlangga untuk pergi sudah ia siapkan dengan baik, tiga hari lagi anak kesayangan akan terbang ke negeri Jepang.
Neneknya sudah dengan tidak sabar menunggunya.
Sehari ini mereka sudah menelfon beberapa kali hanya sekedar menanyakan cucunya.
Hari sudah beranjak pagi, Robby belum memejamkan matanya. Semalaman dia terjaga entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Ada apa?"
"Capek!"
“Ada apa dengan kalian? Mau berpisah kok wajahnya seperti itu.”
“Dari mana-mana pa kalau berpisah itu sedih.”
“Oh ya?”
Robby membenarkan letak duduknya dengan benar.
Mengambil sebatang rokok Marlboro black yang tergeletak di meja. Entah berapa bungkus rokok dia habiskan dalam satu hari satu malam.
Menikmati hisapan demi hisapan.
Huuuuuuuufffg...lega rasanya...
“Pa,” Robby menatap Erlangga malas-malasan.
Wajah Erlangga berantakan, dalam rautnya mengatakan bahwa dia sedang gusar, marah, dan lelah.
“Ada apa sayang?”
“Pa, aku ingin menikahi kinan?”
Robby diam menatap Erlangga. Terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Rasanya tidak percaya Erlangga memiliki pemikiran seperti itu.
__ADS_1
Asap rokok terus mengepul memenuhi ruangan.
“Pa,”
“Oh,” Robby berdiri meletakkan kuantum rokoknya ya masih panjang.
Dia melangkah meninggalkan Erlangga. Tepat saat itu seorang wanita ayu mengetuk pintu rumah.
Wening dengan buru -buru langsung menghampiri Robby.
“Pak, saya telfon tidak di angkat! Ini benar -benar darurat!”
Wening mengikuti kemana Robby berjalan dengan suara yang buru-buru.
“Wening! Ada apa sih? Kamu takut gitu?”
“Pak, ini ada pembunuhan di salah satu kamar hotel kita, Kita harus ke sana.”
“Ngapain!?”
“Kita dapat panggilan dari kepolisian pak!”
“Ya kamu handle dong! Masak gitu aja nggak kelar!”
“Pak! Kok bapak santai? ini kamar hotel milik bapak! Bapak tau nggak kemungkinan yang menjadi pelaku nya manager Bapak!”
“Terus!?”
Robby tau Wening hanya merindukan dirinya. Tapi dia mencari alasan untuk bertemu dengannya. Meskipun sempat terkejut dengan berita yang di bawa Wening.
Manager yang di angkat Robby adalah teman seperjuangan Robby. Tapi, ya itulah manusia. Makhluk yang mudah berubah, mungkin Derrick sahabatnya termasuk yang sedang berubah.
“Biarkan saja itu di urus sama Derrick, dia sudah dewasa.”
Wening begitu kagum dengan Robby, lelaki yang menjadi bosnya itu selain tajir melintir tampan ternyata juga pandai menetralkan keadaan. Satu lagi pintar memasak.
Mata Robby merah terlihat kurang tidur. Sama seperti Wening, Erlangga pun menebak bahwa papanya tidak tidur.
"Bapak nggak tidur kah?"
Robby menatap Erlangga. Hatinya sedikit kesal. Siapa yang salah? malam-malam Erlangga pergi. Ijinnya ke rumah Kinan dan nggak pulang Samapi pagi.
“Besok Erlangga akan pergi ke Jepang, jadi aku ingin menemani dia full time.”
“Erlangga! Bersihkan dirimu, setelahnya Ayok makan! Papa sudah siapkah banyak makanan untukmu semalam. Ayok kita makan bareng."
"Wening sebenarnya aku tidak ingin membicarakan masalah kantor di rumah. Aku tidak suka acaraku bersama keluarga tercampur dengan acar kerjaan. Tapi tidak apa untuk kali ini.”
Wening tersenyum bahagia bisa menikmati makan bersama lengkap dengan Robby dan ERLANGGA.
SENDIRI
Di pijar langit mendung
aku melahap hujan dalam rengkuh kedinginan.
Aku gantung harapan di pucuk merah fajar di ujung timur
Seperti tanduk angin yang menggoyang kan mimpi
__ADS_1
Aku sendiri di sini
LAMBAR 12022023/16.38