
Erlangga bermalas-malasan menikmati makan malam bersama Robby dan Wening. Dia hanya mengambil sedikit makanan sebagai formalitas saja.
Robby memperhatikan anaknya dengan seksama. Rasanya ingin bertanya. Pulang subuh-subuh dengan wajah kuyu dan layu, seperti kelelahan. Ada apa? apa yang terjadi?
Suapan demi suapan masuk ke mulut Erlangga seperti hitungan menit. Masih terbayang malam yang di habiskan olehnya bersama Kinan. Erlangga yang pada awalnya memang sudah shock dengan kenyataan kehamilan Kinan. Lebih shock lagi saat mendengar pengakuan Kinan. Kinan tidak tau jika dia hamil, tapi pengakuannya akan papanya sudah menjelaskan siapa pemilik janin itu.
Mata Erlangga bahkan tidak kuasa menahan air mata. Tapi sebagian seorang lelaki Erlangga tentu saja sangat gengsi mengakui bahwa dia terluka dan hancur.
Kinan, mengakui bahwa dia sengaja menjebak papanya. Semua sudah terlanjur terjadi, bukannya Kinan tidak ingin berhubungan dengan Erlangga. Katanya, dia tidak ingin berbagi tubuh dengan yang lain.
Sebuah kesalahan yang di lakukan olehnya akan dia selesaikan sendiri. Kata kinan.
Pengakuan Kinan begitu gamblang dan terang-terangan. Tidakkah Kinan tau itu sangat mengguncang Erlangga.
Betapa sadisnya takdir!
Erlangga tidak mengatakan banyak hal. Selepas acara sarapan, dia langsung masuk kamar. Mengemas semua keperluan untuk pergi.
"Er!"
Robby yang mencoba masuk kamar Erlangga mengehentikan niatnya. Erlangga sudah muncul di depan pintu depan jaket dan sepatu putih.
"Mau ke mana?" tanya Robby heran.
Erlangga tidak menjawab Robby yang bertanya dengan wajah bingung. Bahkan dia pergi melewati Robby yang masih berdiri termangu di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Er! mau ke mana?"
Robby sedikit kesal melihat Erlangga yang tidak menghiraukannya. Wajah Erlangga terlihat sangat marah dan sinis padanya. Ada apa Erlangga?
ERLANGGA berdiri di antara barisan batu nisan. Dia menatap nanar pada satu nama yang tergores di salah satu batu nisan berjarak satu setengah meter.
"Maaaaaa...!"
Anak itu langsung berlari memeluk gundukan tanah yang kering itu tanpa ampun. Air matanya tumpah ruah menjadi raungan yang tidak terkendali.
"Maaaaaa..!!! mamaaaaa...!!! maaaaaamaa....!"
"Maaaaaamaa...!!!!!!"
Tangannya yang mulai besar dan kokoh itu menjambak tanah pemakaman dengan membabi-buta. Ia campakkan ke sana kemari serpihan tanah kering yang ditumbuhi sedikit rumput hingga berserakan.
Hati Erlangga hancur berhamburan seperti serpihan.
"Er!"
Erlangga tau itu suara siapa? dia juga tau tangan siapa yang menyentuh punggungnya. Kekuatan yang biasa di berikan tangan itu berubah menjadi bara yang langsung menghanguskan seluruh tubuhnya.
"Maaf, saya ingin sendiri disini! bisakah tinggalkan aku!"
Robby terkejut dengan perkataan Erlangga. Dia dengan spontan melepaskan cekalan nya. Menghindari tepisan tangan Erlangga yang sedikit kasar.
__ADS_1
"Saya ingin melepaskan kerinduan saya dengan Mama. Bisakah anda pergi!"
Robby mundur beberapa langkah. Menatap punggung Erlangga dengan perasaan bercampur aduk. Ada apa dengan anaknya?
"Ma, aku akan pergi. Aku akan tinggal di tempat yang jauh, mama baik-baik saja tanpa Er, Mama harus bahagia."
Entah mengapa Erlangga tidak bisa mengadukan nasibnya pada mamanya. Seolah dia tidak ingin mamanya terbebani oleh masalah dunianya.
"Pa, aku ingin berangkat sekarang juga ke Jepang." Erlangga melangkah melewati Robby yang masih berdiri mematung di belakangnya. Dia terus berjalan dan tidak ingin menoleh ke belakang. Menurutnya pergi jauh adalah jalan satu-satunya untuk menghindari rasa sakit.
"Er!"
Erlangga menghentikan langkahnya. Namum dia tidak mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki di belakangnya.
"Ada apa? bisakah kamu berbagi dengan papa?"
Heh!
Erlangga melangkah tidak lagi menghiraukan Robby.
ERLANGGA tidak bisa mencerna dengan baik rasa sakit di hatinya. Sesampainya di rumah dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengemasi semua persiapan untuk pergi. Memasukkan Semua barang ke bagasi mobil dan menunggu Robby kembali.
Tidak memakan waktu lama, Robby sudah berdiri di ambang pintu rumah. Dia langsung melihat Erlangga yang berada di di kursi belakang mobilnya.
"Aku ingin pergi sekarang!" Robby melihat sisa butiran air mata di sudut mata Erlangga.
__ADS_1
"Baiklah, kita berangkat."