Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 1. Pertemuan


__ADS_3

Bulan Juli telah tiba. Bulan di mana terjadi perpisahan sekaligus pertemuan. Berpisah dengan teman-teman lama karena harus melanjutkan study di tempat yang berbeda di saat itu pula bertemu dengan teman-teman baru dari daerah yang berbeda. Pertemuan itu juga terjadi di dunia maya. Facebook yang saat itu merupakan media sosial nomor wahid yang digunakan untuk saling berkenalan atau setidaknya tahu siapa saja yang akan menjadi teman di hari esok.


Oktia, yang saat itu masih di rumah menikmati euforia diterimanya sebagai mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi pilihannya dan mempersiapkan hal-hal apa saja yang digunakan sebagai mahasiswa baru termasuk kosan baru. Grup Kampus di facebook menjadi pertemuan mereka di dunia maya. Oktia memperoleh banyak informasi dan seluk-beluk kampus tempat di mana Oktia menimba ilmu. Tak hanya itu, Oktia dapat tahu teman-teman yang akan menjadi teman sekelasnya. Oktia tidak begitu aktif di grup tersebut. Dia hanya membaca postingan yang sekiranya perlu ia tahu beserta komentar-komentarnya. Berawal dari postingan dan komentar-komentar itu, dia tahu siapa saja yang bakal jadi teman sekelasnya yang terdaftar dalam grup tersebut.


“Yang bakalan jadi temenku siapa aja ya? Cari di Grup facebook ah. Siapa tahu nemu teman sekelas.”


Oktia masih saja mencari, melihat profil di akun facebook. Bila ada teman  satu prodi barulah dia add sebagai teman. Berawal dari profil facebook, Oktia secara sekilas dapat mengetahui karakter teman-teman sekelasnya. Oktia membaca komentar dari suatu postingan yang menyatakan bahwa pemilik akun tersebut satu prodi dengannya.


“Eh, ada yang satu prodi. Buka profilnya ah. Wah... namanya bagus, islami baget. Panggilannya Dayat. Quote di profilnya juga bagus. Qoute-nya dari hadis nabi tentang sedekah. Pasti dia orangnya sholeh dan baik. Penasaran


nih orangnya kayak apa ya? Yah! In relationship. Pacarnya pasti beruntung baget yah punya pacar kayak Dayat. Yaudah deh tak add aja. Besok bakalan sekelas sama dia. Kira-kira pacarnya itu kayak apa ya? Penasaran nih? Emmm... paling juga teman satu sekolahnya.”


Hari berganti. Oktia tetap nyimak kabar di grup. Mencari kabar perkembangan tentang apa dan bagaimana ospek kelak. Notification di facebook-nya memberitahu bahwa Dayat sudah mengkonfirmasi permintaan pertemanan Oktia.


“Eh... udah di konfirmasi.”


Setelah dikonfirmasi oleh Dayat, status Dayatpun pasti akan muncul di beranda Oktia.


“Eh, apa-apaan ini kok Dayat merubah status hubungannya menjadi complicated? Ada apa dengan mereka? Sudahlah... itukan urusan mereka. Lagian aku juga nggak kenal mereka.”

__ADS_1


Hari telah berganti. Entah apa yang terjadi pada Dayat, dia merubah status hubungannya menjadi single.


“Ha??? Udah ganti lagi? Jadi mereka udah putus? Masha Allah... kenapa aku ini? Kok jadi bahagia di atas kesedihan orang? Aku kan belum kenal sama dia. Cuma tahu profilnya saja. Orangnya kayak apa aja aku


belum lihat. 0.facebook.com nggak bisa nampilin gambar. Gratisan sih.”


Hari terus bergulir. Ospek, kos baru, teman baru, hidup yang lebih mandiri, jauh dari orang tua, moving class, dan seabrek sandangan mahasiswa baru membuatnya lupa dengan Dayat. Tak terasa kuliah sudah di mulai. Jadwal kuliah sudah diumumkan. Hari pertama kuliah, mereka saling berkenalan banyaknya teman-teman sekelasnya membuat Oktia kesulitan menghafal nama teman-temannya. Ada salah satu mata kuliah, yakni praktikum kimia umum yang mempertemukan Oktia dan Dayat dalam satu kelompok praktikum.


“Yey... satu kelompok sama Dayat. Dilihat sekilas dia itu orangnya pintar. Enggak ding, dia memang pintar. Masalah praktikum gampang deh kalau ada dia.” batin Oktia ketika membaca daftar kelompok praktikum kimia umum di depan labolatorium kimia.


Waktu itu, praktikum kimia umum berlangsung biasa saja. Hal yang membuat Oktia dan teman-temannya risau adalah bagaimana cara membuat laporan praktikum agar sesuai dengan kemauan asisten praktikum yang sepertinya meminta mereka untuk membuat laporan sesempurna mungkin.


harus dikumpulkan dalam waktu seminggu itu sesuai kriteria laporan praktikum yang ada di perguruan tinggi.


Oktia datang paling awal di hall rektorat. Dia melihat seorang yang mengenakan helm putih mengendarai motor biru parkir di halaman rektorat.


“Eh? Siapa itu? Oh, Dayat baru dateng.”


Satu per satu teman-teman Oktia yang satu kelompok praktikum datang. Setelah teman-teman satu kelompok berkumpul, mereka mendiskusikan laporan praktikum dari praktikum yang sudah dilaksanakan. Oktia saat itu membawa buku kimia umum. Dia iur pendapat tentang isi laporan dari  buku yang ia bawa. Teman-temannya setuju dasar teori yang digunakan berasal dari buku itu.

__ADS_1


Baru saja mereka saling kenal tapi mereka sudah banyak bercanda sewaktu berdiskusi. Hal inilah yang membuat mereka cepat akbrab satu sama lain. Mereka tidak canggung lagi.


Berhubung mereka sudah lelah, mereka menghentikan diskusi laporan praktikum. Topik utama telah ganti. Kali ini Dayat berbicara. Topik ceritanya tentang agama. Sudah jadi basic Dayat bisa bercerita seperti itu. Entah memperkenalkan diri atau hanya sekedar curahan hati, selain membicarakan agama dia bercerita bahwa dia bersekolah di MTs karena ayahnya. Hal ini dianggapnya sebagai bentuk cinta kasih seorang ayah kepada anaknya agar anaknya punya bekal di akhirat. Ayahnya termasuk salah satu tokoh agama di daerahnya. Dia juga bercerita bahwa dulunya dia kurang dalam ilmu agama. Tapi, ada tetangganya yang bilang tidak boleh bersikap seperti itu,


karena bisa mempermalukan ayahnya, maka sejak saat itu dia mulai belajar agama.


Oktia antusias dengan cerita Dayat. Memang sudah lama dia tidak mendengar siraman rohani yang disampaikan temannya sendiri semenjak naik ke kelas XII di SMA. Terlebih, Oktia memang senang jika topik yang dibicarakan berekenaan dengan ayat-ayat Allah. Dia merasakan kedamaian.


“Wah, indahnya hidup bila kelak aku punya suami yang tahu agama. Bisa membimbing di dunia juga akhirat.” batin Oktia ketika mendengarkan cerita Dayat.


Malam semakin larut. Meski semakin larut hiruk-pikuk hall rektorat masih belum berkurang. Jam menunjukkan pukul 22.00. Mereka membubarkan diri untuk beristirahat.


Kuliah praktikum kimia umum masih berlanjut. Kali ini, giliran Oktia yang membuat laporan sementara sebagai data untuk membuat laporan resmi. Oktia menulis anggota kelompoknya. Setelah selesai menulis, tanpa ia sadari Dayat berdiri di sampingnya.


“Nama belakang yang kamu tulis salah nih. Nggak pakai ‘a’ tapi pakai ‘o’.” kata Dayat dengan logat khasnya.


“Oh? Iya kah? Maaf, aku ganti nih jadi ‘o’.” kata Oktia.


“Nah, itu baru bener.” kata Dayat.

__ADS_1


“Galak amat sih ini orang. Cuma masalah nama juga.” batin Oktia sambil menggerutu pada Dayat yang setelah itu beranjak pergi.


__ADS_2