Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 20


__ADS_3

Gue Malu ****!!!


            Malam


hari di kost. Oktia masih bingung dengan sikap Dayat. Jika dia menyukai


seseorang, kenapa dia tak juga mengungkapkan perasaannya. Daripada bingung,


Oktia menancapkan modemnya ke laptop dan membuka search engine. Oktia membaca salah satu artikel di kompasiana.com. Artikel yang  ia baca bercerita tentang seorang gadis yang


menyukai seorang laki-laki. Laki-laki tersebut seorang cenayang. Jadi,


laki-laki tersebut tahu kalau gadis itu menyukainya tanpa harus sang gadis


mengatakannya. Terlalu banyak perbedaan, termasuk agama membuat laki-laki


tersebut tak membalas cinta sang gadis daripada di kemudian hari hanya membuat


luka. Perlahan tapi pasti laki-laki itu menjauh dan pada akhirnya beberapa hari


tak mau menemui sang gadis di tempat biasa mereka bertemu. Ayah sang gadis juga


seorang cenayang. Sehingga, ayah sang gadis tahu kalau sang anak sedang galau.


Sang ayah menasehati sang anak agar menyelesaikan masalahnya. Karena hanya sang


gadislah yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena sudah lama tak


bertemu dan sang gadis bingung bagaimana cara menemui sang laki-laki, sang ayah


menasehatinya untuk menggunakan telepati. Namun, sang anak tak tahu bagaimana


cara menggunakan telepati. Meskipun ayahnya seorang cenayang, sang anak tak


mempunyai kemampuan cenayang seperti ayahnya. Kemudian sang anak berdoa pada


Tuhan agar menyampaikan pesannya untuk sang laki-laki yang ternyata seorang


cenayang. Pesan tersebut berisi agar sang laki-laki berada di tempat biasa


untuk membicarakan perasaan sang gadis. Keesokan paginya, sang laki-laki berada


di tempat yang seperti diminta sang gadis. Sang gadis bingung kenapa sang


laki-laki bisa berada di tempat seperti yang diminta sang gadis. Sang laki-laki


mendapat firasat karena dia seorang cenayang. Sehingga, sang laki-laki memenuhi


permintaan sang gadis untuk menemuinya. Pada akhirnya mereka tak dapat bersatu


karena terlalu banyak jurang pemisah antara mereka.


            Dari artikel yang ia


baca. Oktia mendapatkan inspirasi. “Kenapa aku nggak tanya ke Dayat kalau dia


menyukai seseorang namun tak juga mengungkapkannya lewat telepati?” pikir


Oktia.


            Oktia menenangkan


hatinya, memfokuskan hati agar bisa kontak dengan Allah. Setelah merasa sudah


terhubung dengan yang Maha Kuasa, Oktia berdoa. “Yaa Allah, tolong sampaikan


pada Dayat. Yat, kenapa sih kamu nggak mau ngungkapin perasaan kamu?” Setelah


berdoa seperti itu, Oktia beranjak tidur.


            Hari telah berganti,


surya telah terbit lagi. Pagi hari di kampus, ketika dosen belum datang. Namun,


teman-teman sudah berkumpul semua. Jika dosen belum datang, biasanya


teman-teman akan saling bercerita. Pagi itu, Dayat duduk di samping Widi.


Mungkin mereka menceritakan sesuatu. Tiba-tiba saja Oktia mendengar suara Dayat


yang paling jelas, bisa ia dengar waktu itu di antara suara-suara yang lain.


            “Gue malu ****!!!”


teriak Dayat mungkin pada Widi.


            “Alhamdulillah.” Kata Oktia dalam


hati. “Ternyata Allah sudah menyampaikan pesanku. Pertanyaanku terjawab sudah


dengan aku mendengar kalimat ‘Gue malu ****!!’. Ternyata Dayat itu seorang yang


malu untuk mengungkapkan perasaannya.” kata Oktia dalam hati.


Hari Jumat merupakan hari terakhir


dikumpulkannya Ujian Tengah Semester Manajemen Pendidikan. Oktia belum selesai


mengerjakannya. Pagi itu, masih ada kuliah. Dayat mengajak Oktia ke


perpustakaan untuk mengerjakan Ujian Tengah Semester yang kebetulan take home, bersama.


            “Okti, entar


ngerjain MP di perpus yuh. Habis jumatan.” ajak Dayat.


            “Iya, habis kuliah


aku malah langsung ke perpus.”


            Setelah kuliah


selesai, Oktia menuju perpus bersama Risma. Di perpustakaan, Oktia mengerjakan


UTS-nya, sedangkan Risma membaca novel karena Risma sudah selesai mengerjakan


UTS dan masih enggan untuk pulang. Tiba-tiba Dayat datang.


            “Loh, katanya ke


perpus habis jumatan?” tanya Oktia.


            “Mumpung ada waktu.” kata Dayat.


            Waktu menunjukkan


pukul 11.00 di mana perpustakaan akan tutup sementara karena ada Sholat Jumat


dan dibuka lagi pukul 13.30. Dalam jeda waktu tersebut, Oktia pulang ke


kost-nya ditemani Risma. Di kost, Oktia menggunakan waktunya untuk mengerjakan


pekerjaannya sebagai anak kost sekalian persiapan untuk pulang kampung. Jam


sudah menunjukkan pukul 13.00. HP Oktia berbunyi. Ada SMS dari Dayat.


            “Okti, sudah sampai


perpus?” isi SMS Dayat.

__ADS_1


            “Belum, masih


persiapan ke sana.” balas Oktia.


            “Dayat udah SMS ayo


segera ke perpus Ris.” ajak Oktia pada Risma.


            “Dayat tadi bilang


mau cari inspirasi Ti?” tanya Risma pada Oktia dalam perjalanan menuju


perpustakaan.


            “Iya Ris.” kata


Oktia. “Sebenarnya itu modusnya Dayat aja.” batin Oktia.


            Setibanya Oktia di


perpustakaan, pintu perpustakaan masih tertutup. Banyak orang menunggu pintu


perpustakaan dibuka di teras perpustakaan. Termasuk Dayat. Dia duduk di teras


bagian utara bersama Hadi. Setelah perpustakaan dibuka, Oktia langsung masuk dan


naik menuju lantai dua di ruang koleksi. Di sana, dia melanjutkan mengerjakan


UTS-nya yang belum selesai. Dayat datang. Dia duduk di samping kanan Oktia, di


samping kiri Oktia ada Risma yang membaca novel. Waktu terus berjalan, hingga


tiba saatnya Risma untuk pulang. Oktia dan Dayat masih mengerjakan UTS-nya.


            “Kamu nanti pulang


jam berapa?” tanya Dayat.


            “Kalau sudah selesai


aku baru mau pulang. Kalau sudah sampai rumah aku pasti capek dan malas untuk


melanjutkan UTS lagi.”


            “Nanti kalau belum


selesai dan perpus sudah tutup lanjut di teras perpus aja.”


            Waktu terus berjalan


hingga tiba saatnya jam menunjukkan pukul 16.45. Petugas perpustakaan mengambil


buku yang ada di depan Oktia dan Dayat berhubung perpustakaan akan tutup.


            “Bukunya sudah nggak


dipakai?” tanya petugas perpustakaan.


            “Nggak. Nanti


perpusnya tutup jam berapa Mbak?” tanya Dayat.


            “Jam 17.00.” jawab


petugas perpustakaan.


            “Yaudah, kita


siap-siap turun aja yuh Ti.” ajak Dayat pada Oktia.


            Sesampainya di teras


            “Kita ngerjainnya di


sini Yat?” tanya Oktia yang tidak yakin mereka akan mengerjakan UTS di teras


perpustakaan.


            “Di rektorat aja


yuh.”


            Dalam perjalanan


menuju rektorat, mereka ngobrol.


            “Kamu nggak takut


pulang kemaleman?”


            “Nggak.


Perjalanannya cuma satu jam kok. Lagian waktu SMA aku sering pulang malam kalau


ada les.”


            “Rumah kamu


Klatennya sebelah mana? Kalau daerah Delanggu?”


            “Kok kamu tahu


Delanggu? Delanggu itu daerah tempat tinggal mbahku.”


            “Soalnya tiap bulan


aku ke Jawa Timur. Kalau ke Jawa Timur kan melewati Klaten.”


            “Kamu tahu rumah


sakit Islam Klaten nggak? Masih terus ke arah utara.”


            Sesampainya di


rektorat. Mereka mengerjakan di pinggir teras rektorat. Nampaknya petugas


kebersihan sedang bertugas. Tempat di mana mereka mengerjakan UTS akan


dibersihkan. Mereka pindah tempat. Setelah agak nyaman di tempat baru. Tretek-tretek-tretek. Hujan turun.


Tempat di mana Oktia duduk terkena air hujan.


            “Aku ketampon air hujan Yat. Pindah yuh.”


            “Pindah di teras


sana aja gimana?”


            “Ayo. Yang penting nggak ketampon.”


            Mereka berdiri lalu


mencari tempat yang baru lagi. Dayat melihat Gita duduk bersandar di tembok


teras perpustakaan.


            “Itu ada Gita ke


sana aja yuh.” ajak Dayat. Oktia mengikuti langkah Dayat.

__ADS_1


            “Hey Git.” sapa


Dayat.


            “Hey, kalian dari


mana?” tanya Gita.


            “Dari sebelah sana


ngerjain UTS.” jawab Dayat.


            “Sama siapa aja


Yat?”


            “Sama Okti.”


            “Ciee.. tadi di sana


ada Anti dan Ato lagi ngerjain UTS juga.”


            “Kok nggak diajak


sekalian. La kamu di sini sama siapa?”


            “Sama Mas Dimas.”


            Azan magrib berkumandang.


Dayat pergi duluan untuk sholat magrib di Masjid kampus. Oktia yang juga sudah


selesai mengerjakan UTS dan mengirimnya lewat e-mail pamit pergi.


            “Aku pulang dulu ya


Git.” pamit Oktia.


            Hari berganti, sudah


hari Senin lagi. Saatnya untuk kuliah. Kuliah pagi itu tampaknya sang dosen tak


bisa memberi kuliah.


            “Kamu kemarin


ngerjain UTS-nya sampai jam berapa Ti?” tanya Risma pada Oktia.


            “Sampai magrib.”


jawab Oktia.


            “Sama dia?” tanya


Risma sambil menunjuk Dayat dengan ekspresi muka terkaget-kaget.


            “Iya.” jawab Oktia.


Oktia masih berkutat dengan materi yang akan


dipresentasikannya. Dia berkumpul bersama kelompoknya untuk mendiskusikan


materi yang akan dipresentasikan.


“Kamu tanya Dayat aja Ti. Nanti dia menjabarkan


sendiri.” saran Okti yang kebetulan kelompok diskusi Oktia mengalami kendala


dalam mencari asal-muasal rumus. Dengan sedikit terpaksa Oktia bertanya pada


Dayat.


“Yat ini asal rumusnya dari mana sih?” tanya


Oktia yang duduk di sebelah kiri Dayat. Tiba-tiba saja teman-teman dekat Dayat


berdehem.


“Uhuk-uhuk ehem-ehem.” suara Nudi dan Nug.


“Woy! Woy! Woy! Ssttt.....” cegah Dayat pada


teman-temannya.


Beberapa waktu kemudian, Oktia kembali ke


kelompok diskusinya. Sedangkan Dayat ngobrol dengan Hadi entah apa yang mereka


bicarakan.


“I know


what you mean.” kata Hadi dalam pembicaraan tersebut.


Waktu masih terus berjalan. Tiba saatnya ada


kuliah Matematika Fisika. Oktia duduk di belakang Damar. Dayat duduk di depan


satu baris dengan Damar. Mereka mendiskusikan soal yang diberikan dosen. Dayat


sedang mengajari Damar yang belum selesai mengerjakan soal. Secara tidak


langsung, jika Damar di depan Oktia berarti Dayat mengajari Damar di depan


Oktia.


“Asem” “Asem” kata teman-teman dekat Dayat


secara bersahutan.


            Pernah suatu ketika menunggu kelas untuk kuliah Listrik


Magnet. Oktia duduk di kursi teras depan kelas, kemudian Dayat duduk di samping


kiri Oktia jarak satu kursi. Damar kemudian menghampiri mereka. Jarak satu


meter, Damar berdiri di depan mereka. Ia diam seribu bahasa, kemudian berpindah


ke tempat yang lain. Wulan datang, duduk di antara Oktia dan Dayat.


            “Wul, aku titip tas


ya? Aku mau ke kamar mandi sebentar.” kata Oktia pada Wulan.


            “Kamu baru nunjukin


kalau kamu suka sama aku setelah aku dekat dengan Damar. Kamu ke mana aja Yat?”


batin Oktia sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai urusannya ke


kamar mandi, ia kembali ke teras depan kelas. Oktia menemukan Dayat curhat


dengan Wulan. Curhatan itu terhenti setelah Oktia berdiri di depan Dayat.


            “...Damar. Gara-gara


sering ke kajur bareng.” kata Dayat. Sepotong kalimat yang dapat Oktia tangkap.


            “Damar? Ada apa dengan Damar? Tapi

__ADS_1


kayaknya dia udah tahu deh kedekatan aku dengan Damar.” batin Oktia.


__ADS_2