Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 34


__ADS_3

Wanine Ngajak Bala


Hari Senin merupakan hari pertama ujian. Oktia masih sakit. Berangkat


menuju tanah rantau kali ini penuh perjuangan. Oktia masih pusing setelah minum


obat. Mengendarai sepeda motor di jalan raya yang ramai dalam keadaan ngantuk


dan pusing efek samping dari obat membuatnya harus berhati-hati dan memutar gas


dengan sudut yang agak kecil supaya motor yang dikendarai tidak melaju dengan


kecepatan tinggi. Namun, apa daya. Walaupun sudah berhati-hati, dengan waktu


limit mendekati nol Oktia hampir saja menabrak motor yang berhenti di depannya


karena motor yang ada di depannya memilih berhenti ketika lampu lalu-lintas


urutan teratas menyala. Beruntung Oktia bisa menghindar. Priiiiiittttttt.


Polisi yang berjajar di pinggir jalan menyemprit Oktia. Tapi Oktia masih saja


melajukan motornya tanpa mempedulikan bunyi peluit polisi. Setelah beberapa


kilometer dari kejadian tadi, Oktia melihat seorang bapak-bapak berompi hijau


men-daplang-kan tangannya


mengisyaratkan supaya Oktia mengerem motor. Tapi Oktia terlalu fokus melihat


bapak-bapak yang menyuruhnya berhenti tanpa melihat apa yang ada di depannya.


Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu mengenakan pakaian abu-abu menyebrang jalan.


Ttiiiinnn...Oktia reflek memencet tombol klakson dan seketika menginjak pedal


rem. Seketika itu Oktia terbayang-bayang antara rumah sakit dengan kampus.


Oktia hanya berharap ia masih bisa ke kampus dan mengikuti ujian. Beruntung


ibu-ibu tadi tidak tertabrak motor yang kebetulan sebelum  Oktia memijak pedal rem dilajukan dengan


kecepatan tinggi.


            Setelah melewati


perbatasan tanah kelahiran dan tanah rantau, jalan yang  Oktia lalui macet. Oktia hanya bisa mengegas


motorku hingga berkecepatan sepuluh kilometer per detik. Polusi, macet, sumpek,


berangin membuat batuknya kambuh. Oktia terbatuk-batuk dalam kemacetan


sepanjang satu kilo meter. Terlalu capek terbatuk-batuk membuatnya sedikit


pusing dan membuat motornya oleng dan hampir terjatuh. Lemas. Itulah yang  ia rasakan sesampainya di kost. Tergolek lemah,


padahal Oktia harus belajar. Berbaring sebentar dan menenangkan diri.


            Setengah jam sebelum


ujian di mulai Oktia ke kampus. Oktia memilih membawa motor supaya Oktia tidak


kecapekan kalau jalan ke kampus. Setelah memarkirkan motor, dalam perjalanan ke


kampus Oktia bertemu Risma.


            “Okti!” panggil


Risma.


            “Eh, Risma. Kamu


udah belajar belum? Aku minggu tenang malah sakit.”


            “Belum eh. Minggu


tenang aku juga malah sakit.”


Ruangan yang dipakai ternyata ber-AC. Dingin


sekali. Beruntung. Oktia mengenakan jaket yang sengaja ia pakai karena sewaktu


batuk Oktia paling anti dengan yang namanya udara dingin. Memasuki ruang ujian


serasa memasuki di kutub utara. Dingin. Bbbrrrr. Pusing dan lemas. Ya. Itulah


yang Oktia rasakan.


Bangku yang belum terisi ada di depan. Oktia


duduk di samping Risma. Satu baris dengan Damar.


“Sini aja Ris masih kosong.” saran Rina sambil


bangkit dari tempat duduk yang ia duduki di samping Damar.


Risma geser ke kiri. Berarti Oktia juga geser ke


kiri.


            “Okti, kamu pucat


banget kenapa?” tanya Gita seketika Oktia duduk di bangku sela satu bangku dari


Damar.


            “Aku sakit Git.”


jawab Oktia singkat.


            “Kamu udah sarapan


belum Ti?” tanya Kinan menambahi.


            “Sudah kok Kin.”


            “Kamu sakit apa Ti?”


tanya Rina yang mendekat di samping Oktia sambil menepuk bahunya.


            “Cuma batuk kok


Rin.”


            “Cepat sembuh ya


Ti.” kata Kinan.


            “Iya Kin. Makasih


ya.” jawab Oktia.


            “Sohib-sohibnya


Dayat kok perhatian banget sama aku?” batin Oktia waktu itu.


            Pengawas ujian belum


datang. Oktia memilih belajar sebentar. Mendiskusikan materi yang akan diujikan


dengan Risma membuatnya harus duduk agak serong menghadap Risma yang berarti


menghadap Damar juga.


            “Damar...” panggil


Dayat yang kebetulan Dayat duduk di belakang Damar. Entah apa yang mereka


bicarakan. Oktia hanya tahu sewaktu ia mendiskusikan materi kuliah dengan


Risma, Dayat memanggil Damar.


            Pengawas tiba di


ruang ujian. Soal dan lembar jawab sudah dibagikan. Tinggal mengerjakan. Batuk


Oktia mulai kambuh setelah beberapa waktu tidak kambuh. Daripada membuat gaduh


Oktia memilih keluar ruangan. Sebelumnya Oktia membawa tissu dan minyak angin.


            “Bu, izin ke luar


sebentar.” pinta Oktia pada pengawas ujian sambil menahan rasa sakit. Sewaktu


berjalan ke luar Oktia melewati Nudi. Sepertinya dia mengamati langkah Oktia.


Terlihat dari sorot matanya yang tajam. Oktia memilih menundukan pandangan.


            Oktia ke luar


ruangan menuju kamar mandi. Untungnya ruangan ujian yang di pakai bersebelahan


dengan kamar mandi. Terbatuk-batuk di kamar mandi lebih baik dari pada

__ADS_1


terbatuk-batuk di ruang ujian.


            “Aku harus bagaimana


ini? Batukku malah kambuh di saat ujian. Mana ruangannya dingin banget lagi.


Sudahlah semoga nggak batuk-batuk lagi.”


            Oktia masuk ke ruang


ujian lagi. Sewaktu mengerjakan ujianpun Oktia masih terbatuk-batuk dan menahan


rasa sesak untuk menahan agar batuknya tidak menjadi-jadi yang pada akhirnya


hanya mengganggu peserta ujian lain. Ujian selesai. Oktia ke luar ruangan.


Damar masih di depan ruang ujian. Risma keluar ruang ujian sebelum Oktia.


“Risma udah turun ya Mar?” tanya Oktia pada


Damar.


“Sudah tadi.” jawab Damar.


“Ya udah aku pulang aja deh.” kata Oktia sambil


melangkahkan kaki. Tanpa di sengaja Oktia dan Damar berjalan beriringan.


Tiba-tiba Damar berbalik arah tidak jadi turun ke lantai satu.


“Sepertinya dia menghindariku agar tak berjalan


ke parkiran bareng.” pikir Oktia.


            Setibanya di kost,


Oktia merebahkan tubuhnya yang masih lemah. Nddreet-ndrett.


HP Oktia berbunyi. Oktia bangkit dari kasur. Mencari-cari HP-nya yang entah


sebelum rebahan ia taruh di mana. Ternyata ada di atas lemari kecil berwarna


coklat di pojok kamar.


            “Okti, mau ke


perpus? Jam 2an yuh” isi SMS dari Dayat.


            “Ya, insyaAllah.”


jawab Oktia singkat.


Selesai dengan berbagai urusan di kost, Oktia


mulai bosan. Teman-teman kost juga sedang pergi semua. Kost sepi. Masih


setengah jam dari jam di mana Oktia akan ke perpus. Ia menata buku-buku yang


akan dipakai untuk belajar di perpus.


“Berangkat lebih awal nggak ada salahnya.” pikir


Oktia. Oktia yang masih trauma dengan Dayat yang kadang tak datang ke perpus


setelah dia mengajak ke perpus memilih untuk meng-SMS-nya. “Jadi ke perpus


nggak? Aku OTW”. Pesan terkirim. Dan dibalasnya “oh ya..aku masih di kos”.


Oktia berangkat ke perpus berjalan kaki karena


motornya sudah ia parkirkan di kost setibanya Oktia dari kampus dan cukup malas


untuk mengeluarkannya kembali. Dengan mengenakan jaket dan berjalan cukup jauh,


Oktia berharap untuk dapat menghangatkan tubuhnya yang sedari pagi kedinginan.


Sesampainya di perpustakaan Oktia memilih tempat yang jauh dari AC supaya


tubuhnya tidak terpapar dinginnya udara AC yang menusuk sampai tulang. Setengah


jam kira-kira Oktia menunggu. Dayat datang.


“Yang lain mana?”


“Nggak tahu.”


“Sudah lama?”


“Nggak kok.”


kuliah yang akan diujikan besok lusa. Suara Oktia yang masih serak membuatnya


agak kesulitan berbicara dengan lancar.


“Kamu pilek ya?”


“Iya, minggu tenang aku malah sakit.”


Ada soal yang tak bisa Oktia kerjakan. Oktia


meminta bantuan Dayat untuk mengerjakannya dan mengajarkan pada Oktia. Soal


yang ia tanyakan memang cukup sulit. Dan akhirnya mereka menyerah dan memilih


mengerjakan ulang soal yang level kesulitannya lebih rendah. Sebelumnya mereka


me-review materi rumus-rumus dasar.


Dayat mengalami beberapa kesalahan kecil dan berulang-ulang. Sepertinya dia


agak grogi. Oktia yang menyadari hal itu sebenarnya ingin tertawa. Namun, Oktia


tahan agar Damar tidak curiga. Beberapa waktu kemudian Kinan, Rina, dan Mita


datang.


“Ha? Kok ada mereka?” batin Oktia.


Kemudian mereka pindah dari meja ke lantai.


Dinginnya udara dan berada di lantai membuat Oktia kedinginan lagi. Sebelum


belajar mereka berbincang-bincang untuk menghangatkan suasana.


“Minggu tenang kamu ngapain Yat?” tanya Rina


pada Dayat.


“Aku bantu bapak kayak di film...”


“Kok nggak gosong?”


“Ya aku gosongnya cuma seminggu. Ntar balik


putih lagi. Hari ini aku lihat senyumnya Tita lho Rin.”


“Kamu berdoa dalam hati ya?”


Bahasa kode. Itulah bahasa yang mereka gunakan


untuk membicarakan hal-hal yang dirahasiakan pada Oktia atau malah menyindir


Oktia. Kadang, hanya sedikit yang Oktia ketahui maksud dari pembicaraan mereka.


Dayat mengerjakan soal yang ditanyakan Kinan. Dengan lancar dia bisa


mengerjakannya.


“Kok kalau sama aku kadang dia agak ****. Tapi,


kalau sama yang lain pinternya balik lagi ya?” batin Oktia waktu itu ketika


Dayat bisa mengerjakan soal yang level kesulitannya lebih tinggi dari soal yang


Oktia tanyakan tadi dengan lancarnya.


Beberapa waktu kemudian Gita dan Rahma datang.


Sepertinya mereka memang sedari tadi berada di perpustakaan namun baru muncul


kali ini. Kinan, Rina, Mita, Gita, dan Rahma merupakan teman-teman dekat Dayat.


Dan mereka juga tahu tentang masalah Dayat dengan orang yang disukainya kecuali


Oktia.


“Wah, yang datang ini teman-teman dekat Dayat


semua. Aku sendirian. Aku digrudug


balane. Wanine ngajak bala. Kalau berperang sendiri nggak berani apa ya?”


batin Oktia.

__ADS_1


Mita punya foto


copy-an buku catatan Hadi yang isinya jawaban dari soal-soal yang ada di


buku. Oktia dan Rina ingin meng-copy-nya.


Namun, berhubung cukup banyak mereka memilih untuk meng-copy beberapa lembar saja. Mem-fotocopy di perpustakaan biayanya lebih mahal jika dibandingkan foto copy di luar perpustakaan. mereka memilih mem-fotocopy-nya di fotocopy-an depan kost Kinan. Yang mem-fotocopy hanya Oktia, Rina, Kinan, dan Dayat. Sehingga mereka


berangkat menuju kost Kinan. Gita dan Rahma masih tinggal di perpustakaan.


Oktia, Kinan, dan Dayat menuruni tangga perpus


bersama. Bbrrakk. Tiba-tiba buku-buku


yang Oktia bawa terjatuh dan akhirnya tercecer di tangga perpus. Dayat yang


berjalan duluan melihat buku Oktia yang tercecer.


“Dibantuin to Yat. Bawanya ribet gitu kok!” kata


Kinan pada Dayat. Kemudian Dayat membantu mengambili buku Oktia yang tercecer


di tangga perpus.


“Makasih ya.” kata Oktia.


“Ya.”


Langit di sore itu tertutup mendung abu-abu yang


cukup kelam. Oktia, Rina, Mita, Kinan berunding di teras perpustakaan


membicarakan cara ke kost Kinan berhubung yang membawa motor cuma Mita dan


Dayat. Sedangkan Dayat membaca koran yang ditempelkan di kaca depan perpustakaan.


“Rina dan Mita boncengan. Okti sama Dayat. Aku


jalan kaki saja.” kata Kinan memecahkan masalah mereka.


“Nggak papa Kin?” tanya Oktia.


“Nggak papa kok. Aku berangkat duluan ya.” jawab


Kinan.


Rina dan Mita berangkat duluan. Sedangkan Kinan


melangkahkan kakinya. Dayat masih membaca koran. Oktia menunggunya.


“Lainnya mana?”


“Udah pada jalan.”


“Ya udah berangkat yuh.”


            Oktia dan Dayat


berjalan menuju motor Dayat yang diparkirkan di halaman depan perpustakaan.


            “Kamu tunggu di sini


saja.” kata Dayat meminta Oktia menunggu di tempat yang agak luas karena


motornya agak susah dikeluarkan.


Tretek-tretek. Tiba-tiba hujan


turun. Oktia memilih balik ke teras perpustakaan daripada harus kehujanan.


Dayat mengenakan mantelnya. Dia bersikukuh untuk berangkat ke kost Kinan


meskipun tetes air hujan cukup deras.


“Hujan-hujan gini apa nggak sebaiknya nunggu


reda? Aku nggak mau tambah sakit gara-gara kehujanan.” batin Oktia.


“Ayo!” ajak Dayat pada Oktia yang kebetulan


masih berteduh di teras perpustakaan.


Dengan sedikit berlari Oktia menghampiri Dayat.


Oktia mulai naik ke atas motornya. Dayat memindahkan tasnya ke depan supaya


Oktia dapat tempat duduk lebih luas. Hujan masih deras dan bertambah deras.


“Aku nebeng mantel kamu ya?” kata Oktia pada


Dayat. Waktu itu Oktia tak berfikir apapun selain menyelamatkan dirinya yang


masih sakit dari tetes air hujan.


“Aku nggak mau bertambah sakit gara-gara


kehujanan. Besok masih ada ujian.” pikir Oktia.


Dayat mulai mengegas motornya. Dayat mengendarai


motornya cukup pelan tak seperti waktu Oktia diantarnya pulang setelah belajar


bersama sebelum ujian tengah semester. Setibanya di depan kost Kinan.


“Dayat....” panggil Rina pada Dayat.


Oktia yang tak melihat jalan merasa motor sudah


berhenti. Oktia turun sambil sedikit berlari menuju tempat foto copy-an. Ternyata Rina dan Mita sudah tiba sejak tadi. Dayat


memarkirkan motornya. Sesekali Oktia melihat jalan menengok apakah Kinan sudah


tiba atau belum.


“Kamu nanti pulangnya bareng aku aja. Tinggal


terus aja kan?” saran Dayat pada Oktia.


“Iya.” jawab Oktia mengiyakan sarannya.


Sebelum pulang mereka membicarakan sesuatu.


“Katanya cowok itu dibilang cowok kalau dia bisa


membikin cewek nangis.” kata Rina.


“Berarti aku cowok dong.” sahut Dayat.


“Berarti Dayat pernah bikin cewek nangis dong.


Termasuk aku. Kalau cewek udah bisa dibilang cewek kalau bisa bikin cowok galau


nggak ya? Kan aku udah pernah bikin Dayat galau.” batin Oktia.


Setelah selesai mem-fotocopy mereka pulang. Mita membawa motornya, Kinan masih di depan


kostnya, Rina pulang berjalan kaki karena kostnya dekat dengan kost Kinan.


Oktia dan Dayat pulang bersama. Oktia masih menunggunya untuk mengeluarkan


motor dari tempat parkir.


“Dayat, Okti mana?” tanya Kinan.


“Lha ini.” jawab Dayat sambil mengelap jok


motornya yang basah terkena air hujan.


“Oh.. tak kira udah duluan.”


“Duluan ya Kin.” pamit Oktia.


Dayat mulai mengegas motornya. Beberapa puluh


meter dari kost Kinan tiba-tiba hujan turun lagi.


“Wah kalau nggak pake mantel malah hujan.” keluh


Dayat.


“Iya ya.” sahut Oktia.


“Ini anak, tadi doa apa sih? Pas bonceng dia kok


pasti hujan turun.” batin Oktia.


Sesampainya di depan kost Oktia, hujan masih


cukup deras. Dayat menghentikan motornya.


“Makasih ya Yat. Hati-hati.” kata Oktia pada


Dayat lalu berlari menuju pintu depan kost supaya tidak basah terkena air

__ADS_1


hujan.


__ADS_2