
Wanine Ngajak Bala
Hari Senin merupakan hari pertama ujian. Oktia masih sakit. Berangkat
menuju tanah rantau kali ini penuh perjuangan. Oktia masih pusing setelah minum
obat. Mengendarai sepeda motor di jalan raya yang ramai dalam keadaan ngantuk
dan pusing efek samping dari obat membuatnya harus berhati-hati dan memutar gas
dengan sudut yang agak kecil supaya motor yang dikendarai tidak melaju dengan
kecepatan tinggi. Namun, apa daya. Walaupun sudah berhati-hati, dengan waktu
limit mendekati nol Oktia hampir saja menabrak motor yang berhenti di depannya
karena motor yang ada di depannya memilih berhenti ketika lampu lalu-lintas
urutan teratas menyala. Beruntung Oktia bisa menghindar. Priiiiiittttttt.
Polisi yang berjajar di pinggir jalan menyemprit Oktia. Tapi Oktia masih saja
melajukan motornya tanpa mempedulikan bunyi peluit polisi. Setelah beberapa
kilometer dari kejadian tadi, Oktia melihat seorang bapak-bapak berompi hijau
men-daplang-kan tangannya
mengisyaratkan supaya Oktia mengerem motor. Tapi Oktia terlalu fokus melihat
bapak-bapak yang menyuruhnya berhenti tanpa melihat apa yang ada di depannya.
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu mengenakan pakaian abu-abu menyebrang jalan.
Ttiiiinnn...Oktia reflek memencet tombol klakson dan seketika menginjak pedal
rem. Seketika itu Oktia terbayang-bayang antara rumah sakit dengan kampus.
Oktia hanya berharap ia masih bisa ke kampus dan mengikuti ujian. Beruntung
ibu-ibu tadi tidak tertabrak motor yang kebetulan sebelum Oktia memijak pedal rem dilajukan dengan
kecepatan tinggi.
Setelah melewati
perbatasan tanah kelahiran dan tanah rantau, jalan yang Oktia lalui macet. Oktia hanya bisa mengegas
motorku hingga berkecepatan sepuluh kilometer per detik. Polusi, macet, sumpek,
berangin membuat batuknya kambuh. Oktia terbatuk-batuk dalam kemacetan
sepanjang satu kilo meter. Terlalu capek terbatuk-batuk membuatnya sedikit
pusing dan membuat motornya oleng dan hampir terjatuh. Lemas. Itulah yang ia rasakan sesampainya di kost. Tergolek lemah,
padahal Oktia harus belajar. Berbaring sebentar dan menenangkan diri.
Setengah jam sebelum
ujian di mulai Oktia ke kampus. Oktia memilih membawa motor supaya Oktia tidak
kecapekan kalau jalan ke kampus. Setelah memarkirkan motor, dalam perjalanan ke
kampus Oktia bertemu Risma.
“Okti!” panggil
Risma.
“Eh, Risma. Kamu
udah belajar belum? Aku minggu tenang malah sakit.”
“Belum eh. Minggu
tenang aku juga malah sakit.”
Ruangan yang dipakai ternyata ber-AC. Dingin
sekali. Beruntung. Oktia mengenakan jaket yang sengaja ia pakai karena sewaktu
batuk Oktia paling anti dengan yang namanya udara dingin. Memasuki ruang ujian
serasa memasuki di kutub utara. Dingin. Bbbrrrr. Pusing dan lemas. Ya. Itulah
yang Oktia rasakan.
Bangku yang belum terisi ada di depan. Oktia
duduk di samping Risma. Satu baris dengan Damar.
“Sini aja Ris masih kosong.” saran Rina sambil
bangkit dari tempat duduk yang ia duduki di samping Damar.
Risma geser ke kiri. Berarti Oktia juga geser ke
kiri.
“Okti, kamu pucat
banget kenapa?” tanya Gita seketika Oktia duduk di bangku sela satu bangku dari
Damar.
“Aku sakit Git.”
jawab Oktia singkat.
“Kamu udah sarapan
belum Ti?” tanya Kinan menambahi.
“Sudah kok Kin.”
“Kamu sakit apa Ti?”
tanya Rina yang mendekat di samping Oktia sambil menepuk bahunya.
“Cuma batuk kok
Rin.”
“Cepat sembuh ya
Ti.” kata Kinan.
“Iya Kin. Makasih
ya.” jawab Oktia.
“Sohib-sohibnya
Dayat kok perhatian banget sama aku?” batin Oktia waktu itu.
Pengawas ujian belum
datang. Oktia memilih belajar sebentar. Mendiskusikan materi yang akan diujikan
dengan Risma membuatnya harus duduk agak serong menghadap Risma yang berarti
menghadap Damar juga.
“Damar...” panggil
Dayat yang kebetulan Dayat duduk di belakang Damar. Entah apa yang mereka
bicarakan. Oktia hanya tahu sewaktu ia mendiskusikan materi kuliah dengan
Risma, Dayat memanggil Damar.
Pengawas tiba di
ruang ujian. Soal dan lembar jawab sudah dibagikan. Tinggal mengerjakan. Batuk
Oktia mulai kambuh setelah beberapa waktu tidak kambuh. Daripada membuat gaduh
Oktia memilih keluar ruangan. Sebelumnya Oktia membawa tissu dan minyak angin.
“Bu, izin ke luar
sebentar.” pinta Oktia pada pengawas ujian sambil menahan rasa sakit. Sewaktu
berjalan ke luar Oktia melewati Nudi. Sepertinya dia mengamati langkah Oktia.
Terlihat dari sorot matanya yang tajam. Oktia memilih menundukan pandangan.
Oktia ke luar
ruangan menuju kamar mandi. Untungnya ruangan ujian yang di pakai bersebelahan
dengan kamar mandi. Terbatuk-batuk di kamar mandi lebih baik dari pada
__ADS_1
terbatuk-batuk di ruang ujian.
“Aku harus bagaimana
ini? Batukku malah kambuh di saat ujian. Mana ruangannya dingin banget lagi.
Sudahlah semoga nggak batuk-batuk lagi.”
Oktia masuk ke ruang
ujian lagi. Sewaktu mengerjakan ujianpun Oktia masih terbatuk-batuk dan menahan
rasa sesak untuk menahan agar batuknya tidak menjadi-jadi yang pada akhirnya
hanya mengganggu peserta ujian lain. Ujian selesai. Oktia ke luar ruangan.
Damar masih di depan ruang ujian. Risma keluar ruang ujian sebelum Oktia.
“Risma udah turun ya Mar?” tanya Oktia pada
Damar.
“Sudah tadi.” jawab Damar.
“Ya udah aku pulang aja deh.” kata Oktia sambil
melangkahkan kaki. Tanpa di sengaja Oktia dan Damar berjalan beriringan.
Tiba-tiba Damar berbalik arah tidak jadi turun ke lantai satu.
“Sepertinya dia menghindariku agar tak berjalan
ke parkiran bareng.” pikir Oktia.
Setibanya di kost,
Oktia merebahkan tubuhnya yang masih lemah. Nddreet-ndrett.
HP Oktia berbunyi. Oktia bangkit dari kasur. Mencari-cari HP-nya yang entah
sebelum rebahan ia taruh di mana. Ternyata ada di atas lemari kecil berwarna
coklat di pojok kamar.
“Okti, mau ke
perpus? Jam 2an yuh” isi SMS dari Dayat.
“Ya, insyaAllah.”
jawab Oktia singkat.
Selesai dengan berbagai urusan di kost, Oktia
mulai bosan. Teman-teman kost juga sedang pergi semua. Kost sepi. Masih
setengah jam dari jam di mana Oktia akan ke perpus. Ia menata buku-buku yang
akan dipakai untuk belajar di perpus.
“Berangkat lebih awal nggak ada salahnya.” pikir
Oktia. Oktia yang masih trauma dengan Dayat yang kadang tak datang ke perpus
setelah dia mengajak ke perpus memilih untuk meng-SMS-nya. “Jadi ke perpus
nggak? Aku OTW”. Pesan terkirim. Dan dibalasnya “oh ya..aku masih di kos”.
Oktia berangkat ke perpus berjalan kaki karena
motornya sudah ia parkirkan di kost setibanya Oktia dari kampus dan cukup malas
untuk mengeluarkannya kembali. Dengan mengenakan jaket dan berjalan cukup jauh,
Oktia berharap untuk dapat menghangatkan tubuhnya yang sedari pagi kedinginan.
Sesampainya di perpustakaan Oktia memilih tempat yang jauh dari AC supaya
tubuhnya tidak terpapar dinginnya udara AC yang menusuk sampai tulang. Setengah
jam kira-kira Oktia menunggu. Dayat datang.
“Yang lain mana?”
“Nggak tahu.”
“Sudah lama?”
“Nggak kok.”
kuliah yang akan diujikan besok lusa. Suara Oktia yang masih serak membuatnya
agak kesulitan berbicara dengan lancar.
“Kamu pilek ya?”
“Iya, minggu tenang aku malah sakit.”
Ada soal yang tak bisa Oktia kerjakan. Oktia
meminta bantuan Dayat untuk mengerjakannya dan mengajarkan pada Oktia. Soal
yang ia tanyakan memang cukup sulit. Dan akhirnya mereka menyerah dan memilih
mengerjakan ulang soal yang level kesulitannya lebih rendah. Sebelumnya mereka
me-review materi rumus-rumus dasar.
Dayat mengalami beberapa kesalahan kecil dan berulang-ulang. Sepertinya dia
agak grogi. Oktia yang menyadari hal itu sebenarnya ingin tertawa. Namun, Oktia
tahan agar Damar tidak curiga. Beberapa waktu kemudian Kinan, Rina, dan Mita
datang.
“Ha? Kok ada mereka?” batin Oktia.
Kemudian mereka pindah dari meja ke lantai.
Dinginnya udara dan berada di lantai membuat Oktia kedinginan lagi. Sebelum
belajar mereka berbincang-bincang untuk menghangatkan suasana.
“Minggu tenang kamu ngapain Yat?” tanya Rina
pada Dayat.
“Aku bantu bapak kayak di film...”
“Kok nggak gosong?”
“Ya aku gosongnya cuma seminggu. Ntar balik
putih lagi. Hari ini aku lihat senyumnya Tita lho Rin.”
“Kamu berdoa dalam hati ya?”
Bahasa kode. Itulah bahasa yang mereka gunakan
untuk membicarakan hal-hal yang dirahasiakan pada Oktia atau malah menyindir
Oktia. Kadang, hanya sedikit yang Oktia ketahui maksud dari pembicaraan mereka.
Dayat mengerjakan soal yang ditanyakan Kinan. Dengan lancar dia bisa
mengerjakannya.
“Kok kalau sama aku kadang dia agak ****. Tapi,
kalau sama yang lain pinternya balik lagi ya?” batin Oktia waktu itu ketika
Dayat bisa mengerjakan soal yang level kesulitannya lebih tinggi dari soal yang
Oktia tanyakan tadi dengan lancarnya.
Beberapa waktu kemudian Gita dan Rahma datang.
Sepertinya mereka memang sedari tadi berada di perpustakaan namun baru muncul
kali ini. Kinan, Rina, Mita, Gita, dan Rahma merupakan teman-teman dekat Dayat.
Dan mereka juga tahu tentang masalah Dayat dengan orang yang disukainya kecuali
Oktia.
“Wah, yang datang ini teman-teman dekat Dayat
semua. Aku sendirian. Aku digrudug
balane. Wanine ngajak bala. Kalau berperang sendiri nggak berani apa ya?”
batin Oktia.
__ADS_1
Mita punya foto
copy-an buku catatan Hadi yang isinya jawaban dari soal-soal yang ada di
buku. Oktia dan Rina ingin meng-copy-nya.
Namun, berhubung cukup banyak mereka memilih untuk meng-copy beberapa lembar saja. Mem-fotocopy di perpustakaan biayanya lebih mahal jika dibandingkan foto copy di luar perpustakaan. mereka memilih mem-fotocopy-nya di fotocopy-an depan kost Kinan. Yang mem-fotocopy hanya Oktia, Rina, Kinan, dan Dayat. Sehingga mereka
berangkat menuju kost Kinan. Gita dan Rahma masih tinggal di perpustakaan.
Oktia, Kinan, dan Dayat menuruni tangga perpus
bersama. Bbrrakk. Tiba-tiba buku-buku
yang Oktia bawa terjatuh dan akhirnya tercecer di tangga perpus. Dayat yang
berjalan duluan melihat buku Oktia yang tercecer.
“Dibantuin to Yat. Bawanya ribet gitu kok!” kata
Kinan pada Dayat. Kemudian Dayat membantu mengambili buku Oktia yang tercecer
di tangga perpus.
“Makasih ya.” kata Oktia.
“Ya.”
Langit di sore itu tertutup mendung abu-abu yang
cukup kelam. Oktia, Rina, Mita, Kinan berunding di teras perpustakaan
membicarakan cara ke kost Kinan berhubung yang membawa motor cuma Mita dan
Dayat. Sedangkan Dayat membaca koran yang ditempelkan di kaca depan perpustakaan.
“Rina dan Mita boncengan. Okti sama Dayat. Aku
jalan kaki saja.” kata Kinan memecahkan masalah mereka.
“Nggak papa Kin?” tanya Oktia.
“Nggak papa kok. Aku berangkat duluan ya.” jawab
Kinan.
Rina dan Mita berangkat duluan. Sedangkan Kinan
melangkahkan kakinya. Dayat masih membaca koran. Oktia menunggunya.
“Lainnya mana?”
“Udah pada jalan.”
“Ya udah berangkat yuh.”
Oktia dan Dayat
berjalan menuju motor Dayat yang diparkirkan di halaman depan perpustakaan.
“Kamu tunggu di sini
saja.” kata Dayat meminta Oktia menunggu di tempat yang agak luas karena
motornya agak susah dikeluarkan.
Tretek-tretek. Tiba-tiba hujan
turun. Oktia memilih balik ke teras perpustakaan daripada harus kehujanan.
Dayat mengenakan mantelnya. Dia bersikukuh untuk berangkat ke kost Kinan
meskipun tetes air hujan cukup deras.
“Hujan-hujan gini apa nggak sebaiknya nunggu
reda? Aku nggak mau tambah sakit gara-gara kehujanan.” batin Oktia.
“Ayo!” ajak Dayat pada Oktia yang kebetulan
masih berteduh di teras perpustakaan.
Dengan sedikit berlari Oktia menghampiri Dayat.
Oktia mulai naik ke atas motornya. Dayat memindahkan tasnya ke depan supaya
Oktia dapat tempat duduk lebih luas. Hujan masih deras dan bertambah deras.
“Aku nebeng mantel kamu ya?” kata Oktia pada
Dayat. Waktu itu Oktia tak berfikir apapun selain menyelamatkan dirinya yang
masih sakit dari tetes air hujan.
“Aku nggak mau bertambah sakit gara-gara
kehujanan. Besok masih ada ujian.” pikir Oktia.
Dayat mulai mengegas motornya. Dayat mengendarai
motornya cukup pelan tak seperti waktu Oktia diantarnya pulang setelah belajar
bersama sebelum ujian tengah semester. Setibanya di depan kost Kinan.
“Dayat....” panggil Rina pada Dayat.
Oktia yang tak melihat jalan merasa motor sudah
berhenti. Oktia turun sambil sedikit berlari menuju tempat foto copy-an. Ternyata Rina dan Mita sudah tiba sejak tadi. Dayat
memarkirkan motornya. Sesekali Oktia melihat jalan menengok apakah Kinan sudah
tiba atau belum.
“Kamu nanti pulangnya bareng aku aja. Tinggal
terus aja kan?” saran Dayat pada Oktia.
“Iya.” jawab Oktia mengiyakan sarannya.
Sebelum pulang mereka membicarakan sesuatu.
“Katanya cowok itu dibilang cowok kalau dia bisa
membikin cewek nangis.” kata Rina.
“Berarti aku cowok dong.” sahut Dayat.
“Berarti Dayat pernah bikin cewek nangis dong.
Termasuk aku. Kalau cewek udah bisa dibilang cewek kalau bisa bikin cowok galau
nggak ya? Kan aku udah pernah bikin Dayat galau.” batin Oktia.
Setelah selesai mem-fotocopy mereka pulang. Mita membawa motornya, Kinan masih di depan
kostnya, Rina pulang berjalan kaki karena kostnya dekat dengan kost Kinan.
Oktia dan Dayat pulang bersama. Oktia masih menunggunya untuk mengeluarkan
motor dari tempat parkir.
“Dayat, Okti mana?” tanya Kinan.
“Lha ini.” jawab Dayat sambil mengelap jok
motornya yang basah terkena air hujan.
“Oh.. tak kira udah duluan.”
“Duluan ya Kin.” pamit Oktia.
Dayat mulai mengegas motornya. Beberapa puluh
meter dari kost Kinan tiba-tiba hujan turun lagi.
“Wah kalau nggak pake mantel malah hujan.” keluh
Dayat.
“Iya ya.” sahut Oktia.
“Ini anak, tadi doa apa sih? Pas bonceng dia kok
pasti hujan turun.” batin Oktia.
Sesampainya di depan kost Oktia, hujan masih
cukup deras. Dayat menghentikan motornya.
“Makasih ya Yat. Hati-hati.” kata Oktia pada
Dayat lalu berlari menuju pintu depan kost supaya tidak basah terkena air
__ADS_1
hujan.