
Tak Menepati
Meskipun
hari sudah siang, Oktia masih ada kuliah Optika Fisis dan Geometris. Seperti
biasa, jika dosen tidak datang on time kelas pasti kosong. Namun, Oktia dan teman-temannya masih setia menunggu dosen
untuk datang. Dalam penantian itu, Oktia duduk di barisan terdepan bersebelahan
dengan Risma. Sedangkan Dayat duduk di barisan nomor tiga tepat di
belakangnya.
“Ti, coba deh
dengerin lagunya.” kata Risma sambil menyodorkan salah satu earphone pada Oktia.
Lebih baik bangun cinta, dari pada jatuh cinta.
Mendengar lagu itu,
Oktia langsung melepaskan earphone yang menempel pada daun telinganya. Ia
bangkit dari tempat duduk. Menengok ke arah belakang kelas. Oktia melihat Dayat
yang duduk di belakangnya melihatinya.
“Dayat kok
ngelihatin aku kayak gitu sih?” batin Oktia.
“Keluar yuh Ris!”
ajak Oktia pada Risma. Kemudian mereka keluar kelas, ngobrol dan menikmati
angin di balkon gedung kampus. Setelah di rasa waktu untuk menunggu dosen telah
habis, mereka memutuskan untuk pulang. Oktia dan Risma berjalan di balkon
menuju lantai pertama.
“Okti, bawa BOAS?
entar ke perpus ya!” ajak Dayat yang tiba-tiba berjalan mendahului Oktia.
“Iya Yat. Tak ambil
dulu di kost.” kata Oktia.
“Ris, sebelum ke
perpustakaan aku mau ke puskom dulu.” kata Oktia.
“Kenapa kamu nggak
minta dianterin dia aja.” kata Risma sambil menunjuk Dayat yang telah berjalan
di depan mereka.
“Kamu apa-apaan
sih?” kata Oktia.
Sesampainya Oktia di
kost-nya, ia mendapat SMS dari Dayat.
“Okti, kamu udah di
perpus belum? Kalau belum bawain buku Elektronika Digital ya?” isi SMS Dayat.
“Belum, kamu sudah
di perpus?” balas Oktia. SMS itu tak kunjung di balas oleh Dayat.
Sesampainya Oktia di
perpustakaan, ia mengedarkan pandangan barangkali Dayat sudah tiba di
perpustakaan. Ia mendapati Damar, Rina, dan Putro sedang di perpustakaan mengerjakan
makalah. Oktia menghampiri mereka.
“Rin, kamu lihat
Risma nggak?” tanya Oktia pada Rina.
“Kamu janjian sama
Risma? Aku nggak tahu.” kata Rina.
“Ya udah deh. Aku ke
sana aja.” kata Oktia.
Oktia memilih tempat
yang agak jauh dari Damar, Rina, dan Putro. Beberapa waktu kemudian Risma
datang.
“Ris, aku sebel
banget deh. Dayat nyuruh aku bawain buku tapi dianya nggak dateng.”
“Ditunggu aja.”
“Ris, aku nitip
barang-barangku ya! Aku mau pinjam silabi KWU ke kelompoknya Damar. Habis
kelompoknya Damar presentasikan giliran kelompokku. Padahal silabiku udah
hilang entah ke mana.”
Sesampainya Oktia di
tempat Damar dan kawan-kawan mengerjakan Makalah.
“Kalian buat
makalahnya sudah sampai mana?” basa-basi Oktia.
“Baru sampai ini
kok.” kata Damar sambil menunjukkan file makalah yang ada di laptopnya. “Kamu
sering belajar kelompok di perpus ya?” tanya Damar.
“Ya enggak sih. Aku
pinjem silabi dong.” kata Oktia.
“Ini, Ti.” kata
Damar sambil menyerahkan silabi.
“Ini silabinya
siapa?” tanya Oktia.
Putro yang duduk di
samping Damar menunjukkan jari telunjuknya ke Damar. Damar menunjukkan jari
telunjuknya ke Rina. Rina senyam-senyum ke arah Oktia.
“Itu punyaku.” kata
__ADS_1
Rina.
“Ini kok malah pada
tunjuk-tunjukkan sih?” batin Oktia melihat tingkah aneh mereka bertiga.
Kemudian, Oktia membuka-buka silabi yang dipinjamnya. “Di silabi ini kan ada
tulisan Damar. Sejak kapan Damar nulis di silabinya Rina? Lagian tulisannya ada
yang berisikan materi di awal-awal kuliah kemarin. Emang iya? Damar nulisin
materi untuk Rina? Aneh!” batin Oktia.
“Yaudah deh! Aku pinjam dulu ya?”
kata Oktia kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.
Oktia merasa akhir-akhir ini ia diawasi Nudi, teman dekat Dayat.
Mungkin Dayat merasa jika Oktia agak risih jika dia mengikutinya. Makanya dia
meminta tolong Nudi untuk mengawasi Oktia. Hal ini Oktia rasakan tidak hanya
satu dua kali saja. Tapi berkali-kali.
Hari Selasa. Oktia
duduk di belakang Damar. Nggak ada angin nggak ada hujan Nudi duduk tepat di
depan Oktia, di sebelah kanan Damar. Biasanyapun Nudi berangkat agak siang.
Namun, pagi-pagi dia sudah ada di kelas. Oktia merasa di awasi. Pandangan
matanya yang sering terlihat jelas ke arah belakang. Mungkin Nudi ditugasi
Dayat untuk mengawasi Oktia ketika Oktia berada di dekat Damar. Perkuliahan
akan segera dimulai. Oktia mendengar suara Dayat yang sedang ngobrol dengan
teman yang lain. Dengan radar pendengarannya, Oktia tahu kalau Dayat berada di
belakangnya. Oktia mendengar suara Dayat yang sedang curhat. Dia curhat kalau orang yang disukainya itu nggak
ngrasa-ngrasa. Karena Oktia mulai bosan, kadang Oktia ngobrol dengan Nudi.
Keasyikan ngobrol dengan Nudi, mereka berdua bercanda sampai tertawa. Nudi
langsung diam dan menghadap ke depan setelah bercanda dengan Oktia. Mungkin
Dayat yang ada di belakang Oktia mengkode Nudi, supaya Nudi tidak bercanda
dengan Oktia. Mengetahui hal itu Oktia menahan tawa.
“Hahaha! Baru saja di
‘jambu alas’-in ya Nud? Kok langsung menghadap ke depan?” kata Oktia dalam
hati.
Perkuliahan kedua hari
Selasa dimulai. Oktia dan teman-teman sekelas pindah ruangan. Ternyata sudah
banyak orang yang masuk kelas. Ada satu tempat duduk yang kosong di antara
Wulan dan Zizah. Zizah duduk di sebelah kanan Damar. Mungkin ini rekayasa Dayat
supaya Oktia tidak duduk di samping Damar. Settingan-nya sangat rapi, termasuk
antek-anteknya yang seolah tenang-tenang saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Merasa tidak nyaman dengan settingan seperti ini Oktia memilih pindah. Oktia
menarik kursinya agar Oktia duduk di barisan paling depan dan bersebelahan
merasa hari ini dia menang bisa menjauhkan Oktia dari Damar. Dayat berada tepat
di belakang Oktia untuk berkoordinasi dengan Wulan, yang kebetulan mereka
panitia di salah satu acara di kampus.
“Katanya mau ke
perpus. Udah dibawain buku pesenanmu juga, malah nggak dateng.” kata Oktia
kesal.
“Oh... Aku kemarin
tertidur. Jadi, nggak bisa ke perpus.” jawabnya dengan nada agak terbata-bata.
Mungkin grogi karena bohong mencari alasan.
“Nanti ke perpus ya!
Kali ini beneran ke perpus deh!” kata Dayat.
“Beneran ya! Awas
kalau bohong!” sahut Oktia.
Untuk kali ini Oktia
merasa nyaman karena tidak ada yang mengawasi. Dayat duduk di barisan paling
belakang. Nudi yang biasanya mengawasi Oktia duduk entah di mana rimbanya.
Perkuliahan kedua berakhir, lanjut ke perkuliahan ke tiga.
Seperti biasa Oktia
dan Risma memilih jalan lain agar Oktia bisa leluasa curhat tentang kelakuan
Dayat padanya yang aneh bin bingungke.
Risma yang biasanya ke
perpustakaan dengan Oktia, untuk kali ini dia tidak bisa. Jadi, Oktia ke
perpustakaan sendirian. Lagi pula, Oktia memenuhi janjinya pada Dayat untuk ke
perpustakaan. Dayat datang ke perpus sekitar pukul 13.30.
“Sendirian aja?”
“Iya, Risma pulang
duluan.”
Setelah itu, mereka
belajar bersama berhubung hari esok ada kuis. Di tengah mereka sedang belajar
bersama. Ada teman Dayat yang menyapa.
“Hey Yat.” sapa teman
Dayat sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Hey.” jawab Dayat
sambil bersalaman pada temannya.
Teman Dayat berpawakan
kurus, tinggi, bersama seorang wanita di belakangnya. Mungkin wanita itu pacar
__ADS_1
teman Dayat.
“Ke sini sama siapa?”
tanya Dayat pada temannya yang mungkin cuma basa-basi melihat temannya bersama seorang
wanita.
“Sama itu.” jawab
teman Dayat sambil menunjuk teman wanitanya.
Di saat mereka
bercakap-cakap Oktia memperhatikan siapa teman Dayat dan teman wanitanya teman
Dayat.
“Wah, peningkatan
biasanya ditolak terus.” kata Dayat yang mungkin saja sedang menyindir Oktia.
“Seenaknya aja bilang
kayak gitu. Emang nembaknya kapan kok bisa bilang biasanya ditolak terus?”
batin Oktia.
Teman Dayat dan teman
wanitanya teman Dayat tadi memperhatikan Oktia dengan tatapan mata yang aneh.
Terlebih mungkin juga setelah mereka mendengar sindiran Dayat tadi. Oktia
merasa seperti tersangka dalam hal ini.
“Gara-gara Dayat nih.
Mereka ngelihatin aku dengan tatapan mata yang aneh. Kayak tersangka kasus
sakit hatinya Dayat aja.” batin Oktia.
Setelah itu, Dayat
merasa ngantuk. Jadinya dia tidur di meja perpus. Dia tidur cukup lama. Oktia
merasa ke perpustakaan bukan untuk belajar namun untuk menunggui orang tidur.
Dayat tidur cukup lama. Mungkin dia kecapekan juga. Oktia memaklumi hal itu,
dia sedang sibuk dengan organisasinya. Untungnya Oktia membawa laptop. Jadi,
Oktia tidak bosan menunggu orang tidur. Zizah datang untuk menyusul mereka
belajar bersama. Dayat terbangun setelah mengetahui Zizah datang. Kemudian
mereka melanjutkan belajar bersama. Oktia yang belum begitu paham dengan materi
yang akan dikuiskan meminta Dayat untuk mengajarinya. Sedang Zizah menyalin
catatan Oktia. Berhubung sudah masuk waktu ashar, mereka memutuskan untuk
menunda belajar untuk sholat.
“Zah, kamu sholat
nggak?”
“Enggak, aku lagi
nggak sholat kok.”
“Aku boleh nitip
barang-barangku nggak?”
“Boleh.”
Kemudian Oktia dan
Dayat sholat ashar bersama. Tampaknya mushola perpus sedang sepi, sehingga
Oktia dan Dayat sholat berdua waktu itu. Dayat yang jadi imam sholat ashar.
Setelah selesai sholat ashar, mereka menuruni anak tangga bersama yang
kebetulan mushola ada di lantai tiga, sedangkan tempat mereka belajar di lantai
dua.
“Nanti malam lanjut
belajar bareng di foodcourt yuk!
Habis isya. Belajar sendiri tuh ngantuk.” ajak Dayat.
“Ya, Insya Allah.”
“Kamu bawa motor kan?”
“Ya tergantung. Kalau
semua motor udah masuk padahal motorku ada di pojokan dan susah keluar ya aku
jalan kaki.”
Waktu sudah terlalu
sore. Mereka memutuskan untuk pulang.
Setelah sholat Magrib
Oktia membuka facebook-nya. Di
berandanya terdapat status Zizah yang menceritakan bahwa ia sudah sampai rumah.
Dengan membaca status Zizah yang sudah sampai rumah, Oktia bisa menebak bahwa
belajar bersama untuk malam itu akan ditiadakan.
Waktu bada isya sudah
tiba. Berhubung ada janji dengan Dayat untuk belajar bersama Oktia SMS Dayat.
Meskipun Oktia sudah tahu endingnya pasti nggak bakalan jadi belajar bersama.
“Jadi belajar bareng
nggak?” Isi SMS Oktia.
“Jadi nggak ya? Aku
males hehehe. Kamu di mana? Apa malah udah sampai di foodcourt.” Isi SMS Dayat.
“Terserah kamu aja.”
Isi SMS Oktia.
“Coba tak tanya Zizah,
dia bisa apa enggak.” Isi SMS Dayat.
“Zizah nggak bisa.
Belajar barengnya nggak jadi aja ya.” Isi SMS Dayat.
“Dayat....
kamu itu kalau nggak bisa nepatin janji, jangan bikin janji dong. PHP!!!!” batin
__ADS_1
Oktia.