Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 25


__ADS_3

Tak Menepati


            Meskipun


hari sudah siang, Oktia masih ada kuliah Optika Fisis dan Geometris. Seperti


biasa, jika dosen tidak datang on time kelas pasti kosong. Namun, Oktia dan teman-temannya masih setia menunggu dosen


untuk datang. Dalam penantian itu, Oktia duduk di barisan terdepan bersebelahan


dengan Risma. Sedangkan Dayat duduk di barisan nomor tiga tepat di


belakangnya.


            “Ti, coba deh


dengerin lagunya.” kata Risma sambil menyodorkan salah satu earphone pada Oktia.


            Lebih baik bangun cinta, dari pada jatuh cinta.


            Mendengar lagu itu,


Oktia langsung melepaskan earphone yang menempel pada daun telinganya. Ia


bangkit dari tempat duduk. Menengok ke arah belakang kelas. Oktia melihat Dayat


yang duduk di belakangnya melihatinya.


            “Dayat kok


ngelihatin aku kayak gitu sih?” batin Oktia.


            “Keluar yuh Ris!”


ajak Oktia pada Risma. Kemudian mereka keluar kelas, ngobrol dan menikmati


angin di balkon gedung kampus. Setelah di rasa waktu untuk menunggu dosen telah


habis, mereka memutuskan untuk pulang. Oktia dan Risma berjalan di balkon


menuju lantai pertama.


            “Okti, bawa BOAS?


entar ke perpus ya!” ajak Dayat yang tiba-tiba berjalan mendahului Oktia.


            “Iya Yat. Tak ambil


dulu di kost.” kata Oktia.


            “Ris, sebelum ke


perpustakaan aku mau ke puskom dulu.” kata Oktia.


            “Kenapa kamu nggak


minta dianterin dia aja.” kata Risma sambil menunjuk Dayat yang telah berjalan


di depan mereka.


            “Kamu apa-apaan


sih?” kata Oktia.


            Sesampainya Oktia di


kost-nya, ia mendapat SMS dari Dayat.


            “Okti, kamu udah di


perpus belum? Kalau belum bawain buku Elektronika Digital ya?” isi SMS Dayat.


            “Belum, kamu sudah


di perpus?” balas Oktia. SMS itu tak kunjung di balas oleh Dayat.


            Sesampainya Oktia di


perpustakaan, ia mengedarkan pandangan barangkali Dayat sudah tiba di


perpustakaan. Ia mendapati Damar, Rina, dan Putro sedang di perpustakaan mengerjakan


makalah. Oktia menghampiri mereka.


            “Rin, kamu lihat


Risma nggak?” tanya Oktia pada Rina.


            “Kamu janjian sama


Risma? Aku nggak tahu.” kata Rina.


            “Ya udah deh. Aku ke


sana aja.” kata Oktia.


            Oktia memilih tempat


yang agak jauh dari Damar, Rina, dan Putro. Beberapa waktu kemudian Risma


datang.


            “Ris, aku sebel


banget deh. Dayat nyuruh aku bawain buku tapi dianya nggak dateng.”


            “Ditunggu aja.”


            “Ris, aku nitip


barang-barangku ya! Aku mau pinjam silabi KWU ke kelompoknya Damar. Habis


kelompoknya Damar presentasikan giliran kelompokku. Padahal silabiku udah


hilang entah ke mana.”


            Sesampainya Oktia di


tempat Damar dan kawan-kawan mengerjakan Makalah.


            “Kalian buat


makalahnya sudah sampai mana?” basa-basi Oktia.


            “Baru sampai ini


kok.” kata Damar sambil menunjukkan file makalah yang ada di laptopnya. “Kamu


sering belajar kelompok di perpus ya?” tanya Damar.


            “Ya enggak sih. Aku


pinjem silabi dong.” kata Oktia.


            “Ini, Ti.” kata


Damar sambil menyerahkan silabi.


            “Ini silabinya


siapa?” tanya Oktia.


            Putro yang duduk di


samping Damar menunjukkan jari telunjuknya ke Damar. Damar menunjukkan jari


telunjuknya ke Rina. Rina senyam-senyum ke arah Oktia.


            “Itu punyaku.” kata

__ADS_1


Rina.


            “Ini kok malah pada


tunjuk-tunjukkan sih?” batin Oktia melihat tingkah aneh mereka bertiga.


Kemudian, Oktia membuka-buka silabi yang dipinjamnya. “Di silabi ini kan ada


tulisan Damar. Sejak kapan Damar nulis di silabinya Rina? Lagian tulisannya ada


yang berisikan materi di awal-awal kuliah kemarin. Emang iya? Damar nulisin


materi untuk Rina? Aneh!” batin Oktia.


            “Yaudah deh! Aku pinjam dulu ya?”


kata Oktia kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.


 


Oktia merasa akhir-akhir ini ia diawasi Nudi, teman dekat Dayat.


Mungkin Dayat merasa jika Oktia agak risih jika dia mengikutinya. Makanya dia


meminta tolong Nudi untuk mengawasi Oktia. Hal ini Oktia rasakan tidak hanya


satu dua kali saja. Tapi berkali-kali.


Hari Selasa. Oktia


duduk di belakang Damar. Nggak ada angin nggak ada hujan Nudi duduk tepat di


depan Oktia, di sebelah kanan Damar. Biasanyapun Nudi berangkat agak siang.


Namun, pagi-pagi dia sudah ada di kelas. Oktia merasa di awasi. Pandangan


matanya yang sering terlihat jelas ke arah belakang. Mungkin Nudi ditugasi


Dayat untuk mengawasi Oktia ketika Oktia berada di dekat Damar. Perkuliahan


akan segera dimulai. Oktia mendengar suara Dayat yang sedang ngobrol dengan


teman yang lain. Dengan radar pendengarannya, Oktia tahu kalau Dayat berada di


belakangnya. Oktia mendengar suara Dayat  yang sedang curhat. Dia curhat kalau orang yang disukainya itu nggak


ngrasa-ngrasa. Karena Oktia mulai bosan, kadang Oktia ngobrol dengan Nudi.


Keasyikan ngobrol dengan Nudi, mereka berdua bercanda sampai tertawa. Nudi


langsung diam dan menghadap ke depan setelah bercanda dengan Oktia. Mungkin


Dayat yang ada di belakang Oktia mengkode Nudi, supaya Nudi tidak bercanda


dengan Oktia. Mengetahui hal itu Oktia menahan tawa.


“Hahaha! Baru saja di


‘jambu alas’-in ya Nud? Kok langsung menghadap ke depan?” kata Oktia dalam


hati.


Perkuliahan kedua hari


Selasa dimulai. Oktia dan teman-teman sekelas pindah ruangan. Ternyata sudah


banyak orang yang masuk kelas. Ada satu tempat duduk yang kosong di antara


Wulan dan Zizah. Zizah duduk di sebelah kanan Damar. Mungkin ini rekayasa Dayat


supaya Oktia tidak duduk di samping Damar. Settingan-nya sangat rapi, termasuk


antek-anteknya yang seolah tenang-tenang saja seolah tidak terjadi apa-apa.


Merasa tidak nyaman dengan settingan seperti ini Oktia memilih pindah. Oktia


menarik kursinya agar Oktia duduk di barisan paling depan dan bersebelahan


merasa hari ini dia menang bisa menjauhkan Oktia dari Damar. Dayat berada tepat


di belakang Oktia untuk berkoordinasi dengan Wulan, yang kebetulan mereka


panitia di salah satu acara di kampus.


“Katanya mau ke


perpus. Udah dibawain buku pesenanmu juga, malah nggak dateng.” kata Oktia


kesal.


“Oh... Aku kemarin


tertidur. Jadi, nggak bisa ke perpus.” jawabnya dengan nada agak terbata-bata.


Mungkin grogi karena bohong mencari alasan.


“Nanti ke perpus ya!


Kali ini beneran ke perpus deh!” kata Dayat.


“Beneran ya! Awas


kalau bohong!” sahut Oktia.


Untuk kali ini Oktia


merasa nyaman karena tidak ada yang mengawasi. Dayat duduk di barisan paling


belakang. Nudi yang biasanya mengawasi Oktia duduk entah di mana rimbanya.


Perkuliahan kedua berakhir, lanjut ke perkuliahan ke tiga.


Seperti biasa Oktia


dan Risma memilih jalan lain agar Oktia bisa leluasa curhat tentang kelakuan


Dayat padanya yang aneh bin bingungke.


Risma yang biasanya ke


perpustakaan dengan Oktia, untuk kali ini dia tidak bisa. Jadi, Oktia ke


perpustakaan sendirian. Lagi pula, Oktia memenuhi janjinya pada Dayat untuk ke


perpustakaan. Dayat datang ke perpus sekitar pukul 13.30.


“Sendirian aja?”


“Iya, Risma pulang


duluan.”


Setelah itu, mereka


belajar bersama berhubung hari esok ada kuis. Di tengah mereka sedang belajar


bersama. Ada teman Dayat yang menyapa.


“Hey Yat.” sapa teman


Dayat sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


“Hey.” jawab Dayat


sambil bersalaman pada temannya.


Teman Dayat berpawakan


kurus, tinggi, bersama seorang wanita di belakangnya. Mungkin wanita itu pacar

__ADS_1


teman Dayat.


“Ke sini sama siapa?”


tanya Dayat pada temannya yang mungkin cuma basa-basi melihat temannya bersama seorang


wanita.


“Sama itu.” jawab


teman Dayat sambil menunjuk teman wanitanya.


Di saat mereka


bercakap-cakap Oktia memperhatikan siapa teman Dayat dan teman wanitanya teman


Dayat.


“Wah, peningkatan


biasanya ditolak terus.” kata Dayat yang mungkin saja sedang menyindir Oktia.


“Seenaknya aja bilang


kayak gitu. Emang nembaknya kapan kok bisa bilang biasanya ditolak terus?”


batin Oktia.


Teman Dayat dan teman


wanitanya teman Dayat tadi memperhatikan Oktia dengan tatapan mata yang aneh.


Terlebih mungkin juga setelah mereka mendengar sindiran Dayat tadi. Oktia


merasa seperti tersangka dalam hal ini.


“Gara-gara Dayat nih.


Mereka ngelihatin aku dengan tatapan mata yang aneh. Kayak tersangka kasus


sakit hatinya Dayat aja.” batin Oktia.


Setelah itu, Dayat


merasa ngantuk. Jadinya dia tidur di meja perpus. Dia tidur cukup lama. Oktia


merasa ke perpustakaan bukan untuk belajar namun untuk menunggui orang tidur.


Dayat tidur cukup lama. Mungkin dia kecapekan juga. Oktia memaklumi hal itu,


dia sedang sibuk dengan organisasinya. Untungnya Oktia membawa laptop. Jadi,


Oktia tidak bosan menunggu orang tidur. Zizah datang untuk menyusul mereka


belajar bersama. Dayat terbangun setelah mengetahui Zizah datang. Kemudian


mereka melanjutkan belajar bersama. Oktia yang belum begitu paham dengan materi


yang akan dikuiskan meminta Dayat untuk mengajarinya. Sedang Zizah menyalin


catatan Oktia. Berhubung sudah masuk waktu ashar, mereka memutuskan untuk


menunda belajar untuk sholat.


“Zah, kamu sholat


nggak?”


“Enggak, aku lagi


nggak sholat kok.”


“Aku boleh nitip


barang-barangku nggak?”


“Boleh.”


Kemudian Oktia dan


Dayat sholat ashar bersama. Tampaknya mushola perpus sedang sepi, sehingga


Oktia dan Dayat sholat berdua waktu itu. Dayat yang jadi imam sholat ashar.


Setelah selesai sholat ashar, mereka menuruni anak tangga bersama yang


kebetulan mushola ada di lantai tiga, sedangkan tempat mereka belajar di lantai


dua.


“Nanti malam lanjut


belajar bareng di foodcourt yuk!


Habis isya. Belajar sendiri tuh ngantuk.” ajak Dayat.


“Ya, Insya Allah.”


“Kamu bawa motor kan?”


“Ya tergantung. Kalau


semua motor udah masuk padahal motorku ada di pojokan dan susah keluar ya aku


jalan kaki.”


Waktu sudah terlalu


sore. Mereka memutuskan untuk pulang.


Setelah sholat Magrib


Oktia membuka facebook-nya. Di


berandanya terdapat status Zizah yang menceritakan bahwa ia sudah sampai rumah.


Dengan membaca status Zizah yang sudah sampai rumah, Oktia bisa menebak bahwa


belajar bersama untuk malam itu akan ditiadakan.


Waktu bada isya sudah


tiba. Berhubung ada janji dengan Dayat untuk belajar bersama Oktia SMS Dayat.


Meskipun Oktia sudah tahu endingnya pasti nggak bakalan jadi belajar bersama.


“Jadi belajar bareng


nggak?” Isi SMS Oktia.


“Jadi nggak ya? Aku


males hehehe. Kamu di mana? Apa malah udah sampai di foodcourt.” Isi SMS Dayat.


“Terserah kamu aja.”


Isi SMS Oktia.


“Coba tak tanya Zizah,


dia bisa apa enggak.” Isi SMS Dayat.


“Zizah nggak bisa.


Belajar barengnya nggak jadi aja ya.” Isi SMS Dayat.


“Dayat....


kamu itu kalau nggak bisa nepatin janji, jangan bikin janji dong. PHP!!!!” batin

__ADS_1


Oktia.


__ADS_2