Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 16


__ADS_3

Ditolak


            Kamis pagi jam 7.00


ada kuliah. Oktia memilih duduk di barisan terdepan. Bangku sebelah kirinya


kosong. Sebelah kanannya ada Risma. Dayat datang, dia duduk di bangku sebelah


kiri Oktia yang masih kosong.


“SMS itu, kedatanganya tiba-tiba di perpus,


sekarang dia duduk di sampingku. Apa jangan-jangan dia itu memang suka


denganku?” pikiran Oktia mulai memikirkan hal yang aneh-aneh.


Sewaktu duduk di sebelah Oktia, dia juga


menyanyikan sebuah lagu. Namun, Oktia tak tahu lagu apa yang ia nyanyikan Oktia


belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya.


            “Sayang, mungkinkah kau akan menunggu. Menjemput


cinta yang pernah ada di hatiku.” nyanyi Dayat.


            “Cie... Dayat


nyanyi.” sahut Wulan yang duduk di sebelah kirinya.


            Oktia hanya bisa


terdiam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dayat malah gojekan dengan teman-teman yang ada di


belakangnya. Gojekan hingga membuat


semua yang mendengarnya ikut tertawa. Tapi, tidak dengan Oktia. Bahan gojekannya adalah masalah tentang


menembak pujaan hati. SMS kemarin, kejadian di perpustakaan, kejadian hari ini, gojekannya yang menurut Oktia


mengandung sindiran membuatnya hanya bisa terpaku dan terdiam. Terdiam


memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Risma yang duduk di sebelah kanan Oktia


mengajaknya berbicara.


            “Ti, dulu waktu aku


TK ada teman yang menyukaiku tapi aku malah kabur waktu ada temenku yang


deketin aku.”


            “Oh, iya ya?”


            “Risma ini sedang


menyindirku juga kali ya?” batin Oktia.


            “Iya aku dulu tu

__ADS_1


masih polos banget.”


            “Oo.. polos ya?”


            “Berarti aku ini


masih polos. Dideketin Dayat namun rasanya malah ingin kabur.” batin Oktia.


            Kuliah kedua.


Ternyata kosong. Oktia memilih duduk-duduk di luar kelas, sembari menenangkan


pikirannya yang sudah kacau semenjak hari Selasa. Tiba-tiba ada suara dari


dalam kelas memanggilnya.


            “Okti, diajak Dayat


ke perpus.” teriak Okti.


            Oktia yang sudah


tahu apa maksud Dayat mengajaknya ke perpus hanya bisa pasrah menerima


ajakannya. Dalam perjalanan ke perpustakaan, Oktia berjalan di belakang bersama


Risma, sedangkan Dayat berjalan di depan bersama Widi.


            “Wid, mau nggak jadi


pacarku? Mau nggak? Katakan mau!”


            Begitulah candaan Dayat


merasa disindir hanya bisa diam. Bad mood.


            Di perpustakaanpun


ia lalui dengan suasanya yang kurang menyenangkan. “Aku sebenarnya bingung


dengan Dayat. Sewaktu denganku bicara hanya sewajarnya, diajak bercandapun


sulit apalagi untuk tertawa. Tapi, sewaktu dengan Rina ngobrol apapun dia


nyambung, bisa tertawa pula. Kenapa dia bisa suka denganku? Apakah ini hanya


perasaanku saja?” batin Oktia bertanya-tanya.


            Jumat pagi. Oktia melanjutkan


laporannya yang belum selesai yang harus dikumpulkan hari itu juga. Wulan duduk


di sebelah kiri Oktia. Dayat duduk di sebelah kiri Wulan. Dayat curhat dengan


Wulan.


            “Kemarin aku ditolak


Wul.”

__ADS_1


            “Hah? Sama siapa.”


            “Kemarin aku nembak


cewek tapi ditolak. Katanya aku tuh putih. Jadi dianya nggak mau sama aku. Aku


tuh sebenarnya juga sebel kalau liat pasangan, ceweknya lebih tinggi dari


cowoknya. Emang sih dia itu nggak putih. Tapi dia itu nggak ngaca apa? Apa


mungkin mobilnya lebih bagus dari punyaku jadinya dia nggak mau sama aku?”


            “Mak jlep ya Yat.”


            “Padahal sewaktu aku


ke pantai, panas-panasan sampai kulitku gosong tuh cuma buat dia lho Wul.”


            “Mak jlep ya Yat.


Emangnya siapa sih yang nolak kamu?”


            “Titik. Namanya


Titik.”


            “Mak jlep ya Yat.”


            Telinga Oktia


memerah panas. Oktia yang mendengar dengan jelas pembicaraan mereka hanya bisa


diam terpaku menahan amarah.


“Untung aku lagi ngerjain laporan. Kalau tidak


aku mungkin udah nggebrakin meja yang sudah menyatu dengan kursinya lalu pergi


meninggalkan mereka. Wulan juga, mak jlap-mak jlep mak jlap-mak jlep aja. Dia


tuh nggak tahu apa yang dimaksud Titik itu aku. Disindir orang yang ada


disampingnya itu rasanya sakit banget. Sakit banget.” batin Oktia dengan nafas


sesak.


“Emangnya kapan juga Dayat nembak aku. Aku nggak


diomongin apa-apa sama Dayat, udah nyimpulin kalau ditolak.” Oktia mulai naik


darah. Namun, Oktia diam saja, melihat tingkah Wulan dan Dayat.


            Dayat mulai


bertingkah lagi. Dia menyanyikan sebuah lagu.


Kini ku ingin


Pergi darimu

__ADS_1


Karena tak ada yang bisa menahanku lagi


Sudahlah sudah lepaskan diriku


__ADS_2