
Ditolak
Kamis pagi jam 7.00
ada kuliah. Oktia memilih duduk di barisan terdepan. Bangku sebelah kirinya
kosong. Sebelah kanannya ada Risma. Dayat datang, dia duduk di bangku sebelah
kiri Oktia yang masih kosong.
“SMS itu, kedatanganya tiba-tiba di perpus,
sekarang dia duduk di sampingku. Apa jangan-jangan dia itu memang suka
denganku?” pikiran Oktia mulai memikirkan hal yang aneh-aneh.
Sewaktu duduk di sebelah Oktia, dia juga
menyanyikan sebuah lagu. Namun, Oktia tak tahu lagu apa yang ia nyanyikan Oktia
belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya.
“Sayang, mungkinkah kau akan menunggu. Menjemput
cinta yang pernah ada di hatiku.” nyanyi Dayat.
“Cie... Dayat
nyanyi.” sahut Wulan yang duduk di sebelah kirinya.
Oktia hanya bisa
terdiam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dayat malah gojekan dengan teman-teman yang ada di
belakangnya. Gojekan hingga membuat
semua yang mendengarnya ikut tertawa. Tapi, tidak dengan Oktia. Bahan gojekannya adalah masalah tentang
menembak pujaan hati. SMS kemarin, kejadian di perpustakaan, kejadian hari ini, gojekannya yang menurut Oktia
mengandung sindiran membuatnya hanya bisa terpaku dan terdiam. Terdiam
memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Risma yang duduk di sebelah kanan Oktia
mengajaknya berbicara.
“Ti, dulu waktu aku
TK ada teman yang menyukaiku tapi aku malah kabur waktu ada temenku yang
deketin aku.”
“Oh, iya ya?”
“Risma ini sedang
menyindirku juga kali ya?” batin Oktia.
“Iya aku dulu tu
__ADS_1
masih polos banget.”
“Oo.. polos ya?”
“Berarti aku ini
masih polos. Dideketin Dayat namun rasanya malah ingin kabur.” batin Oktia.
Kuliah kedua.
Ternyata kosong. Oktia memilih duduk-duduk di luar kelas, sembari menenangkan
pikirannya yang sudah kacau semenjak hari Selasa. Tiba-tiba ada suara dari
dalam kelas memanggilnya.
“Okti, diajak Dayat
ke perpus.” teriak Okti.
Oktia yang sudah
tahu apa maksud Dayat mengajaknya ke perpus hanya bisa pasrah menerima
ajakannya. Dalam perjalanan ke perpustakaan, Oktia berjalan di belakang bersama
Risma, sedangkan Dayat berjalan di depan bersama Widi.
“Wid, mau nggak jadi
pacarku? Mau nggak? Katakan mau!”
Begitulah candaan Dayat
merasa disindir hanya bisa diam. Bad mood.
Di perpustakaanpun
ia lalui dengan suasanya yang kurang menyenangkan. “Aku sebenarnya bingung
dengan Dayat. Sewaktu denganku bicara hanya sewajarnya, diajak bercandapun
sulit apalagi untuk tertawa. Tapi, sewaktu dengan Rina ngobrol apapun dia
nyambung, bisa tertawa pula. Kenapa dia bisa suka denganku? Apakah ini hanya
perasaanku saja?” batin Oktia bertanya-tanya.
Jumat pagi. Oktia melanjutkan
laporannya yang belum selesai yang harus dikumpulkan hari itu juga. Wulan duduk
di sebelah kiri Oktia. Dayat duduk di sebelah kiri Wulan. Dayat curhat dengan
Wulan.
“Kemarin aku ditolak
Wul.”
__ADS_1
“Hah? Sama siapa.”
“Kemarin aku nembak
cewek tapi ditolak. Katanya aku tuh putih. Jadi dianya nggak mau sama aku. Aku
tuh sebenarnya juga sebel kalau liat pasangan, ceweknya lebih tinggi dari
cowoknya. Emang sih dia itu nggak putih. Tapi dia itu nggak ngaca apa? Apa
mungkin mobilnya lebih bagus dari punyaku jadinya dia nggak mau sama aku?”
“Mak jlep ya Yat.”
“Padahal sewaktu aku
ke pantai, panas-panasan sampai kulitku gosong tuh cuma buat dia lho Wul.”
“Mak jlep ya Yat.
Emangnya siapa sih yang nolak kamu?”
“Titik. Namanya
Titik.”
“Mak jlep ya Yat.”
Telinga Oktia
memerah panas. Oktia yang mendengar dengan jelas pembicaraan mereka hanya bisa
diam terpaku menahan amarah.
“Untung aku lagi ngerjain laporan. Kalau tidak
aku mungkin udah nggebrakin meja yang sudah menyatu dengan kursinya lalu pergi
meninggalkan mereka. Wulan juga, mak jlap-mak jlep mak jlap-mak jlep aja. Dia
tuh nggak tahu apa yang dimaksud Titik itu aku. Disindir orang yang ada
disampingnya itu rasanya sakit banget. Sakit banget.” batin Oktia dengan nafas
sesak.
“Emangnya kapan juga Dayat nembak aku. Aku nggak
diomongin apa-apa sama Dayat, udah nyimpulin kalau ditolak.” Oktia mulai naik
darah. Namun, Oktia diam saja, melihat tingkah Wulan dan Dayat.
Dayat mulai
bertingkah lagi. Dia menyanyikan sebuah lagu.
Kini ku ingin
Pergi darimu
__ADS_1
Karena tak ada yang bisa menahanku lagi
Sudahlah sudah lepaskan diriku