Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 8


__ADS_3

8. Pemancar dan


Penerimanya


Sebelum


diadakannya ujian Gelombang, kelas Oktia mendapat tugas untuk mengerjakan


beberapa soal yang harus dikumpulkan pas di saat diadakannya ujian. Meskipun


hanya empat soal, namun hal itu membuat mereka cukup pusing dibuatnya. Hal ini,


membuat mereka saling bertanya jawaban dari soal yang diberikan. Tak terkecuali


Oktia dan Damar yang memang setelah soal dibagikan mereka sudah janjian untuk


mencocokkan jawaban mereka di suatu hari di waktu minggu tenang. Sehari sebelum


diadakannya ujian teman-teman sekelas Oktia mengadakan belajar bersama untuk


mengerjakan soal tersebut. Namun, Oktia berniat tidak ikut belajar bareng


karena Oktia sudah mengerjakan dua soal, lagi pula sisanya bisa Oktia tanyakan


pada Damar sewaktu di kost. Kebetulan juga soal yang belum bisa Oktia kerjakan


sudah bisa dikerjakan oleh Damar. Jadi, tinggal saling melengkapi sewaktu


mereka bertemu untuk mencocokkan jawaban.


“Okti, aku


nanti ke kost-mu ya nyocokin jawaban. Kamu nanti sampai Jogja jam berapa?” isi


SMS Damar.


“Aku nanti


kira-kira habis zuhur sudah sampai Jogja.” jawab Oktia.


Kira-kira


setelah sholat Zuhur Oktia melajukan motornya menuju Jogja. Dalam perjalanan ia


merasakan HP-nya bergetar. Ada SMS dari Damar.


“Sudah


sampai Jogja belum?”


“Ha?


Bapakku aja kalau aku pulang ke rumah agak telat nggak sampai SMS kayak gini.”


batin Oktia seketika setelah membuka SMS dari Damar.


SMS dari


Damar tak sempat ia balas karena jalanan sedang ramai. Beberapa waktu setelah


Damar SMS ada SMS masuk dari Ndari. Dalam perjalanan Oktia hanya bisa membuka


SMS dan tak sempat membalasnya.


“Okti,


udah sampai Jogja?”


“Gubrak!!


Tadi Damar SMS udah nyampai belum, sekarang gantian Ndari.” batin Oktia.


Sesampainya


Oktia di kost, Damar SMS lagi.


“Okti,


kamu mau ke rektorat nggak? Kalau nggak aku ke kos-mu.”

__ADS_1


“Di sana


ada siapa aja Mar?”


“Banyak.”


Berhubung


ruang tamu sedang digunakan teman satu kost Oktia untuk menerima tamu dan Oktia


tak ingin mengganggunya, Oktia memilih untuk ke rektorat. Sesampainya di


rektorat, diparkirkannya motor yang telah dikendarainya. Ia langkahkan kakinya


menuju beranda rektorat. Ia melihat teman-teman sepertinya sudah hampir


selesai. Oktia tak langsung menghampiri Damar. Oktia memilih untuk ngobrol


sebentar dengan Yanti dan Nur di anak tangga beranda rektorat sambil menunggu


Damar selesai dengan urusannya. Setelah Damar sudah selesai dengan urusannya.


Dia menghampiri Oktia. Langsung saja mereka bertukar jawaban dari soal yang


belum mereka jawab. Di saat mereka sedang bertukar jawaban, Septi menegur


Damar.


“Mar,


Mar!!” panggil Septi. Damar menoleh seketika dipanggil Septi.


“Ciee...”


tegur Septi pada Damar.


Damar


hanya menanggapinya dengan senyum. Setelah selesai bertukar jawaban, Oktia memutuskan


untuk kembali ke kost. Dayat memanggilnya untuk menjelaskan jawaban dari soal


yang ia kerjakan. Damar ikut mendengarkan penjelasan Oktia. Setelah urusan di


Hari di


mana ujian dimulai telah tiba. Mereka mengerjakannya dengan serius. Setelah


ujian selesai, Dayat menghampiri Oktia.


“Okti,


entar belajar bareng yuk! Di perpus. Ngajak Ana CS ya!” ajak Dayat pada Oktia.


“Emangnya


kalian mau ke mana?” tanya Kinan yang menghampiri Oktia untuk meminjam buku


catatan.


“Hanya


aku, Okti, dan Allah yang tahu.” jawab Dayat.


Kemudian


Oktia ke perpus mengajak Ana, dan Risma. Oktia, Ana, dan Risma memang janjian


untuk ke perpus setelah ujian. Namun, berhubung Oktia diajak Dayat ke perpus


dan disuruh untuk mengajak Ana. Maka pesan itu Oktia sampaikan pada Ana. Dayat


SMS kalau belajar barengnya sekitar pukul dua siang.


Jam sudah


menunjukkan pukul dua siang. Mereka sudah berkumpul untuk belajar bersama. Ada


Oktia, Dayat, Ana, dan Risma.

__ADS_1


“Sewaktu


mau nyonto jawaban, Darma bilang, kok jawaban tentang pemancar radio juga


dikasih penerima juga.” Dayat mulai bercerita. “Ya iyalah Dar, kalau memancar


nggak ada yang menerima itu rasanya s a k i t .” curhat Dayat.


“Pemancar,


kalau nggak ada penerimanya itu rasanya sakit. Bukannya itu maksudnya kalau


kita mencintai orang lain namun nggak ada yang menerima cinta yang kita


pancarkan itu rasanya sakit. Emang Dayat mancarin pemancarnya ke siapa sih? Kok


nggak ada penerimanya?” batin Oktia waktu itu.


Beberapa


waktu kemudian, Kinan datang untuk mengembalikan buku catatan milik Oktia.


Dayat curhat lagi. “Pemancar, kalau nggak ada penerimanya itu rasanya sakit.”


Oktia yang


tak tahu apa maksud Dayat curhat tentang pemancar dan penerimanya berulang kali


lebih  memilih untuk diam daripada salah


omong dan menyinggung perasaannya. Berhubung waktu ashar sudah tiba, mereka


sholat bersama di mushola perpustakaan. Setelah menunaikan sholat ashar, mereka


saling menuggui satu sama lain di depan mushola perpustakaan.


“Pemancar


itu, kalau nggak ada penerimanya sakit banget.” Dayat mulai curhat lagi. Entah


kepada siapa kata-kata itu ditujukan. Oktiapun sebenarnya juga tidak tahu


maksud dan tujuan Dayat ngomong kayak gitu. Dayat tidak pernah menceritakan


kepada siapa dia ‘memancarkan’.


“Dayat,


kamu jangan gitu. Aku jadi nggak enak.” kata Kinan yang waktu itu duduk di


samping Dayat.


“Dayat itu


sebenarnya kenapa sih? Kok jadi Kinan yang merasa nggak enak. Apa jangan-jangan


Dayat curhat kalau sebenarnya dia ‘mancarin’ ke Kinan tapi Kinan nggak


menerima? Tapikan dari dulu Dayat sudah tahu kalau Kinan udah jadi pacarnya


Erwin. Erwin itu teman dekatnya Dayat. Masak......” batin Oktia bertanya-tanya


dan mulai berpikir yang tidak-tidak.


Kemudian


pembicaraan mereka beralih pada tema pendekatan. Seperti yang ditulis dalam


blog Dayat. Bowo mendekati Rensa dengan cara tiap malam menanyakan tugas. Maka


dari itu mereka membicarakan tentang bagaimana cara mendekati seseorang.


“Yaudah


kalau kamu mau mendekati cewek, dekati dulu orang tuanya. Kalau orang tuanya


setuju pasti anaknya juga ikut. Kayak nangkep ayam, kita tangkap dulu induk


ayamnya. Anak-anak ayam pasti ikut induknya.” kata Oktia dengan polosnya.

__ADS_1


Berharap itu jadi salah satu masukan untuk Dayat yang ingin mendekati gadis


yang disukainya.


__ADS_2