
Aku Tak Mau Sendiri
Kuliah
kali ini, tidak ada dosen. Hanya mengumpulkan makalah bagi yang belum
mengumpulkan. Berhubung tidak ada dosen, Oktia berangkat agak siang.
Sesampainya di kelas, ternyata sudah ada teman-teman yang datang. Kelas sudah
hampir penuh. Tinggal satu kursi di pojok depan. Oktia meletakkan tasnya di
kursi pojokan lalu meminta lembar soal berhubung ada tugas untuk kuliah
berikutnya. Setelah mendapat soal, Oktia mengerjakannya di kursi pojok depan.
Dayat datang bersama Rina. Kemudian Dayat dan Rina duduk di belakang.
“Rin, kamu mau nggak
jadi pacar aku?” canda Dayat pada Rina. “Bilang gitu tu susah.” kata Dayat
lagi.
“Yaudah kalau susah
kenapa kamu deketin aku?” batin Oktia yang telah tersentak mendengar ucapan
Dayat.
“Satu minggu setelah
jadian. Manis. Dua minggu setelah jadian. Manis. Tiga minggu setelah jadian.
Manis. Empat minggu setelah jadian. Manis.” kata Dayat dengan nada yang awalnya
bersemangat kemudian melemah tidak bersemangat.
“Kalau setelah
jadian lama-lama bikin pahit, kenapa kamu masih deketin aku?” batin Oktia. Air
mata Oktia hampir menetes tapi ditahannya karena ada banyak orang, perutnya
mulai mual hampir muntah, nafasnya terasa sesak sedari tadi disindir.
“Okti, kamu bawa
buku Elektronika Digital nggak?” tanya Dayat pada Oktia.
“Bawa Yat. Ini.”
kata Oktia sambil menyerahkan bukunya pada Dayat.
“Kamu itu cowok.
Kalau ceweknya ada masalah ya dihibur dong.” kata Dayat yang entah apa
sebenarnya maksudnya.
“Kembalikan
teman-temanku seperti dulu. Kembalikan Damar dan Wulan seperti dulu lagi. Aku
butuh teman-temanku.” batin Oktia. Nafasnya masih sesak menahan tangis terkena
sindiran lagi.
Dayat menghampiri
Oktia. Ia kebingungan mencari bab yang akan dibacanya.
“Ti, bab yang ini
ada di halaman berapa sih? Aku nyari nggak nemu-nemu.” kata Dayat sambil
menyerahkan buku pada Oktia. Oktia mulai mencarikan bab yang dimaksudkan Dayat.
Ia masih dalam keadaan nafas yang sesak dan perut yang mual. Jendela hati Oktia
masih menampakkan kesenduan. Ketika Oktia membuka-buka buku untuk mencarikan
bab yang dimaksud Dayat, Oktia menyadari Dayat menatapnya lekat-lekat. Dayat
berlutut di depan Oktia, sedangkan Oktia duduk di kursinya.
“Ini, udah ketemu.”
“Kok cepet sih
nyarinya. Aku nyari dari tadi nggak ketemu-temu.” kata Dayat kemudian kembali
ke belakang, ke tempat duduknya.
Dayat menghampiri
Oktia lagi untuk menanyakan materi. Seperti tadi, ketika Oktia menjelaskan,
Dayat menatapnya lekat.
Beberapa waktu
kemudian, Risma datang. Ia kehabisan kursi. Diangkatnya kursi yang kosong untuk
diletakkan di belakang Oktia.
“Ris, kamu sini
aja.” kata Oktia pada Risma sambil mengarahkan kursi yang dibawa Risma untuk
diletakkan di sampingnya.
Setelah tugas
selesai, Oktia dan Risma menuju ruang kuliah berikutnya. Mereka melewati jalan
lain yang tidak dilewati teman-temannya. Seperti biasa Oktia pasti curhat pada
Risma.
__ADS_1
“Ris, tahu nggak?
Sebelum kamu dateng aku kesindir terus. Aku nggak pernah sakit maag tiba-tiba
aja asam lambungku meningkat. Mual. Kalau tadi nggak banyak orang, aku mungkin
udah nangis di tempat.”
“Itu bukan maag Ti.
Itu karena kamu kesindir terus.”
“Aku pengen nyanyi
sesuatu Ris.”
“Ya udah, nyanyi
aja.”
Sejak ia pergi dari hidupku ku merasa sepi
Dia tinggalkan ku sendiri di sini
Tanpa satu yang pasti
Aku tak tahu harus bagaimana
Aku merasa tiada berkawan
Selain dirimu selain cintamu
Kirim aku malaikatmu
Biar jadi kawan hidupku
Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku
Kirim aku malaikatmu
Karena ku sepi berada di sini
Dan di dunia ini aku tak mau sendiri
Tanpa terasa ku teteskan air mata ini
Yang tiada berhenti mengiringi
Kisah di hati
Hari telah
berganti. Kuliah pagi yang biasanya ada kini ditiadakan. Namun, Oktia tetap
berangkat pagi. Ia ke kampus dan berada di kelas yang biasanya dipakai untuk
kuliah pagi itu seperti biasanya. Oktia dan Risma sudah janjian untuk berangkat
pagi dan berada di kelas. Setibanya di kelas, Oktia belajar sebentar. Beberapa
waktu kemudian, Risma datang. Kesempatan itu Oktia gunakan untuk bercerita dan
curhat pada Risma.
Masak ada orang yang mau membunuh aku pakai pisau. Aku mengelak, aku ambil
pisaunya lalu kubuang. Orang itu ngambil pisaunya yang lain, aku ambil lagi
dari tangannya lalu kubuang begitu seterusnya. Itu kayak sebuah simbolisasi deh
Ris.”
“Ya, itu mungkin karena masalahmu dengan Dayat
Ti. Nggak selesai-selasai. Dia itu kayak punya suatu barang, tapi nggak mau
ngerawat barang itu. Punya taneman di taruh di dalam ruangan, tapi tanemannya
nggak disiram dan nggak dipupuk. Lama-lama taneman itu bakal mati.”
“Yang ngalamin kayak gini bukan cuma aku Ris.
Aku pernah ngepo blog mantannya.”
“Kamu tahu mantannya? Caranya gimana?”
“Adalah Ris caranya gimana. Dalam blog mantannya
itu, menceritakan penderitaannya setelah putus dari Dayat. Kayaknya emang karekternya
Dayat kayak gitu deh. Aku pernah baca puisi yang dibuat mantannya. Judulnya
Jangan Jadikan Aku Mainanmu. Isinya suatu waktu kau rindu aku namun setelahnya
kau acuhkan aku. Suatu waktu kau angkat aku namun setelahnya kau jatuhkan aku.
Kenapa kau tak ungkapkan apa maumu. Kenapa kau tak ungkapakan apa yang kau
inginkan dariku. Nggak cuma aku kok Ris yang digituin sama Dayat.”
“Itu mantannya ya? Udah ada komitmen buat saling
melupakan. La kalau kamu?”
“Setidaknya dua tahun aku harus menanggung rasa
ini. Besok Kamis KEPO yuh Ris. Tak kasih lihat blognya.”
“Besok Kamis pulang jam 13.00 ya? Ok deh.”
“Jika saja ada yang menyanyikan untukku lagunya
Tangga yang judulnya Utuh Ris.”
Semakin aku ingkari
Semakin aku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
__ADS_1
Aku mengaku bisa
Tapi hati tak bisa
Sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya aku tak pernah rela
Karena aku yang bisa membuat hatimu utuh
Sakit yang aku rasa bukan karena dia
Tapi karena kau pilih cinta sang salah
Aku mengaku bisa
Tapi hati tak bisa
Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang mau
Dan aku tak bisa (tak bisa kulihat engkau disiksa, disia-siakan cinta buta yang salah, datanglah padaku tempatmu dihati cintaku membuatmu utuh)
Sesungguhnya aku tak pernah rela
Karena aku yang bisa
Dan hanya aku yang bisa
Membuat hatimu utuh
Jam sudah
hampir menunjukkan pukul 9.00. Pada jam itu, ada kuliah. Oktia dan Risma
kemudian ke ruang kuliah berikutnya. Mereka melewati teras gedung kuliah. Oktia
melihat Damar sudah ada di depan kelas.
“Ris, aku pernah mimpi narik-narik tangan Damar
sambil bilang ‘Mar, kenapa kamu menjauh Mar? Kenapa kamu menjauh?’ di hadapan
Dayat Ris. Bayangkan aku bilang kayak gitu ke Damar di hadapan Dayat.”
“Ya udah. Mumpung ada Damar tuh. Coba kamu
gitu.”
“Itu kan mimpi Ris. Nggak mungkin lah aku
ngakuin itu di dunia nyata.”
Hari yang dinanti tiba. Oktia dan Risma pergi ke
perpustakaan setelah janjian masing-masing membawa laptop. Mereka menyusuri
trotoar kampus.
“Aku pernah tanya ke Dayat. Mantannya kuliah di
mana. Dia bilangnya di Teknik Sipil UGM. Tapi ternyata mantannya itu kuliah di
Rekam Medis UGM.”
“Yah, Teknik Sipil sama Rekam Medis itu beda
jauh. Kalau bilangnya di Fakultas Kedokteran masih agak-agak nyambung.”
Sesampainya di perpustakaan, mereka menyiapkan
senjatanya untuk ngepo. Biasanya mereka duduk di bawah AC. Kali ini mereka
duduk di pojok perpustakaan dan cuma berdua.
“Ris, sebenarnya aku nggak mau juga nglakuin
ini. Itukan masalah pribadi mereka. Masa lalu mereka. Tapi kalau nggak kayak
gini aku nggak tahu sifat aslinya Dayat.”
“Udah nggak apa-apa. Nyari tahu sifat orang itu
bisa dicari dari masa lalunya.”
“Buka FB-nya Dayat dulu, lalu page friend-nya.
Nama mantannya Maymay Mayang. Yang itu tuh Ris.”
Risma membuka FB mantannya Dayat. Sedangkan
Oktia membuka blog mantannya Dayat.
“Ti, baca deh status-statusnya Mayang. Kamu malu
ya? Aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu. Seminggu nggak SMS atau
telefon malah update status. Dayat komennya males pegang HP. Tiap hari dikasih
kacang, sampai numpuk tuh kulitnya. Eh, ada yang lain lagi. Mayang nge-wall
Dayat, tapi dikomen ngapasih wall-wallan? Sebel.”
“Hahahaha. Yah itulah sifatnya Dayat. Sekarang
aku udah nggak kaget kok kalau dia gituin aku. Lagian yang jadi korban nggak
cuma aku.”
Mereka tertawa membaca status-status Mayang.
Membaca masa lalu Dayat dan Mayang. Waktu sudah sore. Risma pulang karena waktu
sudah cukup sore.
“Sudah, nggak usah KEPO lagi. Ntar sakit hati
__ADS_1
lho.”
“Nggak kok Ris. Ini juga udah mau selesai.”