Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 27


__ADS_3

Aku Tak Mau Sendiri


            Kuliah


kali ini, tidak ada dosen. Hanya mengumpulkan makalah bagi yang belum


mengumpulkan. Berhubung tidak ada dosen, Oktia berangkat agak siang.


Sesampainya di kelas, ternyata sudah ada teman-teman yang datang. Kelas sudah


hampir penuh. Tinggal satu kursi di pojok depan. Oktia meletakkan tasnya di


kursi pojokan lalu meminta lembar soal berhubung ada tugas untuk kuliah


berikutnya. Setelah mendapat soal, Oktia mengerjakannya di kursi pojok depan.


Dayat datang bersama Rina. Kemudian Dayat dan Rina duduk di belakang.


            “Rin, kamu mau nggak


jadi pacar aku?” canda Dayat pada Rina. “Bilang gitu tu susah.” kata Dayat


lagi.


            “Yaudah kalau susah


kenapa kamu deketin aku?” batin Oktia yang telah tersentak mendengar ucapan


Dayat.


            “Satu minggu setelah


jadian. Manis. Dua minggu setelah jadian. Manis. Tiga minggu setelah jadian.


Manis. Empat minggu setelah jadian. Manis.” kata Dayat dengan nada yang awalnya


bersemangat kemudian melemah tidak bersemangat.


            “Kalau setelah


jadian lama-lama bikin pahit, kenapa kamu masih deketin aku?” batin Oktia. Air


mata Oktia hampir menetes tapi ditahannya karena ada banyak orang, perutnya


mulai mual hampir muntah, nafasnya terasa sesak sedari tadi disindir.


            “Okti, kamu bawa


buku Elektronika Digital nggak?” tanya Dayat pada Oktia.


            “Bawa Yat. Ini.”


kata Oktia sambil menyerahkan bukunya pada Dayat.


            “Kamu itu cowok.


Kalau ceweknya ada masalah ya dihibur dong.” kata Dayat yang entah apa


sebenarnya maksudnya.


            “Kembalikan


teman-temanku seperti dulu. Kembalikan Damar dan Wulan seperti dulu lagi. Aku


butuh teman-temanku.” batin Oktia. Nafasnya masih sesak menahan tangis terkena


sindiran lagi.


            Dayat menghampiri


Oktia. Ia kebingungan mencari bab yang akan dibacanya.


            “Ti, bab yang ini


ada di halaman berapa sih? Aku nyari nggak nemu-nemu.” kata Dayat sambil


menyerahkan buku pada Oktia. Oktia mulai mencarikan bab yang dimaksudkan Dayat.


Ia masih dalam keadaan nafas yang sesak dan perut yang mual. Jendela hati Oktia


masih menampakkan kesenduan. Ketika Oktia membuka-buka buku untuk mencarikan


bab yang dimaksud Dayat, Oktia menyadari Dayat menatapnya lekat-lekat. Dayat


berlutut di depan Oktia, sedangkan Oktia duduk di kursinya.


            “Ini, udah ketemu.”


            “Kok cepet sih


nyarinya. Aku nyari dari tadi nggak ketemu-temu.” kata Dayat kemudian kembali


ke belakang, ke tempat duduknya.


            Dayat menghampiri


Oktia lagi untuk menanyakan materi. Seperti tadi, ketika Oktia menjelaskan,


Dayat menatapnya lekat.


            Beberapa waktu


kemudian, Risma datang. Ia kehabisan kursi. Diangkatnya kursi yang kosong untuk


diletakkan di belakang Oktia.


            “Ris, kamu sini


aja.” kata Oktia pada Risma sambil mengarahkan kursi yang dibawa Risma untuk


diletakkan di sampingnya.


            Setelah tugas


selesai, Oktia dan Risma menuju ruang kuliah berikutnya. Mereka melewati jalan


lain yang tidak dilewati teman-temannya. Seperti biasa Oktia pasti curhat pada


Risma.

__ADS_1


            “Ris, tahu nggak?


Sebelum kamu dateng aku kesindir terus. Aku nggak pernah sakit maag tiba-tiba


aja asam lambungku meningkat. Mual. Kalau tadi nggak banyak orang, aku mungkin


udah nangis di tempat.”


            “Itu bukan maag Ti.


Itu karena kamu kesindir terus.”


            “Aku pengen nyanyi


sesuatu Ris.”


            “Ya udah, nyanyi


aja.”


Sejak ia pergi dari hidupku ku merasa sepi


Dia tinggalkan ku sendiri di sini


Tanpa satu yang pasti


 Aku tak tahu harus bagaimana


Aku merasa tiada berkawan


Selain dirimu selain cintamu


Kirim aku malaikatmu


Biar jadi kawan hidupku


Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku


Kirim aku malaikatmu


Karena ku sepi berada di sini


Dan di dunia ini aku tak mau sendiri


Tanpa terasa ku teteskan air mata ini


Yang tiada berhenti mengiringi


Kisah di hati


Hari telah


berganti. Kuliah pagi yang biasanya ada kini ditiadakan. Namun, Oktia tetap


berangkat pagi. Ia ke kampus dan berada di kelas yang biasanya dipakai untuk


kuliah pagi itu seperti biasanya. Oktia dan Risma sudah janjian untuk berangkat


pagi dan berada di kelas. Setibanya di kelas, Oktia belajar sebentar. Beberapa


waktu kemudian, Risma datang. Kesempatan itu Oktia gunakan untuk bercerita dan


curhat pada Risma.


Masak ada orang yang mau membunuh aku pakai pisau. Aku mengelak, aku ambil


pisaunya lalu kubuang. Orang itu ngambil pisaunya yang lain, aku ambil lagi


dari tangannya lalu kubuang begitu seterusnya. Itu kayak sebuah simbolisasi deh


Ris.”


“Ya, itu mungkin karena masalahmu dengan Dayat


Ti. Nggak selesai-selasai. Dia itu kayak punya suatu barang, tapi nggak mau


ngerawat barang itu. Punya taneman di taruh di dalam ruangan, tapi tanemannya


nggak disiram dan nggak dipupuk. Lama-lama taneman itu bakal mati.”


“Yang ngalamin kayak gini bukan cuma aku Ris.


Aku pernah ngepo blog mantannya.”


“Kamu tahu mantannya? Caranya gimana?”


“Adalah Ris caranya gimana. Dalam blog mantannya


itu, menceritakan penderitaannya setelah putus dari Dayat. Kayaknya emang karekternya


Dayat kayak gitu deh. Aku pernah baca puisi yang dibuat mantannya. Judulnya


Jangan Jadikan Aku Mainanmu. Isinya suatu waktu kau rindu aku namun setelahnya


kau acuhkan aku. Suatu waktu kau angkat aku namun setelahnya kau jatuhkan aku.


Kenapa kau tak ungkapkan apa maumu. Kenapa kau tak ungkapakan apa yang kau


inginkan dariku. Nggak cuma aku kok Ris yang digituin sama Dayat.”


“Itu mantannya ya? Udah ada komitmen buat saling


melupakan. La kalau kamu?”


“Setidaknya dua tahun aku harus menanggung rasa


ini. Besok Kamis KEPO yuh Ris. Tak kasih lihat blognya.”


“Besok Kamis pulang jam 13.00 ya? Ok deh.”


“Jika saja ada yang menyanyikan untukku lagunya


Tangga yang judulnya Utuh Ris.”


Semakin aku ingkari


Semakin aku mengerti


Hidup ini tak lengkap tanpamu

__ADS_1


Aku mengaku bisa


Tapi hati tak bisa


Sesungguhnya aku berpura-pura


Relakan kau pilih cinta yang kau mau


Sesungguhnya aku tak pernah rela


Karena aku yang bisa membuat hatimu utuh


Sakit yang aku rasa bukan karena dia


Tapi karena kau pilih cinta sang salah


Aku mengaku bisa


Tapi hati tak bisa


Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura


Relakan kau pilih cinta yang mau


Dan aku tak bisa (tak bisa kulihat engkau disiksa, disia-siakan cinta buta yang salah, datanglah padaku tempatmu dihati cintaku membuatmu utuh)


Sesungguhnya aku tak pernah rela


Karena aku yang bisa


Dan hanya aku yang bisa


Membuat hatimu utuh


Jam sudah


hampir menunjukkan pukul 9.00. Pada jam itu, ada kuliah. Oktia dan Risma


kemudian ke ruang kuliah berikutnya. Mereka melewati teras gedung kuliah. Oktia


melihat Damar sudah ada di depan kelas.


“Ris, aku pernah mimpi narik-narik tangan Damar


sambil bilang ‘Mar, kenapa kamu menjauh Mar? Kenapa kamu menjauh?’ di hadapan


Dayat Ris. Bayangkan aku bilang kayak gitu ke Damar di hadapan Dayat.”


“Ya udah. Mumpung ada Damar tuh. Coba kamu


gitu.”


“Itu kan mimpi Ris. Nggak mungkin lah aku


ngakuin itu di dunia nyata.”


Hari yang dinanti tiba. Oktia dan Risma pergi ke


perpustakaan setelah janjian masing-masing membawa laptop. Mereka menyusuri


trotoar kampus.


“Aku pernah tanya ke Dayat. Mantannya kuliah di


mana. Dia bilangnya di Teknik Sipil UGM. Tapi ternyata mantannya itu kuliah di


Rekam Medis UGM.”


“Yah, Teknik Sipil sama Rekam Medis itu beda


jauh. Kalau bilangnya di Fakultas Kedokteran masih agak-agak nyambung.”


Sesampainya di perpustakaan, mereka menyiapkan


senjatanya untuk ngepo. Biasanya mereka duduk di bawah AC. Kali ini mereka


duduk di pojok perpustakaan dan cuma berdua.


“Ris, sebenarnya aku nggak mau juga nglakuin


ini. Itukan masalah pribadi mereka. Masa lalu mereka. Tapi kalau nggak kayak


gini aku nggak tahu sifat aslinya Dayat.”


“Udah nggak apa-apa. Nyari tahu sifat orang itu


bisa dicari dari masa lalunya.”


“Buka FB-nya Dayat dulu, lalu page friend-nya.


Nama mantannya Maymay Mayang. Yang itu tuh Ris.”


Risma membuka FB mantannya Dayat. Sedangkan


Oktia membuka blog mantannya Dayat.


“Ti, baca deh status-statusnya Mayang. Kamu malu


ya? Aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu. Seminggu nggak SMS atau


telefon malah update status. Dayat komennya males pegang HP. Tiap hari dikasih


kacang, sampai numpuk tuh kulitnya. Eh, ada yang lain lagi. Mayang nge-wall


Dayat, tapi dikomen ngapasih wall-wallan? Sebel.”


“Hahahaha. Yah itulah sifatnya Dayat. Sekarang


aku udah nggak kaget kok kalau dia gituin aku. Lagian yang jadi korban nggak


cuma aku.”


Mereka tertawa membaca status-status Mayang.


Membaca masa lalu Dayat dan Mayang. Waktu sudah sore. Risma pulang karena waktu


sudah cukup sore.


“Sudah, nggak usah KEPO lagi. Ntar sakit hati

__ADS_1


lho.”


“Nggak kok Ris. Ini juga udah mau selesai.”


__ADS_2