Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 6. Kelihatan dari Mata Kamu


__ADS_3

Kuliah di gedung lama. Kelas di mana mereka mengadakan kuliah terletak di pojok. Lebih tepatnya ruang kelas yang mereka pakai terletak di paling pojok fakultas. Mahasiswa yang mengikuti kuliah kali ini tak hanya satu angkatan. Namun juga, ada beberapa kakak tingkat dari angkatan yang lebih atas yang mengulang mata


kuliah yang diadakan di ruang kelas pojokan tersebut.


Kakak tingkat yang paling dikenal Oktia adalah Mbak Sina. Dia dengan mudah akrab dengan adik tingkatnya. Orangnya ramah dan ceria. Mbak Sina akrab dengan Damar. Mereka itu senasib sepenanggungan sebagai anak yang dilahirkan kembar. Ya, Mbak Sina punya satu kembaran. Kembar identik lebih tepatnya. Sedangkan Damar punya dua kembaran. Adik kembarnya ada dua. Satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Mengetahui Damar punya kembaran membuat mereka saling bertukar cerita mengenai nasib mereka yang punya kembaran.


Tiba di suatu saat diadakan kuliah, Oktia duduk di barisan terdepan di samping kanan Damar. Mengikuti mata kuliah ini cukup monoton. Meskipun jika mahasiswa di fakultas lain mendengar mata kuliah ini bulu kudunya akan berdiri mengingat mata kuliah ini mengerikan bagi mereka. Namun, tidak bagi teman-teman Oktia. Kuliah mata


kuliah ini hanya menyalin catatan dosen. Dari catatanya dosen materi kuliah ditulis di papan tulis oleh dosen, kemudian ditransfer ke dalam buku catatan mereka. Mencatat itu membosankan. Untuk mengusir rasa bosan terkadang para mahasiswa sibuk dengan urusannya sendiri. Begitu pula dengan Oktia waktu itu. Damar memang suka bercerita. Di saat kuliah ini dia mengajak Oktia bercerita. Telinga Oktia mendengarkan cerita Damar, sedangkan tangannya menyalin catatan dosen yang ada di papan tulis. Begitulah kegiatan Oktia selama mata kuliah ini berlangsung. Mbak Sina duduk di belakang Damar. Mencatat apa yang dituliskan sang dosen. Mungkin juga mengamati gejala fisika yang terjadi pada Damar yang sedang bercerita pada Oktia. Di saat sang dosen berjalan menuju pintu keluar yang menandakan kuliah telah usai, suatu peristiwapun terjadi.


“Kamu........” bisik Mbak Sina sambil menepuk bahu Damar yang kebetulan Damar ada di depan Mbak Sina.


Mendengar Mbak Sina berbisik pada Damar dan seolah ada suatu rahasia membuat Oktia memasang telinga dan menaikkan radar pendengarannya. Entah apa yang diomongkan Mbak Sina pada Damar, Oktiapun tak tahu. Mencoba menebak jawaban dari pertanyaan Mbak Sina lewat bahasa tubuh Damar pun Oktia tak bisa. Oktiapun tak mungkin menoleh ke arah mereka. Hal itu akan membuat mereka urung untuk membicarakan sebuah rahasia. Iya. Rahasia menurut mereka.


“Kelihatan lho dari mata kamu.” lanjut sepotong bisikan Mbak Sina yang dapat Oktia dengar.


Oktia yang tak sengaja mendengar sebagian percakapan mereka mulai bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang ditanyakan Mbak Sina dan apa jawaban Damar kok semua itu ada hubungannya dengan mata Damar. Oktia mulai penasaran.


“Sewaktu kuliah berlangsung yang diajak ngobrol oleh Damar ya cuma aku. Apa pembicaraan mereka tadi ada hubungannya denganku. Kok Mbak Sina bisa berkata kelihatan lho dari mata kamu.” batin Oktia mulai bertanya-tanya.


Hari berganti. Seperti biasa Oktia duduk di sebelah kanan Damar di barisan terdepan. Mbak Sina tiba di kelas. Mungkin dia akan duduk di barisan belakang. Mbak Sina berjalan melewati Damar sambil menyapa Damar.

__ADS_1


“Ciee... udah dapetin hatinya.” canda Mbak Sina sambil senyam-senyum.


Damar hanya menanggapi candaan Mbak Sina dengan senyuman.


“Udah dapetin hatinya? Hati siapa yang sudah didapatkan Damar? Kemarin sewaktu aku duduk di samping Damar pembicaraan mereka tentang tatapan mata Damar. Sekarang sewaktu aku duduk di samping Damar pun yang diomongkan tentang Damar sudah mendapatkan hati seseorang. Apakah hati yang didapatkan Damar


adalah.....hatiku?” batin Oktia mulai berperang lagi. Menganalisis data yang sedang terjadi dan mencoba mencari kesimpulan dari gejala yang terjadi.


Oktia tak mau percaya begitu saja. Dia ingin membuktikannya sendiri ingin melihat bagaimana tatapan mata Damar saat melihatnya. Namun, Oktia belum pernah bisa melihat ‘tatapan’ yang dimaksud Mbak Sina.


Pernah suatu ketika setelah keluar dari ruang kelas pojokan, Oktia berjalan melewati Mita dan Tira. Tiba-tiba saja sewaktu Oktia tepat berdiri di samping Tira, Tira menyanyikan sepotong lirik lagu.


Seketika setelah mendengar lagu itu, Oktia merasa disindir oleh mereka. Setelah Oktia melewati Mita dan Tira, dengan radar pendengarannya Oktia merasa bahwa mereka cekikikan bersama. Seperti menertawakan sesuatu.


Oktia yang sering duduk di dekat Damar, membuat Dayat bertanya-tanya.


“Kok Okti sering duduk di dekat Damar sih.” komentar Dayat. Komentar itu hampir tiga kali Oktia dengar ketika Dayat melihatnya duduk di samping Damar.


“Perhatian banget sih itu orang. Yang lain aja pada diem nggak komentar apa-apa masalah tempat dudukku sama Damar. Dianya malah sering komentar.” pikir Oktia waktu itu ketika Oktia mendengar Dayat mengomentari masalah tempat duduknya.


Suatu hari, ketika kuliah diganti dengan seminar. Oktia janjian dengan Ana supaya ketika mau ke seminar, mereka masuk bersama. Namun, hal itu ia urungkan karena di depan ruang seminar sudah banyak orang dan tidak mungkin bila Oktia menunggu Ana di luar sendirian. Sebelum masuk ke ruang seminar, Oktia melihat Damar yang

__ADS_1


berjalan tegap masuk ke ruang seminar. Seperti biasa, Damar duduk di depan.


“Nunggu Ananya gimana ya? Masak yang lain sudah masuk, aku malah sendiri di luar hanya untuk menunggu Ana.” pikir Oktia mulai bimbang.


“Masuk aja deh, nunggu di kursi itu.” batin Ana.


Kemudian Oktia masuk ke ruang seminar, duduk di barisan nomor dua di seberang kelompok barisan yang ditempati Damar sambil menunggu Ana.


“Okti, kamu nggak duduk di sebelah sana aja bareng teman-teman?” saran Dayat yang kebetulan waktu itu Oktia duduk di dekat Damar namun di  kelompok barisan yang berbeda dan teman-teman sudah mengambil tempat duduk bergerombol satu kelas dalam satu kelompok barisan.


Mendengar nasehat Dayat, Oktia memilih untuk pindah tempat duduk daripada dikira mau menyendiri.


“Hehehe...Modus.” bisik Dayat pada Nudi sambil tertawa.


“Apanya yang modus sih? Aku duduk di situ sambil nunggu Ana.” pikir Oktia polos.


Oktia yang kadang risih dengan komentar-komentar Dayat ketika ia duduk di dekat Damar memilih untuk tidak duduk di dekat Damar.


“Kok kamu nggak duduk di depan sih?” tanya Damar ketika ia mengetahui Oktia duduk di belakangnya.


“Nggak Mar, aku lagi pengen duduk di belakang.” jawab Oktia yang sebenarnya ia ingin duduk di depan. Namun, karena takut komentar-komentar Dayat menyebabkan gosip.

__ADS_1


__ADS_2