
Filosofi Atom
Selasa pagi. Jam
pertama Oktia akan presentasi. Oktia memilih untuk berangkat lebih awal dari
biasa supaya ada persiapan. Gedung kuliah yang berdiri dengan angkuhnya seolah
menunjukkan kehebatannya sebagai tempat untuk mencetak para guru, sudah terbuka
pintu-pintu kelasnya. Tak seperti biasanya. Oktia dan teman-teman kadang harus
menunggu penjaga kampus untuk membuka pintu-pintu kelas.
D.03.203. Oktia
melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu. Sesampainya Oktia di kelas,
Damar menyalakan LCD. Kali ini Oktia dan Damar mengenakan seragam batik kelas.
“Weh... couple-an!” kata Damar.
“Iya.” Kata Oktia.
“Aku dulu pas di
perpus dikira pasangan gara-gara pakai baju batik berdua sama Rina.” cerita Damar.
Oktia melihat sekitar
kelas. Melihat siapa saja yang sudah datang. “Satpamku Nugi belum datang. Apa
dia nggak takut nanti kalau Damar dan aku dekat. Diakan seharusnya mengawasi
dan menjagaku, jangan sampai aku dekat dengan Damar.” batin Oktia setelah tahu
bahwa Nudi belum datang. Wulan sudah
datang. Jadi, mereka mempersiapkan presentasi karena kebetulan mereka
presentasi bersama. Oktia dan Wulanpun membicarakan makalah mereka.
“Aku belum belajar
buat presentasi nanti.” celoteh Nudi.
Oktia kaget dengan
suara yang tiba-tiba muncul itu. Ia mengira pemilik suara itu adalah Amar
anggota kelompok Wulan, ternyata Nudi. Lalu, Nudi duduk di sebelah Oktia. Nudi
belum sarapan. Jadinya, dia sarapan dulu, di sebelah Oktia sambil membicarakan
presentasi yang akan mereka presentasikan. Risma, yang mungkin tahu tentang hal
ini langsung menggoda Oktia. Tengkuk Oktia yang geli bila dicolek, sering
dicolek Risma. Dayat datang. Kacang, kacang, kacang. Seperti biasa pasti
kacang. Nudi pindah posisi tempat duduk. Dia duduk di sebelah kanan Damar.
Sedangkan Dayat dia nomaden. Presentasi berlangsung biasa tanpa kesan yang
berarti. Dan akhirnya, selesai.
Oktia yang suntuk
dengan suasana kelas mengajak Risma ke kamar mandi sambil curhat tentang
masalah sebelum presentasi tadi. Rencana Oktia gagal. Septi, juga akan ke kamar
mandi. Septi termasuk komplotannya Dayat. Sesampainya di kamar mandi, Oktia
mencari cara supaya Septi meninggalkan Oktia dan Risma sehingga Oktia bisa
cerita dengan Risma. Beruntung, Septi akhirnya pergi juga setelah bosan
menunggu Oktia dan Risma untuk ke kelas bersama. Maklum, Oktia sengaja mengulur
waktu supaya Septi putus asa menunggunya dan akhirnya kembali ke kelas lebih
dulu. Di depan cermin dan washtafel kamar mandi, Oktia curhat.
“Kok aneh sih Ris. Aku
bingung deh. Yang bener yang mana?” Oktia memulai cerita.
“Ya nggak tahu. Aku
sendiri tuh juga bingung dengan sikap mereka.” kata Risma.
Satu kelas menunggu
jam 9.00 tiba dengan nonton film horor. Di kelas Oktia benar-benar bad mood, suntuk. Jam 9.00 hampir tiba.
Oktia memutuskan untuk keluar kelas. Berhubung ruang yang akan di gunakan cuma
__ADS_1
bersebelahan, Oktia memutuskan untuk menunggu kelas sebelah dikosongkan di
balkon. Di balkon hanya ada Anti, Oktia dan Damar. Di balkon Oktia sedikit
berbicara dengan Damar, entah Oktia tadi berbincang apa. Oktia sendiri lupa
karena yang memulai pembicaraan Damar. Kemudian saling diam. Tangan Oktia
ditarik Risma, karena Oktia dan Damar berdiri di samping tempat sampah. Lalu,
mereka masuk kelas bersama.
Di kelas, Damar di
sebelah kiri Risma, Risma di sebelah kiri Oktia. mereka duduk di barisan
terdepan. Dayat dan Wulan ada di depan pintu kelas. Mereka menengok ke dalam
kelas bergantian. Mungkin mereka mengawasi Oktia yang kebetulan duduk di dekat
Damar. Lalu, Dayat curhat tentang kejadian yang baru saja dilihatnya. Di
kelaspun, Oktia curhat dengan Risma.
“Ris, sepertinya
mereka meninggalkanku satu persatu.” dengan air mata yang hampir menetes ia
keluhkan penderitaannya. Maklum saja Wulan yang biasanya jadi teman cerita
Oktia kini berbalik arah pada Dayat. Damar yang juga sering bercerita pada
Oktia mungkin saja memilih menjaga jarak daripada bila dekat dengan Oktia akan
menimbulkan masalah dengan Dayat. Bagi Oktia, Wulan dan Damar telah mengajarkan
arti keceriaan. Tapi kini mereka perlahan menjauh dari Oktia.
“Yaudah. Jangan
nangis.” hibur Risma.
“Aku kangen
teman-temanku Ris. Aku ingin bertemu Padma, Tyo, Hanif. Lalu curhat dengan
mereka. Merasakan kembali pertemanan yang akrab. Nggak seperti ini nyesek.”
Kelas berlangsung
dengan mata benar-benar terkantuk dan bad
barisan paling depan. Duduk di sebelah kiri Hadi. Hadi di sebelah kiri Damar.
Tingkah Damar berubah begitu Dayat pindah ke depan. Dia yang tadinya cukup
anteng sekarang bertingkah seolah-olah ia ingin menunjukkan dia sangat akrab
dengan Risma dan cuek dengan Oktia. Oktia yang melihat perubahan itu cukup
memaklumi keadaan.
“Kalau sudah berhadapan dengan rangkaian yang
ini. Rangkaian yang itu tadi boleh dilupakan.” kata sang dosen.
Entah mengapa kata-kata tadi seolah menghibur
Oktia tentang masalah yang sedang ia hadapi. Cukup sekian materi yang
disampaikan. Kelaspun bubar. Seperti biasa sehabis kuliah kedua ini Oktia dan
Risma memilih jalan lain agar Oktia bisa bercerita dan bebannya sedikit
berkurang. Kali ini, Oktia dan Risma belum beruntung. Jalan yang biasanya Oktia
lewati ketahuan oleh Anto. Anto yang juga tahu perasaan Dayat. Atau mungkin
Anto juga komplotannya Dayat.
“Kita ketahuan Ris. Anto tadi ngelihat kita.”
“Yaudahlah biarin aja.”
“Rasanya aku benar-benar ingin kabur.”
“Mau kabur ke mana? Kamu nanti juga balik lagi.”
Oktia dan Risma akhirnya sampai di kelas. Dayat
duduk bersebelahan dengan Wulan. Sebelah kiri Wulan masih ada kursi kosong.
Kursi di mana biasanya Oktia duduk. Risma duduk di sebelah kiri Oktia. Wulan
dan Dayat ngobrol berdua. Membicarakan sesuatu yang Oktia sendiri tak paham.
“ ‘dia’ dulu orangnya serius ya?” tanya Risma
__ADS_1
memulai pembicaraan berhubung dia melihat mood Oktia mulai turun. Di samping kanan
ada Wulan dan Dayat, Oktia yang nggak mau mereka tahu masa lalunya membisikkan
sesuatu pada Risma. “Ntar aja cerita tentang itu.”
“Proton selalu di kelilingi oleh elektron yang
berputar.” terang sang dosen.
“Ti, proton selalu di kelilingi oleh elektron
yang berputar.”
“Iya, berputar dan tidak tetap.”
“Magnet elementer yang arahnya acak sehinga
saling meniadakan bisa disearahkan dengan cara menggosokkan magnet secara
searah. Karena adanya medan magnet.” terang sang dosen.
“Ris, medan magnet tuh seharusnya ada buat
nyearahin magnet elementer.”
“Protonpun selalu dikelilingi oleh elektron yang
berputar.”
“Atom Hidrogen itu protonnya satu elektronnya
pun satu. La kalau elektronnya dua ada nggak sih.”
“Ya nggak adalah kalau ada berarti atom
itu......”
“Asam basa tu pakainya H+ la yang H- itu apanya sih?”“Itu bukan H- tapi OH-.”“Tapi kan nggak ada atom O-nya”
Pembicaraanpun semakin nggak jelas namun mereka
berdua bisa saling menangkap isi dari pembicaraan satu sama lain. Duduk di
dekat Dayat dan Wulan komplotannya membuat Oktia harus berbicara dengan bahasa
kode. Dayat tiba-tiba mengajak Wulan ngobrol lagi. Kali ini yang dibicarakan
adalah Nila. Seorang cewek kelas sebelah yang biasanya dipakainya untuk
memanas-manasi Oktia. Tapi, berhubung Oktia bisa cerita dengan Risma pakai
bahasa kode ‘medan magnet’ Oktia nggak bad
mood lagi. Kuliah kali inipun cukup menarik. Materi yang dosen sampaikan
punya filosofi yang pas dengan masalah yang Oktia hadapi. Selain itu, dengan adanya Dayat yang duduk di dekat Oktia
membautnya seakan-akan perang kode. Saling menyindir, saling menyerang, saling
memanas-manasi.
“Mengapa
juga mantra ‘kakek sihir’ itu tak jua berakhir. Aku seakan disekap dalam
kastilnya. Disekap dalam kastil tapi tak dipedulikannya. Dikacangin pula. Disekap dalam kastil tak
juga diberi kepastian. Apakah suatu saat nanti aku akan dibebaskannya untuk
berlarian mengejar kupu-kupu yang indah di pinggir telaga yang indah bersama
‘matahariku’ kelak. Atau suatu saat nanti kutukannya untuk menjadi ‘kakek
sihir’ sirna sehingga ‘kakek sihir’ itu berubah menjadi seorang pangeran.”
batin Oktia. Kuliahpun berakhir ditutup dengan doa.
“Aku ngalamun lagi Wul.”
“Udah deh nggak usah ngalamun. Ngalamun siapa
sih?”
“Si itu.”
“Cie...”
“Bahasamu itu lo Fen!!!” keluhnya.
Mungkin Dayat bingung atau malah frustrasi
dengan isi pembicaraan Oktia dengan Risma. Penuh dengan kode yang pastinya akan
membingungkan dan sulit dipecahkan bagi orang yang tak tahu isi hati Oktia.
“Tadi
__ADS_1
pas Dayat ngobrol sama Wulan dia curi-curi pandang ke kamu lho Ti.” lapor Risma