Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 30


__ADS_3

Filosofi Atom


Selasa pagi. Jam


pertama Oktia akan presentasi. Oktia memilih untuk berangkat lebih awal dari


biasa supaya ada persiapan. Gedung kuliah yang berdiri dengan angkuhnya seolah


menunjukkan kehebatannya sebagai tempat untuk mencetak para guru, sudah terbuka


pintu-pintu kelasnya. Tak seperti biasanya. Oktia dan teman-teman kadang harus


menunggu penjaga kampus untuk membuka pintu-pintu kelas.


D.03.203. Oktia


melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu. Sesampainya Oktia di kelas,


Damar menyalakan LCD. Kali ini Oktia dan Damar mengenakan seragam batik kelas.


“Weh... couple-an!” kata Damar.


“Iya.” Kata Oktia.


“Aku dulu pas di


perpus dikira pasangan gara-gara pakai baju batik berdua sama Rina.” cerita Damar.


Oktia melihat sekitar


kelas. Melihat siapa saja yang sudah datang. “Satpamku Nugi belum datang. Apa


dia nggak takut nanti kalau Damar dan aku dekat. Diakan seharusnya mengawasi


dan menjagaku, jangan sampai aku dekat dengan Damar.” batin Oktia setelah tahu


bahwa Nudi belum datang.  Wulan sudah


datang. Jadi, mereka mempersiapkan presentasi karena kebetulan mereka


presentasi bersama. Oktia dan Wulanpun membicarakan makalah mereka.


“Aku belum belajar


buat presentasi nanti.” celoteh Nudi.


Oktia kaget dengan


suara yang tiba-tiba muncul itu. Ia mengira pemilik suara itu adalah Amar


anggota kelompok Wulan, ternyata Nudi. Lalu, Nudi duduk di sebelah Oktia. Nudi


belum sarapan. Jadinya, dia sarapan dulu, di sebelah Oktia sambil membicarakan


presentasi yang akan mereka presentasikan. Risma, yang mungkin tahu tentang hal


ini langsung menggoda Oktia. Tengkuk Oktia yang geli bila dicolek, sering


dicolek Risma. Dayat datang. Kacang, kacang, kacang. Seperti biasa pasti


kacang. Nudi pindah posisi tempat duduk. Dia duduk di sebelah kanan Damar.


Sedangkan Dayat dia nomaden. Presentasi berlangsung biasa tanpa kesan yang


berarti. Dan akhirnya, selesai.


            Oktia yang suntuk


dengan suasana kelas mengajak Risma ke kamar mandi sambil curhat tentang


masalah sebelum presentasi tadi. Rencana Oktia gagal. Septi, juga akan ke kamar


mandi. Septi termasuk komplotannya Dayat. Sesampainya di kamar mandi, Oktia


mencari cara supaya Septi meninggalkan Oktia dan Risma sehingga Oktia bisa


cerita dengan Risma. Beruntung, Septi akhirnya pergi juga setelah bosan


menunggu Oktia dan Risma untuk ke kelas bersama. Maklum, Oktia sengaja mengulur


waktu supaya Septi putus asa menunggunya dan akhirnya kembali ke kelas lebih


dulu. Di depan cermin dan washtafel kamar mandi, Oktia curhat.


            “Kok aneh sih Ris. Aku


bingung deh. Yang bener yang mana?” Oktia memulai cerita.


            “Ya nggak tahu. Aku


sendiri tuh juga bingung dengan sikap mereka.” kata Risma.


            Satu kelas menunggu


jam 9.00 tiba dengan nonton film horor. Di kelas Oktia benar-benar bad mood, suntuk. Jam 9.00 hampir tiba.


Oktia memutuskan untuk keluar kelas. Berhubung ruang yang akan di gunakan cuma

__ADS_1


bersebelahan, Oktia memutuskan untuk menunggu kelas sebelah dikosongkan di


balkon. Di balkon hanya ada Anti, Oktia dan Damar. Di balkon Oktia sedikit


berbicara dengan Damar, entah Oktia tadi berbincang apa. Oktia sendiri lupa


karena yang memulai pembicaraan Damar. Kemudian saling diam. Tangan Oktia


ditarik Risma, karena Oktia dan Damar berdiri di samping tempat sampah. Lalu,


mereka masuk kelas bersama.


            Di kelas, Damar di


sebelah kiri Risma, Risma di sebelah kiri Oktia. mereka duduk di barisan


terdepan. Dayat dan Wulan ada di depan pintu kelas. Mereka menengok ke dalam


kelas bergantian. Mungkin mereka mengawasi Oktia yang kebetulan duduk di dekat


Damar. Lalu, Dayat curhat tentang kejadian yang baru saja dilihatnya. Di


kelaspun, Oktia curhat dengan Risma.


            “Ris, sepertinya


mereka meninggalkanku satu persatu.” dengan air mata yang hampir menetes ia


keluhkan penderitaannya. Maklum saja Wulan yang biasanya jadi teman cerita


Oktia kini berbalik arah pada Dayat. Damar yang juga sering bercerita pada


Oktia mungkin saja memilih menjaga jarak daripada bila dekat dengan Oktia akan


menimbulkan masalah dengan Dayat. Bagi Oktia, Wulan dan Damar telah mengajarkan


arti keceriaan. Tapi kini mereka perlahan menjauh dari Oktia.


            “Yaudah. Jangan


nangis.” hibur Risma.


            “Aku kangen


teman-temanku Ris. Aku ingin bertemu Padma, Tyo, Hanif. Lalu curhat dengan


mereka. Merasakan kembali pertemanan yang akrab. Nggak seperti ini nyesek.”


            Kelas berlangsung


dengan mata benar-benar terkantuk dan bad


barisan paling depan. Duduk di sebelah kiri Hadi. Hadi di sebelah kiri Damar.


Tingkah Damar berubah begitu Dayat pindah ke depan. Dia yang tadinya cukup


anteng sekarang bertingkah seolah-olah ia ingin menunjukkan dia sangat akrab


dengan Risma dan cuek dengan Oktia. Oktia yang melihat perubahan itu cukup


memaklumi keadaan.


“Kalau sudah berhadapan dengan rangkaian yang


ini. Rangkaian yang itu tadi boleh dilupakan.” kata sang dosen.


Entah mengapa kata-kata tadi seolah menghibur


Oktia tentang masalah yang sedang ia hadapi. Cukup sekian materi yang


disampaikan. Kelaspun bubar. Seperti biasa sehabis kuliah kedua ini Oktia dan


Risma memilih jalan lain agar Oktia bisa bercerita dan bebannya sedikit


berkurang. Kali ini, Oktia dan Risma belum beruntung. Jalan yang biasanya Oktia


lewati ketahuan oleh Anto. Anto yang juga tahu perasaan Dayat. Atau mungkin


Anto juga komplotannya Dayat.


“Kita ketahuan Ris. Anto tadi ngelihat kita.”


“Yaudahlah biarin aja.”


“Rasanya aku benar-benar ingin kabur.”


“Mau kabur ke mana? Kamu nanti juga balik lagi.”


Oktia dan Risma akhirnya sampai di kelas. Dayat


duduk bersebelahan dengan Wulan. Sebelah kiri Wulan masih ada kursi kosong.


Kursi di mana biasanya Oktia duduk. Risma duduk di sebelah kiri Oktia. Wulan


dan Dayat ngobrol berdua. Membicarakan sesuatu yang Oktia sendiri tak paham.


“ ‘dia’ dulu orangnya serius ya?” tanya Risma

__ADS_1


memulai pembicaraan berhubung dia melihat mood  Oktia mulai turun. Di samping kanan


ada Wulan dan Dayat, Oktia yang nggak mau mereka tahu masa lalunya membisikkan


sesuatu pada Risma. “Ntar aja cerita tentang itu.”


“Proton selalu di kelilingi oleh elektron yang


berputar.” terang sang dosen.


“Ti, proton selalu di kelilingi oleh elektron


yang berputar.”


“Iya, berputar dan tidak tetap.”


“Magnet elementer yang arahnya acak sehinga


saling meniadakan bisa disearahkan dengan cara menggosokkan magnet secara


searah. Karena adanya medan magnet.” terang sang dosen.


“Ris, medan magnet tuh seharusnya ada buat


nyearahin magnet elementer.”


“Protonpun selalu dikelilingi oleh elektron yang


berputar.”


“Atom Hidrogen itu protonnya satu elektronnya


pun satu. La kalau elektronnya dua ada nggak sih.”


“Ya nggak adalah kalau ada berarti atom


itu......”


“Asam basa tu pakainya H+ la yang H- itu apanya sih?”“Itu bukan H- tapi OH-.”“Tapi kan nggak ada atom O-nya”


Pembicaraanpun semakin nggak jelas namun mereka


berdua bisa saling menangkap isi dari pembicaraan satu sama lain. Duduk di


dekat Dayat dan Wulan komplotannya membuat Oktia harus berbicara dengan bahasa


kode. Dayat tiba-tiba mengajak Wulan ngobrol lagi. Kali ini yang dibicarakan


adalah Nila. Seorang cewek kelas sebelah yang biasanya dipakainya untuk


memanas-manasi Oktia. Tapi, berhubung Oktia bisa cerita dengan Risma pakai


bahasa kode ‘medan magnet’ Oktia nggak bad


mood lagi. Kuliah kali inipun cukup menarik. Materi yang dosen sampaikan


punya filosofi yang pas dengan masalah yang  Oktia hadapi. Selain itu, dengan adanya Dayat yang duduk di dekat Oktia


membautnya seakan-akan perang kode. Saling menyindir, saling menyerang, saling


memanas-manasi.


 “Mengapa


juga mantra ‘kakek sihir’ itu tak jua berakhir. Aku seakan disekap dalam


kastilnya. Disekap dalam kastil tapi tak dipedulikannya.  Dikacangin pula. Disekap dalam kastil tak


juga diberi kepastian. Apakah suatu saat nanti aku akan dibebaskannya untuk


berlarian mengejar kupu-kupu yang indah di pinggir telaga yang indah bersama


‘matahariku’ kelak. Atau suatu saat nanti kutukannya untuk menjadi ‘kakek


sihir’ sirna sehingga ‘kakek sihir’ itu berubah menjadi seorang pangeran.”


batin Oktia. Kuliahpun berakhir ditutup dengan doa.


“Aku ngalamun lagi Wul.”


“Udah deh nggak usah ngalamun. Ngalamun siapa


sih?”


“Si itu.”


“Cie...”


“Bahasamu itu lo Fen!!!” keluhnya.


Mungkin Dayat bingung atau malah frustrasi


dengan isi pembicaraan Oktia dengan Risma. Penuh dengan kode yang pastinya akan


membingungkan dan sulit dipecahkan bagi orang yang tak tahu isi hati Oktia.


“Tadi

__ADS_1


pas Dayat ngobrol sama Wulan dia curi-curi pandang ke kamu lho Ti.” lapor Risma


__ADS_2