
Kenangan
Terindah
Dini hari, sekitar sepertiga malam
terakhir. Laptop Oktia dalam keadaan sleep dengan modem yang masih menancap di colokan USB-nya. Oktia memutuskan untuk
mematikan laptopnya berhubung takkan digunakannya lagi dalam beberapa waktu
yang lama. Sebelumnya, Oktia membuka facebook.
Melihat ada berita apa saja di waktu pagi. Status Damar ternyata nangkring di home facebook Oktia. Status Damar “keren ^^” dengan link dari Youtube dibawahnya. Dalam link
tersebut, tertulis sebuah lagu Kenangan Terindah yang dinyanyikan oleh Aorea.
Penasaran. Itulah
yang Oktia rasakan. Terlebih Damar pernah membuat status dengan link lagu Aku
Ini Milik Siapa yang mungkin menggambarkan isi hatinya beberapa waktu yang
lalu. Mengunduh lagu yang dimaksud Damar setidaknya dapat mengurangi rasa
penasaran Oktia. Setelah proses pengunduhan selesai, Oktia mendengarkan lagu
itu.
Aku kan lemah tanpamu
Aku kan rentan andaikan
Kasihmu telah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu
Darimu kutemukan hidupku
Bagiku engkaulah kasih sejati
(dirimu....bagiku engkaulah kasih sejati)
Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu
Yang telah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah
Keesokan
paginya, sebelum kuliah di mulai. Damar mengatakan sesuatu pada Anti “Anti,
pernah denger lagunya Aorea yang Kenangan Terindah belum? Lagunya bagus lho.”
Kuliah pengganti Teori Relativitas Khusus
diadakan di hari Selasa. Kuliah akan diadakan di gedung baru lebih tepatnya di
lantai dua. Rencana tinggallah rencana. Pada akhirnya, kuliah diadakan di
gedung lama di kelas paling pojok fakultas. Baru beberapa orang yang sudah tiba
di kelas. Oktia yang sudah masuk ke kelas memilih duduk di barisan nomor dua.
Damar, awalnya duduk di barisan pertama dan memang biasanya ia duduk di barisan
paling depan. Tampaknya ia ragu untuk duduk di barisan pertama. Ia pindah ke
barisan nomor dua di samping kiri Oktia.
“Damar, kamu pindah
sini biar deket Oktia ya?” tanya Pita penasaran yang kebetulan duduk di barisan
nomor tiga tepat di belakang Damar.
“Kok Pita bisa
bilang gitu sih? Jangan-jangan Pita itu sebenarnya juga sudah tahu tentang hal
itu. Atau mungkin sudah dikasih tahu Dayat?” batin Oktia bertanya-tanya setelah
mendengar ucapan Pita yang terlontar pada Damar.
Dayat tiba di kelas.
Seperti biasa, waktu itu, semenjak Oktia tahu perasaan Dayat padanya. Oktia
merasa jika ia duduk berdekatan dengan Damar, Dayat pasti duduk di dekat Damar.
Hari di mana ada
Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah Listrik Magnet akan tiba. Sepulang
kuliah, Oktia berjalan melewati lorong kampus. Ia akan ke perpustakaan. Dayat
berjalan di belakang Oktia. Setelah melewati anak tangga menuju lantai pertama.
“Okti, mau ke
perpus?” tanya Dayat.
“Iya, aku mau
langsung ke perpus.”
“Aku ambil motor
dulu ya. Ntar terus ke perpus.”
Oktia ke
perpustakaan bersama Risma dan Zizah. Beberapa waktu setelah Oktia sampai di
perpustakaan. HP Oktia berbunyi. Ada SMS dari Dayat.
“Okti, aku masih
agak lama. Aku ke Masmuja dulu.”
Risma pulang duluan.
Oktia tinggal berdua bersama Zizah. Beberapa waktu kemudian, Dayat datang.
Mereka bertiga kemudian belajar bersama di perpustakaan lesehan meskipun ada
__ADS_1
meja dan kursi yang nganggur.
“Entar malem lanjut
belajar bareng di foodcourt yuk. Habis Isya.” ajak Dayat.
“Iya Ti, entar malem
lanjut belajar bareng ya?” tambah Zizah.
“Aku sih bisa-bisa aja. Asalkan nggak hujan.”
jawab Oktia sambil melihat langit dari jendela perpustakaan yang memang saat
itu mendung abu-abu sedang bergelayutan di langit Jogja.
Waktu menunjukkan pukul 16.00. Zizah yang ada
keperluan rapat berpamitan pada Oktia dan Dayat.
“Aku duluan ya? Ti, entar malem ke foodcourt
ya?” kata Zizah.
“Iya. Insya Allah.” kata Oktia.
Oktia dan Dayat tinggal berdua belajar di
perpustakaan. Dayat dan Oktia berdiskusi materi yang akan digunakan ujian.
“Yang ini mengarah ke sumbu X.” kata Dayat
sambil menunjukkan sumbu Y. Padahal, yang ia katakan adalah sumbu X.
“Yang sumbu X itu yang ini.” kata Oktia sambil
menunjukkan letak sumbu X.
“Eh, iya ding.” kata Dayat. Sepertinya pikiran
Dayat kacau entah di mana semenjak Zizah pergi. “Lanjut entar malem aja yuh!”
ajak Dayat.
“Ayo!” kata Oktia.
Mentari mulai mendekat ke ufuk barat dan
akhirnya tenggelam di sana yang mana sedari pagi berada jauh dari ufuk barat.
Mendung abu-abu yang sedari sore sudah menggantung pada akhirnya meneteskan
airnya ke bumi. Menumpahkan segala keabu-abuannya yang sudah lama ia
gantungkan. Puas sudah. Lega sudah. Mendung abu-abu itu menumpahkan segala
isinya membasahi dan menyejukkan bumi yang sudah lama ia warnai langit dengan
abu-abunya. Kini, langit itu berwarna gelap cerah tanpa mendung abu-abu.
Sejuknya udara mulai terasa setelah hujan reda.
Azan Isya berkumandang. Setelah sholat Isya,
Oktia SMS Zizah apakah jadi belajar bersama atau tidak. Ia tidak ingin
malam-malam belajar di tempat yang sepi hanya berdua dengan Dayat.
“Zah, belajar barengnya jadi nggak?”
“Kalau udah sampai foodcourt SMS aku ya?”
Waktu menunjukkan pukul 20.00. Oktia mulai ragu
ia akan ikut belajar bersama atau tidak. Mengingat hari sudah larut malam.
Oktia sudah lelah menunggu. Ia memutuskan untuk tidak ikut belajar bersama. Ia
merebahkan tubuhnya meredam amarah. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.
Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Ada SMS masuk.
“Ayo Ti!” isi SMS Zizah.
Oktia segera bangkit. Ada semangat baru. Oktia
yang yang tadinya memutuskan untuk tidak ikut belajar bersama akhirnya
mempersiapkan diri untuk ke foodcourt. Ia berjalan menembus gelapnya malam
melewati tengah kampus menuju foodcourt. Sesampainya di sana hanya ada beberapa
orang yang tidak ia kenal.
“Aku udah sampai.” isi SMS Oktia pada Zizah.
“Aku lagi OTW.” balas Zizah. Waktu terus
berjalan. Zizah yang ditunggu tak kunjung datang padahal jam hampir menunjukkan
pukul 9.00.
“Kalau beberapa
menit lagi nggak ada yang dateng. Mending aku pulang.” batin Oktia menahan
kekesalan. Ia duduk di salah satu kursi di foodcourt sambil menunggu Zizah
ataupun Dayat datang. Beberapa menit kemudian, seseorang berjaket biru
bercelana hitam datang mendekati Oktia.
“Sudah lama?” tanya
Dayat.
“Nggak. Baru aja
kok.” jawab Oktia dengan nada kesal.
“Pindah sana aja
yuh!” ajak Dayat sambil menunjuk meja besar di pusat pendopo foodcourt. Tidak
ada pilihan lain selain Oktia mengikuti saran Dayat. Beberapa menit kemudian,
Zizah datang bersama Septi. Setelah lelah belajar, mereka ngobrol hal-hal yang
ringan.
“Oh, jadi itu ‘C’
mu?” tanya Zizah pada Dayat.
“Iya, yang baju,
rok, sama kerudungnya baru.” kata Dayat. Oktia yang mengerti maksud pembicaraan
__ADS_1
mereka melilih untuk diam.
“Sayang, ini gimana
caranya?” tanya Zizah pada Dayat.
“Wah, dipanggil
sayang. Aku jadi deg-degan. Sudah dua tahun nggak dipanggil sayang.” kata
Dayat.
“Sudah dua tahun
nggak dipanggil sayang? Oh, iya ding. Dayat putus sama Mayang mungkin sudah dua
tahunan.” batin Oktia.
“Udah mulai ngantuk
nih. Nyetel MP3 ya.” kata Dayat. Kemudian, ia memutar MP3 dari HP-nya. Lagu
yang ia putar berjudul ‘Sayang’. Lagu dari HP-nya masih terputar. Lagu yang
berjudul ‘Sayang’ sudah berganti. Dayat ikut bernyanyi.
“Cintai aku dengan hatimu, seperti aku
mencintaimu. Sayangi aku dengan kasihmu, seperti aku menyayangimu.” nyanyi
Dayat.
“Lagunya beda sama
yang di HP Yat.” kata Septi.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 23.00.
“Okti, kamu tadi ke
sini naik motor atau jalan kaki?” tanya Zizah.
“Jalan kaki.” jawab
Oktia. Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya diputuskan Oktia pulang
diantar Dayat. Zizah berboncengan dengan Septi. Oktia diboncengkan Dayat.
Mereka pulang bersama.
“Itu Okti bukan ya?”
tanya Zizah dalam perjalanan pulang.
“Emang aku kenapa
sih? Kok Zizah nggak percaya kalau itu aku?” batin Oktia.
Dayat mengantar
Oktia sampai di depan kost-nya.
Hari telah berganti,
detik-detik ujian hampir dimulai. Oktia tiba di kampus. Ia melihat Damar
menunggu pintu kelas dibuka di teras depan kelas. Belum sampai Oktia di depan
kelas, Damar sudah menyapanya.
“Okti, kamu udah
tahu rumus yang digunakan buat ngerjain nomor satu?” tanya Damar.
“Aku belum nemu Mar.
Kamu Udah?”
“Udah. Ini lho
rumusnya.”
Setelah ujian
dilaksanakan. Dan malampun tiba, Damar SMS Oktia.
“Okti, aku besok
pinjam fotocopyan mekanika yang kamu pakai buat presentasi ya? Mau tak copy.”
isi SMS Damar.
Hari telah berganti.
Oktia sudah sampai di kampus. Ia
menunggu kelas yang akan dipakai untuk kuliah dikosongkan kelas lain di beranda
gedung kuliah. Ia melihat Dayat datang berjalan melewatinya. Wajahnya tampak
lesu.
Kuliah akan segera
dimulai. Oktia sudah di kelas duduk di barisan nomor dua di samping kiri Risma
di belakang Damar.
“Mar, ini
fotocopy-an yang kamu pesen kemarin.”
“Oh, iya. Makasih ya
sudah di bawain.”
“Kok Damar pinjem
fotocopy-anmu buat apa Ti?” tanya Risma.
“Nggak tahu.” jawab
Oktia. “Paling dia lagi modus. Kemarin kan sudah ngopy PPT yang isinya sama
dengan fotocopy-an itu. Ngapain ngopy lagi?” batin Oktia. Kuliah sudah usai.
Dayat yang duduk di belakang sedang curhat dengan Rina.
“Kamu itu kalau lagi
nggak mood auranya jelek Yat.” kata Rina pada Dayat.
“Itu anak kenapa lagi sih? Dari tadi
bad mood. Bikin bad mood aja.” batin Oktia.
__ADS_1