Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 21


__ADS_3

Kenangan


Terindah


            Dini hari, sekitar sepertiga malam


terakhir. Laptop Oktia dalam keadaan sleep dengan modem yang masih menancap di colokan USB-nya. Oktia memutuskan untuk


mematikan laptopnya berhubung takkan digunakannya lagi dalam beberapa waktu


yang lama. Sebelumnya, Oktia membuka facebook.


Melihat ada berita apa saja di waktu pagi. Status Damar ternyata nangkring di home facebook Oktia. Status Damar “keren ^^” dengan link dari Youtube dibawahnya. Dalam link


tersebut, tertulis sebuah lagu Kenangan Terindah yang dinyanyikan oleh Aorea.


            Penasaran. Itulah


yang Oktia rasakan. Terlebih Damar pernah membuat status dengan link lagu Aku


Ini Milik Siapa yang mungkin menggambarkan isi hatinya beberapa waktu yang


lalu. Mengunduh lagu yang dimaksud Damar setidaknya dapat mengurangi rasa


penasaran Oktia. Setelah proses pengunduhan selesai, Oktia mendengarkan lagu


itu.


Aku kan lemah tanpamu


Aku kan rentan andaikan


Kasihmu telah hilang darimu


Yang mampu menyanjungku


Selama mata terbuka


Sampai jantung tak berdetak


Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu


Darimu kutemukan hidupku


Bagiku engkaulah kasih sejati


(dirimu....bagiku engkaulah kasih sejati)


Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu


Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu


Yang telah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah


 


Keesokan


paginya, sebelum kuliah di mulai. Damar mengatakan sesuatu pada Anti “Anti,


pernah denger lagunya Aorea yang Kenangan Terindah belum? Lagunya bagus lho.”


 


Kuliah pengganti Teori Relativitas Khusus


diadakan di hari Selasa. Kuliah akan diadakan di gedung baru lebih tepatnya di


lantai dua. Rencana tinggallah rencana. Pada akhirnya, kuliah diadakan di


gedung lama di kelas paling pojok fakultas. Baru beberapa orang yang sudah tiba


di kelas. Oktia yang sudah masuk ke kelas memilih duduk di barisan nomor dua.


Damar, awalnya duduk di barisan pertama dan memang biasanya ia duduk di barisan


paling depan. Tampaknya ia ragu untuk duduk di barisan pertama. Ia pindah ke


barisan nomor dua di samping kiri Oktia.


            “Damar, kamu pindah


sini biar deket Oktia ya?” tanya Pita penasaran yang kebetulan duduk di barisan


nomor tiga tepat di belakang Damar.


            “Kok Pita bisa


bilang gitu sih? Jangan-jangan Pita itu sebenarnya juga sudah tahu tentang hal


itu. Atau mungkin sudah dikasih tahu Dayat?” batin Oktia bertanya-tanya setelah


mendengar ucapan Pita yang terlontar pada Damar.


            Dayat tiba di kelas.


Seperti biasa, waktu itu, semenjak Oktia tahu perasaan Dayat padanya. Oktia


merasa jika ia duduk berdekatan dengan Damar, Dayat pasti duduk di dekat Damar.


            Hari di mana ada


Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah Listrik Magnet akan tiba. Sepulang


kuliah, Oktia berjalan melewati lorong kampus. Ia akan ke perpustakaan. Dayat


berjalan di belakang Oktia. Setelah melewati anak tangga menuju lantai pertama.


            “Okti, mau ke


perpus?” tanya Dayat.


            “Iya, aku mau


langsung ke perpus.”


            “Aku ambil motor


dulu ya. Ntar terus ke perpus.”


            Oktia ke


perpustakaan bersama Risma dan Zizah. Beberapa waktu setelah Oktia sampai di


perpustakaan. HP Oktia berbunyi. Ada SMS dari Dayat.


            “Okti, aku masih


agak lama. Aku ke Masmuja dulu.”


            Risma pulang duluan.


Oktia tinggal berdua bersama Zizah. Beberapa waktu kemudian, Dayat datang.


Mereka bertiga kemudian belajar bersama di perpustakaan lesehan meskipun ada

__ADS_1


meja dan kursi yang nganggur.


            “Entar malem lanjut


belajar bareng di foodcourt yuk. Habis Isya.” ajak Dayat.


            “Iya Ti, entar malem


lanjut belajar bareng ya?” tambah Zizah.


“Aku sih bisa-bisa aja. Asalkan nggak hujan.”


jawab Oktia sambil melihat langit dari jendela perpustakaan yang memang saat


itu mendung abu-abu sedang bergelayutan di langit Jogja.


Waktu menunjukkan pukul 16.00. Zizah yang ada


keperluan rapat berpamitan pada Oktia dan Dayat.


“Aku duluan ya? Ti, entar malem ke foodcourt


ya?” kata Zizah.


“Iya. Insya Allah.” kata Oktia.


Oktia dan Dayat tinggal berdua belajar di


perpustakaan. Dayat dan Oktia berdiskusi materi yang akan digunakan ujian.


“Yang ini mengarah ke sumbu X.” kata Dayat


sambil menunjukkan sumbu Y. Padahal, yang ia katakan adalah sumbu X.


“Yang sumbu X itu yang ini.” kata Oktia sambil


menunjukkan letak sumbu X.


“Eh, iya ding.” kata Dayat. Sepertinya pikiran


Dayat kacau entah di mana semenjak Zizah pergi. “Lanjut entar malem aja yuh!”


ajak Dayat.


“Ayo!” kata Oktia.


Mentari mulai mendekat ke ufuk barat dan


akhirnya tenggelam di sana yang mana sedari pagi berada jauh dari ufuk barat.


Mendung abu-abu yang sedari sore sudah menggantung pada akhirnya meneteskan


airnya ke bumi. Menumpahkan segala keabu-abuannya yang sudah lama ia


gantungkan. Puas sudah. Lega sudah. Mendung abu-abu itu menumpahkan segala


isinya membasahi dan menyejukkan bumi yang sudah lama ia warnai langit dengan


abu-abunya. Kini, langit itu berwarna gelap cerah tanpa mendung abu-abu.


Sejuknya udara mulai terasa setelah hujan reda.


Azan Isya berkumandang. Setelah sholat Isya,


Oktia SMS Zizah apakah jadi belajar bersama atau tidak. Ia tidak ingin


malam-malam belajar di tempat yang sepi hanya berdua dengan Dayat.


“Zah, belajar barengnya jadi nggak?”


“Kalau udah sampai foodcourt SMS aku ya?”


Waktu menunjukkan pukul 20.00. Oktia mulai ragu


ia akan ikut belajar bersama atau tidak. Mengingat hari sudah larut malam.


Oktia sudah lelah menunggu. Ia memutuskan untuk tidak ikut belajar bersama. Ia


merebahkan tubuhnya meredam amarah. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.


Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Ada SMS masuk.


“Ayo Ti!” isi SMS Zizah.


Oktia segera bangkit. Ada semangat baru. Oktia


yang yang tadinya memutuskan untuk tidak ikut belajar bersama akhirnya


mempersiapkan diri untuk ke foodcourt. Ia berjalan menembus gelapnya malam


melewati tengah kampus menuju foodcourt. Sesampainya di sana hanya ada beberapa


orang yang tidak ia kenal.


“Aku udah sampai.” isi SMS Oktia pada Zizah.


“Aku lagi OTW.” balas Zizah. Waktu terus


berjalan. Zizah yang ditunggu tak kunjung datang padahal jam hampir menunjukkan


pukul 9.00.


            “Kalau beberapa


menit lagi nggak ada yang dateng. Mending aku pulang.” batin Oktia menahan


kekesalan. Ia duduk di salah satu kursi di foodcourt sambil menunggu Zizah


ataupun Dayat datang. Beberapa menit kemudian, seseorang berjaket biru


bercelana hitam datang mendekati Oktia.


            “Sudah lama?” tanya


Dayat.


            “Nggak. Baru aja


kok.” jawab Oktia dengan nada kesal.


            “Pindah sana aja


yuh!” ajak Dayat sambil menunjuk meja besar di pusat pendopo foodcourt. Tidak


ada pilihan lain selain Oktia mengikuti saran Dayat. Beberapa menit kemudian,


Zizah datang bersama Septi. Setelah lelah belajar, mereka ngobrol hal-hal yang


ringan.


            “Oh, jadi itu ‘C’


mu?” tanya Zizah pada Dayat.


            “Iya, yang baju,


rok, sama kerudungnya baru.” kata Dayat. Oktia yang mengerti maksud pembicaraan

__ADS_1


mereka melilih untuk diam.


            “Sayang, ini gimana


caranya?” tanya Zizah pada Dayat.


            “Wah, dipanggil


sayang. Aku jadi deg-degan. Sudah dua tahun nggak dipanggil sayang.” kata


Dayat.


            “Sudah dua tahun


nggak dipanggil sayang? Oh, iya ding. Dayat putus sama Mayang mungkin sudah dua


tahunan.” batin Oktia.


            “Udah mulai ngantuk


nih. Nyetel MP3 ya.” kata Dayat. Kemudian, ia memutar MP3 dari HP-nya. Lagu


yang ia putar berjudul ‘Sayang’. Lagu dari HP-nya masih terputar. Lagu yang


berjudul ‘Sayang’ sudah berganti. Dayat ikut bernyanyi.


            “Cintai aku dengan hatimu, seperti aku


mencintaimu. Sayangi aku dengan kasihmu, seperti aku menyayangimu.” nyanyi


Dayat.


            “Lagunya beda sama


yang di HP Yat.” kata Septi.


            Waktu sudah


menunjukkan pukul 23.00.


            “Okti, kamu tadi ke


sini naik motor atau jalan kaki?” tanya Zizah.


            “Jalan kaki.” jawab


Oktia. Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya diputuskan Oktia pulang


diantar Dayat. Zizah berboncengan dengan Septi. Oktia diboncengkan Dayat.


Mereka pulang bersama.


            “Itu Okti bukan ya?”


tanya Zizah dalam perjalanan pulang.


            “Emang aku kenapa


sih? Kok Zizah nggak percaya kalau itu aku?” batin Oktia.


            Dayat mengantar


Oktia sampai di depan kost-nya.


            Hari telah berganti,


detik-detik ujian hampir dimulai. Oktia tiba di kampus. Ia melihat Damar


menunggu pintu kelas dibuka di teras depan kelas. Belum sampai Oktia di depan


kelas, Damar sudah menyapanya.


            “Okti, kamu udah


tahu rumus yang digunakan buat ngerjain nomor satu?” tanya Damar.


            “Aku belum nemu Mar.


Kamu Udah?”


            “Udah. Ini lho


rumusnya.”


            Setelah ujian


dilaksanakan. Dan malampun tiba, Damar SMS Oktia.


            “Okti, aku besok


pinjam fotocopyan mekanika yang kamu pakai buat presentasi ya? Mau tak copy.”


isi SMS Damar.


            Hari telah berganti.


Oktia sudah sampai  di kampus. Ia


menunggu kelas yang akan dipakai untuk kuliah dikosongkan kelas lain di beranda


gedung kuliah. Ia melihat Dayat datang berjalan melewatinya. Wajahnya tampak


lesu.


            Kuliah akan segera


dimulai. Oktia sudah di kelas duduk di barisan nomor dua di samping kiri Risma


di belakang Damar.


            “Mar, ini


fotocopy-an yang kamu pesen kemarin.”


            “Oh, iya. Makasih ya


sudah di bawain.”


            “Kok Damar pinjem


fotocopy-anmu buat apa Ti?” tanya Risma.


            “Nggak tahu.” jawab


Oktia. “Paling dia lagi modus. Kemarin kan sudah ngopy PPT yang isinya sama


dengan fotocopy-an itu. Ngapain ngopy lagi?” batin Oktia. Kuliah sudah usai.


Dayat yang duduk di belakang sedang curhat dengan Rina.


            “Kamu itu kalau lagi


nggak mood auranya jelek Yat.” kata Rina pada Dayat.


            “Itu anak kenapa lagi sih? Dari tadi


bad mood. Bikin bad mood aja.” batin Oktia.

__ADS_1


__ADS_2