Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 23


__ADS_3

Jambu Alas


Kuliah jam


pertama dimulai. Dayat duduk di barisan nomor tiga. Tampaknya Risma melihat


kalau Dayat sedang mengenakan kemeja biru muda. Sedangkan Oktia mengenakan


jilbab dan rok biru doker. Risma mengetikkan sesuatu di HP-nya lalu


memberikannya pada Oktia.


“Kalian itu sehati lho. Bajunya couple-an”


Kuliah jam kedua segera dimulai. Risma yang


ingin membuktikan curhatan Oktia Jumat kemarin mulai beraksi melancarkan


skenarionya. Dia memilih duduk di barisan paling depan, sambil meminta Damar


untuk duduk di sebelahnya dengan alasan agar ada temannya. Oktia menaruh tas di


atas kursi sebelah tempat duduk Risma.


“Ti, kamu sini aja deh.” Kata Risma sambil


memindahkan tas Oktia di kursi sebelah Damar duduk.


“Oke deh!” kata Oktia.


Oktia duduk di sebelah kanan Damar, Risma duduk


di sebelah kanan Oktia. Jadi, Oktia duduk di antara mereka. Mereka bertiga


ngobrol dan bercanda nggak jelas sembari menunggu dosen datang. Tiba-tiba Dayat


datang. Mungkin dia agak syok melihat Oktia duduk di sebelah Damar.


“Aku duduk sini dong! Masih kosong kan?” kata


Dayat agak berontak, pada Widi yang mungkin telah mempersiapkan tempat duduk


untuk Dayat supaya Dayat bisa duduk di belakang Oktia.


“Kamu kok polos banget sih Fen!” celetuk Dayat


yang entah sebenarnya ditujukan pada siapa.


            Mereka bertiga


Oktia, Risma, Damar bercandaan. Saking asyiknya sampai Damar tertawa


terbahak-bahak. Di tengah tawa yang masih terbahak-bahak, Hadi yang duduk tepat


di belakang Oktia menyetop tawa Damar.


“Mar, inget Mar, inget!” kata Hadi menegur


Damar.


“Iya! Iya!” jawab Damar kesal.


Oktia memilih diam daripada ikut memperkeruh


keadaan. Oktia pun tahu maksud Hadi. Hadi mengingatkan Damar supaya tidak


bercanda dengan Oktia hingga membuat Dayat cemburu.


“Mar, kok panas banget ya! Kamu nggak mandi


seminggu ya?” sindir Dayat.


“Iya, hari ini panas banget.” sahut Damar polos,


yang mungkin sebenarnya dia merasa disindir.


            Waktu perkuliahan


tinggal satu jam. Dosen memberikan tugas untuk dikumpulkan. Akhirnya sang dosen

__ADS_1


meminta pada salah satu mahasiswa kalau tugasnya sudah selesai supaya


dikumpulkan ke loker. Dosenpun meninggalkan ruang kelas.


“Boring banget nih. Muter lagu dong! Lagu di HP kamu aja deh Wid.” basa-basi Dayat.


Mungkin Widi tahu maksud Dayat.


“Lagunya Didi Kempot aja.” celoteh Dayat.


“Ha! Lagunya Didi Kempot? Yang bener aja.” batin


Oktia.


“Jambu Alas. Jambu


alas kulite ijo, sing digagas uwis duwe bojo, ada gula ada semut, durung randa


aja direbut.” nyanyi Dayat.


            Oktia yang sedang


fokus pada tugas yang diberikan dosen tidak terlalu memperdulikan polah Dayat,


tapi tetap merekam semua kejadian yang terjadi untuk dianalisis. Damar yang


awalnya duduk dekat dengan Oktia, mulai menjaga jarak. Berjaga-jaga agar tidak


disemprot Dayat dan Hadi lagi. Biasanya bila Damar meminjam sesuatu dia akan


mengembalikannya baik-baik. Lha ini beda, dia mengembalikan kertas tugas yang


dia pinjam pada Oktia dengan agak kasar. Oktia menyadari hal itu.


            Berhubung tugas


Oktia sudah selesai. Oktia meninggalkan ruang kelas dengan Risma. Oktia dan


Risma memilih jalan yang tidak dilewati teman-teman. Agar Oktia bisa curhat


dengan leluasa. Hampir sampai ke ruang kelas perkuliahan ke tiga. Kali ini,


teman-teman belum curiga dengan polah Oktia yang berbeda. Biasanya Oktia menuju


cuma dengan Risma, lewat jalan yang lain dari pada biasanya pula.


            Perkuliahan ketiga


di mulai. Dayat masuk kelas agak belakangan. Sesampainya di kelas, dia nylonong duduk di barisan nomor tiga di


belakang Oktia. Sedang Oktia, duduk di barisan pertama.


“Aku duduk di sini dong! Masih kosong kan?”


tanya Dayat pada teman sekelas.


            Sewaktu kuliah,


Oktia merasa diawasi. Entah siapa. Hatinya bergetar merasakan sesuatu yang


aneh. Oktia menengok belakang, memastikan posisi Dayat ada di mana. Mendengar


suaranya saja Oktia merasa sepertinya Dayat di belakang Oktia.


“Sebenarnya, waktu aku bilang ‘cie...’ aku tuh


cemburu.” kata Dayat pada Tiwi. Mungkin sewaktu kuliah berlangsung, dia curhat


tentang perasaannya yang hingga kini ia pendam dan belum terungkapkan.


            Ketika Oktia


memperhatikan dosenpun, Wulan yang kebetulan berada di sebelah kanannya


mendendangkan lagu, yang menurutnya selalu pas tentang masalah Oktia dengan


Dayat.


Cobalah kau mengerti

__ADS_1


Cobalah kau mengerti


Bahwa aku ini


Telah mengetahui


Telah mengetahui


Dia ingin memilikimu


“Lagu yang


dinyanyiin Wulan kok seringnya pas buat masalahku sama Dayat sih? Apa Dayat


curhat ke Wulan kali ya?” batin Oktia.


Perkuliahan hari ini telah usai. Seperti biasa,


saat makan siang di kantin, bila Oktia hanya berdua dengan Risma pasti Oktia


akan curhat tentang masalahnya dengan Dayat.


            “Ti, tadi itu, Dayat


ngeliatin kamu terus, dan tatapannya tajam. Memang posisinya seperti ngelihatin


papan tulis. Tapi, sebenere ngelihatin kamu.” ungkap Risma.


            “ Iya Ris. Tadi aku


juga ngrasain hal yang aneh. Mungkin karena Dayat ngeliatin aku terus.” keluh


Oktia.


            “Ris, tadi itu lho


lagu yang dinyanyiin Dayat. Jambu Alas. Apa maksudnya coba? Akukan bukan


pacarnya. Masak nyindir Damar kayak gitu. Aku orang pertama yang nggak terima


Damar disindir kayak gitu. Lagian aku juga belum jadi bojone.” curhat Oktia.


            “Belum juga jadi


pacarnya dia udah over protektif.


Apalagi kalau udah jadi pacarnya. Tadi Nudi, Bowo, dan Nug juga ngawasin lho.”


kata Risma.


            Siangnya Oktia dan


Risma ke perpustakaan. Tiba-tiba Dayat SMS bahwa dia mau ke perpustakaan.


Biasanya dia datang pukul 14.00. Akhirnya dia datang juga.


“Masih panas Yat?”


sindir Oktia, yang kebetulan siang itu suhu udara memang sangat panas. Namun,


sebenarnya Oktia ingin menanyakan apakah masih ‘panas’ dengan kejadian sewaktu


kuliah jam kedua.


“Nggak kok udah adem.”


jawabnya yang kebetulan duduk di samping Oktia.


Kebetulan


siang itu Dayat membawa buku diktat kuliah. Berhubung lusa ada kuis, Oktia


menanyakan materi yang belum Oktia mengerti pada Dayat. Entah ada angin, petir


atau badai, materi yang mungkin bagi Dayat yang ber-IQ tinggi itu mudah namun


kali ini dia menerangkan materi dengan gugup. Pikirannya entah ke mana, dia


sedang tidak fokus. Akhirnya dia hanya menerjemahkan tulisan yang ada di diktat

__ADS_1


itu, tanpa mengena apa isinya. Namun, Dayat akhirnya bisa menguasai keadaan.


Dia tak lagi grogi.


__ADS_2