
Jambu Alas
Kuliah jam
pertama dimulai. Dayat duduk di barisan nomor tiga. Tampaknya Risma melihat
kalau Dayat sedang mengenakan kemeja biru muda. Sedangkan Oktia mengenakan
jilbab dan rok biru doker. Risma mengetikkan sesuatu di HP-nya lalu
memberikannya pada Oktia.
“Kalian itu sehati lho. Bajunya couple-an”
Kuliah jam kedua segera dimulai. Risma yang
ingin membuktikan curhatan Oktia Jumat kemarin mulai beraksi melancarkan
skenarionya. Dia memilih duduk di barisan paling depan, sambil meminta Damar
untuk duduk di sebelahnya dengan alasan agar ada temannya. Oktia menaruh tas di
atas kursi sebelah tempat duduk Risma.
“Ti, kamu sini aja deh.” Kata Risma sambil
memindahkan tas Oktia di kursi sebelah Damar duduk.
“Oke deh!” kata Oktia.
Oktia duduk di sebelah kanan Damar, Risma duduk
di sebelah kanan Oktia. Jadi, Oktia duduk di antara mereka. Mereka bertiga
ngobrol dan bercanda nggak jelas sembari menunggu dosen datang. Tiba-tiba Dayat
datang. Mungkin dia agak syok melihat Oktia duduk di sebelah Damar.
“Aku duduk sini dong! Masih kosong kan?” kata
Dayat agak berontak, pada Widi yang mungkin telah mempersiapkan tempat duduk
untuk Dayat supaya Dayat bisa duduk di belakang Oktia.
“Kamu kok polos banget sih Fen!” celetuk Dayat
yang entah sebenarnya ditujukan pada siapa.
Mereka bertiga
Oktia, Risma, Damar bercandaan. Saking asyiknya sampai Damar tertawa
terbahak-bahak. Di tengah tawa yang masih terbahak-bahak, Hadi yang duduk tepat
di belakang Oktia menyetop tawa Damar.
“Mar, inget Mar, inget!” kata Hadi menegur
Damar.
“Iya! Iya!” jawab Damar kesal.
Oktia memilih diam daripada ikut memperkeruh
keadaan. Oktia pun tahu maksud Hadi. Hadi mengingatkan Damar supaya tidak
bercanda dengan Oktia hingga membuat Dayat cemburu.
“Mar, kok panas banget ya! Kamu nggak mandi
seminggu ya?” sindir Dayat.
“Iya, hari ini panas banget.” sahut Damar polos,
yang mungkin sebenarnya dia merasa disindir.
Waktu perkuliahan
tinggal satu jam. Dosen memberikan tugas untuk dikumpulkan. Akhirnya sang dosen
__ADS_1
meminta pada salah satu mahasiswa kalau tugasnya sudah selesai supaya
dikumpulkan ke loker. Dosenpun meninggalkan ruang kelas.
“Boring banget nih. Muter lagu dong! Lagu di HP kamu aja deh Wid.” basa-basi Dayat.
Mungkin Widi tahu maksud Dayat.
“Lagunya Didi Kempot aja.” celoteh Dayat.
“Ha! Lagunya Didi Kempot? Yang bener aja.” batin
Oktia.
“Jambu Alas. Jambu
alas kulite ijo, sing digagas uwis duwe bojo, ada gula ada semut, durung randa
aja direbut.” nyanyi Dayat.
Oktia yang sedang
fokus pada tugas yang diberikan dosen tidak terlalu memperdulikan polah Dayat,
tapi tetap merekam semua kejadian yang terjadi untuk dianalisis. Damar yang
awalnya duduk dekat dengan Oktia, mulai menjaga jarak. Berjaga-jaga agar tidak
disemprot Dayat dan Hadi lagi. Biasanya bila Damar meminjam sesuatu dia akan
mengembalikannya baik-baik. Lha ini beda, dia mengembalikan kertas tugas yang
dia pinjam pada Oktia dengan agak kasar. Oktia menyadari hal itu.
Berhubung tugas
Oktia sudah selesai. Oktia meninggalkan ruang kelas dengan Risma. Oktia dan
Risma memilih jalan yang tidak dilewati teman-teman. Agar Oktia bisa curhat
dengan leluasa. Hampir sampai ke ruang kelas perkuliahan ke tiga. Kali ini,
teman-teman belum curiga dengan polah Oktia yang berbeda. Biasanya Oktia menuju
cuma dengan Risma, lewat jalan yang lain dari pada biasanya pula.
Perkuliahan ketiga
di mulai. Dayat masuk kelas agak belakangan. Sesampainya di kelas, dia nylonong duduk di barisan nomor tiga di
belakang Oktia. Sedang Oktia, duduk di barisan pertama.
“Aku duduk di sini dong! Masih kosong kan?”
tanya Dayat pada teman sekelas.
Sewaktu kuliah,
Oktia merasa diawasi. Entah siapa. Hatinya bergetar merasakan sesuatu yang
aneh. Oktia menengok belakang, memastikan posisi Dayat ada di mana. Mendengar
suaranya saja Oktia merasa sepertinya Dayat di belakang Oktia.
“Sebenarnya, waktu aku bilang ‘cie...’ aku tuh
cemburu.” kata Dayat pada Tiwi. Mungkin sewaktu kuliah berlangsung, dia curhat
tentang perasaannya yang hingga kini ia pendam dan belum terungkapkan.
Ketika Oktia
memperhatikan dosenpun, Wulan yang kebetulan berada di sebelah kanannya
mendendangkan lagu, yang menurutnya selalu pas tentang masalah Oktia dengan
Dayat.
Cobalah kau mengerti
__ADS_1
Cobalah kau mengerti
Bahwa aku ini
Telah mengetahui
Telah mengetahui
Dia ingin memilikimu
“Lagu yang
dinyanyiin Wulan kok seringnya pas buat masalahku sama Dayat sih? Apa Dayat
curhat ke Wulan kali ya?” batin Oktia.
Perkuliahan hari ini telah usai. Seperti biasa,
saat makan siang di kantin, bila Oktia hanya berdua dengan Risma pasti Oktia
akan curhat tentang masalahnya dengan Dayat.
“Ti, tadi itu, Dayat
ngeliatin kamu terus, dan tatapannya tajam. Memang posisinya seperti ngelihatin
papan tulis. Tapi, sebenere ngelihatin kamu.” ungkap Risma.
“ Iya Ris. Tadi aku
juga ngrasain hal yang aneh. Mungkin karena Dayat ngeliatin aku terus.” keluh
Oktia.
“Ris, tadi itu lho
lagu yang dinyanyiin Dayat. Jambu Alas. Apa maksudnya coba? Akukan bukan
pacarnya. Masak nyindir Damar kayak gitu. Aku orang pertama yang nggak terima
Damar disindir kayak gitu. Lagian aku juga belum jadi bojone.” curhat Oktia.
“Belum juga jadi
pacarnya dia udah over protektif.
Apalagi kalau udah jadi pacarnya. Tadi Nudi, Bowo, dan Nug juga ngawasin lho.”
kata Risma.
Siangnya Oktia dan
Risma ke perpustakaan. Tiba-tiba Dayat SMS bahwa dia mau ke perpustakaan.
Biasanya dia datang pukul 14.00. Akhirnya dia datang juga.
“Masih panas Yat?”
sindir Oktia, yang kebetulan siang itu suhu udara memang sangat panas. Namun,
sebenarnya Oktia ingin menanyakan apakah masih ‘panas’ dengan kejadian sewaktu
kuliah jam kedua.
“Nggak kok udah adem.”
jawabnya yang kebetulan duduk di samping Oktia.
Kebetulan
siang itu Dayat membawa buku diktat kuliah. Berhubung lusa ada kuis, Oktia
menanyakan materi yang belum Oktia mengerti pada Dayat. Entah ada angin, petir
atau badai, materi yang mungkin bagi Dayat yang ber-IQ tinggi itu mudah namun
kali ini dia menerangkan materi dengan gugup. Pikirannya entah ke mana, dia
sedang tidak fokus. Akhirnya dia hanya menerjemahkan tulisan yang ada di diktat
__ADS_1
itu, tanpa mengena apa isinya. Namun, Dayat akhirnya bisa menguasai keadaan.
Dia tak lagi grogi.