
Dilema Besar
Hari
terakhir ujian. Oktia berangkat dari kampung halamannya. Setibanya di kampus,
lebih tepatnya di laboratorium elektronika dan instrumentasi lantai tiga baru
ada beberapa teman yang datang. Sembari menunggu waktu untuk unjuk kebolehan
dalam merangkai IC, Oktia memilih untuk belajar di depan lab. Di sebelah kiri
Oktia ada Risma yang sedang menghafal urutan warna resistor.
“Hi co me o ning jo
ru ngu bu te.” Risma menghafal. Radar Oktia menguat setelah mendengar kata ‘bu’
dari mulut Risma. Ia menengok ke arah Risma.
“Apa Ris? Bu te?”
“Iya, bu te.”
“A b u – a b u , putih?”
“Iya.” Beberapa waktu kemudian, Oktia merasa
ingin ke belakang.
“Aku nitip tas ya. Aku mau ke belakang
sebentar.”
Oktia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Sebelum tiba di kamar mandi Oktia mendengar derap langkah mengikutinya.
Bruk..brukk..brukk..
“Hahaha...Kalau resistor itu hitam, warna lain,
abu-abu terus putih. La kamu hitam, abu-abu, abu-abu, abu-abu. Abu-abu terus
nggak putih-putih.” kata Risma pada Oktia di depan cermin kamar mandi.
“Hahaha....Iya ya. Tapi aku udah nganggep semua
ini sudah selesai kok.”
“Iya kamu nganggep semua ini sudah selesai. Tapi
dianya nggak tahu.”
“Udah ya aku balik duluan. Udah selesai ngaca
dan ketawanya.”
Setibanya Oktia di depan lab, Oktia mendengar
sebuah lagu yang sumber suaranya dari HP Dayat. “Lagunya udah ganti.” terang
Dayat. Oktia tidak tahu lirik lagu tersebut. Ia hanya tahu irama musiknya.
Oktia mencoba menghafal irama musiknya dan setelah ujian akan dicarinya lagu
yang diputar Dayat di laptopnya. Oktia berfirasat bahwa itu adalah ungkapan isi
hati Dayat tentang masalah perasaannya dengan orang yang disukainya. Dan memang
biasanya Dayat mengungkapkan isi hatinya lewat MP3 yang diputarnya. Tiba
saatnya Dayat dan kawan-kawan satu kelompoknya untuk unjuk kebolehan. Setelah
Dayat masuk, ada Rina, Kinan, Gigin, dan Damar yang sedang berdiskusi membahas
soal yang diujikan. Oktia memilih nimbrung dengan mereka berharap punya gambaran soal yang akan diujikan. Oktia berdiskusi
dengan Damar di depan pintu laboratorium. Oktia melirik pintu lab yang sedikit
terbuka. Ia melihat Dayat sedang mengambil sesuatu dari tasnya. Udara cukup
panas. Kemudian, Oktia duduk di dekat pintu lab yang sedikit terbuka karena di
dekat pintu lab berhembus hawa dingin AC. Oktia dan Damar masih melanjutkan
diskusi mereka tentang ujian yang akan diujikan. Damar duduk tepat di depan
pintu lab yang sudah dirapatkannya. Oktia duduk di sebelah kiri Damar.Setelah
kelompok Dayat keluar, tiba saatnya kelompok Damar untuk unjuk kebolehan. Oktia
masih menunggu gilirannya. Dalam penantian itu, Oktia duduk bersama Ana, Okti,
Wati, Pita, dan Dayat. Dayat berbincang dengan Pita.
“Waktu nulis kelebihan dan kekurangan. Tita
nulis kalau aku tuh putih. Tapi bagiku putih itu bukan kelebihan tapi
__ADS_1
kekurangan. Jadinya aku tuh takut nembak Tita. Takutnya kalau aku tuh lebih
putih dari dia. Terus dianya entar nggak mau.”
“Bukannya Tita itu juga putih ya?”
“Waktu itu aku lagi pucet. Jadi aku lebih putih
dari dia.”
“Tuh orang, rasanya pengen tak kasih sepatu.
Biar diem nggak nyindir lagi.” batin Oktia yang sedang tersindir sambil melihat
sepatunya. Oktia kemudian diam mengarahkan tatapan matanya pada diktat yang
sedang ia bawa.
“Itu tuh yang pakai putih-putih.” kata Dayat
lagi, yang waktu itu Oktia sedang mengenakan baju dan jilbab warna putih.
Oktia memejamkan matanya, kepalanya yang sedang
dilanda sindiran disangga dengan tangan. “Sabar Oktia, sabar. Terima saja kalau
kamu diperlakukan seperti itu. Astaghfirullah, astagfirullah.” batin Oktia
sambil menenangkan hatinya.
“Okti, Okti, kamu ngantuk atau ngafalin?”
panggil Okti pada Oktia. Sebelah Okti ada Dayat. Mata Oktia terbuka setelah
terpejam menenangkan hatinya. Oktia menoleh ke sumber suara. Namun yang ia
lihat hanya tatapan mata Dayat yang melihatnya. Bukan pada sumber suara yaitu
Okti.
“Hmm? Aku ngafalin kok.” kata Oktia.
“Kayaknya udah selesai lho. Aku pulang aja lah.”
kata Dayat sambil menengok jendela laboratorium untuk memastikan apakah
kelompok Damar sudah selesai apa belum.
“Kamu nanti langsung nggak Yat?” tanya Nudi yang
juga masih di depan laboratorium meskipun ia masuk ke dalam kelompok pertama
“Aku nanti mampir warung dulu.” sahut Dayat
tetap dengan langkahnya untuk meninggalkan laboratorium.
Beberapa waktu kemudian, kelompok Damar keluar.
Dalam kelompok Damar ada Nug dan Widi. Setelah Nug keluar, Nudi berdiri
kemudian mereka, Nug dan Nudi pulang bersama. Damar keluar, ia menghampiri
Oktia.
“Kamu tadi dapat yang apa?” tanya Damar.
“Dapat apanya Mar? Aku belum ujian.”
“Loh?? Yang di sampingku tadi siapa?”
“Ya..aku nggak tahu dong.”
“Oh..yang di sampingku tadi Widi. Maaf tak kira
yang di sebelahku tadi kamu. Mirip sih.”
“Ha? Mirip? Aku dan Widi beda Mar.”
“Iya. Maaf.”
Dosen yang menguji mengisyaratkan kelompok Oktia
untuk masuk ke ruang unjuk kebolehan. Dua puluh menit dihabiskan untuk
menunjukkan kemampuan setelah satu semester mempelajari IC. Alarm dosen
berbunyi menandakan waktu ujian telah usai dan mahasiswa yang diuji untuk
keluar laboratorium. Oktia mengemasi barang-barangnya. Mahasiswa kelompok Oktia
keluar pintu lab berurutan. Oktia di belakang Hadi. Ternyata di luar masih ada
Damar yang menunggu Hadi.
“Ayo!” kata Damar mengajak Hadi untuk pulang
bersama. Karena Oktia, Damar, Ana, Okti, Wati, dan Hadi menuju parkiran bersama
merekapun membicarakan sesuatu.
__ADS_1
“Wati, kamu menang lomba ya? Selamat ya.” kata
Damar memberi ucapan selamat pada Wati. Wati berjalan sudah cukup jauh.
“Memangnya Wati menang lomba apa Mar?” tanya
Oktia.
“Lomba makan kerupuk.” canda Damar.
“Kamu sudah makan belum Ti?” canda Damar lagi
yang sebenarnya ingin bercanda pada Wati yang sudah menang lomba.
“Kamu mau ngajak aku makam Mar?” canda Oktia
menanggapi candaan Damar.
Sesampainya di parkiran Oktia dan Damar masih
melanjutkan pembicaraan mereka yang kebetulan motor Oktia terparkir di belakang
motor Damar.
“Liburannya lama ya Mar, dua bulan.”
“Aku ngitung ada tujuh putuh tujuh hari kita
libur dihitung dari hari Selasa.”
“Wah, lama juga ya?”
“Enak liburan kemarin lho. Beberapa hari sehabis
lebaran langsung masuk.”
Setelah motor Oktia keluar dari tempat parkir
dan hendak menuju ke jalan.
“Aku duluan ya Mar. Assalamualaykum.”
“Waalaykumus salam.”
Matahari mulai bergerak ke arah barat. Oktia
sudah sampai di rumah. Ia membuka laptopnya. Mencari lagu yang diputar Dayat
tadi. Butuh waktu yang lama untuk menemukan lagu tersebut. Karena, Oktia belum
pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Dan hap. Ketemu.
“Oh, lagu yang diputar Dayat tadi judulnya
Dilema Besar.” Kemudian Oktia mendengarkan lagu itu dengan seksama.
Mulai terasa lelah aku bertahan
Terlalu lama kau terdiam
Terlalu lama kau meredam cinta
Berapa besar yang ku dapatkan
Tak selamanya ku mengalah
Tak selamanya ku diam
Bawa ku pergi dari ini
Di tempat kau berpaling
Dan bila ku pergi dari ini
Akankah kau kembali
Harus berapa lama terus berjalan
Dalam hati tak teryakinkan
Segalanya kan berubah
Bawa ku pergi dari ini
Di tempat kau berpaling
Dan bila ku pergi dari ini
Akankah kau kembali
Ku dapat menahan hilang
Tapi tak mengerti
Bawa ku pergi dari ini
Di tempat kau berpaling
Akankah kau kembali
__ADS_1