Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 36


__ADS_3

Dilema Besar


            Hari


terakhir ujian. Oktia berangkat dari kampung halamannya. Setibanya di kampus,


lebih tepatnya di laboratorium elektronika dan instrumentasi lantai tiga baru


ada beberapa teman yang datang. Sembari menunggu waktu untuk unjuk kebolehan


dalam merangkai IC, Oktia memilih untuk belajar di depan lab. Di sebelah kiri


Oktia ada Risma yang sedang menghafal urutan warna resistor.


            “Hi co me o ning jo


ru ngu bu te.” Risma menghafal. Radar Oktia menguat setelah mendengar kata ‘bu’


dari mulut Risma. Ia menengok ke arah Risma.


            “Apa Ris? Bu te?”


“Iya, bu te.”


“A b u – a b u , putih?”


“Iya.” Beberapa waktu kemudian, Oktia merasa


ingin ke belakang.


“Aku nitip tas ya. Aku mau ke belakang


sebentar.”


Oktia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Sebelum tiba di kamar mandi Oktia mendengar derap langkah mengikutinya.


Bruk..brukk..brukk..


“Hahaha...Kalau resistor itu hitam, warna lain,


abu-abu terus putih. La kamu hitam, abu-abu, abu-abu, abu-abu. Abu-abu terus


nggak putih-putih.” kata Risma pada Oktia di depan cermin kamar mandi.


“Hahaha....Iya ya. Tapi aku udah nganggep semua


ini sudah selesai kok.”


“Iya kamu nganggep semua ini sudah selesai. Tapi


dianya nggak tahu.”


“Udah ya aku balik duluan. Udah selesai ngaca


dan ketawanya.”


Setibanya Oktia di depan lab, Oktia mendengar


sebuah lagu yang sumber suaranya dari HP Dayat. “Lagunya udah ganti.” terang


Dayat. Oktia tidak tahu lirik lagu tersebut. Ia hanya tahu irama musiknya.


Oktia mencoba menghafal irama musiknya dan setelah ujian akan dicarinya lagu


yang diputar Dayat di laptopnya. Oktia berfirasat bahwa itu adalah ungkapan isi


hati Dayat tentang masalah perasaannya dengan orang yang disukainya. Dan memang


biasanya Dayat mengungkapkan isi hatinya lewat MP3 yang diputarnya. Tiba


saatnya Dayat dan kawan-kawan satu kelompoknya untuk unjuk kebolehan. Setelah


Dayat masuk, ada Rina, Kinan, Gigin, dan Damar yang sedang berdiskusi membahas


soal yang diujikan. Oktia memilih nimbrung dengan mereka berharap punya gambaran soal yang akan diujikan. Oktia berdiskusi


dengan Damar di depan pintu laboratorium. Oktia melirik pintu lab yang sedikit


terbuka. Ia melihat Dayat sedang mengambil sesuatu dari tasnya. Udara cukup


panas. Kemudian, Oktia duduk di dekat pintu lab yang sedikit terbuka karena di


dekat pintu lab berhembus hawa dingin AC. Oktia dan Damar masih melanjutkan


diskusi mereka tentang ujian yang akan diujikan. Damar duduk tepat di depan


pintu lab yang sudah dirapatkannya. Oktia duduk di sebelah kiri Damar.Setelah


kelompok Dayat keluar, tiba saatnya kelompok Damar untuk unjuk kebolehan. Oktia


masih menunggu gilirannya. Dalam penantian itu, Oktia duduk bersama Ana, Okti,


Wati, Pita, dan Dayat. Dayat berbincang dengan Pita.


“Waktu nulis kelebihan dan kekurangan. Tita


nulis kalau aku tuh putih. Tapi bagiku putih itu bukan kelebihan tapi

__ADS_1


kekurangan. Jadinya aku tuh takut nembak Tita. Takutnya kalau aku tuh lebih


putih dari dia. Terus dianya entar nggak mau.”


“Bukannya Tita itu juga putih ya?”


“Waktu itu aku lagi pucet. Jadi aku lebih putih


dari dia.”


“Tuh orang, rasanya pengen tak kasih sepatu.


Biar diem nggak nyindir lagi.” batin Oktia yang sedang tersindir sambil melihat


sepatunya. Oktia kemudian diam mengarahkan tatapan matanya pada diktat yang


sedang ia bawa.


“Itu tuh yang pakai putih-putih.” kata Dayat


lagi, yang waktu itu Oktia sedang mengenakan baju dan jilbab warna putih.


Oktia memejamkan matanya, kepalanya yang sedang


dilanda sindiran disangga dengan tangan. “Sabar Oktia, sabar. Terima saja kalau


kamu diperlakukan seperti itu. Astaghfirullah, astagfirullah.” batin Oktia


sambil menenangkan hatinya.


“Okti, Okti, kamu ngantuk atau ngafalin?”


panggil Okti pada Oktia. Sebelah Okti ada Dayat. Mata Oktia terbuka setelah


terpejam menenangkan hatinya. Oktia menoleh ke sumber suara. Namun yang ia


lihat hanya tatapan mata Dayat yang melihatnya. Bukan pada sumber suara yaitu


Okti.


“Hmm? Aku ngafalin kok.” kata Oktia.


“Kayaknya udah selesai lho. Aku pulang aja lah.”


kata Dayat sambil menengok jendela laboratorium untuk memastikan apakah


kelompok Damar sudah selesai apa belum.


“Kamu nanti langsung nggak Yat?” tanya Nudi yang


juga masih di depan laboratorium meskipun ia masuk ke dalam kelompok pertama


“Aku nanti mampir warung dulu.” sahut Dayat


tetap dengan langkahnya untuk meninggalkan laboratorium.


Beberapa waktu kemudian, kelompok Damar keluar.


Dalam kelompok Damar ada Nug dan Widi. Setelah Nug keluar, Nudi berdiri


kemudian mereka, Nug dan Nudi pulang bersama. Damar keluar, ia menghampiri


Oktia.


“Kamu tadi dapat yang apa?” tanya Damar.


“Dapat apanya Mar? Aku belum ujian.”


“Loh?? Yang di sampingku tadi siapa?”


“Ya..aku nggak tahu dong.”


“Oh..yang di sampingku tadi Widi. Maaf tak kira


yang di sebelahku tadi kamu. Mirip sih.”


“Ha? Mirip? Aku dan Widi beda Mar.”


“Iya. Maaf.”


Dosen yang menguji mengisyaratkan kelompok Oktia


untuk masuk ke ruang unjuk kebolehan. Dua puluh menit dihabiskan untuk


menunjukkan kemampuan setelah satu semester mempelajari IC. Alarm dosen


berbunyi menandakan waktu ujian telah usai dan mahasiswa yang diuji untuk


keluar laboratorium. Oktia mengemasi barang-barangnya. Mahasiswa kelompok Oktia


keluar pintu lab berurutan. Oktia di belakang Hadi. Ternyata di luar masih ada


Damar yang menunggu Hadi.


“Ayo!” kata Damar mengajak Hadi untuk pulang


bersama. Karena Oktia, Damar, Ana, Okti, Wati, dan Hadi menuju parkiran bersama


merekapun membicarakan sesuatu.

__ADS_1


“Wati, kamu menang lomba ya? Selamat ya.” kata


Damar memberi ucapan selamat pada Wati. Wati berjalan sudah cukup jauh.


“Memangnya Wati menang lomba apa Mar?” tanya


Oktia.


“Lomba makan kerupuk.” canda Damar.


“Kamu sudah makan belum Ti?” canda Damar lagi


yang sebenarnya ingin bercanda pada Wati yang sudah menang lomba.


“Kamu mau ngajak aku makam Mar?” canda Oktia


menanggapi candaan Damar.


Sesampainya di parkiran Oktia dan Damar masih


melanjutkan pembicaraan mereka yang kebetulan motor Oktia terparkir di belakang


motor Damar.


“Liburannya lama ya Mar, dua bulan.”


“Aku ngitung ada tujuh putuh tujuh hari kita


libur dihitung dari hari Selasa.”


“Wah, lama juga ya?”


“Enak liburan kemarin lho. Beberapa hari sehabis


lebaran langsung masuk.”


Setelah motor Oktia keluar dari tempat parkir


dan hendak menuju ke jalan.


“Aku duluan ya Mar. Assalamualaykum.”


“Waalaykumus salam.”


Matahari mulai bergerak ke arah barat. Oktia


sudah sampai di rumah. Ia membuka laptopnya. Mencari lagu yang diputar Dayat


tadi. Butuh waktu yang lama untuk menemukan lagu tersebut. Karena, Oktia belum


pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Dan hap. Ketemu.


“Oh, lagu yang diputar Dayat tadi judulnya


Dilema Besar.” Kemudian Oktia mendengarkan lagu itu dengan seksama.


Mulai terasa lelah aku bertahan


Terlalu lama kau terdiam


Terlalu lama kau meredam cinta


Berapa besar yang ku dapatkan


Tak selamanya ku mengalah


Tak selamanya ku diam


Bawa ku pergi dari ini


Di tempat kau berpaling


Dan bila ku pergi dari ini


Akankah kau kembali


Harus berapa lama terus berjalan


Dalam hati tak teryakinkan


Segalanya kan berubah


Bawa ku pergi dari ini


Di tempat kau berpaling


Dan bila ku pergi dari ini


Akankah kau kembali


Ku dapat menahan hilang


Tapi tak mengerti


Bawa ku pergi dari ini


Di tempat kau berpaling


Akankah kau kembali

__ADS_1


__ADS_2