
Masih Ada ‘Yang Lain’
Hari
Rabu. Hari di mana akan diadakan kuis. Oktia duduk di barisan nomor dua.
Sedangkan Wulan, duduk di barisan pertama. Sebelum kuis dimulai, Dayat
menghampiri Wulan untuk curhat. Oktia menaikkan radar pendengarannya.
Barangkali yang dibicarakan adalah dirinya. Dan sepertinya Dayat curhat tentang
perasaannya.
“Kayak pentium satu
Wul.” kata Dayat. Sepotong kalimat yang bisa Oktia dengar.
“Kayak pentium satu?
Emang aku loadingnya lama? Enggak deh. Dengan cepat aku tahu maksud
sindiran-sindiran kamu. Kamunya aja yang nggak tahu. Enak aja bilang kayak
gitu. Kemarin dikatain not responding. Emang ngasih input apa? Nggak ada
apa-apa suruh ngerespon. Yang direspon apanya? Kalau dia ngasih perhatian sih
bisa aku respon. La dia cuek kayak gitu disuruh ngerespon. Risma mana sih nggak
dateng-dateng? Butuh curhat!” batin Oktia.
Dosen datang. Kuis
segera dimulai. Setelah kuis selesai, Oktia curhat dengan Risma. Mereka
berjalan menuju ruang kuliah berikutnya di gedung lama kelas pojokan.
Sesampainya di kelas, Oktia duduk di barisan terdepan di antara Risma dan
Wulan.
“Okti, kenapa kamu
kelihatan galau?” tanya Wulan.
“Soalnya tadi susah
dikerjain Wul. Aku takut nilaiku jelek.” kata Oktia. “Lebih tepatnya gara-gara
dikatain pentium satu sama Dayat. Bikin bad mood.” batin Oktia.
“Sudah, masih ada
‘yang lain’.” hibur Risma pada Oktia.
“Iya emang pasti ada
‘yang lain’ tapi siapa? Aku sebel banget Ris.” kata Oktia.
“Masih ada delapan
belas SKS Ti. Nilai kamu nggak tergantung pada Matfis.” kata Wulan.
“Iya Ti. Masih ada
‘yang lain’.” kata Risma.
Kuliah berlangsung
dengan biasa tanpa ada yang istimewa. Setelah selesai, mereka masih menunggu
kuliah berikutnya yaitu Teori Relativitas Khusus. Oktia dan Risma masuk kelas.
Di kelas ternyata sudah ada Damar. Damar gojekan dengan Risma, Oktia hanya dikacangin. Kemudian, Oktia dan Risma meletakkan
tasnya lalu ke kamar mandi.
“Tuh kan Ti. Sikap
Damar kayaknya berubah. Kalau nggak kamu ceritain kemarin sih aku nggak
apa-apa. Tapi gara-gara kamu ceritain, aku jadi kayak pelampiasannya Damar. Dia
itu seolah-olah pengen nunjukin kalau cuek sama kamu. Deket sama aku.” kata
Risma melihat tingkah Damar yang berubah.
“Terlalu sadis caramu, menjadikan diriku,
pelampiasan cintamu, agar dia kembali padamu, tanpa peduli sakitnya aku, semoga
Tuhan membalas semua yang terjadi kepadamu suatu saat nanti.” nyanyi Oktia.
Ia hanya menanggapi cerita Risma dengan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh
Afgan yang berjudul Sadis.
Kuliah ternyata
kosong. Hal itu mereka gunakan untuk mengerjakan tugas TRK. Oktia mengerjakan
tugas TRK bersama Risma, Wulan, dan Okti di balkon gedung kuliah. Mereka
mengerjakan tugas dengan khusyuk.
“MoU sama
dengan....... MoU sama dengan.....” kata Wulan.
“MoU??? Kenapa ada
MoU di TRK?” batin Oktia. Batinnya tersentak. Hampir copot jantungnya mendengar
kata MoU. Ia berpandangan dengan Risma, menahan tawa. MoU merupakan kode yang
telah mereka sepakati untuk menyebut Dayat. M yang berarti Mr. O merupakan
inisial yang diusulkan Oktia. U yang berarti ‘you’. Karena inisial O bermasalah
dengan Oktia. Maksudnya milikmu.
“Aku ke kamar mandi
sebentar ya.” kata Oktia berpamitan. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan
ekspresi wajahnya yang tiba-tiba saja berubah. Wulan dan Okti pasti akan curiga
dan bertanya dengan detail jika saja Oktia melihat perubahan ekspresi wajah
Oktia. Ia menenangkan dirinya di depan wastafel sambil bermain air keran.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, Risma menyusul Oktia.
“Hahahaha...” Risma
tertawa sampai terduduk di lantai kamar mandi.
“Kamu kenapa Ris?”
“Aku di sana udah
nggak kuat kalau nahan tawa. Makanya aku ke sini.”
“Itu tadi. Kenapa
Wulan nyebut-nyebut MoU? Besok ganti kode aja deh. Jangan MoU.”
“Pikiran udah
tenang-tenang. Tiba-tiba teringat MoU.”
“Hahaha....” mereka
tertawa bersama.
“Udah selesai
ketawanya. Aku balik duluan. Entar yang lain curiga.” pamit Risma.
“Ya udah sana.”
Setelah selesai
mengerjakan, mereka pulang. Oktia tak langsung pulang. Ia mampir ke LIMUNY
untuk mengupload PPT yang akan digunakan presentasi hari Kamis. Setelah selesai
mengupload PPT, Oktia menggunakan waktu untuk membaca blog mantannya Dayat.
Barang kali dalam blog itu menceritakan sifat Dayat.
Dalam blog itu,
Oktia membaca sebuah postingan yang berjudul Jangan Jadikan Aku Mainanmu. Ada
kalimat yang membuat Oktia merasa senasib dengan Mayang. ‘Kenapa tak kau
ungkapkan apa maumu? Kenapa tak kau ungkapkan apa yang kau inginkan dariku?’.
“Ternyata nggak cuma
aku yang bingung dengan sikap Dayat. Berasa punya temen senasib sepenanggungan.
Kenapa kamu nggak bilang maumu apa sih Yat? Kalau semua terkomunikasikan kan
enak. Aku tahu yang kamu mau, kamu dapat yang kamu mau.” batin Oktia.
Masih banyak lagi
postingan yang menceritakan sikap Dayat ke Mayang. Hal itu membuat Oktia lebih
bisa memahami sifat Dayat. Setidaknya, Oktia bisa menentukan sikap jika sudah
tahu sifat asli Dayat. Oktia tak lagi bingung dengan perlakuan Dayat. Memang
sifatnya kayak gitu. Tinggal bagaimana menyikapinya. Karena waktu sudah sore,
Oktia memutuskan untuk pulang.
Hari telah berganti.
Hari ini, kuliah di jam terakhir, Oktia akan presentasi satu kelompok dengan
Dayat, Rina, dan Wati.
“Kamu sekelompok
sama Dayat?” tanya Wulan setelah melihat makalah yang dibawa Oktia.
“Iya.” kata Oktia.
“Emangnya kenapa kalau aku sekelompok sama Dayat?” batin Oktia.
Presentasi akan
segera dimulai. mahasiswa sudah menempati tempat duduknya. Presenterpun sudah
menempatkan diri. Rina duduk di paling kanan disusul Oktia, Dayat, lalu Wati.
“Yat, I know what you mean.” kata Hadi pada
Dayat yang duduk di barisan paling depan. Dayat menanggapi perkataan Hadi
dengan senyum.
“Aku juga tahu
maksud kalian.” batin Oktia.
Presentasi
berlangsung dengan lancar. Presenter-presenter kembali ke tempat duduk
masing-masing. Dayat duduk di sebelah kanan Oktia. Dosen kembali mereview dan
menambahkan materi yang sudah dipresentasikan.
“Contohnya adalah
rekam medis.” kata dosen.
“Ehem-ehem.” Oktia
berdehem setelah mendengar kata rekam medis. Berhubung di sebelah kanan Oktia
adalah Dayat yang mana rekam medis adalah prodi mantannya. Barangkali batin
Dayat akan tersentak mendengar kata rekam medis ditambah Oktia berdehem.
Kuliahpun
berlangsung dengan lancar. Ditutup dengan berdoa bersama.
“Aku galau.” kata
Dayat.
“Kamu kenapa? Galau
gara-gara rekam medis?” batin Oktia.
“Makalah KWU kita
__ADS_1
gimana Ti?” tanya Nudi setelah menghampiri Oktia
“Gimana ya? Kamu
nanti ada waktu nggak? Kita ngerjain di perpus.” kata Oktia.
“Ya entar lihat
sikon dulu deh.” kata Nudi.
“Sebenarnya waktu
gue bilang cie..(aku tuh cemburu).” kata Dayat sambil mengemasi
barang-barangnya.
“Okti, TRK kita
gimana?” tambah Kinan.
“Nomor dua dan tiga
udah tak kerjain Kin.” Kata Oktia.
“Berarti aku
ngerjain yang nomor satu ya?”
“Entar materinya
kamu yang bagi ya?” sambung Nudi.
“Bentar. Satu-satu.
Aku berasa dikejar-kejar hutang.” kata Oktia.
Setelah situasi
cukup tenang, Oktia ngobrol dengan Risma membahas selebaran yang isinya lomba
menulis dengan tema Ragam Cerita Mahasiswa.
“Ti, kamu nggak ikut
ini aja ?”
“Wah aku banget ini.
Nggak aja deh.”
“Kalau gitu ceritamu
aja yang aku kirimin.”
“Bagus. Terus
ceritanya nanti dibaca sama ketuanya (Dayat) ya? Bagus. Rahasiaku terbongkar.”
“Engga-enggak. Aku
nggak mungkin buka rahasia kamu kok.”
“Wul...Wul....”
panggil Dayat sambil menepuk bahu Oktia menggunakan gulungan kertas.
“Apa Yat?” kata
Oktia sambil menoleh ke arah Dayat.
“Eh, tak kira
Wulan.” kata Dayat.
“Kayaknya dari tadi
aku duduk di sebelahnya. Kenapa dia nggak bisa bedain aku sama Wulan?” batin
Oktia.
“Pulang yuh Ris.”
ajak Oktia pada Risma.
“Aku tadi ngelihat
dari belakang kamu sama Dayat kayak orang pacaran lho Ti.” kata Risma pada
Oktia sambil berjalan untuk pulang.
“Kok bisa?”
“Dayat tadi naruh
tangannya di sandaran kursi kamu. Jadi, dia itu kayak meluk kamu.”
“Masak??? Kok aku
nggak tahu?”
“Kamu itu nggak
ngerasa ya?”
“Enggak.”
“Ah, kamu itu. Ada
orang di deket aku aja aku tahu. Masak kamu nggak tahu.”
“Ya kalau itu aku
ngerasa. Tapi, kalau dia naruh tangannya di kursiku aku nggak tahu. Aku duluan
ya Ris.” kata Oktia sambil berbelok berpisah dengan Risma untuk pulang.
Hari berganti lagi.
Oktia mengimpulkan tugasnya di kampus. Di kampus, sudah ada beberapa
teman-temannya berkumpul di dekanat.
“Ti, aku pinjam
kerjaanmu dong.” kata Dayat pada Oktia.
“Ini Yat.”
Waktu terus berlalu,
pion-pion Dayat mulai berdatangan.
__ADS_1
“Kau balas aku dengan senyuman. Lagunya
udah ganti lho.” kata Dayat pada pion-pionnya.