Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 26


__ADS_3

Masih Ada ‘Yang Lain’


            Hari


Rabu. Hari di mana akan diadakan kuis. Oktia duduk di barisan nomor dua.


Sedangkan Wulan, duduk di barisan pertama. Sebelum kuis dimulai, Dayat


menghampiri Wulan untuk curhat. Oktia menaikkan radar pendengarannya.


Barangkali yang dibicarakan adalah dirinya. Dan sepertinya Dayat curhat tentang


perasaannya.


            “Kayak pentium satu


Wul.” kata Dayat. Sepotong kalimat yang bisa Oktia dengar.


            “Kayak pentium satu?


Emang aku loadingnya lama? Enggak deh. Dengan cepat aku tahu maksud


sindiran-sindiran kamu. Kamunya aja yang nggak tahu. Enak aja bilang kayak


gitu. Kemarin dikatain not responding. Emang ngasih input apa? Nggak ada


apa-apa suruh ngerespon. Yang direspon apanya? Kalau dia ngasih perhatian sih


bisa aku respon. La dia cuek kayak gitu disuruh ngerespon. Risma mana sih nggak


dateng-dateng? Butuh curhat!” batin Oktia.


            Dosen datang. Kuis


segera dimulai. Setelah kuis selesai, Oktia curhat dengan Risma. Mereka


berjalan menuju ruang kuliah berikutnya di gedung lama kelas pojokan.


Sesampainya di kelas, Oktia duduk di barisan terdepan di antara Risma dan


Wulan.


            “Okti, kenapa kamu


kelihatan galau?” tanya Wulan.


            “Soalnya tadi susah


dikerjain Wul. Aku takut nilaiku jelek.” kata Oktia. “Lebih tepatnya gara-gara


dikatain pentium satu sama Dayat. Bikin bad mood.” batin Oktia.


            “Sudah, masih ada


‘yang lain’.” hibur Risma pada Oktia.


            “Iya emang pasti ada


‘yang lain’ tapi siapa? Aku sebel banget Ris.” kata Oktia.


            “Masih ada delapan


belas SKS Ti. Nilai kamu nggak tergantung pada Matfis.” kata Wulan.


            “Iya Ti. Masih ada


‘yang lain’.” kata Risma.


            Kuliah berlangsung


dengan biasa tanpa ada yang istimewa. Setelah selesai, mereka masih menunggu


kuliah berikutnya yaitu Teori Relativitas Khusus. Oktia dan Risma masuk kelas.


Di kelas ternyata sudah ada Damar. Damar gojekan dengan Risma, Oktia hanya dikacangin. Kemudian, Oktia dan Risma meletakkan


tasnya lalu ke kamar mandi.


            “Tuh kan Ti. Sikap


Damar kayaknya berubah. Kalau nggak kamu ceritain kemarin sih aku nggak


apa-apa. Tapi gara-gara kamu ceritain, aku jadi kayak pelampiasannya Damar. Dia


itu seolah-olah pengen nunjukin kalau cuek sama kamu. Deket sama aku.” kata


Risma melihat tingkah Damar yang berubah.


            “Terlalu sadis caramu, menjadikan diriku,


pelampiasan cintamu, agar dia kembali padamu, tanpa peduli sakitnya aku, semoga


Tuhan membalas semua yang terjadi kepadamu suatu saat nanti.” nyanyi Oktia.


Ia hanya menanggapi cerita Risma dengan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh


Afgan yang berjudul Sadis.


            Kuliah ternyata


kosong. Hal itu mereka gunakan untuk mengerjakan tugas TRK. Oktia mengerjakan


tugas TRK bersama Risma, Wulan, dan Okti di balkon gedung kuliah. Mereka


mengerjakan tugas dengan khusyuk.


            “MoU sama


dengan....... MoU sama dengan.....” kata Wulan.


            “MoU??? Kenapa ada


MoU di TRK?” batin Oktia. Batinnya tersentak. Hampir copot jantungnya mendengar


kata MoU. Ia berpandangan dengan Risma, menahan tawa. MoU merupakan kode yang


telah mereka sepakati untuk menyebut Dayat. M yang berarti Mr. O merupakan


inisial yang diusulkan Oktia. U yang berarti ‘you’. Karena inisial O bermasalah


dengan Oktia. Maksudnya milikmu.


            “Aku ke kamar mandi


sebentar ya.” kata Oktia berpamitan. Ia sudah tidak dapat menyembunyikan


ekspresi wajahnya yang tiba-tiba saja berubah. Wulan dan Okti pasti akan curiga


dan bertanya dengan detail jika saja Oktia melihat perubahan ekspresi wajah


Oktia. Ia menenangkan dirinya di depan wastafel sambil bermain air keran.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, Risma menyusul Oktia.


            “Hahahaha...” Risma


tertawa sampai terduduk di lantai kamar mandi.


            “Kamu kenapa Ris?”


            “Aku di sana udah


nggak kuat kalau nahan tawa. Makanya aku ke sini.”


            “Itu tadi. Kenapa


Wulan nyebut-nyebut MoU? Besok ganti kode aja deh. Jangan MoU.”


            “Pikiran udah


tenang-tenang. Tiba-tiba teringat MoU.”


            “Hahaha....” mereka


tertawa bersama.


            “Udah selesai


ketawanya. Aku balik duluan. Entar yang lain curiga.” pamit Risma.


            “Ya udah sana.”


            Setelah selesai


mengerjakan, mereka pulang. Oktia tak langsung pulang. Ia mampir ke LIMUNY


untuk mengupload PPT yang akan digunakan presentasi hari Kamis. Setelah selesai


mengupload PPT, Oktia menggunakan waktu untuk membaca blog mantannya Dayat.


Barang kali dalam blog itu menceritakan sifat Dayat.


            Dalam blog itu,


Oktia membaca sebuah postingan yang berjudul Jangan Jadikan Aku Mainanmu. Ada


kalimat yang membuat Oktia merasa senasib dengan Mayang. ‘Kenapa tak kau


ungkapkan apa maumu? Kenapa tak kau ungkapkan apa yang kau inginkan dariku?’.


            “Ternyata nggak cuma


aku yang bingung dengan sikap Dayat. Berasa punya temen senasib sepenanggungan.


Kenapa kamu nggak bilang maumu apa sih Yat? Kalau semua terkomunikasikan kan


enak. Aku tahu yang kamu mau, kamu dapat yang kamu mau.” batin Oktia.


            Masih banyak lagi


postingan yang menceritakan sikap Dayat ke Mayang. Hal itu membuat Oktia lebih


bisa memahami sifat Dayat. Setidaknya, Oktia bisa menentukan sikap jika sudah


tahu sifat asli Dayat. Oktia tak lagi bingung dengan perlakuan Dayat. Memang


sifatnya kayak gitu. Tinggal bagaimana menyikapinya. Karena waktu sudah sore,


Oktia memutuskan untuk pulang.


            Hari telah berganti.


Hari ini, kuliah di jam terakhir, Oktia akan presentasi satu kelompok dengan


Dayat, Rina, dan Wati.


            “Kamu sekelompok


sama Dayat?” tanya Wulan setelah melihat makalah yang dibawa Oktia.


            “Iya.” kata Oktia.


“Emangnya kenapa kalau aku sekelompok sama Dayat?” batin Oktia.


            Presentasi akan


segera dimulai. mahasiswa sudah menempati tempat duduknya. Presenterpun sudah


menempatkan diri. Rina duduk di paling kanan disusul Oktia, Dayat, lalu Wati.


            “Yat, I know what you mean.” kata Hadi pada


Dayat yang duduk di barisan paling depan. Dayat menanggapi perkataan Hadi


dengan senyum.


            “Aku juga tahu


maksud kalian.” batin Oktia.


            Presentasi


berlangsung dengan lancar. Presenter-presenter kembali ke tempat duduk


masing-masing. Dayat duduk di sebelah kanan Oktia. Dosen kembali mereview dan


menambahkan materi yang sudah dipresentasikan.


            “Contohnya adalah


rekam medis.” kata dosen.


            “Ehem-ehem.” Oktia


berdehem setelah mendengar kata rekam medis. Berhubung di sebelah kanan Oktia


adalah Dayat yang mana rekam medis adalah prodi mantannya. Barangkali batin


Dayat akan tersentak mendengar kata rekam medis ditambah Oktia berdehem.


            Kuliahpun


berlangsung dengan lancar. Ditutup dengan berdoa bersama.


            “Aku galau.” kata


Dayat.


            “Kamu kenapa? Galau


gara-gara rekam medis?” batin Oktia.


            “Makalah KWU kita

__ADS_1


gimana Ti?” tanya Nudi setelah menghampiri Oktia


            “Gimana ya? Kamu


nanti ada waktu nggak? Kita ngerjain di perpus.” kata Oktia.


            “Ya entar lihat


sikon dulu deh.” kata Nudi.


            “Sebenarnya waktu


gue bilang cie..(aku tuh cemburu).” kata Dayat sambil mengemasi


barang-barangnya.


            “Okti, TRK kita


gimana?” tambah Kinan.


            “Nomor dua dan tiga


udah tak kerjain Kin.” Kata Oktia.


            “Berarti aku


ngerjain yang nomor satu ya?”


            “Entar materinya


kamu yang bagi ya?” sambung Nudi.


            “Bentar. Satu-satu.


Aku berasa dikejar-kejar hutang.” kata Oktia.


            Setelah situasi


cukup tenang, Oktia ngobrol dengan Risma membahas selebaran yang isinya lomba


menulis dengan tema Ragam Cerita Mahasiswa.


            “Ti, kamu nggak ikut


ini aja ?”


            “Wah aku banget ini.


Nggak aja deh.”


            “Kalau gitu ceritamu


aja yang aku kirimin.”


            “Bagus. Terus


ceritanya nanti dibaca sama ketuanya (Dayat) ya? Bagus. Rahasiaku terbongkar.”


            “Engga-enggak. Aku


nggak mungkin buka rahasia kamu kok.”


            “Wul...Wul....”


panggil Dayat sambil menepuk bahu Oktia menggunakan gulungan kertas.


            “Apa Yat?” kata


Oktia sambil menoleh ke arah Dayat.


            “Eh, tak kira


Wulan.” kata Dayat.


            “Kayaknya dari tadi


aku duduk di sebelahnya. Kenapa dia nggak bisa bedain aku sama Wulan?” batin


Oktia.


            “Pulang yuh Ris.”


ajak Oktia pada Risma.


            “Aku tadi ngelihat


dari belakang kamu sama Dayat kayak orang pacaran lho Ti.” kata Risma pada


Oktia sambil berjalan untuk pulang.


            “Kok bisa?”


            “Dayat tadi naruh


tangannya di sandaran kursi kamu. Jadi, dia itu kayak meluk kamu.”


            “Masak??? Kok aku


nggak tahu?”


            “Kamu itu nggak


ngerasa ya?”


            “Enggak.”


            “Ah, kamu itu. Ada


orang di deket aku aja aku tahu. Masak kamu nggak tahu.”


            “Ya kalau itu aku


ngerasa. Tapi, kalau dia naruh tangannya di kursiku aku nggak tahu. Aku duluan


ya Ris.” kata Oktia sambil berbelok berpisah dengan Risma untuk pulang.


            Hari berganti lagi.


Oktia mengimpulkan tugasnya di kampus. Di kampus, sudah ada beberapa


teman-temannya berkumpul di dekanat.


            “Ti, aku pinjam


kerjaanmu dong.” kata Dayat pada Oktia.


            “Ini Yat.”


            Waktu terus berlalu,


pion-pion Dayat mulai berdatangan.

__ADS_1


            “Kau balas aku dengan senyuman. Lagunya


udah ganti lho.” kata Dayat pada pion-pionnya.


__ADS_2