
Hari-hari di mana ujian semester kedua akan dimulai. Berbagai persiapan harus dilakukan. Termasuk belajar bersama. Oktia yang merasa tidak terlalu pintar, memilih ikut belajar bersama teman-teman, sehingga jika ada kesulitan untuk memahami materi ada yang bisa menjelaskan. Biasanya yang jadi mentor adalah Dayat. Dia memang orang yang cerdas. Secara gamblang dan jelas dia bisa menjelaskan materi yang menurut Oktia agak rumit. Oktia menjadi lebih paham dengan materi yang ia pelajari setelah dijelaskan oleh Dayat. Serius untuk belajar dan ada teman yang mendukung untuk serius belajar bisa membuat Oktia lebih bersemangat.
“Bantu aku untuk belajar Yat! Belajar dan akhirnya sukses menggapai masa depan.” kata
Oktia dalam hati dengan bersemangat.
Hingga pada akhirnya, Oktia, Dayat, Zizah, dan Anti sering belajar bersama hingga sore selama ujian, di manapun tempatnya asalkan masih di kawasan kampus. Pernah, mereka belajar bersama sampai di fakultas tetangga hingga matahari terbenam.
Sebenarnya ini bukanlah belajar bersama untuk pertama kalinya. Semester pertama ketika mengerjakan laporan praktikum, kelompok praktikum Oktia sering mengerjakan laporan bersama-sama. Anggota kelompok yang biasanya mengerjakan laporan bersama di kampus sampai matahari terbenam adalah Oktia, Zizah, Kinan, dan
Dayat. Oktia terkadang kesepian di kost. Teman-teman kost-nya sering pulang malam. Sedangkan hari Senin, hari di mana waktu mengerjakan laporan tinggal sembilan belasan jam lagi, waktu kuliah hanya sampai pukul 12.00. Oktia memilih mengerjakan laporan praktikum di kampus. Setidaknya banyak teman-teman yang mengerjakan laporan praktikum di kampus, sehingga Oktia tidak kesepian. Pernah suatu ketika setelah selesai mengerjakan laporan Oktia, Kinan, dan Dayat saling mencurahkan isi hati berkenaan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kira-kira waktu itu matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Kala praktikum yang harus mereka tempuh tinggal satu dua praktikum saja.
“Melupakan seseorang itu susah.” Dayat memulai curahan hati tentang pacarnya sewaktu SMA.
“Ya jangan dilupakan. Kalau melupakan itu sebenarnya harus ingat dulu. Melupakan orang itu sama saja kita mengingatnya. Jadi, kalau mau melupakan seseorang itu, kita harus mengingatnya sampai kita lupa.” saran Oktia pada Dayat yang sebenarnya saran itu Oktia tujukan pada dirinya sendiri dan pada Dayat.
“Wah, pengalaman.” sahut Kinan.
“Iya itu memang pengalamanku Kin. Aku masih berproses untuk melupakan seseorang. Cara itu cukup ampuh kok. Ketika aku teringat Tyo, orang yang aku suka sewaktu SMA, maka aku akan mengingatnya terus sampai aku lupa bahwa aku sedang mengingatnya.” batin Oktia, menaggapi kalimat yang diutarakan Kinan.
“Memangnya pacar kamu dulu kuliah di mana sih?” tanya Oktia. Sepertinya Oktia masih penasaran dengan sosok yang pernah tinggal di relung hati Dayat. Oktia penasaran dengan perempuan yang beruntung itu. Perempuan yang pernah penting dalam hidup Dayat.
“U*M.”
__ADS_1
“Jurusan apa?”
“Teknik Sipil.” Dayat menjawab semua pertanyaan Oktia dengan tatapan mata yang entah sedang menerawang ke mana.
Hati Oktia tersentak setelah mendengar kata “Teknik Sipil”. Hal itu membuat Oktia teringat akan prodi yang ingin Oktia masuki. Namun, apa daya ia tak berkesempatan untuk duduk di prodi tersebut. Salah satu orang yang beruntung untuk bisa duduk di prodi tersebut malah mantannya Dayat, mantannya teman sekelasnya sendiri. Ada
sedikit rasa iri setelah mendengar mantannya adalah mahasiswa Teknik Sipil. Namun, rasa iri itu dengan segera ia buang. Oktia tak mau menyesali masa lalu. Oktia pernah bercerita pada Dayat bahwa sewaktu SMA Oktia pernah menginginkan prodi Teknik Sipil.
“Waw. Keren banget orangnya pasti ya? Teknik sipil? Mantannya pasti cantik, kaya, cerdas. Hmmm....” batin Oktia.
“Emangnya kamu dulu putusnya karena apa sih?”
“Jarak.”
Dayat yang ditanyai dengan pertanyaan seperti itu tampaknya bertambah lesu. Oktia memilih untuk menghentikan pertanyaan daripada membuka kenangan pahit seseorang.
Suatu pagi menjelang ujian Biologi Umum, Oktia, Anti, Zizah, Risma, Ana, dan Okti belajar bersama di perpustakaan. Datanglah Dayat. Dialah yang menagajak mereka untuk belajar bersama di perpustakaan pusat.
“Sepertinya, dia habis mandi langsung ke perpus.” pikir Oktia.
Pagi itu, Dayat wangi sekali, dandananya rapi. Dayat datang lalu duduk di sebelah kiri Oktia. Dayat mengakui kalau dia tidak terlalu mahir di bidang Biologi. Dia meminta teman-temannya untuk mengajarinya. Akhirnya mereka membahas soal-soal ujian tahun kemarin. Sewaktu mereka menghadapi soal yang terlalu sulit, Dayat memberikan motivasi agar mereka tidak putus asa.
“Kata Bowo, memahami soal berarti lima puluh persen menjawab pertanyaan. Yang pentingkan kita sudah memahami soal, berarti sudah separuh menjawab pertanyaan.” hibur Dayat pada teman-teman yang kesulitan menjawab soal.
__ADS_1
“Hal itu berarti memahamimu, sama saja lima puluh persen memilikimu.” Gombal Dayat. Dayat memang suka ngegombalin teman-temannya. Semenjak Oktia kenal dengan Dayat, memang Dayat itu suka ngegombalin teman-temannya. Sebenarnya di pertengahan semester dua dia ingin tobat. Alasannya, Dayat takut kalau-kalau ada ‘korban’ akibat gombalannya. Maka, kata-kata yang Oktia dengar tadi hanya dianggap angin lalu. Intermezo.
“Makanya, orang tu dipacarin dulu. Setelah bisa memahami orang itu, baru dinikahi.” kata Dayat menyambung gombalannya tadi.
“Wah, nggak bener nih. Dipacari? Dipacari, dipahami, baru dinikahi. La kalau paham, kalau nggak berarti cuma dipacari? Nggak dinikahi? Cuma dipacari?” batin Oktia yang kurang sependapat dengan Dayat.
Selingan sudah selesai. Kembali ke Biologi. Hingga pada akhirnya semua soal terjawab sudah kecuali yang tidak bisa mereka kerjakan. Setelah mengerjakan soal-soal mereka membahas topik yang ringan namun tetap nyambung dengan Biologi. Biologi memang bisa nyambung dengan masalah pasangan hidup. Maka pembicaraan merekapun
bisa nyrempet tentang masalah pasangan hidup.
“Makanya kalau cari pacar itu, jangan yang satu kelas. Nanti cepet-cepetan yang menghadap sang Kuasa. Umurnya kan pasti sama kalau sama satu kelas.” canda Oktia dengan menirukan gaya salah satu guru di
SMA-nya di mana kalimat yang ia ucapkan dikutip dari gurunya. Oktia langsung menutup mulut mengingat di sebelah kanannya ada Anti yang punya pacar satu kelas. Nama pacar Anti adalah Anto.
“Ya nggak gitu!” sanggah Dayat.
“Ups...Iya ya. Maaf.” pinta Oktia.
Saat musim ujian, Dayat sering mengajak teman-temannya untuk belajar bersama. Belajar bersama memang lebih mengena daripada belajar sendiri. Setidaknya jika bingung, bisa bertanya pada teman yang sudah bisa.
“Sepertinya aku memang harus jaga jarak sama Dayat. Bisa-bisa aku jatuh cinta sama dia gara-gara keseringan sama dia, terlebih dia baik banget. Dia memang baik sama semua orang. Aku nggak boleh menafsirkan kebaikan Dayat denganku lebih dari teman. Baiknya dia ke aku kan sama dengan baiknya dia ke teman yang lain. Aku
nggak boleh menafsirkan lebih. Kalaupun aku menghormatinya, anggap saja hormat murid sama gurunya. Dia memang guru bagiku karena sering ngajari materi kuliah. Terlebih, selera Dayat kan tinggi. Mantannya aja anak teknik sipil yang waw. Kualitas orang yang bisa masuk program studi teknik sipil UGM tidak bisa sembarangan
__ADS_1
orang. Cewek di kelas yang diomongin di blog dia aja cewek kayak Diba. Mungkin mantannya tipe-tipe kayak Diba. Tinggi, cantik, putih, dan pinter. Pacar seorang Dayat yang tinggi, putih, ganteng, dan pinter nggak mungkin orang yang biasa saja. Nggak enak banget dong kalau lama-lama aku jatuh cinta sama dia tapi aku bukan tipenya. Aku mah apa tuh.” batin Oktia yang saat itu sering menghabiskan waktu bersama Dayat dan mulai merasakan pertanda yang lain.