Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 13


__ADS_3

Butiran Debu


            Hari


Senin dimulai. Suasana hati Oktia sudah tidak galau lagi. Oktia sudah bisa


melepaskannya. Kuliah berlangsung seperti biasa. Kuliah Matematika Fisika akan


segera dimulai. Oktia berjalan bersama Ana menuju kelas. Langkah kakinya


terhenti ketika berada di depan pintu kelas. Damar duduk di depan seperti


biasa. Tapi, Oktia juga ingin duduk di depan. Kuliah jam 13.00 rawan ngantuk


dan pada akhirnya tidak fokus membuatnya ingin duduk di depan.


            “Wah, ada Damar.


Gimana ini? Tetep duduk di depan aja deh. Kan udah bisa ngelepasin. Kebetulan


ada dua kursi kosong yang berjarak agak jauh dari Damar yang bisa dipakai


untukku dan Ana.” pikir Oktia.


Oktia langsung duduk di bangku depan bersama


Ana. Sebelum dosen datang, mereka mempelajari materi yang akan digunakan untuk


perkuliahan. Oktia memang duduk di sebelah kiri Damar, namun berjarak agak


jauh. Kemudian, Damar memulai pembicaraan pada Oktia. Dia menanyakan materi


yang akan dikuliahkan. Awalnya memang jarak mereka berjauhan. Namun, Damar


menggeser kursinya sehingga jarak mereka tidak terlalu jauh. Sewaktu


perkuliahanpun Damar sepertinya tidak marah lagi. Dia mau ngobrol dan bercanda


dengan Oktia.


            Setelah kuliah


selesai, mereka berjalan keluar. Dalam perjalanan ke luar gedung, Oktia


menangkap sesuatu yang aneh. Damar menoleh melihatnya dengan tatapan mata yang


cukup lama.


            “Tuh kan? Selama


ini, Damar itu memang sepertinya ada sesuatu sama aku.” batin Oktia sewaktu


Damar melihatnya.


            Sehabis magrib,


Oktia merebahkan tubuhnya yang lelah. Tiba-tiba ada SMS masuk. Dari Damar.


“Setelah hampir dua minggu marahan dan diem-dieman, akhirnya dia mau SMS juga.”


batin Oktia. Meskipun Damar SMS tentang materi yang belum dia pahami sewaktu


kuliah siang tadi. Tapi, setidaknya itu menunjukkan kalau Damar tidak lagi marah


dan mendiamkan Oktia.


            Rabu siang ketika


kuliah akan dimulai, Oktia dan Risma ngobrol di kelas dengan Damar sambil


menunggu dosen datang. Kemudian Damar mengeluarkan HP-nya untuk menyetel MP3


melalui HP-nya.


            “Mar, pinjam HP-mu


dong. Aku mau lihat apa aja sih lagu yang ada di HP-mu.” pinta Risma pada


Damar.


            “Ini.” kata Damar


sambil menyerahkan HP-nya. “Laguku itu kebanyakan lagu Jepang kok.”


            Kemudian Risma mulai


membuka file lagu apa saja yang dimiliki Damar. Oktia yang juga penasaran ikut


melihat lagu apa saja yang dimiliki Damar.


            “Butiran Debu? Di


MP3 kamu ada lagu Butiran Debu Mar?” tanya Risma seolah tak percaya seorang


Damar bisa punya lagu Butiran Debu di HP-nya. Sebuah lagu yang menggambarkan


kegalauan seseorang yang dihianati cintanya.


            “Berarti Damar ini


memang benar-benar galau waktu dia nge-like


status yang isinya lirik lagu Butiran Debu. Sampai-sampai dia men-download dan menyimpannya di HP.” batin


Oktia.


            Dosen masih belum datang. Oktia


mendengar lagu Cinta Ini Membunuhku. Oktia menengok ke sumber suara lagu itu.

__ADS_1


Lagu itu terputar dari HP Dayat.


Kamis pagi yang cerah, membuat Oktia


berkeinginan mengenakan batik ungu. Setelah berdandan rapi, ia berangkat ke


kampus. Pintu kelas belum dibuka oleh petugas. Damar sudah tiba di depan kelas


bersama teman-teman yang lain. Damar juga mengenakan batik ungu. Batik ungu


dengan motif yang sama dengan milik Oktia. Lebih tepatnya mereka mengenakan


batik seragam kelas. Hari ini, mereka couple-an.


            Pintu kelas sudah


dibuka. Oktia masuk duluan dan meletakkan tasnya. Damar berjalan di belakang


Oktia, kemudian meletakkan tasnya di kursi yang bersebelahan dengan kursi yang


Oktia pakai untuk meletakkan tas. Jam kuliah sudah berdentang. Namun, sang


dosen belum datang. Nampaknya pagi ini sang dosen tak bisa datang untuk memberi


materi kuliah. Sehingga, mareka mengadakan presentasi dengan presenter dari


kelompok kemarin yang presentasinya belum selesai.


            Suasana kelas


sedikit gaduh meskipun ada presentasi. Materi yang dipresentasikanpun agak


sulit dicerna terlebih teman-teman di belakang malah ngobrol sendiri-sendiri.


Oktia sudah tidak fokus mendengarkan presentasi. Pada akhirnya, Oktia dan Damar


ngobrol berdua. Banyak hal yang mereka bicarakan.


            “Ini lho kalau


tangan terkena sreples, darahnya akan


keluar banyak.” kata Damar sewaktu Risma yang duduk di sebelah kanan Oktia


mencoba untuk ikut masuk dalam pembicaraan mereka. Kemudian mereka melanjutkan


obrolan mereka yang sempat ter-pending gara-gara Risma ikut nimbrung. “Ini


lho, darahnya bakal keluar sampai muncrat-muncrat kalau terkena sreples.” kata Damar


lagi sambil menunjukkan streples pada


Risma. Sepertinya Damar sedang tidak ingin diganggu. Sehingga, sewaktu Risma


mulai masuk ke dalam pembicaraan, Damar menakut-nakuti Risma dengan


masuk ke dalam pembicaraan Damar dan Oktia.


            “Eh, kalian hari ini couple-an, duduk bersebelahan lagi.”


kata Rina pada Damar dan Oktia yang kebetulan waktu itu Rina sedang presentasi.


Oktia hanya menanggapi ucapan Rina dengan senyum. Sedangkan Damar malah membaca


buku.


            Presentasi masih


berjalan. Oktia memperhatikan presentasi lagi dan membaca-baca materi yang


sedang dipresentasikan. Dayat juga duduk di barisan terdepan di sebelah kiri


Hadi, sebelah kanan Hadi ada Damar, sebelah kanan Damar ada Oktia. Dayat


mendendangkan sebuah lagu Cinta Ini membunuhku.


Kau membuat ku berantakan


Kau membuat ku tak karuan


Kau membuat ku tak berdaya


Kau menolakku acuhkan diriku


Bagaimana caranya untuk


Meruntuhkan kerasnya hatimu


Kusadari ku tak sempurna


Ku tak seperti yang kau inginkan


Kau hancurkan aku dengan sikapmu


Tak sadarkah kau telah menyakitiku


Lelah hati ini meyakinkanmu


Cinta ini membunuhku


Kuliah jam


pertama sudah usai. Mereka satu kelas menuju gedung sebelah untuk menghadiri


kuliah berikutnya. Mereka berkumpul di depan kelas berhubung kelas masih


dipakai oleh mahasiswa kelas lain.


            “Kau membuat ku berantakan, kau membuat ku

__ADS_1


tak karuan, kau membuat ku tak berdaya, kau menolakku acuhkan diriku, bagaimana


caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu, kusadari ku tak sempurna ku tak


seperti yang kau inginkan kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau


menyakitiku, lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku. ” nyanyi


Dayat. Mungkin sebenarnya dia curhat.


            “Kamu kenapa Kin?


Mata kamu seolah berbicara?” tanya Ndari pada Kinan. Sewaktu mereka berkumpul.


            Oktia yang sedang


menunggu kelas untuk dikosongkan tak sengaja mendengar lagu yang dinyanyikan


Dayat semenjak kuliah jam pertama kini ia nyanyikan lagi dihadapan Kinan. Kinan


pun yang mendengar Dayat menyanyikan lagu itu mengisyaratkan hal yang lain.


Oktia mulai bertanya-tanya kenapa Dayat bisa sampai menyanyikan lagu itu.


            Berhubung kelas


telah dikosongkan oleh mahasiswa kelas lain, Oktia masuk ke kelas. Dosen yang


biasanya datang tepat waktu tampaknya agak terlambat. Oktia yang mulai bosan


dengan suasana kelas memilih untuk keluar kelas untuk mencari udara segar.


Dayat dan Kinan sedang duduk berdua di depan kelas. Mungkin Dayat sedang curhat


dengan Kinan. Oktia mengurungkan niatnya untuk ke luar kelas daripada


mengganggu mereka.


            Malam hari di kost.


Oktia terbangun di tengah malam dengan keadaan laptop yang masih menyala, modem


masih menancap di tempatnya. Baterai laptop masih lima puluh persen. Dengan


keadaan modem masih menancap, Oktia online membuka facebook-nya. Di beranda facebook ia melihat Dayat membuat


status.


“SEBEL LIHAT STATUS ORANG PADA GALAU. NJELEHI!”


Oktia mulai bertanya-tanya. Sepertinya Dayat


memang sedang benar-benar galau. Ia tak pernah melihat Dayat membuat status


seperti itu. Dayat bukanlah tipe orang yang mengungkapkan kegalauannya lewat


jejaring sosial.


“Apakah kegalauan Dayat disebabkan karena


kemarin aku memakai baju yang seragam dengan Damar. Lalu duduk bersebelahan dan


asyik ngobrol berdua tanpa membolehkan orang lain memasuki pembicaraan kami.


Terlebih apa yang dinyanyikan Dayat seolah lagu itu untukku. Hatiku bergetar


ketika dia menyanyikan ‘bagaimana caranya


untuk meruntuhkan kerasnya hatimu, kusadari ku tak sempurna, ku tak seperti


yang kau inginkan.’ Ya. Aku merasa saat dia bilang kau, itu adalah kau


aku.” batin Oktia mulai bertanya-tanya.


Keesokan paginya. Dayat tiba di kelas. Dia


menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang dipakai untuk melepaskan kegelisahan. Lagu


dengan genre rock. Namun, Oktia tak


tahu lagu itu. Sepertinya tadi malam Dayat cukup tertekan dan galau. Masih


terlihat dari nada suaranya. Hatinya perih. Terlebih status-nya yang dibuat tadi malam.


“Aku takut ke Klaten sendirian!” kata Dayat pada


teman-temannya.


Mendengar kalimat itu Oktia langsung menoleh ke


sumber suara. Dayat sedang ngobrol dengan Nudi, Bowo, dan Nugraha. Membicarakan


sesuatu yang tidak  Oktia ketahui.


Mungkin tentang kegelisahan Dayat.


“Aku


takut ke Klaten sendirian? Nugraha kan juga orang Klaten. Kenapa nggak minta


ditemenin Nug kalau dia takut ke Klaten sendirian? Ada apa dengan Klaten?


Kenapa harus Klaten? Klaten kan tempat tinggalku? Kenapa Dayat menyebut tempat


tinggalku? Aneh. Apa kegalauannya gara-gara aku? Tapi kalau gara-gara aku?


Memangnya diriku kenapa?” batin Oktia bertanya-tanya. Tak mengerti apa yang


mereka maksud.

__ADS_1


__ADS_2