
Butiran Debu
Hari
Senin dimulai. Suasana hati Oktia sudah tidak galau lagi. Oktia sudah bisa
melepaskannya. Kuliah berlangsung seperti biasa. Kuliah Matematika Fisika akan
segera dimulai. Oktia berjalan bersama Ana menuju kelas. Langkah kakinya
terhenti ketika berada di depan pintu kelas. Damar duduk di depan seperti
biasa. Tapi, Oktia juga ingin duduk di depan. Kuliah jam 13.00 rawan ngantuk
dan pada akhirnya tidak fokus membuatnya ingin duduk di depan.
“Wah, ada Damar.
Gimana ini? Tetep duduk di depan aja deh. Kan udah bisa ngelepasin. Kebetulan
ada dua kursi kosong yang berjarak agak jauh dari Damar yang bisa dipakai
untukku dan Ana.” pikir Oktia.
Oktia langsung duduk di bangku depan bersama
Ana. Sebelum dosen datang, mereka mempelajari materi yang akan digunakan untuk
perkuliahan. Oktia memang duduk di sebelah kiri Damar, namun berjarak agak
jauh. Kemudian, Damar memulai pembicaraan pada Oktia. Dia menanyakan materi
yang akan dikuliahkan. Awalnya memang jarak mereka berjauhan. Namun, Damar
menggeser kursinya sehingga jarak mereka tidak terlalu jauh. Sewaktu
perkuliahanpun Damar sepertinya tidak marah lagi. Dia mau ngobrol dan bercanda
dengan Oktia.
Setelah kuliah
selesai, mereka berjalan keluar. Dalam perjalanan ke luar gedung, Oktia
menangkap sesuatu yang aneh. Damar menoleh melihatnya dengan tatapan mata yang
cukup lama.
“Tuh kan? Selama
ini, Damar itu memang sepertinya ada sesuatu sama aku.” batin Oktia sewaktu
Damar melihatnya.
Sehabis magrib,
Oktia merebahkan tubuhnya yang lelah. Tiba-tiba ada SMS masuk. Dari Damar.
“Setelah hampir dua minggu marahan dan diem-dieman, akhirnya dia mau SMS juga.”
batin Oktia. Meskipun Damar SMS tentang materi yang belum dia pahami sewaktu
kuliah siang tadi. Tapi, setidaknya itu menunjukkan kalau Damar tidak lagi marah
dan mendiamkan Oktia.
Rabu siang ketika
kuliah akan dimulai, Oktia dan Risma ngobrol di kelas dengan Damar sambil
menunggu dosen datang. Kemudian Damar mengeluarkan HP-nya untuk menyetel MP3
melalui HP-nya.
“Mar, pinjam HP-mu
dong. Aku mau lihat apa aja sih lagu yang ada di HP-mu.” pinta Risma pada
Damar.
“Ini.” kata Damar
sambil menyerahkan HP-nya. “Laguku itu kebanyakan lagu Jepang kok.”
Kemudian Risma mulai
membuka file lagu apa saja yang dimiliki Damar. Oktia yang juga penasaran ikut
melihat lagu apa saja yang dimiliki Damar.
“Butiran Debu? Di
MP3 kamu ada lagu Butiran Debu Mar?” tanya Risma seolah tak percaya seorang
Damar bisa punya lagu Butiran Debu di HP-nya. Sebuah lagu yang menggambarkan
kegalauan seseorang yang dihianati cintanya.
“Berarti Damar ini
memang benar-benar galau waktu dia nge-like
status yang isinya lirik lagu Butiran Debu. Sampai-sampai dia men-download dan menyimpannya di HP.” batin
Oktia.
Dosen masih belum datang. Oktia
mendengar lagu Cinta Ini Membunuhku. Oktia menengok ke sumber suara lagu itu.
__ADS_1
Lagu itu terputar dari HP Dayat.
Kamis pagi yang cerah, membuat Oktia
berkeinginan mengenakan batik ungu. Setelah berdandan rapi, ia berangkat ke
kampus. Pintu kelas belum dibuka oleh petugas. Damar sudah tiba di depan kelas
bersama teman-teman yang lain. Damar juga mengenakan batik ungu. Batik ungu
dengan motif yang sama dengan milik Oktia. Lebih tepatnya mereka mengenakan
batik seragam kelas. Hari ini, mereka couple-an.
Pintu kelas sudah
dibuka. Oktia masuk duluan dan meletakkan tasnya. Damar berjalan di belakang
Oktia, kemudian meletakkan tasnya di kursi yang bersebelahan dengan kursi yang
Oktia pakai untuk meletakkan tas. Jam kuliah sudah berdentang. Namun, sang
dosen belum datang. Nampaknya pagi ini sang dosen tak bisa datang untuk memberi
materi kuliah. Sehingga, mareka mengadakan presentasi dengan presenter dari
kelompok kemarin yang presentasinya belum selesai.
Suasana kelas
sedikit gaduh meskipun ada presentasi. Materi yang dipresentasikanpun agak
sulit dicerna terlebih teman-teman di belakang malah ngobrol sendiri-sendiri.
Oktia sudah tidak fokus mendengarkan presentasi. Pada akhirnya, Oktia dan Damar
ngobrol berdua. Banyak hal yang mereka bicarakan.
“Ini lho kalau
tangan terkena sreples, darahnya akan
keluar banyak.” kata Damar sewaktu Risma yang duduk di sebelah kanan Oktia
mencoba untuk ikut masuk dalam pembicaraan mereka. Kemudian mereka melanjutkan
obrolan mereka yang sempat ter-pending gara-gara Risma ikut nimbrung. “Ini
lho, darahnya bakal keluar sampai muncrat-muncrat kalau terkena sreples.” kata Damar
lagi sambil menunjukkan streples pada
Risma. Sepertinya Damar sedang tidak ingin diganggu. Sehingga, sewaktu Risma
mulai masuk ke dalam pembicaraan, Damar menakut-nakuti Risma dengan
masuk ke dalam pembicaraan Damar dan Oktia.
“Eh, kalian hari ini couple-an, duduk bersebelahan lagi.”
kata Rina pada Damar dan Oktia yang kebetulan waktu itu Rina sedang presentasi.
Oktia hanya menanggapi ucapan Rina dengan senyum. Sedangkan Damar malah membaca
buku.
Presentasi masih
berjalan. Oktia memperhatikan presentasi lagi dan membaca-baca materi yang
sedang dipresentasikan. Dayat juga duduk di barisan terdepan di sebelah kiri
Hadi, sebelah kanan Hadi ada Damar, sebelah kanan Damar ada Oktia. Dayat
mendendangkan sebuah lagu Cinta Ini membunuhku.
Kau membuat ku berantakan
Kau membuat ku tak karuan
Kau membuat ku tak berdaya
Kau menolakku acuhkan diriku
Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Kusadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan
Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku
Kuliah jam
pertama sudah usai. Mereka satu kelas menuju gedung sebelah untuk menghadiri
kuliah berikutnya. Mereka berkumpul di depan kelas berhubung kelas masih
dipakai oleh mahasiswa kelas lain.
“Kau membuat ku berantakan, kau membuat ku
__ADS_1
tak karuan, kau membuat ku tak berdaya, kau menolakku acuhkan diriku, bagaimana
caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu, kusadari ku tak sempurna ku tak
seperti yang kau inginkan kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau
menyakitiku, lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku. ” nyanyi
Dayat. Mungkin sebenarnya dia curhat.
“Kamu kenapa Kin?
Mata kamu seolah berbicara?” tanya Ndari pada Kinan. Sewaktu mereka berkumpul.
Oktia yang sedang
menunggu kelas untuk dikosongkan tak sengaja mendengar lagu yang dinyanyikan
Dayat semenjak kuliah jam pertama kini ia nyanyikan lagi dihadapan Kinan. Kinan
pun yang mendengar Dayat menyanyikan lagu itu mengisyaratkan hal yang lain.
Oktia mulai bertanya-tanya kenapa Dayat bisa sampai menyanyikan lagu itu.
Berhubung kelas
telah dikosongkan oleh mahasiswa kelas lain, Oktia masuk ke kelas. Dosen yang
biasanya datang tepat waktu tampaknya agak terlambat. Oktia yang mulai bosan
dengan suasana kelas memilih untuk keluar kelas untuk mencari udara segar.
Dayat dan Kinan sedang duduk berdua di depan kelas. Mungkin Dayat sedang curhat
dengan Kinan. Oktia mengurungkan niatnya untuk ke luar kelas daripada
mengganggu mereka.
Malam hari di kost.
Oktia terbangun di tengah malam dengan keadaan laptop yang masih menyala, modem
masih menancap di tempatnya. Baterai laptop masih lima puluh persen. Dengan
keadaan modem masih menancap, Oktia online membuka facebook-nya. Di beranda facebook ia melihat Dayat membuat
status.
“SEBEL LIHAT STATUS ORANG PADA GALAU. NJELEHI!”
Oktia mulai bertanya-tanya. Sepertinya Dayat
memang sedang benar-benar galau. Ia tak pernah melihat Dayat membuat status
seperti itu. Dayat bukanlah tipe orang yang mengungkapkan kegalauannya lewat
jejaring sosial.
“Apakah kegalauan Dayat disebabkan karena
kemarin aku memakai baju yang seragam dengan Damar. Lalu duduk bersebelahan dan
asyik ngobrol berdua tanpa membolehkan orang lain memasuki pembicaraan kami.
Terlebih apa yang dinyanyikan Dayat seolah lagu itu untukku. Hatiku bergetar
ketika dia menyanyikan ‘bagaimana caranya
untuk meruntuhkan kerasnya hatimu, kusadari ku tak sempurna, ku tak seperti
yang kau inginkan.’ Ya. Aku merasa saat dia bilang kau, itu adalah kau
aku.” batin Oktia mulai bertanya-tanya.
Keesokan paginya. Dayat tiba di kelas. Dia
menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang dipakai untuk melepaskan kegelisahan. Lagu
dengan genre rock. Namun, Oktia tak
tahu lagu itu. Sepertinya tadi malam Dayat cukup tertekan dan galau. Masih
terlihat dari nada suaranya. Hatinya perih. Terlebih status-nya yang dibuat tadi malam.
“Aku takut ke Klaten sendirian!” kata Dayat pada
teman-temannya.
Mendengar kalimat itu Oktia langsung menoleh ke
sumber suara. Dayat sedang ngobrol dengan Nudi, Bowo, dan Nugraha. Membicarakan
sesuatu yang tidak Oktia ketahui.
Mungkin tentang kegelisahan Dayat.
“Aku
takut ke Klaten sendirian? Nugraha kan juga orang Klaten. Kenapa nggak minta
ditemenin Nug kalau dia takut ke Klaten sendirian? Ada apa dengan Klaten?
Kenapa harus Klaten? Klaten kan tempat tinggalku? Kenapa Dayat menyebut tempat
tinggalku? Aneh. Apa kegalauannya gara-gara aku? Tapi kalau gara-gara aku?
Memangnya diriku kenapa?” batin Oktia bertanya-tanya. Tak mengerti apa yang
mereka maksud.
__ADS_1