
Jambu
Klutuk
Rabu pagi adalah hari di mana ada
kuis. Oktia melangkahkan kakinya menuju kelas. Sudah banyak orang ternyata.
Tempat yang biasanya Oktia pakai untuk duduk di sampingnya ada Dayat. Dayat
duduk di samping kursi kosong tempat biasanya Oktia duduk. Oktia bingung harus
duduk di mana. Oktia nggak mungkin duduk di sampingnya padahal di barisan depan
masih ada kursi yang kosong. Oktia memilih duduk di barisan terdepan di sebelah
kiri Wulan. Berhubung tadi pagi Oktia minum cukup banyak, Oktia merasa harus ke
kamar mandi supaya saat kuis nanti tidak menahan buang air kecil.
“Wul, titip tas ya.
Aku mau ke kamar mandi.”
“Ya.”
Setelah ke kamar
mandi Oktia melanjutkan belajarnya. Dayat duduk di depan sebelah kanan Wulan
sambi menanyakan materi yang akan dipakai untuk kuis. Risma datang. Dia duduk
di sebelah kiri Oktia, sebelah kiri Risma ada bangku kosong, sebelah bangku
kosong Risma ada Damar. Oktia melanjutkan belajarnya lagi. Risma melihat cover buku Damar yang sudah rusak.
“Mar, kok cover bukumu sudah rusak kayak gitu
sih.”
“Iya nih. Sebenarnya
mau tak bawa ke fotocopy-an buat
benerin cover-nya.”
Oktia yang juga agak
bosan belajar ikut nimbrung pembicaraan Damar dan Risma. Pada akhirnya mereka
bertiga, Oktia, Risma dan Damar menertawakan cover buku Damar yang sudah rusak. Di tengah tawa mereka bertiga
yang belum selesai.
“Ssstttt...........”
Sumber suaranya dari
Dayat. Rasanya nggak enak pakai banget. Baru aja tertawa, belum puas ketawanya,
langsung di-stop. Mereka bertiga
__ADS_1
langsung diam.. “Nggak enak banget sih ketawanya belum selesai udah disuruh
diam.” Gerutu Oktia di dalam hati
“Baru aja ketawa
udah disuruh diam.” komentar Wulan pada Dayat sambil cekikikan menertawakan
mereka bertiga yang langsung diam setelah tawa mereka yang baru saja dimulai
langsung di-stop oleh Dayat.
“Nyebelin banget nih
orang. Kemarin dilempar ‘jambu alas’ sekarang dilempar ‘jambu klutuk’.” batin
Oktia.
Kuis masih
berlangsung. Sebelum waktu mengerjakan kuis habis, Damar sudah menyelesaikan
kuisnya. Damar seperti sedang merenungkan sesuatu entah apa yang
direnungkannya. Terlihat memalui ekspresi wajahnya sepertinya dia menghadapi
suatu masalah dan ditanggapinya dengan penuh kedewasaan.
Kuliah ketiga akan
segera dimulai. Sang dosen belum juga tiba. Damar duduk di barisan paling
di belakang Damar. Namun, tidak di belakangnya persis. Di depan Oktia ada kursi
kosong. Nudi, teman dekat Dayat duduk di belakang Oktia di barisan nomor empat
sedang Oktia di barisan nomor dua. Dayat tiba-tiba datang dan menduduki kursi
kosong di depan Oktia.
“Duduk di depan aja
lah. Biar kayak orang bener.” kata Dayat.
“Yat, yakin Yat?
Kamu duduk di depan.” sindir Nudi yang tahu bahwa di samping Dayat ada Damar.
“Nggak yakin eh.
Pindah belakang aja deh.” kata Dayat.
Kuliah kali ini
sepertinya kosong. Sang dosen yang biasanya on
time, tak jua datang. Mahasiswanya dengan setia menunggu sang dosen tiba. Entah
ada angin apa Damar dan anak-anak buah Dayat ada di depan kelas. Sepertinya ada
yang dibicarakan. Oktia tak tahu apa yang dibicarakan mereka. Sepertinya serius
__ADS_1
sekali. Oktia yang bosan dengan suasana kelas memilih untuk keluar bersama
Risma. Dari gedung di depan ruang kuliah mereka, Oktia dan Risma melihat bahwa
Damar dan anak-anak buah Dayat masih membicarakan sesuatu. Berhubung sudah
banyak teman yang meninggalkan kelas, Oktia dan Risma memilih balik ke kelas.
Di kelas Wulan menyanyikan sebuah lagu.
“Pernah ada rasa cinta, antara kita kini
tinggal kenangan” nyanyi Wulan.
“Kok kamu nyanyi
lagu itu ada apa sih?” tanya Oktia.
“Tadi itu lho,
anak-anak pada bilang pernah ada. Pernah ada. Jadi, aku nyanyi lagu itu.” kata
Wulan.
Oktia jadi curiga
dengan apa yang dibicarakan Damar dan anak-anak buah Dayat di depan kelas tadi.
Apalagi lagu yang dinyanyikan Wulan tadi karena terinspirasi dari anak-anak.
Teman-teman laki-laki sedang membentuk lingkaran untuk bermain kartu sambil
menunggu waktu untuk kuliah berikutnya. Oktia memilih meninggalkan kelas.
Kamis, di dalam kalender hari itu
tercetak merah menandakan hari libur nasional. Tak ada mahasiswa yang kuliah.
Beberapa hari berikutnya, yakni hari Sabtu Damar mengganti cover photo dalam facebook-nya.
Sebelumnya cover photo Damar
menggambarkan seorang wanita berambut pendek yang melihat anak kecil laki-laki
dan perempuan berlarian di taman yang luas nan hijau. Namun kini Damar
menggantinya dengan cover photo yang
menggambarkan seorang laki-laki yang membawa oksigen di punggungnya karena
dalam lingkungan laki-laki tersebut penuh dengan debu yang menyesakkan nafas.
Seorang laki-laki itu melihat seorang wanita yang beranjak pergi dari laki-laki
tersebut. Kondisi yang digambarkan dalam cover
photo Damar sangat kontras, lingkungan laki-laki di warnai debu dan ruang
yang sempit sehingga laki-laki harus membawa oksigen. Sedangkan lingkungan
wanita berudara bersih dengan warna biru yang cukup luas.
__ADS_1