Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 24


__ADS_3

Jambu


Klutuk


            Rabu pagi adalah hari di mana ada


kuis. Oktia melangkahkan kakinya menuju kelas. Sudah banyak orang ternyata.


Tempat yang biasanya Oktia pakai untuk duduk di sampingnya ada Dayat. Dayat


duduk di samping kursi kosong tempat biasanya Oktia duduk. Oktia bingung harus


duduk di mana. Oktia nggak mungkin duduk di sampingnya padahal di barisan depan


masih ada kursi yang kosong. Oktia memilih duduk di barisan terdepan di sebelah


kiri Wulan. Berhubung tadi pagi Oktia minum cukup banyak, Oktia merasa harus ke


kamar mandi supaya saat kuis nanti tidak menahan buang air kecil.


            “Wul, titip tas ya.


Aku mau ke kamar mandi.”


            “Ya.”


            Setelah ke kamar


mandi Oktia melanjutkan belajarnya. Dayat duduk di depan sebelah kanan Wulan


sambi menanyakan materi yang akan dipakai untuk kuis. Risma datang. Dia duduk


di sebelah kiri Oktia, sebelah kiri Risma ada bangku kosong, sebelah bangku


kosong Risma ada Damar. Oktia melanjutkan belajarnya lagi. Risma melihat cover buku Damar yang sudah rusak.


            “Mar, kok cover bukumu sudah rusak kayak gitu


sih.”


            “Iya nih. Sebenarnya


mau tak bawa ke fotocopy-an buat


benerin cover-nya.”


            Oktia yang juga agak


bosan belajar ikut nimbrung pembicaraan Damar dan Risma. Pada akhirnya mereka


bertiga, Oktia, Risma dan Damar menertawakan cover buku Damar yang sudah rusak. Di tengah tawa mereka bertiga


yang belum selesai.


            “Ssstttt...........”


            Sumber suaranya dari


Dayat. Rasanya nggak enak pakai banget. Baru aja tertawa, belum puas ketawanya,


langsung di-stop. Mereka bertiga

__ADS_1


langsung diam.. “Nggak enak banget sih ketawanya belum selesai udah disuruh


diam.” Gerutu Oktia di dalam hati


            “Baru aja ketawa


udah disuruh diam.” komentar Wulan pada Dayat sambil cekikikan menertawakan


mereka bertiga yang langsung diam setelah tawa mereka yang baru saja dimulai


langsung di-stop oleh Dayat.


            “Nyebelin banget nih


orang. Kemarin dilempar ‘jambu alas’ sekarang dilempar ‘jambu klutuk’.” batin


Oktia.


            Kuis masih


berlangsung. Sebelum waktu mengerjakan kuis habis, Damar sudah menyelesaikan


kuisnya. Damar seperti sedang merenungkan sesuatu entah apa yang


direnungkannya. Terlihat memalui ekspresi wajahnya sepertinya dia menghadapi


suatu masalah dan ditanggapinya dengan penuh kedewasaan.


            Kuliah ketiga akan


segera dimulai. Sang dosen belum juga tiba. Damar duduk di barisan paling


di belakang Damar. Namun, tidak di belakangnya persis. Di depan Oktia ada kursi


kosong. Nudi, teman dekat Dayat duduk di belakang Oktia di barisan nomor empat


sedang Oktia di barisan nomor dua. Dayat tiba-tiba datang dan menduduki kursi


kosong di depan Oktia.


            “Duduk di depan aja


lah. Biar kayak orang bener.” kata Dayat.


            “Yat, yakin Yat?


Kamu duduk di depan.” sindir Nudi yang tahu bahwa di samping Dayat ada Damar.


            “Nggak yakin eh.


Pindah belakang aja deh.” kata Dayat.


            Kuliah kali ini


sepertinya kosong. Sang dosen yang biasanya on


time, tak jua datang. Mahasiswanya dengan setia menunggu sang dosen tiba. Entah


ada angin apa Damar dan anak-anak buah Dayat ada di depan kelas. Sepertinya ada


yang dibicarakan. Oktia tak tahu apa yang dibicarakan mereka. Sepertinya serius

__ADS_1


sekali. Oktia yang bosan dengan suasana kelas memilih untuk keluar bersama


Risma. Dari gedung di depan ruang kuliah mereka, Oktia dan Risma melihat bahwa


Damar dan anak-anak buah Dayat masih membicarakan sesuatu. Berhubung sudah


banyak teman yang meninggalkan kelas, Oktia dan Risma memilih balik ke kelas.


Di kelas Wulan menyanyikan sebuah lagu.


            “Pernah ada rasa cinta, antara kita kini


tinggal kenangan” nyanyi Wulan.


            “Kok kamu nyanyi


lagu itu ada apa sih?” tanya Oktia.


            “Tadi itu lho,


anak-anak pada bilang pernah ada. Pernah ada. Jadi, aku nyanyi lagu itu.” kata


Wulan.


            Oktia jadi curiga


dengan apa yang dibicarakan Damar dan anak-anak buah Dayat di depan kelas tadi.


Apalagi lagu yang dinyanyikan Wulan tadi karena terinspirasi dari anak-anak.


Teman-teman laki-laki sedang membentuk lingkaran untuk bermain kartu sambil


menunggu waktu untuk kuliah berikutnya. Oktia memilih meninggalkan kelas.


            Kamis, di dalam kalender hari itu


tercetak merah menandakan hari libur nasional. Tak ada mahasiswa yang kuliah.


Beberapa hari berikutnya, yakni hari Sabtu Damar mengganti cover photo dalam facebook-nya.


Sebelumnya cover photo Damar


menggambarkan seorang wanita berambut pendek yang melihat anak kecil laki-laki


dan perempuan berlarian di taman yang luas nan hijau. Namun kini Damar


menggantinya dengan cover photo yang


menggambarkan seorang laki-laki yang membawa oksigen di punggungnya karena


dalam lingkungan laki-laki tersebut penuh dengan debu yang menyesakkan nafas.


Seorang laki-laki itu melihat seorang wanita yang beranjak pergi dari laki-laki


tersebut. Kondisi yang digambarkan dalam cover


photo Damar sangat kontras, lingkungan laki-laki di warnai debu dan ruang


yang sempit sehingga laki-laki harus membawa oksigen. Sedangkan lingkungan


wanita berudara bersih dengan warna biru yang cukup luas.

__ADS_1


__ADS_2