Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 31


__ADS_3

Badai Pasti Berlalu


Pagi-pagi. Teman satu kost Oktia sudah mulai mendendangkan lagu Badai


Pasti Berlalu. Lagu yang cukup menghiburnya pagi itu. Membuatnya yakin bahwa


masalah ini akan berlalu suatu saat nanti. Ya badai pasti berlalu. Seperti


inilah syair yang teman Oktia dendangkan.


Awan hitam


Di hati yang sedang gelisah


Daun-daun berguguran


Satu-satu jatuh ke pangkuan


Kutenggelam sudah


Ke dalam dekapan


Semusim yang lalu


Sebelum kumencapai langkahku yang jauh


Kini semua bukan milikku


Musim itu tlah berlalu


Matahari segera berganti


Badai pasti berlalu


Badai pasti berlalu


Kuliah hari ini dimulai pukul 7.30. Oktia melangkahkan kakinya agar


tidak kesiangan meski masuk jam 7.30 Oktia memilih berangkat jam 6.45. Seperti


biasa jam-jam seperti ini pasti banyak mahasiswa yang terburu-buru berangkat.


Oktia menyalip seorang mahasiswi yang kebetulan terburu-buru juga hingga Oktia


menyenggolnya.


“Aduh!” keluh


mahasiswa itu.


“Maaf...” pinta Oktia.


“Masuk jam 7.00 ya?”


“Iya.”


Menyusuri jalan hingga


Oktia sampai di gedung kuliah. Entah mengapa, pagi ini hatinya merasa tenang


dan damai. Oktia menghirup udara pagi dengan nafas yang dalam. Rasanya


menyegarkan hingga merasuk ke hati. Sejuk. Menyenangkan. Biasanya bad mood tapi, kali ini entah mengapa


Oktia yakin bahwa Oktia bisa menghadapi semua masalah yang ada. Sesampainya di


kelas ada Damar, Hadi, Gigin. Sebuah tas yang Oktia kenal tergeletak di atas


kursi.


 “Mar, itu tasnya Okti kan?” tanya Oktia curiga.


“Iya.” jawabnya dengan


ekspresi ceria.


“La Okti ke mana?”


tanya Oktia lagi.

__ADS_1


“La itu Okti.”


jawabnya sambil menunjuk diri Oktia. Kali ini Damar mau bercanda lagi dengan


Oktia. Setelah sekian lama dia menjaga jarak dan bersikap dingin pada Oktia.


Sebagai seorang teman yang sebelum ada ‘masalah ini’ cukup akrab. Namun,


tiba-tiba menjauh dengan alasan yang Oktiapun sebenarnya tahu itu rasanya


sakit. Nyesek.


Sang dosenpun masuk


ruang kelas. Memberi materi kuliah. Risma duduk di antara Oktia dan Damar. Wulan


duduk di sebelah kiri Damar. Entah apa yang ada di pikiran Wulan. Terkadang


tanpa sengaja Oktia melihat Wulan sedang mengamatinya. Tak hanya satu kali.


Namun, berkali-kali.


Dayat datang


terlambat. Entah kesambet apa itu anak. Kali ini dia anteng dan tidak


menyindir-nyindir Oktia. Hal ini membuat Oktia tenang dan sedikit merasakan


hawa kebebasan. Segarnya.


Ruang kuliah berganti.


Sebelum kuliah Oktia menyempatkan waktu untuk jajan di kantin kejujuran bersama


Risma. Di kantin kejujuran mereka bertemu Wulan. Kali ini Wulan menampakkan


keramahannya setelah sekian lama setiap kali melihatnya membuat Oktia teringat


akan masalahnya dengan Dayat yang membuatnya cukup pusing, enek, mblenek. Kelas


masih dipakai oleh mahasiswa kelas lain. Mereka memutuskan untuk duduk di depan


kelas menghadap tanah lapang di depan gedung kuliah. Terdengar suara Dayat ada


“Kamu manis banget sih


Mit.” ucap Dayat.


Entah di belakangku ada Mita atau tidak. Oktia


tak mau ambil pusing. Lalu Dayat bergerak ke arah barat sambil menyanyikan


sebuah lagu dari soundtrack film Habibie Ainun.


Cinta kita melukiskan sejarah


Menggelarkan cerita penuh suka cita


Sehingga siapapun insan Tuhan


Pasti tahu cinta kita sejati


Begitulah


kira-kira syair yang Dayat dendangkan. Kuliah kali ini di gedung lama. Oktia


memilih untuk duduk di belakang Damar. Di sebelah kanan Damar ada Wulan.


“Tuh anak anteng banget.” batin Oktia.


Baru saja membatin itu anak, Rensa memanggil


Oktia.


“Ti, bawa freshcare? Mau dipinjem Dayat.” tanya


Rensa.


“Bawa kok. Ini.” sambil menyerahkan minyak angin

__ADS_1


itu pada Rensa.


Hari ini, itu anak memang anteng. Oktia menengok


ke belakang Dayat duduk di barisan paling belakang. Dia terkantuk-kantuk.


Pantes saja diem. Entah kenapa ketika dia tidur di kelas dan bersikap anteng


membuat Oktia senang. Mungkin Dayat sedang ada masalah. Jujur, sebenarnya Oktia


tak mau bersenang-senang di atas penderitaan orang. Namun, Damar bersikap


anteng membuat Oktia merasa nyaman. Karena, biasanya suaranya terdengar lantang


entah apa yang diomongkan yang terkadang pula dia menyindir Oktia. Dengan


kondisi seperti ini, lagi pula Oktia duduk di belakang Damar, kesempatan ini


Oktia gunakan untuk mendiskusikan soal kuis yang belum terjawab. Mereka


berdiskusi cukup nyaman tanpa ‘jambu klutuk’-nya Dayat. Kuispun berakhir.


Freshcare Oktia yang belum kembali pada Oktia dimintanya pada Dayat. Dengan


tatapan matanya yang tajam ke depan, Oktia langsung bisa memanggilnya. Mungkin


sebelumnya Dayat sudah melihat Oktia.


“Dayat, mana freshcare-ku?” pinta Oktia


“Tolong kasihkan Okti.” kata Dayat sambil


menyerahkan freshcare milik Oktia pada Heni untuk dilanturkan ke Oktia.


Berhubung kelas sudah usai, Oktia dan Risma


berjalan keluar.


“Okti, kamu itu memberiku impuls yang buruk.


Tiap kali ada dia kamu bad mood, aku


ikutan bad mood.”


“Sttt pelan-pelan. Ada Wulan di depan.”


Kebetulan Wulan ada di depan mereka dengan jarak


kurang lebih tiga meter. Risma yang tampaknya kesal dengan adanya komplotan


Dayat itu, menendangkan kakinya ke udara seolah ingin menendang Wulan.


“Hati-hati, di belakang juga ada Dayat.” cegah


Oktia.


 Sebenarnya, Wulan menginginkan mereka berjalan


bersama. Tapi, berhubung Oktia masih agak kesal dengan Dayat CS, Oktia memilih


berjalan di belakangnya. Biasanya, setelah kuliah Oktia mampir ke kamar mandi


dulu. Berhubung Wulan juga ke kamar mandi, Oktia memilih mengkode Risma agar


tidak ke kamar mandi itu. Dengan resiko agak jauh. Kemudian Oktia dan Risma


makan di kantin. Ketika sedang makan, mereka melihat Damar berjalan menuju


parkiran. Sepertinya kuliah yang diambil Damar kali ini kosong.


“Damar sekarang berubah. Jadi lebih pendiam.”


kata Risma ketika melihat Damar.


“Gimana nggak jadi pendiam? Sering di-’jambu


alas’-in. Dan aku orang yang pertama kali tidak terima kalau Damar digituin


sama Dayat.” kata Oktia.

__ADS_1


“Nyebelinnya


Dayat tu ngatur-ngatur. Dia itu Cuma omdo, omong doang.”


__ADS_2