
Badai Pasti Berlalu
Pagi-pagi. Teman satu kost Oktia sudah mulai mendendangkan lagu Badai
Pasti Berlalu. Lagu yang cukup menghiburnya pagi itu. Membuatnya yakin bahwa
masalah ini akan berlalu suatu saat nanti. Ya badai pasti berlalu. Seperti
inilah syair yang teman Oktia dendangkan.
Awan hitam
Di hati yang sedang gelisah
Daun-daun berguguran
Satu-satu jatuh ke pangkuan
Kutenggelam sudah
Ke dalam dekapan
Semusim yang lalu
Sebelum kumencapai langkahku yang jauh
Kini semua bukan milikku
Musim itu tlah berlalu
Matahari segera berganti
Badai pasti berlalu
Badai pasti berlalu
Kuliah hari ini dimulai pukul 7.30. Oktia melangkahkan kakinya agar
tidak kesiangan meski masuk jam 7.30 Oktia memilih berangkat jam 6.45. Seperti
biasa jam-jam seperti ini pasti banyak mahasiswa yang terburu-buru berangkat.
Oktia menyalip seorang mahasiswi yang kebetulan terburu-buru juga hingga Oktia
menyenggolnya.
“Aduh!” keluh
mahasiswa itu.
“Maaf...” pinta Oktia.
“Masuk jam 7.00 ya?”
“Iya.”
Menyusuri jalan hingga
Oktia sampai di gedung kuliah. Entah mengapa, pagi ini hatinya merasa tenang
dan damai. Oktia menghirup udara pagi dengan nafas yang dalam. Rasanya
menyegarkan hingga merasuk ke hati. Sejuk. Menyenangkan. Biasanya bad mood tapi, kali ini entah mengapa
Oktia yakin bahwa Oktia bisa menghadapi semua masalah yang ada. Sesampainya di
kelas ada Damar, Hadi, Gigin. Sebuah tas yang Oktia kenal tergeletak di atas
kursi.
“Mar, itu tasnya Okti kan?” tanya Oktia curiga.
“Iya.” jawabnya dengan
ekspresi ceria.
“La Okti ke mana?”
tanya Oktia lagi.
__ADS_1
“La itu Okti.”
jawabnya sambil menunjuk diri Oktia. Kali ini Damar mau bercanda lagi dengan
Oktia. Setelah sekian lama dia menjaga jarak dan bersikap dingin pada Oktia.
Sebagai seorang teman yang sebelum ada ‘masalah ini’ cukup akrab. Namun,
tiba-tiba menjauh dengan alasan yang Oktiapun sebenarnya tahu itu rasanya
sakit. Nyesek.
Sang dosenpun masuk
ruang kelas. Memberi materi kuliah. Risma duduk di antara Oktia dan Damar. Wulan
duduk di sebelah kiri Damar. Entah apa yang ada di pikiran Wulan. Terkadang
tanpa sengaja Oktia melihat Wulan sedang mengamatinya. Tak hanya satu kali.
Namun, berkali-kali.
Dayat datang
terlambat. Entah kesambet apa itu anak. Kali ini dia anteng dan tidak
menyindir-nyindir Oktia. Hal ini membuat Oktia tenang dan sedikit merasakan
hawa kebebasan. Segarnya.
Ruang kuliah berganti.
Sebelum kuliah Oktia menyempatkan waktu untuk jajan di kantin kejujuran bersama
Risma. Di kantin kejujuran mereka bertemu Wulan. Kali ini Wulan menampakkan
keramahannya setelah sekian lama setiap kali melihatnya membuat Oktia teringat
akan masalahnya dengan Dayat yang membuatnya cukup pusing, enek, mblenek. Kelas
masih dipakai oleh mahasiswa kelas lain. Mereka memutuskan untuk duduk di depan
kelas menghadap tanah lapang di depan gedung kuliah. Terdengar suara Dayat ada
“Kamu manis banget sih
Mit.” ucap Dayat.
Entah di belakangku ada Mita atau tidak. Oktia
tak mau ambil pusing. Lalu Dayat bergerak ke arah barat sambil menyanyikan
sebuah lagu dari soundtrack film Habibie Ainun.
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Begitulah
kira-kira syair yang Dayat dendangkan. Kuliah kali ini di gedung lama. Oktia
memilih untuk duduk di belakang Damar. Di sebelah kanan Damar ada Wulan.
“Tuh anak anteng banget.” batin Oktia.
Baru saja membatin itu anak, Rensa memanggil
Oktia.
“Ti, bawa freshcare? Mau dipinjem Dayat.” tanya
Rensa.
“Bawa kok. Ini.” sambil menyerahkan minyak angin
__ADS_1
itu pada Rensa.
Hari ini, itu anak memang anteng. Oktia menengok
ke belakang Dayat duduk di barisan paling belakang. Dia terkantuk-kantuk.
Pantes saja diem. Entah kenapa ketika dia tidur di kelas dan bersikap anteng
membuat Oktia senang. Mungkin Dayat sedang ada masalah. Jujur, sebenarnya Oktia
tak mau bersenang-senang di atas penderitaan orang. Namun, Damar bersikap
anteng membuat Oktia merasa nyaman. Karena, biasanya suaranya terdengar lantang
entah apa yang diomongkan yang terkadang pula dia menyindir Oktia. Dengan
kondisi seperti ini, lagi pula Oktia duduk di belakang Damar, kesempatan ini
Oktia gunakan untuk mendiskusikan soal kuis yang belum terjawab. Mereka
berdiskusi cukup nyaman tanpa ‘jambu klutuk’-nya Dayat. Kuispun berakhir.
Freshcare Oktia yang belum kembali pada Oktia dimintanya pada Dayat. Dengan
tatapan matanya yang tajam ke depan, Oktia langsung bisa memanggilnya. Mungkin
sebelumnya Dayat sudah melihat Oktia.
“Dayat, mana freshcare-ku?” pinta Oktia
“Tolong kasihkan Okti.” kata Dayat sambil
menyerahkan freshcare milik Oktia pada Heni untuk dilanturkan ke Oktia.
Berhubung kelas sudah usai, Oktia dan Risma
berjalan keluar.
“Okti, kamu itu memberiku impuls yang buruk.
Tiap kali ada dia kamu bad mood, aku
ikutan bad mood.”
“Sttt pelan-pelan. Ada Wulan di depan.”
Kebetulan Wulan ada di depan mereka dengan jarak
kurang lebih tiga meter. Risma yang tampaknya kesal dengan adanya komplotan
Dayat itu, menendangkan kakinya ke udara seolah ingin menendang Wulan.
“Hati-hati, di belakang juga ada Dayat.” cegah
Oktia.
Sebenarnya, Wulan menginginkan mereka berjalan
bersama. Tapi, berhubung Oktia masih agak kesal dengan Dayat CS, Oktia memilih
berjalan di belakangnya. Biasanya, setelah kuliah Oktia mampir ke kamar mandi
dulu. Berhubung Wulan juga ke kamar mandi, Oktia memilih mengkode Risma agar
tidak ke kamar mandi itu. Dengan resiko agak jauh. Kemudian Oktia dan Risma
makan di kantin. Ketika sedang makan, mereka melihat Damar berjalan menuju
parkiran. Sepertinya kuliah yang diambil Damar kali ini kosong.
“Damar sekarang berubah. Jadi lebih pendiam.”
kata Risma ketika melihat Damar.
“Gimana nggak jadi pendiam? Sering di-’jambu
alas’-in. Dan aku orang yang pertama kali tidak terima kalau Damar digituin
sama Dayat.” kata Oktia.
__ADS_1
“Nyebelinnya
Dayat tu ngatur-ngatur. Dia itu Cuma omdo, omong doang.”