Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 32


__ADS_3

Laporan


Kamis pagi. Jam pertama kuliah Mekanika Analitik. Kuliah di mana


jarum jam seakan tak mau bergerak. Waktu berlangsung cukup lama. Pagi ini


kepala Oktia agak pusing, perut mual, tenggorokan sakit. Brakkk.... Tiba-tiba


sang dosen menggebrakkan tangannya ke meja. Oktia yang sedang asyik mengerjakan


soal yang beliau berikan langsung mendangakkan kepala melihat ke arah sumber


suara.


“Di sini bukan tempat


jagong Mas!” bentak sang dosen.


Oktia melihat tatapan


mata sang dosen menuju ke arah Dayat yang kebetulan duduk di garda terdepan.


Mungkin dia mengantuk saat kuliah.


“Terkantuk-kantuk


sambil mesam-mesem mimpi ketemu siapa mas? Saya walaupun sudah tua masih bisa


melihat dengan jelas.” sang dosen mulai naik darah.


Melihat sang dosen


yang marah-marah membuat Oktia menjaga sikap. Apalagi pagi ini entah mengapa


Oktia sering menguap. Padahal jam istirahatnya cukup banyak.


 Seperti biasa dosen pasti menyuruh salah satu


mahasiswa maju ke depan untuk menambah nilai. Kebetulan yang maju Anto. Dengan


tepat dia bisa menjawab pertanyaan dosen. Semua mahasiswa memberinya tepuk


tangan. Melihat tingkah mahasiswanya yang memberi tepuk tangan pada Anto, sang


dosen memberi intermezo. Intermezo kali ini yang dibahas adalah pacar.


“Kamu kalau disuruh


milih. Pilih pacar yang pintar atau bodoh Mbak?” tanya sang Dosen pada Wulan


yang kebetulan duduk di sebelah kiri Oktia.


“Pilih yang pintar


Pak.” jawab Wulan.


“Yang penting jantan


Yat.” kata Wulan pada Dayat dari jarak jauh meski dia juga di garda paling


depan.


Oktia yang mendengar


hal itu langsung paham namun juga bosan. Tiap kali nyindir Dayat biasanya yang


disindir adalah soal kejantanan (dalam hal menyatakan perasaan).


Waktu kuliah Mekanika


Analitik telah usai. Saatnya naik ke lantai tiga menuju ruang kelas perkuliahan


ke dua. Kali ini Dayat duduk di belakang. Dia memanggil Oktia yang kebetulan


duduk di barisan terdepan di sebelah kiri Wulan lewat seorang teman. Oktia


menengok Dayat yang ada di belakang. Dia meminta freshcare. Oktia memberikan


freshcare-nya saat itu juga. Mungkin dia sedang sakit.


“Wul, dua hari ini


Dayat minta freshcare padaku. Dia sakit ya?”


 “Kecapekan mungkin. Sibuk ngurusin PJF.”


 Saat kuliah, sang dosen terlihat terburu-buru.


Sering mengangkat telefon. Akhirnya kuliah berakhir dua puluh menit lebih awal


dari biasanya. Berhubung freshcare Oktia belum dikembalikan Dayat, Oktia


memilih untuk menunggunya sebentar. Kalaupun dia lupa mengembalikan, Oktia


membiarkan freshcare-nya dibawa Dayat dulu. Tiba-tiba Dayat muncul dihadapan


Oktia.


“Harganya berapa sih?”

__ADS_1


tanya Dayat sambil mengembalikan freshcare Oktia.


“Sepuluh ribuan. Kamu


pakai saja dulu, kalau masih ingin dipakai.”


“Nggak aja. Tadi aku


cuma ngantuk. Setelah tak olesin langsung melek. Dasar teorimu sudah?”


“Sudah kok tapi nggak


tak bawa.”


“Entar malem tak copy


ya!”


“Ya.”


Berhubung ruang kelas


mau dipakai ujian kelas lain. Mereka semua meninggalkan kelas. Oktia, Risma,


Ana, Okti menuju foodcourt untuk makan siang. Setelah makan siang Oktia dan


Risma ke perpustakaan, Ana sibuk dengan urusannya, Okti pulang. Akhirnya Oktia


dan Risma hanya berdua di perpustakaan. Di perpustakaan, Oktia keasyikan main


laptop. HP-nya ditinggalkan di tas dan  tak pernah ia tengok apakah ada SMS atau tidak. Melihat HP Risma ada SMS


Oktia jadi ingat HP-nya. Ada satu pesan masuk. Dari Dayat.


“Okti, di perpus atau


di kost? Aku mau ngopy laporanmu sekarang aja”


Begitulah isi pesan


singkat dari Dayat. Pesan itu masuk pukul 12.39. Padahal Oktia membuka pesan itu


sudah pukul 14.00. Langsung saja Oktia balas pesan itu.


“Aku di perpus lantai


2. Maaf lagi bales. HP-ku nggak tak adep”


Begitulah isi balasan


SMS dari Oktia. Pesan sudah sampai. Namun, tak kunjung dibalas. Mood Oktia menurun drastis. Mood-nya yang awalnya adem, ayem, damai,


aman, sentosa, sejahtera tiba-tiba bad


tadi benar-benar tak dibalasnya. Ia menunggu hingga pukul 15.00. Sebelum pulang


ke kost, Oktia mengalah untuk SMS Dayat lagi untuk memastikan apakah dia akan


mengcopy laporannya atau tidak. Oktia hanya menunggu kepastian kalau iya ya iya


kalau enggak ya enggak. Oktia tidak suka dengan orang yang tidak konsekuen.


“Dayat, kamu jadi


ngopy laporanku nggak?”


Pesan terkirim. Untuk


kali ini dia membalasnya.


“Nggak jadi. Ntar agak


maleman ya?”


“Ya. La agak maleman


itu, kira-kira jam berapa?”


Pesan terkirim. SMS


Oktia tidak dibalasnya lagi. Oktia sebenarnya hanya ingin dia itu menepati


janjinya membuktikan ucapannya. “Kalau nggak bisa ya bilang nggak bisa. Jangan


nggak bisa tapi bilangnya bisa.” kata Oktia dalam hati. Kali ini Oktia


benar-benar kesal. Oktia berpikiran nanti malampun dia nggak akan datang. Untuk


mengusir kekesalannya, Oktia memilih bergabung dengan teman kost-nya untuk


nonton film. Beruntung. Film yang diputar teman Oktia bergenre komedi. Oktia


bisa tertawa dan akhirnya melupakan kekesalannya. Entah dengan radar apa Oktia


tiba-tiba ingin melihat HP-nya. Dan benar saja perasaan Oktia tadi. Beberapa


menit kemudian ada SMS masuk dari Dayat.


“Okti, aku ke kostmu

__ADS_1


ya. Sekarang.”


Oktia cukup kaget


Dayat mau ke kost-nya di waktu sore. Padahal janjinya malam. Setelah membaca


pesan dari Dayat, dengan sigap Oktia mengenakan jilbabnya. Dalam hitungan


detik. Hap. Selesai. Oktia nggak mau pakai neko-neko. Cukup rok, jaket, dan


jilbab langsungan. Kombinasi warnanya nano-nano. Rok hitam, baju pink, jaket


coklat, jilbab putih, sendal ungu. Yang penting tertutup. Nggak peduli matching


atau enggak. Ia mengambil laporannya yang akan dicopy Dayat. Oktia menunggu


Dayat dengan melanjutkan nonton film bersama teman-temannya.


“Aku di depan Ti.”


SMS dari Dayat masuk


lagi. Oktia melangkahkan kakinya keluar kost. Ternyata di luar masih gerimis.


Dayat mengenakan mantel biru, helm putih. Kulitnya yang putih memuat mukanya


yang melihat Oktia ke luar dari kost terlihat jelas. Matanya menatap Oktia.


Seperti biasa Dayat nggak mau turun dari motornya. Dayat membiarkan Oktia


keluar kost dan menemuinya di jalan. Menyerahkan laporan di jalan pula. Oktia


berjalan semakin mendekat,  ia melihat


seorang laki-laki Oktia rasa dia pacar teman kostnya. Oktia nggak hafal


wajahnya, hanya tahu kalau ada motor plat AD pasti itu pacar temannya. Oktia


melirik plat motornya sebentar. AD. Ya, pasti itu pacar temannya. Oktia biarkan


dia yang memang Oktia juga tak mengenalnya. Oktia menyerahkan laporannya pada


Dayat.


“Sudah selesai


laporannya?”


“Sudah kok.”


“Tak copy di situ


sebentar ya.”


“Ya.”  jawabku sambil mengangguk.


Kali ini memang cukup


kaku, kikuk. Oktia menunggu dia di ruang tamu. Namun Oktia merasa pasti akan


lama. Oktia memilih melanjutkan nonton film lagi bersama teman-temannya.


Beberapa menit kemudian, HP-nya bergetar.


“Aku di depan Ti.”


Melihat SMS Dayat


masuk, Oktia langsung ke luar kost. Hujan sudah reda. Dayat tak bermantel lagi.


Oktia berjalan perlahan. Kali ini dia mau turun dari motornya dan berjalan ke


arah Oktia. Sambil basa-basi, Oktia menceritakan alasannya yang tak segera


mambalas SMS-nya.


“Maaf ya, aku tadi


lama balas SMS-nya. Soalnya HP-ku ada di tas.”


“Nggak papa aku tadi


malah tidur kok.”


“Ini laporannya sudah


tak copy. Makasih ya.”


“Iya.”


“Assalamualaikum.”


salamnya sambil berbalik untuk pulang.


“Waalaikummussalam.


Hati-hati.” jawab Oktia.


            Oktia langsung berbalik arah masuk

__ADS_1


kost, tanpa melihatnya lagi. Setidaknya hari ini omongan Dayat terlaksana


meskipun sedikit nggak jelas dalam menepati janji


__ADS_2