
Laporan
Kamis pagi. Jam pertama kuliah Mekanika Analitik. Kuliah di mana
jarum jam seakan tak mau bergerak. Waktu berlangsung cukup lama. Pagi ini
kepala Oktia agak pusing, perut mual, tenggorokan sakit. Brakkk.... Tiba-tiba
sang dosen menggebrakkan tangannya ke meja. Oktia yang sedang asyik mengerjakan
soal yang beliau berikan langsung mendangakkan kepala melihat ke arah sumber
suara.
“Di sini bukan tempat
jagong Mas!” bentak sang dosen.
Oktia melihat tatapan
mata sang dosen menuju ke arah Dayat yang kebetulan duduk di garda terdepan.
Mungkin dia mengantuk saat kuliah.
“Terkantuk-kantuk
sambil mesam-mesem mimpi ketemu siapa mas? Saya walaupun sudah tua masih bisa
melihat dengan jelas.” sang dosen mulai naik darah.
Melihat sang dosen
yang marah-marah membuat Oktia menjaga sikap. Apalagi pagi ini entah mengapa
Oktia sering menguap. Padahal jam istirahatnya cukup banyak.
Seperti biasa dosen pasti menyuruh salah satu
mahasiswa maju ke depan untuk menambah nilai. Kebetulan yang maju Anto. Dengan
tepat dia bisa menjawab pertanyaan dosen. Semua mahasiswa memberinya tepuk
tangan. Melihat tingkah mahasiswanya yang memberi tepuk tangan pada Anto, sang
dosen memberi intermezo. Intermezo kali ini yang dibahas adalah pacar.
“Kamu kalau disuruh
milih. Pilih pacar yang pintar atau bodoh Mbak?” tanya sang Dosen pada Wulan
yang kebetulan duduk di sebelah kiri Oktia.
“Pilih yang pintar
Pak.” jawab Wulan.
“Yang penting jantan
Yat.” kata Wulan pada Dayat dari jarak jauh meski dia juga di garda paling
depan.
Oktia yang mendengar
hal itu langsung paham namun juga bosan. Tiap kali nyindir Dayat biasanya yang
disindir adalah soal kejantanan (dalam hal menyatakan perasaan).
Waktu kuliah Mekanika
Analitik telah usai. Saatnya naik ke lantai tiga menuju ruang kelas perkuliahan
ke dua. Kali ini Dayat duduk di belakang. Dia memanggil Oktia yang kebetulan
duduk di barisan terdepan di sebelah kiri Wulan lewat seorang teman. Oktia
menengok Dayat yang ada di belakang. Dia meminta freshcare. Oktia memberikan
freshcare-nya saat itu juga. Mungkin dia sedang sakit.
“Wul, dua hari ini
Dayat minta freshcare padaku. Dia sakit ya?”
“Kecapekan mungkin. Sibuk ngurusin PJF.”
Saat kuliah, sang dosen terlihat terburu-buru.
Sering mengangkat telefon. Akhirnya kuliah berakhir dua puluh menit lebih awal
dari biasanya. Berhubung freshcare Oktia belum dikembalikan Dayat, Oktia
memilih untuk menunggunya sebentar. Kalaupun dia lupa mengembalikan, Oktia
membiarkan freshcare-nya dibawa Dayat dulu. Tiba-tiba Dayat muncul dihadapan
Oktia.
“Harganya berapa sih?”
__ADS_1
tanya Dayat sambil mengembalikan freshcare Oktia.
“Sepuluh ribuan. Kamu
pakai saja dulu, kalau masih ingin dipakai.”
“Nggak aja. Tadi aku
cuma ngantuk. Setelah tak olesin langsung melek. Dasar teorimu sudah?”
“Sudah kok tapi nggak
tak bawa.”
“Entar malem tak copy
ya!”
“Ya.”
Berhubung ruang kelas
mau dipakai ujian kelas lain. Mereka semua meninggalkan kelas. Oktia, Risma,
Ana, Okti menuju foodcourt untuk makan siang. Setelah makan siang Oktia dan
Risma ke perpustakaan, Ana sibuk dengan urusannya, Okti pulang. Akhirnya Oktia
dan Risma hanya berdua di perpustakaan. Di perpustakaan, Oktia keasyikan main
laptop. HP-nya ditinggalkan di tas dan tak pernah ia tengok apakah ada SMS atau tidak. Melihat HP Risma ada SMS
Oktia jadi ingat HP-nya. Ada satu pesan masuk. Dari Dayat.
“Okti, di perpus atau
di kost? Aku mau ngopy laporanmu sekarang aja”
Begitulah isi pesan
singkat dari Dayat. Pesan itu masuk pukul 12.39. Padahal Oktia membuka pesan itu
sudah pukul 14.00. Langsung saja Oktia balas pesan itu.
“Aku di perpus lantai
2. Maaf lagi bales. HP-ku nggak tak adep”
Begitulah isi balasan
SMS dari Oktia. Pesan sudah sampai. Namun, tak kunjung dibalas. Mood Oktia menurun drastis. Mood-nya yang awalnya adem, ayem, damai,
aman, sentosa, sejahtera tiba-tiba bad
tadi benar-benar tak dibalasnya. Ia menunggu hingga pukul 15.00. Sebelum pulang
ke kost, Oktia mengalah untuk SMS Dayat lagi untuk memastikan apakah dia akan
mengcopy laporannya atau tidak. Oktia hanya menunggu kepastian kalau iya ya iya
kalau enggak ya enggak. Oktia tidak suka dengan orang yang tidak konsekuen.
“Dayat, kamu jadi
ngopy laporanku nggak?”
Pesan terkirim. Untuk
kali ini dia membalasnya.
“Nggak jadi. Ntar agak
maleman ya?”
“Ya. La agak maleman
itu, kira-kira jam berapa?”
Pesan terkirim. SMS
Oktia tidak dibalasnya lagi. Oktia sebenarnya hanya ingin dia itu menepati
janjinya membuktikan ucapannya. “Kalau nggak bisa ya bilang nggak bisa. Jangan
nggak bisa tapi bilangnya bisa.” kata Oktia dalam hati. Kali ini Oktia
benar-benar kesal. Oktia berpikiran nanti malampun dia nggak akan datang. Untuk
mengusir kekesalannya, Oktia memilih bergabung dengan teman kost-nya untuk
nonton film. Beruntung. Film yang diputar teman Oktia bergenre komedi. Oktia
bisa tertawa dan akhirnya melupakan kekesalannya. Entah dengan radar apa Oktia
tiba-tiba ingin melihat HP-nya. Dan benar saja perasaan Oktia tadi. Beberapa
menit kemudian ada SMS masuk dari Dayat.
“Okti, aku ke kostmu
__ADS_1
ya. Sekarang.”
Oktia cukup kaget
Dayat mau ke kost-nya di waktu sore. Padahal janjinya malam. Setelah membaca
pesan dari Dayat, dengan sigap Oktia mengenakan jilbabnya. Dalam hitungan
detik. Hap. Selesai. Oktia nggak mau pakai neko-neko. Cukup rok, jaket, dan
jilbab langsungan. Kombinasi warnanya nano-nano. Rok hitam, baju pink, jaket
coklat, jilbab putih, sendal ungu. Yang penting tertutup. Nggak peduli matching
atau enggak. Ia mengambil laporannya yang akan dicopy Dayat. Oktia menunggu
Dayat dengan melanjutkan nonton film bersama teman-temannya.
“Aku di depan Ti.”
SMS dari Dayat masuk
lagi. Oktia melangkahkan kakinya keluar kost. Ternyata di luar masih gerimis.
Dayat mengenakan mantel biru, helm putih. Kulitnya yang putih memuat mukanya
yang melihat Oktia ke luar dari kost terlihat jelas. Matanya menatap Oktia.
Seperti biasa Dayat nggak mau turun dari motornya. Dayat membiarkan Oktia
keluar kost dan menemuinya di jalan. Menyerahkan laporan di jalan pula. Oktia
berjalan semakin mendekat, ia melihat
seorang laki-laki Oktia rasa dia pacar teman kostnya. Oktia nggak hafal
wajahnya, hanya tahu kalau ada motor plat AD pasti itu pacar temannya. Oktia
melirik plat motornya sebentar. AD. Ya, pasti itu pacar temannya. Oktia biarkan
dia yang memang Oktia juga tak mengenalnya. Oktia menyerahkan laporannya pada
Dayat.
“Sudah selesai
laporannya?”
“Sudah kok.”
“Tak copy di situ
sebentar ya.”
“Ya.” jawabku sambil mengangguk.
Kali ini memang cukup
kaku, kikuk. Oktia menunggu dia di ruang tamu. Namun Oktia merasa pasti akan
lama. Oktia memilih melanjutkan nonton film lagi bersama teman-temannya.
Beberapa menit kemudian, HP-nya bergetar.
“Aku di depan Ti.”
Melihat SMS Dayat
masuk, Oktia langsung ke luar kost. Hujan sudah reda. Dayat tak bermantel lagi.
Oktia berjalan perlahan. Kali ini dia mau turun dari motornya dan berjalan ke
arah Oktia. Sambil basa-basi, Oktia menceritakan alasannya yang tak segera
mambalas SMS-nya.
“Maaf ya, aku tadi
lama balas SMS-nya. Soalnya HP-ku ada di tas.”
“Nggak papa aku tadi
malah tidur kok.”
“Ini laporannya sudah
tak copy. Makasih ya.”
“Iya.”
“Assalamualaikum.”
salamnya sambil berbalik untuk pulang.
“Waalaikummussalam.
Hati-hati.” jawab Oktia.
Oktia langsung berbalik arah masuk
__ADS_1
kost, tanpa melihatnya lagi. Setidaknya hari ini omongan Dayat terlaksana
meskipun sedikit nggak jelas dalam menepati janji