
12. Aku Ini Punya Siapa
Kuliah pagi. Kelas belum di buka. Oktia menunggu kelas dibuka di
teras depan kelas. Pagi ini nampaknya Damar mulai baik lagi pada Oktia. Dia
bertanya pada Oktia tentang buku yang dipakai untuk dasar teori laporan
praktikum.
Pagi ini pula, Wulan membawa laptop. Oktia
kehabisan stok film untuk ditonton. Kebetulan Wulan punya banyak film dan dia
membawa laptop. Sebelum kuliah di mulai, Oktia meminta Wulan untuk di-copy-kan film.
“Film yang romantis apa Wul?”
“Apa ya? Yang ini aja gimana?”
“Emm...Gimana ya? Waiting for Forever itu ceritanya gimana Wul?”
“Itu tu menceritakan ada dua orang anak kecil
cowok dan cewek. Cowoknya suka sama temen ceweknya dari kecil. Namun, teman
ceweknya nggak tahu. Cowoknya nggak bisa ngungkapin perasaannya sampai dewasa.
Cowoknya selalu ngikutin ke mana aja ceweknya pergi. Hingga suatu ketika
cowoknya bisa ngungkapin perasaannya. Eh.. ternyata ceweknya juga suka.”
“Kok aku banget ya.” batin Oktia. Intuisinya
mulai bekerja.
“Eh.. boleh. Aku ngopy dong.”
Mata kuliah berganti. Pindah ke gedung lain.
Kelas yang mereka gunakan untuk kuliah masih dipakai kelas lain. Oktia duduk di
bangku depan kelas. Damar datang pada Oktia untuk meminjam buku yang Oktia
gunakan untuk dasar teori laporan praktikum. Tiba-tiba saja Dayat ikut nimbrung. Oktia merasa ada yang aneh
pada Damar dan Dayat. Entah hanya perasaannya saja atau bukan. Oktia hanya
merasa Damar dan Dayat berebut perhatiannya. Setelah itu Dayat menyanyikan
sepotong lirik lagu
“Jika dia
cintaimu, melebihi cintaku padamu, aku pasti rela untuk melepasmu, walau ku
tahu ku kan terluka.” nyanyi Dayat.
Setelah kuliah, Dayat mengajak Oktia ke
perpustakaan untuk belajar bersama.
“Okti, entar ke perpus yuh. Belajar bareng.”
kata Dayat pada Oktia di balkon depan kelas. Oktia melihat Damar sedang ke luar
kelas bersama teman-teman yang lain.
“Iya,
boleh.”
“Tapi Ti, aku dan Okti entar nggak bisa ikut.”
kata Risma pada Oktia.
“Yaudah deh nggak jadi aja.” kata Dayat lalu
meninggalkan mereka.
“Dayat itu, nggak mau kalau ke perpus cuma
berdua.” kata Risma.
“Yang nggak mau ke perpus cuma berdua itu aku.
Sewaktu mau ujian Termodinamika saja yang menjaga jarak sewaktu cuma berdua
dengan Dayat malah aku.” batin Oktia membantah pernyataan Risma.
Setelah sampai di kost dan matahari mulai
tenggelam. Oktia menyempatkan diri untuk menonton film yang barusan ia copy. Menurutnya, filmnya cukup
membosankan. Tokoh cowoknya itu ****. Kenapa sih nggak mau ngungkapin
perasaannya malah ngikutin cewek yang disukainya ke manapun dia pergi. Ngeliat
cowok suka sama cewek tapi nggak bisa ngungkapin itu bikin gemes.
Setelah menonton film Waiting for Forever, Oktia memilih tidur melepas penat. Dalam
tidurnya Oktia memimpikan hal yang aneh.
Oktia bermimpi berada dalam sebuah ruangan
bersama tiga orang yang tak ia kenal. Mereka duduk di samping Oktia dengan
formasi dua orang laki-laki dan perempuan yang usianya sudah hampir separuh
baya duduk bersebelahan. Perempuan itu mengenakan kebaya dan rambut digelung
ala perempuan jawa yang sudah tua. Di belakang laki-laki dan perempuan itu ada
seorang laki-laki yang masih muda kira-kira seumuran dengannya mengenakan jaket
hitam dengan wajah ditundukkan. Oktia tak melihat dengan jelas wajah laki-laki
yang seumuran dengannya itu. Dia hanya duduk diam tak melihat Oktia. Perempuan
__ADS_1
separuh baya itu mengatakan bahwa laki-laki yang ada di belakangnya mencintai
Oktia sudah sejak lama. Namun, tak mampu mengungkapkannya. Setelah perempuan
tadi mengatakan hal itu pada Oktia, terjadi sebuah kecelakaan pesawat terbang
di sekitar tempat Oktia tinggal. Oktia melihat laki-laki muda tadi menemuinya.
Dia merangkul Oktia dengan tangannya, menjaga dan melindungi Oktia yang
ketakutan melihat pesawat jatuh. Dalam mimpi itu lama kelamaan Oktiapun
merasakan hal yang sama seperti perasaan laki-laki muda tadi. Setelah laki-laki
tadi menenangkan Oktia, dia berpamitan akan pergi ke suatu tempat. Oktiapun
menjabat tangannya mengizinkan dia pergi. Laki-laki tadi mulai berjalan pergi.
Oktia terbangun. Menyadari peristiwa tadi cuma
mimpi. Mimpi itu jelas sekali. Seperti kenyataan. Memimpikan film yang barusan
ditonton dengan pemeran utama Oktia sendiri adalah hal yang cukup aneh baginya.
Oktia mulai bertanya-tanya siapakah gerangan laki-laki muda yang ada di
mimpinya.
Modem
Oktia baru saja diisi. Waktunya memanfaatkan fasilitas. Ia buka facebook-nya. Ia melihat Damar update status “lagunya keren ^^” di
bawah status Damar ada sebuah link dari Youtube yang isinya sebuah lagu yang dinyanyikan salah satu
kontestan lomba menyanyi di salah satu televisi swasta. Lagu itu berjudul Aku
Ini Punya Siapa. Oktia tak tahu syair lagu itu. Kebetulan juga hari sudah
hampir pagi, Oktia belum sempat meng-googling lirik lagu yang Damar maksudkan. Waktu ke kampus tinggal beberapa menit lagi.
Cusss berangkat ke kampus.
Kelas belum di buka.
Oktia menunggu kelas dibuka dengan Okti. mereka duduk-duduk di teras gedung
kuliah. Oktia teringat mimpi semalam. Masih penasaran siapa gerangan laki-laki
dalam mimpinya.
“Itu, Damar sudah
datang.” kata Okti pada Oktia. Damar yang sedang berjalan menuju kelas. Dia
mengenakan jaket biru dengan model jaket agak menggembung, sedangkan laki-laki
dalam mimpi Oktia mengenakan jaket hitam dan model jaketnya tidak menggembung.
“Berarti bukan
Setelah pintu kelas
dibuka oleh penjaga kampus, Oktia dan Okti masuk ke kelas. Oktia masih menjaga
jarak dengan Damar. Masih marahan, mungkin iya. Oktia duduk dengan jarak cukup
jauh darinya. Tak seperti semester sebelumnya di mana mereka terkadang duduk
bersebelahan. Kursi kelas masih acak-acakan. Oktia pergi ke toilet untuk cuci
tangan setelah meletakkan tasnya di kursi kelas dan menitipkannya pada Okti.
Sesampainya di kelas kursi-kursi yang tadinya berantakan sudah tertata rapi.
Tempat duduk Oktia jadi dekat dengan tempat duduk Damar. Hanya bersela satu
kursi kosong. Oktia yang menyadari hal itu sedikit kaget. Ia masih trauma bila
Damar akan menghindarinya lagi.
“Alangkah
senang hatiku, bila kudekat denganmu.” nyanyi Anti yang kebetulan duduk di
baris belakang.
Meskipun tempat duduk mereka saling berdekatan,
Oktia tak mengajaknya bicara. Merekapun tak saling bertegur sapa. Damar juga
tak mengajak bicara duluhan seperti sebelum mereka perang dingin. Sepertinya
Damar masih marah pada Oktia dengan sebab yang tidak Oktia ketahui.
“Sepertinya dia sudah mulai sadar diri lho.”
kata Dayat dari belakang kelas. Oktia langsung berbalik arah ke belakang kelas.
Ternyata Dayat sedang ngobrol dengan teman-teman dekatnya.
“Dia sudah sadar diri? Siapa sih yang dia
maksud. Apa jangan-jangan yang sudah sadar itu kami yang mulai berjauhan. Apa
emang yang dimaksud ‘modus’ itu karena aku sering duduk di dekat Damar. Berarti
selama ini Dayat ingin kami menjauh.” batin Oktia setelah mendengar kata-kata dari
Dayat.
Setelah
kuliah selesai, Oktia kembali ke kost dan bersiap untuk pulang ke kampung
halaman tercinta. Sebelum bersiap-siap ia menyempatkan diri untuk googling lirik lagu Aku Ini Milik Siapa yang Damar pakai untuk membuat status.
Susah juga ternyata
__ADS_1
Punya pacar bermata liar
Sering kali memalukan
Dibuatnya aku tiada berharga
Mau marah percuma
Paling hanya menelan ludah
Daripada naik darah
Kuputuskan saja tali cintanya
Untung saja seluruh diriku
Dapat kujaga utuh
Sejak kucinta dia
Sehingga kini berpisah
Oh syukur tiada ternoda
Aduh aduh bisa gila
Punya pacar berhati dua
Aku ini punya siapa
Kuputuskan saja tali cintanya
Marah. Iya. Sedih. Iya. Jengkel. Iya. Sebel. Iya. Dongkol. Iya.
Galau. Apalagi. Setelah tahu Damar membuat status seperti itu.
“Apa jangan-jangan karena aku mulai dekat dengan
Dayat hingga Damar begini padaku? Apa karena aku diajak ke perpus sama Dayat?
Kan yang ngajak Dayat duluan bukan aku. Aku dan Dayat kan cuma teman. Lagi pula
meskipun aku dengan Damar dekat, aku belum jadi pacarnya. Menduakan? Siapa yang
mendua? Sejak awal masuk saja aku ingin bersamanya tapi dianya saja yang
menjauh. Sewaktu ke perpus sebelum ujian termodinamika, aku tahu aku hanya
berdua dengan Dayat pun, aku memilih menjaga jarak. Karena aku tuh nggak sanggup
bila aku sudah dekat dengan Damar tiba-tiba saja berdua dengan Dayat. Aku nggak
ngerti maksud Damar apa. Jika lagu itu menggambarkan isi hatinya dan aku
dianggap pacarnya yang menduakannya hingga membuatnya naik darah dan memilih
untuk memutuskan tali cinta, baik. Aku terima bila dia memutuskan hal itu. Aku
akan menepi bila hal itu membuatnya bahagia. Melepasnya bila itu maunya. Tapi,
akan aku buktikan kalau aku bukan tipe orang yang bermata liar ataupun berhati
dua. Erwin teman sekelasku waktu SMA aja pernah bilang kalau aku punya pacar
aku tu bakal setia tapi posesif.”
Galau. Itulah yang Oktia rasakan. Terlebih
dengan kelakuan Damar yang jauh berbeda jika dibandingkan semester sebelumnya.
“Damar itu sebenarnya kenapa sih? Apa dia menjauh dariku karena dekat
dengan wanita lain? Tapi siapa? Sewaktu di kelas kayaknya nggak ada wanita yang
lagi dekat dengan Damar selain aku. Apa mungkin Puput? Diakan semester ini
sering duduk dekat Damar. Tapi, kalau Puput kok rasanya aneh. Sewaktu tempat
pensil Puput jatuh Damar nggak ngambilin. Tapi, dulu tiap ada barang punyaku
yang jatuh dengan sigap Damar ngambilin buat aku. Sebenarnya ada apa sih dengan
Damar? Kalau sekarang dia menjauh dan memenang itu pilihannya. Aku saja yang
pergi menjauh. Tak usah kau menghindariku Mar. Aku akan menepi, menjauh seperti
pintamu lewat lagu yang kau like waktu dulu.” batin Oktia dengan air mata yang hampir menetes.
Perlakuan Damar yang membuatnya terluka membuat Oktia harus
mengikhlaskan semua. Melepaskan apa saja yang menjadi uneg-uneg. Sholat Zuhur
sambil perlahan melepas dan mengikhlaskan takdir yang sedang ia jalani. Setelah
sholat Zuhur, Oktia merasa hatinya tentram dan damai. Entah kenapa Oktia
memikirkan sesuatu dan menuliskan apa yang menjadi pemikirannya. Memikirkan
sesuatu yang membuat hatinya merasa tenang. Hingga Oktiapun menuliskannya ke
dalam sebuah buku.
Lepaskan saja apa yang telah hilang dari tanganmu. Allah tidak hendak
menjadikanmu bersedih maupun berduka. Melainkan apa yang telah hilang itu akan
diganti-Nya dengan sesuatu yang lebih baik. Bersabarlah bila rasa sakit itu
datang mendera. Biarkan kapal itu berlayar sesuai perintah Illah-nya. Bila
tetap dipaksa kapal itu takkan sampai tujuannya. Kalaupun sampai niscaya akan
membutuhkan waktu yang lama. Lepaskan saja, maka akan diganti-Nya dengan
sesuatu yang lebih baik dan tidak disangka-sangka. Terima saja jalan yang
dipilihkan oleh-Nya. Allah sedang memilihkan jalan terbaik. Rasa sakit itu
hanya sementara. Dan hanya kepada Allah-lah tempatmu kembali. #Bada sholat
__ADS_1
Zuhur