Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 12


__ADS_3

12. Aku Ini Punya Siapa


Kuliah pagi. Kelas belum di buka. Oktia menunggu kelas dibuka di


teras depan kelas. Pagi ini nampaknya Damar mulai baik lagi pada Oktia. Dia


bertanya pada Oktia tentang buku yang dipakai untuk dasar teori laporan


praktikum.


Pagi ini pula, Wulan membawa laptop. Oktia


kehabisan stok film untuk ditonton. Kebetulan Wulan punya banyak film dan dia


membawa laptop. Sebelum kuliah di mulai, Oktia meminta Wulan untuk di-copy-kan film.


“Film yang romantis apa Wul?”


“Apa ya? Yang ini aja gimana?”


“Emm...Gimana ya? Waiting for Forever itu ceritanya gimana Wul?”


“Itu tu menceritakan ada dua orang anak kecil


cowok dan cewek. Cowoknya suka sama temen ceweknya dari kecil. Namun, teman


ceweknya nggak tahu. Cowoknya nggak bisa ngungkapin perasaannya sampai dewasa.


Cowoknya selalu ngikutin ke mana aja ceweknya pergi. Hingga suatu ketika


cowoknya bisa ngungkapin perasaannya. Eh.. ternyata ceweknya juga suka.”


“Kok aku banget ya.” batin Oktia. Intuisinya


mulai bekerja.


“Eh.. boleh. Aku ngopy dong.”


Mata kuliah berganti. Pindah ke gedung lain.


Kelas yang mereka gunakan untuk kuliah masih dipakai kelas lain. Oktia duduk di


bangku depan kelas. Damar datang pada Oktia untuk meminjam buku yang Oktia


gunakan untuk dasar teori laporan praktikum. Tiba-tiba saja Dayat ikut nimbrung. Oktia merasa ada yang aneh


pada Damar dan Dayat. Entah hanya perasaannya saja atau bukan. Oktia hanya


merasa Damar dan Dayat berebut perhatiannya. Setelah itu Dayat menyanyikan


sepotong lirik lagu


“Jika dia


cintaimu, melebihi cintaku padamu, aku pasti rela untuk melepasmu, walau ku


tahu ku kan terluka.” nyanyi Dayat.


Setelah kuliah, Dayat mengajak Oktia ke


perpustakaan untuk belajar bersama.


“Okti, entar ke perpus yuh. Belajar bareng.”


kata Dayat pada Oktia di balkon depan kelas. Oktia melihat Damar sedang ke luar


kelas bersama teman-teman yang lain.


 “Iya,


boleh.”


“Tapi Ti, aku dan Okti entar nggak bisa ikut.”


kata Risma pada Oktia.


“Yaudah deh nggak jadi aja.” kata Dayat lalu


meninggalkan mereka.


“Dayat itu, nggak mau kalau ke perpus cuma


berdua.” kata Risma.


“Yang nggak mau ke perpus cuma berdua itu aku.


Sewaktu mau ujian Termodinamika saja yang menjaga jarak sewaktu cuma berdua


dengan Dayat malah aku.” batin Oktia membantah pernyataan Risma.


Setelah sampai di kost dan matahari mulai


tenggelam. Oktia menyempatkan diri untuk menonton film yang barusan ia copy. Menurutnya, filmnya cukup


membosankan. Tokoh cowoknya itu ****. Kenapa sih nggak mau ngungkapin


perasaannya malah ngikutin cewek yang disukainya ke manapun dia pergi. Ngeliat


cowok suka sama cewek tapi nggak bisa ngungkapin itu bikin gemes.


Setelah menonton film Waiting for Forever, Oktia memilih tidur melepas penat. Dalam


tidurnya Oktia memimpikan hal yang aneh.


Oktia bermimpi berada dalam sebuah ruangan


bersama tiga orang yang tak ia kenal. Mereka duduk di samping Oktia dengan


formasi dua orang laki-laki dan perempuan yang usianya sudah hampir separuh


baya duduk bersebelahan. Perempuan itu mengenakan kebaya dan rambut digelung


ala perempuan jawa yang sudah tua. Di belakang laki-laki dan perempuan itu ada


seorang laki-laki yang masih muda kira-kira seumuran dengannya mengenakan jaket


hitam dengan wajah ditundukkan. Oktia tak melihat dengan jelas wajah laki-laki


yang seumuran dengannya itu. Dia hanya duduk diam tak melihat Oktia. Perempuan

__ADS_1


separuh baya itu mengatakan bahwa laki-laki yang ada di belakangnya mencintai


Oktia sudah sejak lama. Namun, tak mampu mengungkapkannya. Setelah perempuan


tadi mengatakan hal itu pada Oktia, terjadi sebuah kecelakaan pesawat terbang


di sekitar tempat Oktia tinggal. Oktia melihat laki-laki muda tadi menemuinya.


Dia merangkul Oktia dengan tangannya, menjaga dan melindungi Oktia yang


ketakutan melihat pesawat jatuh. Dalam mimpi itu lama kelamaan Oktiapun


merasakan hal yang sama seperti perasaan laki-laki muda tadi. Setelah laki-laki


tadi menenangkan Oktia, dia berpamitan akan pergi ke suatu tempat. Oktiapun


menjabat tangannya mengizinkan dia pergi. Laki-laki tadi mulai berjalan pergi.


Oktia terbangun. Menyadari peristiwa tadi cuma


mimpi. Mimpi itu jelas sekali. Seperti kenyataan. Memimpikan film yang barusan


ditonton dengan pemeran utama Oktia sendiri adalah hal yang cukup aneh baginya.


Oktia mulai bertanya-tanya siapakah gerangan laki-laki muda yang ada di


mimpinya.


 


Modem


Oktia baru saja diisi. Waktunya memanfaatkan fasilitas. Ia buka facebook-nya. Ia melihat Damar update status “lagunya keren ^^” di


bawah status Damar ada sebuah link dari Youtube yang isinya sebuah lagu yang dinyanyikan salah satu


kontestan lomba menyanyi di salah satu televisi swasta. Lagu itu berjudul Aku


Ini Punya Siapa. Oktia tak tahu syair lagu itu. Kebetulan juga hari sudah


hampir pagi, Oktia belum sempat meng-googling lirik lagu yang Damar maksudkan. Waktu ke kampus tinggal beberapa menit lagi.


Cusss berangkat ke kampus.


            Kelas belum di buka.


Oktia menunggu kelas dibuka dengan Okti. mereka duduk-duduk di teras gedung


kuliah. Oktia teringat mimpi semalam. Masih penasaran siapa gerangan laki-laki


dalam mimpinya.


            “Itu, Damar sudah


datang.” kata Okti pada Oktia. Damar yang sedang berjalan menuju kelas. Dia


mengenakan jaket biru dengan model jaket agak menggembung, sedangkan laki-laki


dalam mimpi Oktia mengenakan jaket hitam dan model jaketnya tidak menggembung.


            “Berarti bukan


            Setelah pintu kelas


dibuka oleh penjaga kampus, Oktia dan Okti masuk ke kelas. Oktia masih menjaga


jarak dengan Damar. Masih marahan, mungkin iya. Oktia duduk dengan jarak cukup


jauh darinya. Tak seperti semester sebelumnya di mana mereka terkadang duduk


bersebelahan. Kursi kelas masih acak-acakan. Oktia pergi ke toilet untuk cuci


tangan setelah meletakkan tasnya di kursi kelas dan menitipkannya pada Okti.


Sesampainya di kelas kursi-kursi yang tadinya berantakan sudah tertata rapi.


Tempat duduk Oktia jadi dekat dengan tempat duduk Damar. Hanya bersela satu


kursi kosong. Oktia yang menyadari hal itu sedikit kaget. Ia masih trauma bila


Damar akan menghindarinya lagi.


“Alangkah


senang hatiku, bila kudekat denganmu.” nyanyi Anti yang kebetulan duduk di


baris belakang.


Meskipun tempat duduk mereka saling berdekatan,


Oktia tak mengajaknya bicara. Merekapun tak saling bertegur sapa. Damar juga


tak mengajak bicara duluhan seperti sebelum mereka perang dingin. Sepertinya


Damar masih marah pada Oktia dengan sebab yang tidak Oktia ketahui.


“Sepertinya dia sudah mulai sadar diri lho.”


kata Dayat dari belakang kelas. Oktia langsung berbalik arah ke belakang kelas.


Ternyata Dayat sedang ngobrol dengan teman-teman dekatnya.


“Dia sudah sadar diri? Siapa sih yang dia


maksud. Apa jangan-jangan yang sudah sadar itu kami yang mulai berjauhan. Apa


emang yang dimaksud ‘modus’ itu karena aku sering duduk di dekat Damar. Berarti


selama ini Dayat ingin kami menjauh.” batin Oktia setelah mendengar kata-kata dari


Dayat.


 Setelah


kuliah selesai, Oktia kembali ke kost dan bersiap untuk pulang ke kampung


halaman tercinta. Sebelum bersiap-siap ia menyempatkan diri untuk googling  lirik lagu Aku Ini Milik Siapa yang Damar pakai untuk membuat status.


Susah juga ternyata

__ADS_1


Punya pacar bermata liar


Sering kali memalukan


Dibuatnya aku tiada berharga


Mau marah percuma


Paling hanya menelan ludah


Daripada naik darah


Kuputuskan saja tali cintanya


Untung saja seluruh diriku


Dapat kujaga utuh


Sejak kucinta dia


Sehingga kini berpisah


Oh syukur tiada ternoda


Aduh aduh bisa gila


Punya pacar berhati dua


Aku ini punya siapa


Kuputuskan saja tali cintanya


Marah. Iya. Sedih. Iya. Jengkel. Iya. Sebel. Iya. Dongkol. Iya.


Galau. Apalagi. Setelah tahu Damar membuat status seperti itu.


“Apa jangan-jangan karena aku mulai dekat dengan


Dayat hingga Damar begini padaku? Apa karena aku diajak ke perpus sama Dayat?


Kan yang ngajak Dayat duluan bukan aku. Aku dan Dayat kan cuma teman. Lagi pula


meskipun aku dengan Damar dekat, aku belum jadi pacarnya. Menduakan? Siapa yang


mendua? Sejak awal masuk saja aku ingin bersamanya tapi dianya saja yang


menjauh. Sewaktu ke perpus sebelum ujian termodinamika, aku tahu aku hanya


berdua dengan Dayat pun, aku memilih menjaga jarak. Karena aku tuh nggak sanggup


bila aku sudah dekat dengan Damar tiba-tiba saja berdua dengan Dayat. Aku nggak


ngerti maksud Damar apa. Jika lagu itu menggambarkan isi hatinya dan aku


dianggap pacarnya yang menduakannya hingga membuatnya naik darah dan memilih


untuk memutuskan tali cinta, baik. Aku terima bila dia memutuskan hal itu. Aku


akan menepi bila hal itu membuatnya bahagia. Melepasnya bila itu maunya. Tapi,


akan aku buktikan kalau aku bukan tipe orang yang bermata liar ataupun berhati


dua. Erwin teman sekelasku waktu SMA aja pernah bilang kalau aku punya pacar


aku tu bakal setia tapi posesif.”


Galau. Itulah yang Oktia rasakan. Terlebih


dengan kelakuan Damar yang jauh berbeda jika dibandingkan semester sebelumnya.


“Damar itu sebenarnya kenapa sih? Apa dia menjauh dariku karena dekat


dengan wanita lain? Tapi siapa? Sewaktu di kelas kayaknya nggak ada wanita yang


lagi dekat dengan Damar selain aku. Apa mungkin Puput? Diakan semester ini


sering duduk dekat Damar. Tapi, kalau Puput kok rasanya aneh. Sewaktu tempat


pensil Puput jatuh Damar nggak ngambilin. Tapi, dulu tiap ada barang punyaku


yang jatuh dengan sigap Damar ngambilin buat aku. Sebenarnya ada apa sih dengan


Damar? Kalau sekarang dia menjauh dan memenang itu pilihannya. Aku saja yang


pergi menjauh. Tak usah kau menghindariku Mar. Aku akan menepi, menjauh seperti


pintamu lewat lagu yang kau like waktu dulu.” batin Oktia dengan air mata yang hampir menetes.


Perlakuan Damar yang membuatnya terluka membuat Oktia harus


mengikhlaskan semua. Melepaskan apa saja yang menjadi uneg-uneg. Sholat Zuhur


sambil perlahan melepas dan mengikhlaskan takdir yang sedang ia jalani. Setelah


sholat Zuhur, Oktia merasa hatinya tentram dan damai. Entah kenapa Oktia


memikirkan sesuatu dan menuliskan apa yang menjadi pemikirannya. Memikirkan


sesuatu yang membuat hatinya merasa tenang. Hingga Oktiapun menuliskannya ke


dalam sebuah buku.


Lepaskan saja apa yang telah hilang dari tanganmu. Allah tidak hendak


menjadikanmu bersedih maupun berduka. Melainkan apa yang telah hilang itu akan


diganti-Nya dengan sesuatu yang lebih baik. Bersabarlah bila rasa sakit itu


datang mendera. Biarkan kapal itu berlayar sesuai perintah Illah-nya. Bila


tetap dipaksa kapal itu takkan sampai tujuannya. Kalaupun sampai niscaya akan


membutuhkan waktu yang lama. Lepaskan saja, maka akan diganti-Nya dengan


sesuatu yang lebih baik dan tidak disangka-sangka. Terima saja jalan yang


dipilihkan oleh-Nya. Allah sedang memilihkan jalan terbaik. Rasa sakit itu


hanya sementara. Dan hanya kepada Allah-lah tempatmu kembali. #Bada sholat

__ADS_1


Zuhur


__ADS_2