
14. Getaran Itu Terasa
Lagi
Kuliah
hari ini, jam pertama ada presentasi. Pagi ini, Oktia duduk bersebelahan dengan
Damar mendengarkan presentasi. Ndrett-ndreet.
HP Oktia bergetar. Ada SMS masuk. Dari Dayat. Ia buka pesan itu.
“Okti, hari ini mau
ke perpus nggak? Ke perpus yuk! Jam 1 ya.”
Deg... ”Ada angin
apa Dayat SMS aku seperti ini? Saat ada kuliah pula. SMS masuk sekitar setengah
jam setelah kuliah dimulai. Kalau ada orang lain yang di-SMS kenapa dia
menyebut namaku? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” batin Oktia mulai bertanya-tanya.
Hatinyapun bergetar. Oktia menyadari sesuatu. Getaran itu pernah ia rasakan
ketika ia menerima pesan dari seseorang di masa lalunya dua setengah tahunan
yang lalu. Getaran yang menyadarkannya bahwa seseorang di masa lalunya dua
setengah tahunan yang lalu itu menyukai Oktia dan berusaha untuk mendekatinya.
Getaran yang ia rasakan dua setengah tahunan lalu kini terulang lagi.
“Jangan-jangan Dayat itu.....suka denganku.
Huaaa!!! Kenapa ini terjadi padaku. Di saat aku baru saja baikan sama Damar.
Aku harus gimana ini?” batin Oktia mulai galau.
Risma duduk di belakang Oktia. Ia menanyakan
__ADS_1
pada Risma apakah ada waktu untuk ke perpus nanti siang. Oktia ingin
mengajaknya supaya Oktia tidak berdua saja dengan Dayat sewaktu di perpus.
Ternyata Risma tidak bisa.
Kuliah kedua dimulai. Oktia memperlihatkan SMS
dari Dayat pada Risma sebagai alasan kenapa ia tadi menanyakan apakah dia nanti
bisa ke perpus atau tidak.
“Wah, bikin galau aja ini orang.” kata Risma
mengomentari SMS Dayat.
“Bales aja, emangnya mau belajar apa?” saran
Risma.
Merasa diberi nasehat, Oktia mulai membalas
pesan Dayat. Pesan terkirim. Mungkin HP Dayat ada di tas sehingga dia tidak
sulit untuk konsentrasi. Oktia galau. Kuliah berakhir. Oktia berdiri sambil
melihat-lihat Dayat duduk di sebelah mana. Ternyata dia duduk di dekat pintu
ruang kelas. Sewaktu melihat-lihat di mana Dayat duduk, mata Oktia bertemu mata
Dayat. Tatapan mata Dayat kali ini aneh. Membuat Oktia benar-benar takut.
Sebenarnya sewaktu berjalan ke arah pintu, Oktia ingin bertanya pada Dayat
apakah SMS-nya sudah dibacanya atau belum. Namun, niat itu Oktia urungkan
seketika setelah dia menatap mata Oktia dengan tatapan mata yang aneh. Tatapan
mata yang membuat Oktia serasa ditonjok lalu mental ke angkasa, terlebih
suasana hatinya merasakan hal yang aneh. Oktia benar-benar takut. Melihat Dayat
__ADS_1
dengan tatapan mata seperti itu membuatnya merasa seperti melihat penampakan
hantu. Oktia berjalan ke ruang kelas untuk kuliah ketiga dengan ketakutan dan
kegalauan yang sama.
Waktu kuliah ketigapun Oktia lalui dengan suasana hati yang agak
kacau. SMS itu, tatapan mata itu. Hah...buyar. Akhirnya sewaktu kuliah
berakhir, Dayat berdiri di depan kursi sebelah kiri kursi di mana Oktia duduk,
sambil memencet tuts-tuts HP-nya. Ndrett-ndreet.
HP Oktia bergetar. SMS dari Dayat.
“Nggak jadi apa ya, buat laporan aja deh.” isi
pesan Dayat.
“Ini anak! Orangnya sudah di depannya malah
SMS.” batin Oktia.
Berhubung Oktia bingung harus bagaimana
ngomongnya. Ia meminta tolong Risma untuk bilang kalau hari ini Oktia nggak
bisa ke perpus.
“Ke perpusnya besok aja ya Yat.” kata Risma.
Sepulang
dari kampus, Oktia mencoba untuk tidur
siang. Mata terpejam, namun pikiran masih melayang. Memikirkan kejadian sewaktu
di kampus. Hari berganti malam. Sekitar pukul 21.00 Oktia sudah mulai bisa
tidur. Namun, ketika dini hari, ia terbangun. Oktia mencoba untuk tidur lagi
__ADS_1
namun tak bisa. Insomnia dan maag tiba-tiba setia menemani Oktia.