
11. Perih
Mentari telah terbit di horizon timur, hari telah berganti. Oktia
melangkahkan kakinya di waktu embun pagi masih tersisa karena hari itu kuliah
dimulai pukul 7.00. Sebelum sampai di gedung kuliah, ia melihat gerbang gedung
masih terkunci dan panjaga kampus belum tiba untuk membuka pintu gerbang. Di
depan gerbang kampus ada Damar, Tiwi, Anti, dan Nudi. Mereka menunggu bersama.
Kebetulan Tiwi, Anti, dan Nudi akan presentasi mata kuliah di pagi itu.
Sehingga mereka berangkat lebih awal dari biasanya. Sewaktu menunggu gerbang di
buka mereka ngobrol bersama. Ada yang aneh hari itu. Biasanya Damar mau bahkan
mendahului untuk bicara pada Oktia. Tapi, tidak untuk kali ini. Oktia melempar
pertanyaanpun tak dijawabnya. Damar malah mengalihkan pembicaraan dan memilih
untuk bicara pada yang lain. Setelah gerbang di buka, mereka masih menunggu
pintu kelas untuk di buka. Sewaktu menunggu kelas dibuka, mereka masih ngobrol
lagi. Namun, Damar tak jua mau bicara pada Oktia, meskipun berkali-kali Oktia
memancing pertanyaan maupun pernyataan untuk membuat Damar mau bicara padanya.
Kelas telah di buka.
Oktia duduk di bangku terdepan, duduk di sebelah Okti. Kali ini sepertinya
memang benar-benar ada yang aneh dengan Damar. Biasanya sewaktu di kelas, Damar
menanyakan materi kuliah pada Oktia dulu baru pada teman yang lain bila Oktia
tidak bisa. Namun, pagi ini dia bertanya materi kuliah pada Okti.
“Ini cara
ngerjainnya gimana ya?” kata Damar sambil berjalan mendekat pada Oktia dan
Okti.
“Ini gini lho Mar.”
Kata Oktia pada Damar.
“Aku tanyanya sama
Okti.” kata Damar.
“Aku kaget lho Mar.
Biasanya yang ditanya Oktia dulu.” komentar Okti melihat kelakuan Damar yang
aneh pagi itu.
“Damar itu kenapa
sih? Dari tadi aku didiemin. Nggak seperti biasanya. Apa dia marah padaku? Tapi
kalau dia marah padaku, aku salah apa pada Damar?” batin Oktia bertanya-tanya.
Dirimu tak pernah menyadari
Semua yang telah kau miliki
Kau buang aku tinggalkan diriku
Kau hancurkan aku
seakan ku tak pernah ada
Aku kan bertahan meski
tak kan mungkin
__ADS_1
Menerjang kisahnya
walau perih
“Sepertinya aku benar-benar galau.
Terlebih dengan sikap Damar yang membuatku bingung. Akhir-akhir ini dia
mendiamkanku, sepertinya dia marah padaku. Tapi, kalau dia marah salahku apa?
Dulu begitu dekat namun akhir-akhir ini dia mulai menjauh. Damar kenapa sih?”
batin Oktia bertanya-tanya.
Sesampainya di
rumah, Oktia membuka facebook-nya. Sewaktu membuka home facebook, ia melihat Damar sedang menge-like sebuah status. Oktia mulai melacaknya. Berharap apa yang di-like Damar merupakan status yang menggambarkan isi hati Damar
karena Damar bukan tipikal orang yang hobinya memberi jempol pada status orang. Yap. Ketemu. Apa yang di-like-nya merupakan sebuah status yang isinya sebuah syair dari
lagu Butiran Debu.
“Damar nge-like Butiran Debu? Ada apa dengan dia?
Tak seperti biasanya dia galau.”
Oktia mencoba
mendengarkan lagu itu dan mencoba memahami isi hati Damar.
Namaku cinta
Ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta
Ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Cintaku yang hianat
Cintaku berhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
Menepi...
Menepilah
Menjauh...
Semua yang terjadi antara kita
“Damar kenapa sih? Dulu dekat, sekarang kok menjauh. Kalau dulu dekat
sekarang menjauh pasti ada apa-apanya. Apa dia emang beneran suka sama aku,
terus dia mau ngelupain aku? Tapi, kok lagunya Butiran Debu? ‘Cintaku yang hianat, cintaku berhianat’ apa
yang dimaksud itu aku? Aku berhianat? Hianat yang gimana? ‘menepi, menepilah menjauh, semua yang terjadi antara kita ’ apa dengan
aku menjauh darinya bisa melegakan perasaannya?” batin Oktia bertanya-tanya
sembari mendengarkan lagu Butiran Debu yang dinyanyikan Rumor.
Sepertinya Oktia benar-benar galau. Ingin
melupakannya. Ya. Melupakannya.
Aku yang memikirkan
__ADS_1
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan
Tapi aku tak bisa
Mengapa begini
Oh..mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada di sini menemaniku
Oh..mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
Semoga tak sekedar harapku
Bila kau menjadi milikku
Aku takkan menyesal telah jatuh hati
Oktia mencoba mengajak baikan Damar seperti dulu
lagi. Oktia duduk di sebelah kanan Damar. Tiba-tiba Wulan datang.
“Aku duduk di mana ini?” kata Wulan.
“Sini saja.” kata Damar sambil memberikan tempat
duduk di sebelah kiri Oktia. Padahal bangku sebelah kanannya masih kosong.
Sakit. Iya. Itulah yang Oktia rasakan. “Kenapa kamu menghindariku Mar? Aku
salah ya duduk di sebelahmu?” batin Oktia menenangkan hatinya yang diselimuti
kekecewaan atas perlakuan Damar pada Oktia. Setelah beberapa waktu,
bangku-bangku barisan terdepan mulai terisi. Kecuali bangku sebelah kanan
Oktia. Dayat datang, lalu duduk di bangku sebelah kanannya.
“Nggak apa-apa Mar, kamu menghindariku. Nggak
apa-apa kok. Tapi, suatu hari nanti akan ada orang yang akan menggantikanmu
setelah kau pergi menjauh. Dan orang itu pasti lebih baik darimu. Seperti saat
ini. Kamu memang menghindariku, namun dirimu digantikan Dayat. Dan entah oleh
siapa kamu akan terganti.” batin Oktia.
Kuliah siang hampir dimulai. Hari yang cukup
panas. Suhu udara cukup tinggi. Sebelum masuk kelas Oktia pergi ke kamar mandi.
Oktia menitipkan tas sekalian menitip tempat duduk pada Ana agar Oktia kebagian
tempat duduk pilihan. Sesampainya di kelas, ia melihat tasnya diletakkan di
bangku sebelah kanan bangku di mana Damar duduk. Ana duduk di sebelah kiri bangku di nama tas
Oktia diletakkan. Masih tersimpan rasa kekecewaan hari kemarin ketika Damar
menghindarinya. Daripada dihindari lagi, Oktia memilih sadar diri untuk tidak
duduk di samping Damar.
“Aku
duduk sebelah kanan kamu aja An. Sekalian cari angin. Kan dekat pintu. Panas
banget hari ini.” kata Oktia pada Ana sambil mengambil tasnya dan meletakkannya
__ADS_1
di bangku sebelah kanan Ana.