Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 5. Jalaran Saka Kulina


__ADS_3

Semester tiga, Oktia sering duduk di depan. Duduk di depan membuatnya lebih nyaman karena pandangan ke papan tulis saat dosen menerangkan tak terhalang bahu maupun kepala teman yang ada di depan. Terlebih, mata Oktia yang sudah rabun jauh.


Damar. Semenjak masuk pertama kali,  dia selalu duduk di depan. Bahkan hingga sekarang. Damar, orangnya selalu ceria dan murah senyum.


“Tipe orang seperti Damar itu kalau sedih gimana ya? Aku jarang melihat Damar tampak murung.” pikir Oktia. Damar itu juga polos. Pernah suatu ketika ada ujian, Oktia duduk didepannya. Di jari manis Oktia melingkar sebuah cincin. Dengan polosnya Damar bertanya pada Oktia tentang harga cincin yang dipakai dan apa Oktia nggak takut dirampok kalau Oktia memakai cincin. Dia yang selalu datang paling awal di antara teman-teman yang lain. Meskipun rumahnya cukup dekat. Dia selalu bersemangat ketika kuliah. Meskipun selalu bersemangat, kadang-kadang Damar bisa ngantuk juga di kelas. Dia baik kepada siapapun. Dia itu, sering curhat dan bercerita pada teman-teman. Sebelum bercerita tentang hal yang bersifat rahasia dia akan bilang ”Jangan bilang siapa-siapa ya!” namun kenyataannya ketika bercerita pada yang lain, dia bilang seperti itu juga.


Wulan. Di awal-awal kuliah, terkadang dia sering kehabisan tempat duduk favorit bagi kebanyakan orang, sehingga dia sering duduk di depan. Bahkan pernah ketika ujian dia seperti imam dalam barisan sholat. Dia duduk di depan sendiri sedangkan yang lain duduk di belakang. Orangnya selalu ceria dan suka bercerita, kecuali disaat dia sakit.


Keseringan duduk di depan membuat Oktia akrab dengan Damar dan Wulan. Terkadang Oktia duduk di antara mereka. Terkadang Wulan yang duduk di antara Oktia dan Damar. Dekat dengan Damar dan Wulan yang memiliki karakter ceria berdampak positif bagi Oktia yang pendiam dan kalem. Mereka menularkan keceriaan. Mereka juga


suka bercerita. Oktia yang dulunya jarang bercerita, perlahan tertular mereka yang suka bercerita.


Oktia jadi keseringan bercerita pada Damar begitu pula Damar sering bercerita pada Oktia. Apapun yang Damar ceritakan biasanya nyambung dengan Oktia. Canda tawapun mengiringi cerita mereka. Hingga suatu pagi sebelum kuliah dimulai, Damar yang berdiri di balkon depan kelas melihat Oktia berjalan menuju kelas dari arah belakang gedung yang mereka pakai untuk kuliah.


“Kost kamu di mana sih? Kok jalannya dari sana?” tanya Damar sambil menunjuk arah belakang gedung.


“Kost-ku di daerah depan Fakultas Ilmu Sosial Mar. Emangnya kenapa?”


“Nggak apa-apa kok. Cuma tanya aja.”


Beberapa waktu kemudian.


“Ti, aku pinjam catatan Matematika ya! Kamu bawa nggak?”


“Enggak Mar.


“La nanti pas ada jeda kamu pulang ke kost nggak? Kalau pulang ke kost ambilin catatan Matematika ya!”


“Wah, kostku jauh Mar. Jadi, aku nanti nggak pulang ke kost. Capek bolak-baliknya. Soalnya aku jalan kaki.”


“Ya udah. Nanti pulang kuliah aku ke kost-mu ya?”


Kuliah berlangsung tanpa ada hal yang istimewa. Kuliahpun ditutup dengan doa.


“Ti, aku nggak jadi ke kost-mu. Besok kamu bawain catatan Matematika ya!”


Hari-hari kuliah berlangsung seperti biasa tanpa ada hal yang istimewa. Oktia dan Damar satu jadwal untuk menjadi asisten praktikum. Damar biasanya datang lebih awal. Bahkan sering Damar selalu menjadi yang pertama tiba di lab jika dibandingkan teman-teman asisten yang lain. Sedangkan Oktia biasanya tiba di lab setelah Damar tiba. Hingga di suatu hari.


“Ti, besok aku ke kostmu ya buat mencocokkan laporan.” kata Damar pada Oktia. Maklum, analisis data laporan praktikum kali ini cukup rumit. Bahkan Oktia sering bertanya bagaimana cara menganalisis data praktikum pada teman yang sudah bisa menganalisisnya.


“Iya, datang aja ke kost-ku. Kamu tahu nggak alamat kost-ku?”


“Enggak.”


“Ya besok aku SMS, tak kasih petunjuknya.”


Matahari mulai tenggelam ke peraduannya. Malam yang dingin diselimuti bintang-bintang, perlahan menghangat karena matahari menyingsing dari arah timur. Hari telah berganti. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30. Oktia men-stater motornya, ke kost Rini untuk numpang mandi. Karena, di kost Oktia sedang  tidak ada air. Air sumur di kost-nya sudah kering. Kemarau panjang menyebabkan hujan yang tak kunjung datang dan menjadikannya kering.


Jam menunjukkan pukul 6.30. HP Oktia berbunyi. Damar mengirim pesan.


“Okti, aku OTW ke kost-mu.”


Oktia menunggu Damar. Tak kunjung tiba. Tampaknya Damar kebingungan mencari alamat kost Oktia. Akhirnya Oktia menjemput Damar di jalan depan kostnya. Tampak dari kejauhan seseorang mengendarai motor. “Itu pasti Damar.” pikir Oktia. Dan benar. Setelah kebingungan mencari alamat kost Oktia, akhirnya dia sampai juga.


“Ayo masuk Mar!” kata Oktia mempersilakan Damar untuk masuk.


Setelah melewati pintu gerbang kost dan berada di ruang tamu, mereka mulai mengerjakan laporan. Damar sudah mengerjakan semua bagian kecuali bagian analisis dan kesimpulan. Di pertengahan mereka mengerjakan laporan, Damar tampak gugup.


“Kamu kenapa Mar?” tanya Oktia.


“Aku panik. Tadi aku terburu-buru.” jawab Damar sambil menenangkan dirinya.

__ADS_1


Sembari mengerjakan laporan, mereka berbincang. Dalam perbincangan mereka, Damar bercerita bahwa dia pernah ingin seperti bupati Kulonprogo. Menjadi seorang dokter, namun juga menjadi seorang pemimpin.


Setelah selesai mengerjakan laporan, mereka pergi ke kampus. Damar berangkat duluan, Oktia belakangan. Setibanya di kampus, ada beberapa versi cara analisis data. Akhirnya Oktia memutuskan untuk tetap pada pendiriannya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Praktikum berjalan seperti biasa. Dengan analisis data yang kadang membingungkan. Suatu malam Oktia sedang mencuci piring di dapur kost. Tiba-tiba saja terdengar suara HP berbunyi. Dengan segera Oktia berlari ke kamar mengambil HP lalu mengangkat telefon.


“Nomor baru. Nomor siapa ini?” pikir Oktia. Oktia masih takut untuk mengangkat telefon dari nomor yang tak dikenal. Oktia masih trauma. Hampir saja Oktia kena tipu gara-gara mengangkat telefon dari nomor tak dikenal.


“Halo!” sapa Oktia.


“Halo!” jawab seseorang dari seberang sana. Suara laki-laki. Oktia benar-benar takut kalau orang yang menelfonnya adalah orang yang sedang menjalankan modusnya untuk melakukan kejahatan.


“Okti, ini Damar.” kata orang di seberang sana. Mengetahui kalau yang menelfon Damar, Oktia langsung bernafas lega. “Ternyata Damar masih berusaha menganalisis data praktikum. Ada beberapa bagian yang tidak ia ketahui. Itulah sebab dia menelfonku.” batin Oktia. Setelah menjelaskan beberapa hal kemudian Damar menutup pembicaraan via telefon.


“Oh, yaudah besok aku ke kost-mu. Assalamualaikum.” kata Damar menutup telefonnya.


“Iya. Waalaikumus salam.” jawab Oktia menjawab salam Damar.


Malam yang gelap menampakkan keindahan bintang-bintang, udara dingin yang berhembus dan rasa kantuk membuat Oktia beranjak tidur melepas penat. Keesokan paginya sekitar pukul 6.30 Damar menelfon. Dia mengatakan bahwa dia akan ke kost Oktia. Oktia dimintanya untuk menunggu di ruang tamu. Setelah Damar sampai di kost Oktia, mereka berbincang sebentar.


“Okti, kamu puasa nggak?” tanya Damar berhubung hari ini disunahkan untuk puasa Arafah


bagi yang menjalankan.


“Iya Mar, aku puasa.”


“Kalau aku enggak. Aku tadi sebenarnya juga sudah makan sahur, cuma paginya aku demam. Jadi, aku nggak puasa.”


“Kamu demam? Cepat sembuh ya Mar.”


Cukup dekat dengan Damar, membuat Oktia merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Oktia merasakan sesuatu yang lain. Mungkin itu tak hanya karena Damar sudah dua kali datang ke kost Oktia untuk mengerjakan laporan. Pernah, Oktia datang paling awal dan duduk di garda terdepan agak pinggir. Damar datang dia duduk di


sampingnya. Biasanya Damar duduk di depan paling tengah. Namun, dia duduk agak di pinggir, di samping kiri Oktia. Terlebih, dia sering mengajak untuk ngobrol ataupun bercanda. Itulah yang menambah kegalauan Oktia. Pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina  mulai menunjukkan kebenarannya. Keampuhannya.


nasehat Oktia pada dirinya sendiri. Terkadang dengan suara lirih dia menyanyikan sebuah lagu.


Mencintaimu aku tenang


Memilikimu aku ada


Di setiap engkau membuka mata


Merindukanmu selalu kurasakan


Selalu memelukmu penuh cinta


Itu yang selalu aku inginkan


Kau mampu membuatku tersenyum dan


Kau bisa membuat nafasku lebih berarti


Kau jaga selalu hatimu


Saat jauh dariku


Tunggu aku kembali


Ku mencintaimu selalu menyayangimu sampai


Akhir menutup mata

__ADS_1


Kau jaga selalu hatimu


Itulah lagu yang sering Oktia nyanyikan ketika hatinya merasakan sesuatu yang lain jika berada di dekat Damar. Lagu Jaga Selalu Hatimu memang menggambarkan seorang laki-laki yang meminta kekasihnya untuk menjaga hati di saat laki-laki itu berada jauh dari sang kekasih. Namun, beda cerita dengan Oktia. Oktia belum punya pacar. Namun, Oktia ingin menjaga hatinya. Oktia takut suatu hari akan


terluka jika saja rasa itu hanya Oktia saja yang merasakan. Sedangkan Damar


tidak.


Suatu hari, di saat kelas tidak ada dosen. Oktia mendengar seseorang menyanyikan lagu


Melepasmu. Lagu itu dinyanyikan oleh Dayat. Sebagai seorang teman yang dulu


pernah satu kelompok praktikum dan sering mengerjakan laporan praktikum bersama


ditambah dia pernah mengajak Oktia untuk belajar bersama, membuat penasaran


Oktia.


“Dayat itu lagi jatuh cinta sama siapa sih? Kok dia nyanyinya lagu Melepasmu. Bukankah lagu itu menggambarkan seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan seorang wanita. Di mana kedatangan seorang wanita tersebut bertepatan di saat sang lelaki sedang bermasalah dengan kekasihnya. Hingga suatu hari sang wanita mampu mengobati


luka hatinya. Kemudian sang lelaki jatuh cinta pada sang wanita. Namun, karena sang lelaki tak ingin melukai sang wanita. Maka sang lelaki melepas sang wanita. Tapi wanita yang dimaksud Dayat siapa ya? Apa mungkin Gita?” batin Oktia bertanya-tanya.


Tak mungkin menyalahkan waktu


Tak mungkin menyalahkan keadaan


Kau hadir di saat kumembutuhkanmu


Dari masalah hidupku bersamanya


Semakin kumenyayangimu


Semakin kuharus melepasmu dari hidupku


Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini


Kita tak mungkin terus bersama


Suatu saat nanti kau kan dapatkan


Seorang yang akan dampingi hidupmu


Biarkan ini menjadi kenangan


Dua hati yang tak pernah menyatu


Maafkan aku yang membiarkanmu


Masuk ke dalam hidupku ini


Maafkan aku yang harus melepasmu


Walau ku tak ingin


Semakin terasa cintamu


Semakin ku harus melepasmu dari hidupku


Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini


Kita tak mungkin terus bersama

__ADS_1


I’ll let you go


“Kok Dayat nyanyi lagu melepasmu ya? Dia lagi deket sama siapa sampai mau ngelepasin segala? Emangnya dia ingin melepas siapa sih?” batin Oktia bertanya-tanya berhubung Oktia sering belajar bersamanya.


__ADS_2