Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 33


__ADS_3

Tegurlah,


Namun Jangan Sakiti Hatinya


Jumat pagi. Kelas masih sepi. Hanya ada Oktia, Okti, Damar, dan Gita.


Berhubung akan ada ujian, Oktia meminta softfile salah satu mata kuliah pada Gita yang kebetulan dia memiliki semua PPT yang


sudah dipresentasikan. Damar dan Gita duduk di depan kelas. Mereka akan


presentasi. Sembari menunggu Gita meng-copy-kan PPT, Oktia mengajak ngobrol


Damar.


“Mar, ini makalah yang


akan dibagikan bukan?” tanya Oktia sambil menunjuk kantong plastik hitam berisi


tumpukan kertas HVS.


“Iya.”


“Aku ambil satu boleh?


Satu buat berdua kan? Ini buat aku dan Okti ya?”


“Bukannya kamu juga


Okti ya?” canda Damar.


“Kamu itu ditipu Mar.”


kata Gita menambahi.


“Oh...Iya ya aku baru


sadar.” jawab Oktia.


“Mar, jawaban UTS yang


mau dipinjam Risma kamu bawa nggak?”


“Iya tak bawa.”


“Aku nanti pinjam ya.


Mau tak copy.”


“Entar aja tak


copy-kan.”


Damar. Orangnya memang


baik. Sebenarnya Oktia yang pinjam jawaban miliknya tapi yang mau-maunya repot


mengcopy-kan malah dia. Sebelum presentasi Damar membagikan makalah yang akan


dipresentasikan oleh kelompoknya. Dia menyerahkan makalah pada Oktia untuk


disalurkan pada Risma dan Rina yang kebetulan belum kebagian makalah. Waktu


itu, entah ada apa, Dayat malah memperhatikan tingkah Damar. Entah apa yang ada

__ADS_1


dipikirannya, dia mengamati Damar.


Sang dosen sudah masuk


kelas. Berarti waktunya presentasi. Waktunya Damar untuk presentasi. Kali ini


dia tidak cukup konsentrasi. Entah ada apa. Dosen saja sampai menegur kalau dia


belum sarapan, padahal Damar tidak nge-kost. Setiap pagi ibunya pasti


membuatkannya sarapan. Meskipun kurang konsentrasi, materi yang dia sampaikan


cukup jelas bagi. Dalam presentasinya Damar menyampaikan sebuah pesan yang


cukup dalam bila dicerna.


“Tegurlah. Namun,


jangan sakiti hatinya.” terang Dayat.


Oktia suka sekali


dengan kata-kata yang Damar sampaikan. Tapi, menurut Oktia dia sebenarnya


sedang curhat atau malah ingin menyampaikan isi hatinya agar supaya jika dia


ditegur oleh seseorang yang menurut seseorang itu salah jangan sampai menyakiti


hatinya. Hati Damar. Ketika sesi tanya jawab dalam presentasi. Ada bagian di


mana Damar harus menjawab pertanyaan. Setiap kali akan menjawab pertanyaan, dia


selalu memulainya dengan kalimat ‘mencoba menjawab’.


mendendangkan sebuah lagu ketika Wulan mendengar Damar mengatakan ‘mencoba


menjawab’.


Kebetulan Wulan ada di


sebelah kiri Oktia. Sehingga, Oktia dapat dengan jelas mendengarnya. Oktia yang


penasaran dengan lagu yang dia nyanyikan menanyakan untuk memastikan lagu yang


dia nyanyikan itu. Kebetulan mereka mempunyai versi sendiri-sendiri siapa


sebenarnya yang menyanyikan lagu itu. Oktia, Wulan dan Ndari pada akhirnya


malah berdiskusi siapa sebenarnya yang menyanyikan lagu tersebut.


Kuliah telah usai.


Berhubung Oktia belum punya makalah yang akan digunakan untuk ujian, Oktia


meng-copy-nya terlebih dahulu.


Kebetulan Dayat yang ditunjuk untuk mengumpulkan semua makalah yang sudah


dipresentasikan. Oktia menunggu flashdish-nya terisi oleh softfile makalah dari laptop Dayat. Berhubung ruang kelas mau


dipakai kelas lain, mereka melanjutkan mengcopy makalah di teras depan kelas.


Di depan kelas, Dayat

__ADS_1


curhat dengan berbagai masalahnya tentang tugas-tugasnya yang masih rumit.


Kayaknya dia tertekan dengan masalahnya tersebut. Ketika emosinya sudah mulai


mereda, dia curhat masalah perasaanya lagi. Oktia baru menyadari bahwa ia


sedang berada dalam komplotan Dayat. Teman-teman yang ada di depan kelas adalah


antek-anteknya yang setia kecuali Oktia, Risma dan Ana. Dia mulai memutar lagu


ost film Habibie Ainun di laptopnya.


“Ainun itu ****. Masak


yang deketin dia pada pakai mobil, yang dia pilih malah Habibie yang naik


becak.”


“Ya mungkin sudah


jodohnya Yat.” kata Wulan.


“Siapa tahu kamu juga


bakalan kayak gitu.” kata Ndari.


“Bilang aamiin Yat,


aamiin.” kata Nudi sambil melihat ke arah Dayat lalu ke arah Oktia.


Kebetulan flashdisk


Oktia sudah terisi makalah yang sudah dipresentasikan. Oktia memilih untuk


pergi duluan. Kebetulan Juga Risma sudah ditunggu Damar untuk mengambil jawaban


yang sudah di-copy-kan Damar.


“Aamiin, besok aku


jadi wakil presiden.” doa Dayat saat Oktia mulai bangkit dari tempat duduk.


“Aku duluan ya


teman-teman.” pamit Oktia.


 Risma berjalan duluan. Oktia belakangan karena


Oktia mampir ke kamar mandi. Risma pergi entah ke mana. Setelah Oktia keluar


dari kamar mandi, ia melihat Damar berjalan ke arah selatan.


“Damar kan sudah


janjian sama Risma. La Rismanya mana?” tanya Oktia dalam hati.


Risma sudah ada di


belakang mushola bersama Ana. Oktia memilih berjalan bersama Damar ke belakang


mushola. Ternyata dia sudah mengcopy-kan jawaban. Biaya untuk mengcopy-pun


sebagian ditanggungnya. Damar, memang teman yang baik.

__ADS_1


__ADS_2