
Tegurlah,
Namun Jangan Sakiti Hatinya
Jumat pagi. Kelas masih sepi. Hanya ada Oktia, Okti, Damar, dan Gita.
Berhubung akan ada ujian, Oktia meminta softfile salah satu mata kuliah pada Gita yang kebetulan dia memiliki semua PPT yang
sudah dipresentasikan. Damar dan Gita duduk di depan kelas. Mereka akan
presentasi. Sembari menunggu Gita meng-copy-kan PPT, Oktia mengajak ngobrol
Damar.
“Mar, ini makalah yang
akan dibagikan bukan?” tanya Oktia sambil menunjuk kantong plastik hitam berisi
tumpukan kertas HVS.
“Iya.”
“Aku ambil satu boleh?
Satu buat berdua kan? Ini buat aku dan Okti ya?”
“Bukannya kamu juga
Okti ya?” canda Damar.
“Kamu itu ditipu Mar.”
kata Gita menambahi.
“Oh...Iya ya aku baru
sadar.” jawab Oktia.
“Mar, jawaban UTS yang
mau dipinjam Risma kamu bawa nggak?”
“Iya tak bawa.”
“Aku nanti pinjam ya.
Mau tak copy.”
“Entar aja tak
copy-kan.”
Damar. Orangnya memang
baik. Sebenarnya Oktia yang pinjam jawaban miliknya tapi yang mau-maunya repot
mengcopy-kan malah dia. Sebelum presentasi Damar membagikan makalah yang akan
dipresentasikan oleh kelompoknya. Dia menyerahkan makalah pada Oktia untuk
disalurkan pada Risma dan Rina yang kebetulan belum kebagian makalah. Waktu
itu, entah ada apa, Dayat malah memperhatikan tingkah Damar. Entah apa yang ada
__ADS_1
dipikirannya, dia mengamati Damar.
Sang dosen sudah masuk
kelas. Berarti waktunya presentasi. Waktunya Damar untuk presentasi. Kali ini
dia tidak cukup konsentrasi. Entah ada apa. Dosen saja sampai menegur kalau dia
belum sarapan, padahal Damar tidak nge-kost. Setiap pagi ibunya pasti
membuatkannya sarapan. Meskipun kurang konsentrasi, materi yang dia sampaikan
cukup jelas bagi. Dalam presentasinya Damar menyampaikan sebuah pesan yang
cukup dalam bila dicerna.
“Tegurlah. Namun,
jangan sakiti hatinya.” terang Dayat.
Oktia suka sekali
dengan kata-kata yang Damar sampaikan. Tapi, menurut Oktia dia sebenarnya
sedang curhat atau malah ingin menyampaikan isi hatinya agar supaya jika dia
ditegur oleh seseorang yang menurut seseorang itu salah jangan sampai menyakiti
hatinya. Hati Damar. Ketika sesi tanya jawab dalam presentasi. Ada bagian di
mana Damar harus menjawab pertanyaan. Setiap kali akan menjawab pertanyaan, dia
selalu memulainya dengan kalimat ‘mencoba menjawab’.
mendendangkan sebuah lagu ketika Wulan mendengar Damar mengatakan ‘mencoba
menjawab’.
Kebetulan Wulan ada di
sebelah kiri Oktia. Sehingga, Oktia dapat dengan jelas mendengarnya. Oktia yang
penasaran dengan lagu yang dia nyanyikan menanyakan untuk memastikan lagu yang
dia nyanyikan itu. Kebetulan mereka mempunyai versi sendiri-sendiri siapa
sebenarnya yang menyanyikan lagu itu. Oktia, Wulan dan Ndari pada akhirnya
malah berdiskusi siapa sebenarnya yang menyanyikan lagu tersebut.
Kuliah telah usai.
Berhubung Oktia belum punya makalah yang akan digunakan untuk ujian, Oktia
meng-copy-nya terlebih dahulu.
Kebetulan Dayat yang ditunjuk untuk mengumpulkan semua makalah yang sudah
dipresentasikan. Oktia menunggu flashdish-nya terisi oleh softfile makalah dari laptop Dayat. Berhubung ruang kelas mau
dipakai kelas lain, mereka melanjutkan mengcopy makalah di teras depan kelas.
Di depan kelas, Dayat
__ADS_1
curhat dengan berbagai masalahnya tentang tugas-tugasnya yang masih rumit.
Kayaknya dia tertekan dengan masalahnya tersebut. Ketika emosinya sudah mulai
mereda, dia curhat masalah perasaanya lagi. Oktia baru menyadari bahwa ia
sedang berada dalam komplotan Dayat. Teman-teman yang ada di depan kelas adalah
antek-anteknya yang setia kecuali Oktia, Risma dan Ana. Dia mulai memutar lagu
ost film Habibie Ainun di laptopnya.
“Ainun itu ****. Masak
yang deketin dia pada pakai mobil, yang dia pilih malah Habibie yang naik
becak.”
“Ya mungkin sudah
jodohnya Yat.” kata Wulan.
“Siapa tahu kamu juga
bakalan kayak gitu.” kata Ndari.
“Bilang aamiin Yat,
aamiin.” kata Nudi sambil melihat ke arah Dayat lalu ke arah Oktia.
Kebetulan flashdisk
Oktia sudah terisi makalah yang sudah dipresentasikan. Oktia memilih untuk
pergi duluan. Kebetulan Juga Risma sudah ditunggu Damar untuk mengambil jawaban
yang sudah di-copy-kan Damar.
“Aamiin, besok aku
jadi wakil presiden.” doa Dayat saat Oktia mulai bangkit dari tempat duduk.
“Aku duluan ya
teman-teman.” pamit Oktia.
Risma berjalan duluan. Oktia belakangan karena
Oktia mampir ke kamar mandi. Risma pergi entah ke mana. Setelah Oktia keluar
dari kamar mandi, ia melihat Damar berjalan ke arah selatan.
“Damar kan sudah
janjian sama Risma. La Rismanya mana?” tanya Oktia dalam hati.
Risma sudah ada di
belakang mushola bersama Ana. Oktia memilih berjalan bersama Damar ke belakang
mushola. Ternyata dia sudah mengcopy-kan jawaban. Biaya untuk mengcopy-pun
sebagian ditanggungnya. Damar, memang teman yang baik.
__ADS_1