Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 10


__ADS_3

10. Mimpi yang Aneh


            Ujian


ditutup dengan mata kuliah Elektronika Analog. Sebelum ujian dimulai Oktia  ngobrol sebentar dengan teman-temannya. Wulan


datang, lalu mempersiapkan alat tulis dan perlengkapan lainnya yang digunakan


untuk ujian.


            “Ha?!? Kalkulatorku


ketinggalan di kost. Tak ambil nggak ya? Kalau tak ambil waktunya udah mepet.” kata Wulan.


            Berhubung waktu


sudah mepet untuk dilaksanakannya


ujian, Wulan memutuskan untuk meminjam kalkulator Oktia atau kalkulator Damar


berhubung Wulan duduk di antara Oktia dan Damar.


            “Aku tuh masih inget


kata-katamu lho Ti, sewaktu aku lupa nggak bawa kalkulator. Kalau kalkulator


sudah nggak dipakai, langsung dimasukkan ke tas lagi.” kata Damar pada Oktia.


            “Iya Mar?” kata


Oktia menanggapi perkataan Damar. “Ha? Kok Damar masih ingat dengan pesanku


sih? Aku aja sudah lupa kalau aku pernah berkata kayak gitu sama Damar.” batin


Oktia.


            Ujian berlangsung


cukup menegangkan. Sebelum ujian di mulai, sang dosen mengatur tempat duduk


mereka agar tidak ada kecurangan dalam ujian. Oktia, Damar, dan Wulan saling share kalkulator. Jika Oktia sudah


selesai menghitung dan saatnya menulis rumus, kalkulatornya dipakai Wulan.


Begitu juga Damar. Ketika kalkulator Damar sedang nganggur, kalkulator Damar dipakai Wulan.


            Setelah ujian,


Oktia, Risma, Ana, Okti ke kost Rina untuk meng-copy film, sambil menunggu waktu zuhur. Kebetulan, mereka sekelas


akan makan-makan di salah satu tempat makan di Jogja.


            Sebelum ke rumah


makan yang dituju, mereka berkumpul di kampus sambil menunggu satu sama lain.


Setelah sampai di rumah makan, mereka memarkirkan motor mereka. Rumah makan


yang mereka datangi terletak di pinggir sawah. Mungkin bagi orang kota melihat


persawahan yang hijau akan senang. Tapi, tidak bagi Oktia. Rumah Oktia dekat


dengan persawahan, sewaktu pulang ke rumah pasti melihat hijaunya pepadian yang


ditanam petani.


            Waktu makan telah


tiba. Mereka makan bersama. Setelah acara makan-makan selesai, mereka


berfoto-foto. Mereka berfoto bersama. Tempat di mana Oktia akan berfoto cukup

__ADS_1


sempit dan hampir masuk ke area persawahan, Dayat ada di sebelah Oktia duduk di


pinggir gazebo. Oktia meminta Dayat untuk sedikit bergeser memberinya tempat


untuk ikut duduk di pinggir gazebo “Geser dikit dong Yat!”. Dayat malah menepuk


pahanya sambil berkata “Sini lho!” mengisyaratkan Oktia untuk duduk


dipangkuannya.


            “Nggak.” kata Oktia


sambil menggelengkan kepala. “Masak aku duduk di pangkuan laki-laki yang belum


halal untukku?” batin Oktia.


            Sewaktu Puput ikut


berfoto dan ber-action duduk di


pinggir gazebo, tak sengaja Puput menyenggol kaki Dayat.


            “Wah, modus! Modus!”


kata Dayat pada Puput.


             “Lho, kalau sama aku kok malah disuruh duduk,


tapi pas Puput nyenggol kakinya malah dikira modus. Aneh.” batin Oktia.


Hari


ketiga kuliah setelah liburan selama satu bulan. Oktia melangkahkan kakinya


menuju ruang kelas yang akan dipakai untuk perkuliahan jam pertama. Ternyata di


kelas sudah banyak teman-teman yang datang. Maklum, dosen yang mengajar mata


datang terlambat. Tiba-tiba saja Oktia dikejutkan dengan sapaan Dayat yang


sudah dua hari tak masuk kuliah.


            “Okti, entar ke


perpus yuh!” kata Dayat ketika Oktia berjalan melewati Damar yang sedang duduk


di garda terdepan bangku kuliah.


“Eh, Iya.” jawab


Oktia. Oktia sedikit kaget melihat Dayat yang baru saja masuk kuliah langsung


mengajaknya ke perpustakaan setelah dua hari dia tidak masuk kuliah dikarenakan


demam.


Setelah kuliah


selesai, Oktia, Risma, dan Okti ke perpus untuk belajar bersama Dayat. Dayat


datang membawa buku Matematika Fisika yang akan mereka pelajari.


“Kamu sudah sembuh


Yat?” tanya Oktia pada Dayat yang baru saja sembuh dari demam.


“Sudah kok.” jawabnya


singkat.


“Sampai Jogjanya

__ADS_1


kapan?”


“Selasa pagi aku


berangkat dari rumah.”


Setelah bertanya-tanya


kabar, kemudian mereka mulai membahas materi yang akan mereka pelajari. Kali


ini, Dayat membahas suatu bab di mana bab tersebut sudah pernah Dayat dan Oktia


pelajari sewaktu belajar bersama Anti dan Zizah. Namun, terhenti karena mereka


tidak melanjutkan belajar bersama lagi. Oktia agak terheran karena materi


tersebut tidak dimulai dari pengantar namun langsung melanjutkan materi yang


pernah mereka pelajari sewaktu di awal semester tiga. Jadi, dalam belajar


bareng kali ini hanya Oktia dan Dayat yang tahu alur materi yang sedang mereka


pelajari.


“Jadi, selama ini


nggak ada yang namanya belajar bareng lagi. Dan Dayat melanjutkan materi yang


pernah kami bahas sebelumnya. Wah kok so


sweet banget sih. Anti dan Zizah kok juga nggak diajak lagi. Dayat


ngelanjutin materi yang pernah ia ajarkan pada waktu dulu. Berarti dia emang


mengistimewakan aku. Tapi, kok bisa ya? Aneh.” pikir Oktia waktu itu setelah


Oktia mengetahui Dayat melanjutkan materi yang pernah mereka bahas sebelumnya.


Sepulang dari perpus,


Oktia masih tak habis pikir dengan sikap Dayat. Namun, Oktia tak begitu


mempedulikan sikap Dayat yang sepertinya mengistimewakannya. Oktia takut kalau


itu hanya perasaannya saja. Malam telah tiba, dinginnya malam dan hangatnya


selimut seolah mengajak Oktia untuk beranjak tidur. Dalam tidur Oktia bermimpi


berada dalam ruang yang putih tak ada apapun, terdengar sebuah nama terucap.


“Dayat”. Oktia terbangun dari tidurnya. Oktia tak ingat lagi mimpi apa


saja sewaktu Oktia tertidur. Hanya satu yang  ia ingat tepat sebelum Oktia terbangun dari tidurnya, Oktia mendengar


nama itu lalu terbangun.


“Dayat? Itukan


nama Dayat? Orang yang aku kenal dan punya nama itu kan cuma Dayat. Kenapa


terdengar nama Dayat dalam mimpiku? Kok bisa sih? Memangnya Dayat kenapa? Orang


yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan dalam otak dan hatiku kecuali di saat


dia memberiku nasehat itupun kadang-kadang aku melupakan nasehatnya, tiba-tiba


saja namanya menggema dalam mimpiku. Nama yang begitu jelas terdengar


‘Dayat’. Apa aku akan mendapat apa?” batin Oktia


bertanya-tanya setelah mendapatkan mimpi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2