
10. Mimpi yang Aneh
Ujian
ditutup dengan mata kuliah Elektronika Analog. Sebelum ujian dimulai Oktia ngobrol sebentar dengan teman-temannya. Wulan
datang, lalu mempersiapkan alat tulis dan perlengkapan lainnya yang digunakan
untuk ujian.
“Ha?!? Kalkulatorku
ketinggalan di kost. Tak ambil nggak ya? Kalau tak ambil waktunya udah mepet.” kata Wulan.
Berhubung waktu
sudah mepet untuk dilaksanakannya
ujian, Wulan memutuskan untuk meminjam kalkulator Oktia atau kalkulator Damar
berhubung Wulan duduk di antara Oktia dan Damar.
“Aku tuh masih inget
kata-katamu lho Ti, sewaktu aku lupa nggak bawa kalkulator. Kalau kalkulator
sudah nggak dipakai, langsung dimasukkan ke tas lagi.” kata Damar pada Oktia.
“Iya Mar?” kata
Oktia menanggapi perkataan Damar. “Ha? Kok Damar masih ingat dengan pesanku
sih? Aku aja sudah lupa kalau aku pernah berkata kayak gitu sama Damar.” batin
Oktia.
Ujian berlangsung
cukup menegangkan. Sebelum ujian di mulai, sang dosen mengatur tempat duduk
mereka agar tidak ada kecurangan dalam ujian. Oktia, Damar, dan Wulan saling share kalkulator. Jika Oktia sudah
selesai menghitung dan saatnya menulis rumus, kalkulatornya dipakai Wulan.
Begitu juga Damar. Ketika kalkulator Damar sedang nganggur, kalkulator Damar dipakai Wulan.
Setelah ujian,
Oktia, Risma, Ana, Okti ke kost Rina untuk meng-copy film, sambil menunggu waktu zuhur. Kebetulan, mereka sekelas
akan makan-makan di salah satu tempat makan di Jogja.
Sebelum ke rumah
makan yang dituju, mereka berkumpul di kampus sambil menunggu satu sama lain.
Setelah sampai di rumah makan, mereka memarkirkan motor mereka. Rumah makan
yang mereka datangi terletak di pinggir sawah. Mungkin bagi orang kota melihat
persawahan yang hijau akan senang. Tapi, tidak bagi Oktia. Rumah Oktia dekat
dengan persawahan, sewaktu pulang ke rumah pasti melihat hijaunya pepadian yang
ditanam petani.
Waktu makan telah
tiba. Mereka makan bersama. Setelah acara makan-makan selesai, mereka
berfoto-foto. Mereka berfoto bersama. Tempat di mana Oktia akan berfoto cukup
__ADS_1
sempit dan hampir masuk ke area persawahan, Dayat ada di sebelah Oktia duduk di
pinggir gazebo. Oktia meminta Dayat untuk sedikit bergeser memberinya tempat
untuk ikut duduk di pinggir gazebo “Geser dikit dong Yat!”. Dayat malah menepuk
pahanya sambil berkata “Sini lho!” mengisyaratkan Oktia untuk duduk
dipangkuannya.
“Nggak.” kata Oktia
sambil menggelengkan kepala. “Masak aku duduk di pangkuan laki-laki yang belum
halal untukku?” batin Oktia.
Sewaktu Puput ikut
berfoto dan ber-action duduk di
pinggir gazebo, tak sengaja Puput menyenggol kaki Dayat.
“Wah, modus! Modus!”
kata Dayat pada Puput.
“Lho, kalau sama aku kok malah disuruh duduk,
tapi pas Puput nyenggol kakinya malah dikira modus. Aneh.” batin Oktia.
Hari
ketiga kuliah setelah liburan selama satu bulan. Oktia melangkahkan kakinya
menuju ruang kelas yang akan dipakai untuk perkuliahan jam pertama. Ternyata di
kelas sudah banyak teman-teman yang datang. Maklum, dosen yang mengajar mata
datang terlambat. Tiba-tiba saja Oktia dikejutkan dengan sapaan Dayat yang
sudah dua hari tak masuk kuliah.
“Okti, entar ke
perpus yuh!” kata Dayat ketika Oktia berjalan melewati Damar yang sedang duduk
di garda terdepan bangku kuliah.
“Eh, Iya.” jawab
Oktia. Oktia sedikit kaget melihat Dayat yang baru saja masuk kuliah langsung
mengajaknya ke perpustakaan setelah dua hari dia tidak masuk kuliah dikarenakan
demam.
Setelah kuliah
selesai, Oktia, Risma, dan Okti ke perpus untuk belajar bersama Dayat. Dayat
datang membawa buku Matematika Fisika yang akan mereka pelajari.
“Kamu sudah sembuh
Yat?” tanya Oktia pada Dayat yang baru saja sembuh dari demam.
“Sudah kok.” jawabnya
singkat.
“Sampai Jogjanya
__ADS_1
kapan?”
“Selasa pagi aku
berangkat dari rumah.”
Setelah bertanya-tanya
kabar, kemudian mereka mulai membahas materi yang akan mereka pelajari. Kali
ini, Dayat membahas suatu bab di mana bab tersebut sudah pernah Dayat dan Oktia
pelajari sewaktu belajar bersama Anti dan Zizah. Namun, terhenti karena mereka
tidak melanjutkan belajar bersama lagi. Oktia agak terheran karena materi
tersebut tidak dimulai dari pengantar namun langsung melanjutkan materi yang
pernah mereka pelajari sewaktu di awal semester tiga. Jadi, dalam belajar
bareng kali ini hanya Oktia dan Dayat yang tahu alur materi yang sedang mereka
pelajari.
“Jadi, selama ini
nggak ada yang namanya belajar bareng lagi. Dan Dayat melanjutkan materi yang
pernah kami bahas sebelumnya. Wah kok so
sweet banget sih. Anti dan Zizah kok juga nggak diajak lagi. Dayat
ngelanjutin materi yang pernah ia ajarkan pada waktu dulu. Berarti dia emang
mengistimewakan aku. Tapi, kok bisa ya? Aneh.” pikir Oktia waktu itu setelah
Oktia mengetahui Dayat melanjutkan materi yang pernah mereka bahas sebelumnya.
Sepulang dari perpus,
Oktia masih tak habis pikir dengan sikap Dayat. Namun, Oktia tak begitu
mempedulikan sikap Dayat yang sepertinya mengistimewakannya. Oktia takut kalau
itu hanya perasaannya saja. Malam telah tiba, dinginnya malam dan hangatnya
selimut seolah mengajak Oktia untuk beranjak tidur. Dalam tidur Oktia bermimpi
berada dalam ruang yang putih tak ada apapun, terdengar sebuah nama terucap.
“Dayat”. Oktia terbangun dari tidurnya. Oktia tak ingat lagi mimpi apa
saja sewaktu Oktia tertidur. Hanya satu yang ia ingat tepat sebelum Oktia terbangun dari tidurnya, Oktia mendengar
nama itu lalu terbangun.
“Dayat? Itukan
nama Dayat? Orang yang aku kenal dan punya nama itu kan cuma Dayat. Kenapa
terdengar nama Dayat dalam mimpiku? Kok bisa sih? Memangnya Dayat kenapa? Orang
yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan dalam otak dan hatiku kecuali di saat
dia memberiku nasehat itupun kadang-kadang aku melupakan nasehatnya, tiba-tiba
saja namanya menggema dalam mimpiku. Nama yang begitu jelas terdengar
‘Dayat’. Apa aku akan mendapat apa?” batin Oktia
bertanya-tanya setelah mendapatkan mimpi seperti itu.
__ADS_1