Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 22


__ADS_3

Curhat


            Oktia


yang sudah gemas dengan sikap Dayat memilih untuk curhat dengan Risma. Ia tak


kuasa lagi menahan beban-beban kebingungannya melihat sikap Dayat padanya.


Meski tak ada kuliah, Oktia tetap pergi ke kampus untuk praktikum. Oktia sudah


sampai di laboratorium Elektronika dan Instrumuntasi. Risma datang meletakkan


tasnya di rak tas yang khusus dipersiapkan untuk meletakkan tas bagi para


mahasiswa yang praktikum.


            “Ris, kamu nanti ada


acara nggak?”


            “Nggak. Ada apa?”


            “Aku mau tanya


sesuatu ke kamu.”


            “Oh, iya.”


            Setelah praktikum


selesai, Oktia mengajak Risma untuk ngobrol berdua. Mereka ngobrol di teras


laboratorium lantai satu.


            “Kamu mau tanya apa


Ti?”


            Oktia belum sempat


menjawab pertanyaan Risma. Tiba-tiba Okti datang ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua.


            “Kok nggak pada


pulang nungguin apa sih?” tanya Okti.


            “Aku pulangnya


nunggu jam lima. Risma nunggu jam empat. Kamu mau nunggu jam berapa?” tanya


Oktia.


            “Ha? Kalau gitu aku


pulang aja deh.” kata Okti yang kemudian pergi meninggalkan Oktia dan Risma.


            “Jadi gini Ris.


Kayaknya Dayat itu suka sama aku deh?”


            “Ha? Siapa? Dayat?”


            “Iya, waktu dia SMS


aku, pas aku tanya entar bisa ke perpus nggak ke kamu itu lho. Aku jadi


deg-degan. Deg-degan itu pernah aku alamin waktu aku SMA. Deg-degan itu


nyadarin aku kalau orang itu suka denganku.”


            “Tapi, Dayat itu low


profile. Susah ditebak. Beda dengan Bowo yang suka dengan Rensa perhatiannya ya


cuma sama Rensa.”


            “Ya sebenarnya aku


juga bingung Ris. Tapi dia pernah curhat ke Wulan kalau dia pernah nembak cewek


tapi ditolak. Dia bilangnya apa karena kulitnya putih terus ceweknya nggak


mau.”


            “Dia kalau sama


cewek deket sama siapa aja sih?”


            “Aku pernah denger


nama Nila disebut.”


            “Nila kelas B?”


            “Iya.”


            “Nila itu kan putih


berarti bukan dia dong.”


            “Ya maka dari itu.


Aku juga pernah lihat dia galau gara-gara aku duduk di sampingnya Damar. Coba


deh baca SMS-SMS dari dia.”


            “Bahasanya tu kaya


bahasa cowok ke ceweknya. Kita kalau ngomongin dia pake kode aja Ti. W atau H?”


            “Jangan O aja.”


            Panjang lebar Oktia


menceritakan sikap Dayat yang suka padanya. Namun, sepertinya Risma masih ragu


dengan cerita Oktia. Waktu sudah sore. Mereka berjalan ke parkiran untuk


mengambil motor dan akhirnya pulang.


            “Tapi, Dayat itu


lumayan lho Ti.”


            “Rasa suka itu nggak


cuma ditentuin dari tampang Ris. Hati yang paling nentuin.”


            “Kalau kamu sampai


jadian sama dia pasti mengguncangkan kelas.”


            “Hah!! tau lah.”


Senin


pagi. Kuliah akan dimulai. Semua teman-teman sudah berkumpul di kelas. Dayat


duduk di pojok depan kelas.


            “Iya, yang cantik

__ADS_1


itu kan?” kata Dayat pada seseorang menanyakan seseorang yang dicarinya.


            “Sepertinya aku


mulai bisa membaca pikiran kamu lho Ti.” kata Risma pada Oktia yang melihat


raut muka Oktia sedang bad mood.


Setelah kuliah jam


pertama selesai, mereka menuju laboratorium untuk kuliah praktikum. Sehabis


praktikum, Oktia memilih keluar belakangan sambil mengemasi barang-barangnya


ditemani Risma. Dayat dan temannya Nudi seperti sedang menunggu seseorang.


Dengan kondisi seperti itu, Nila lewat. Dayat dan Nila saling bertegur sapa.


Tak hanya itu, Dayat seperti sedang menggoda Nila seorang gadis putih berparas


cantik. Nila tersenyum setelah melewati Dayat. Mood Oktia mendadak berubah dari cerah bersinar menjadi mendung


gelap dan badai angin topan entah apa sebabnya.


“Kamu badmood lagi?” kata Risma kepada Oktia.


“Hmm... Iya.” jawab


Oktia singkat sambil me-resetmood yang mendadak berubah.


Oktia dan Risma


berjalan melewati balkon Lab. Beberapa langkah lagi Oktia melewati Dayat dan


Nudi. Oktia lebih memilih menundukkan pandangannya. Dayat dan Nudi berpaling ke


arah pemandangan halaman dari balkon laboratorium. Dengan posisi mereka yang


membelakangi Oktia, Dayat dan Nudi terbatuk-batuk dengan sengaja. Beberapa


langkah setelah Oktia melewati Dayat dan Nudi, celotehan Dayat dan Nudi


terdengar dari belakang. Dayat dan Nudi berjalan di belakang Oktia. Langkah Oktia


seperti diikuti. Menuruni tangga Lab, menyebrang jalan, melewati trotoar,


menuju gedung kuliah. Masih dalam kondisi mood seperti sesaat keluar laboratorium Oktia mempercapat langkahnya.


“Jalan lebih cepat yuk


Ris, mood-ku masih nggak enak nih!” kata Oktia pada Risma.


“Ayo!” sahut Risma.


Sekiranya Oktia


berjalan lebih cepat dan sudah agak jauh dari Dayat dan Nudi, Oktia memasuki


gedung kuliah. Dengan denah gedung kuliah seperti ini, Oktia memilih untuk


lewat jalan lain meskipun sedikit memutar dan lebih jauh untuk sampai ruang


kelas. Oktia menoleh ke arah belakang untuk memastikan Dayat dan Nudi tak


melihatnya memilih jalan lain. Oktia menarik tangan Risma sambil berlari, agar


Oktia dapat menghindari Dayat dan Nudi. Waktu itu, Oktia mengenakan rok panjang


yang agak ribet kalau buat lari.


Setelah memastikan Risma ikut bersama Oktia, Oktia sedikit mengangkat roknya


agar bisa lari lebih cepat melewati lorong kampus. Melewati anak tangga menuju


melepaskan emosinya. Karena terengah-engah Oktia dan Risma memilih mampir ke


kamar mandi untuk mengatur nafas kembali dan cuci tangan.


“Ris, tadi itu rasanya


seperti Cinderela yang lari karena takut ketahuan jati dirinya oleh pangeran di


pesta dansa. Kira-kira sepatuku tertinggal nggak ya hahaha....” kata Oktia pada


Risma sambil tertawa-tawa setelah sekian lama Oktia bad mood. Di depan washtafel yang ada cerminnya Oktia mencuci


tangan, sambil memastikan mimik mukanya sudah normal kembali.


“Kalau sepatumu


tertinggal pasti yang nemuin juga Dayat hahaha....” Sambung Risma.


Oktia dan Risma keluar


dari kamar mandi menuju ruang kelas untuk kuliah. Dalam perjalanan menuju ruang


kuliah, seperti biasanya Oktia curhat tentang kelakuan Dayat yang menurutnya


aneh bin bingungke apa maunya dia


sama Oktia.


“Ris, aku tuh capek!!!


Apa sih maunya Dia?” keluh Oktia pada Risma.


“Ya nggak tahu. Udah


deh jalanin aja!” nasehat Risma.


Tinggal beberapa meter


lagi sampai di ruang kelas. Oktia berhenti berkeluh-kesah pada Risma. Setelah


menapaki beberapa anak tangga, Oktia menoleh ke arah kanan. Yaitu ruang kamar


mandi laki-laki yang pintunya terbuka. Jeglek.


Oktia melihat Dayat sedang mencuci tangannya di washtafel kamar mandi yang


ternyata juga menoleh ke arah Oktia dengan tatapan matanya yang tajam ke arah


Oktia.


“Ups....” Oktia


keceplosan. Setelahnya Oktia menghela nafasnya sambil melepas beban emosi yang


cukup berat.


“Untung kita tadi udah


nggak ngomongin orang lagi” kata Oktia pada Risma.


Waktu itu Dayat segera


mengikuti langkah Oktia menuju ruang kelas. Oktia memilih duduk di pojok depan


ruang kelas. Karena,  ia pikir biasanya


dosen yang mengajar tidak datang. Oktia melihat Dayat duduk di baris nomor tiga

__ADS_1


agak tengah. Ekspresi mukanya seperti orang yang galau dan kecewa. Mungkin dia


kecewa karena Oktia lari untuk menghindarinya. Oktia memilih mengajak Risma


keluar kelas daripada Oktia bad mood lagi gara-gara melihat ekspresi muka Dayat. Seperti biasanya, dalam kondisi


seperti ini Oktia pasti akan curhat. Lagi pula, yang ada di depan kelas cuma


Oktia dan Risma.


“Ris, kapan sih ini


semua berakhir? aku tuh capek!!!”


“Udah deh pasti akan


berakhir. Coba deh dengerin ini.” Risma menyodorkan HP yang sudah terputar


sebuah lagu.


Ucapkanlah kasih satu kata yang kunantikan


Sebab kutak mampu membaca matamu


Mendengar bisikmu


Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu


Sebab kutak sanggup mengartikan getar ini


Sebab kumeragu pada dirimu


Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada


Dalam rinai hujan dalam terang bulan


Juga dalam sedu sedan


Mengapa sulit mengaku cinta padahal ia terasa


Dalam rindu dendam hening malam


Cinta terasa ada


            Dengan


cepat Oktia menjauhkan HP itu dari telinganya. Ternyata Risma sedang menyindir


Oktia. Ana keluar kelas dan akhirnya ikut ngobrol dengan Oktia dan Risma.


Mereka membicarakan pengalaman mereka yang baru saja melewati weekend. Setelahnya membicarakan


keinginan masing-masing untuk berada di suatu tempat.


“Aku inginnya berada di suatu pegunungan yang


luas dan hijau, lalu aku lari-lari di sana.” ungkap Oktia.


“Lari-larinya seperti pada film My Heart ya?”


sahut Ana.


“Lengkap sudah sindiran hari ini. Lagu yang


diputar Risma. Film yang dikatakan Ana.” batin Oktia.


Karena dirasa waktu untuk menunggu dosen sudah


lewat. Mereka memilih untuk pulang. Oktia masuk kelas dan mengangkat tasnya.


Oktia melihat Dayat berjalan ke depan kelas, sambil berkata nggak jelas.


“Bukan rizkinya.” gumamnya.


            Kemudian Oktia dan


Risma ke luar kelas. Ternyata Ana dan Okti mengikuti Oktia dan Risma. Akhirnya


mereka keluar gedung kampus sambil ngobrol nggak jelas. Damar menyusul mereka


berempat. Akhirnya mereka berlima jadi ngobrol nggak jelas. Ana, Okti, dan


Risma langsung ke perpus, Oktia ke kost dulu, ternyata Damar juga mau ke


perpustakaan. Oktia dan Damar berjalan lebih cepat meninggalkan Ana, Okti dan


Risma. Oktia berbelok ke arah kanan berjalan menuju arah parkiran fakultas.


Damar tetap berjalan lurus sepertinya Damar akan langsung ke perpustakaan.


“Loh katanya mau ke perpus?” tanya Damar.


“Iya, tapi aku ke kost dulu.” sahut Oktia.


            Oktia tetap dengan


langkahnya. Damar berjalan berbalik arah menyusul Oktia.


“Katanya mau ke perpus? Kok nggak jadi?”


“Aku mau ambil motor dulu.”


            Akhirnya, mereka


berdua berjalan bersama menuju parkiran sambil berbincang-bincang. Kesempatan


seperti ini jarang Oktia dapatkan setelah Dayat seolah membatasi pergaulan


Oktia dengan Damar. Berjalan bersama Damar membuat Oktia cukup terengah-engah.


Satu langkah bagi Damar adalah dua langkah bagi Oktia. Maklum, Oktia menyadari


dirinya yang kecil, Damar seorang cowok yang tinggi besar. Damar berjalan lebih


dulu menyebrang jalan. Oktia melihat langkah Damar yang mulai menyebrang. Oktia


cukup kesulitan dalam menyebrang. Seperti biasa kalau berjalan sendirian


biasanya Oktia asal nyebrang yang kadang membuat dirinya membahayakan dirinya


sendiri. Memasuki area parkir, mungkin jarak antara Oktia dan Damar sekitar


sepuluh meter.


“Hai Wo!” sapa Damar pada Bowo yang kebetulan


mau pergi setelah mengambil motor. Oktia mencari kunci motornya sebelum pas


tepat di samping motor Oktia. Nudi mengamati Oktia dengan tatapan mata yang


tajam dari atas motornya sambil menunggu Bowo.


 “Mati aku! Apa yang dia pikirkan setelah


melihatku berjalan di belakang Damar? Apa juga yang Bowo mungkin katakan


setelah melihat Damar berjalan tidak jauh di depanku.” batin Oktia. Oktia takut


akan terjadi apa-apa pada Damar setelah kejadian ini. Nudi dan Bowo akhirnya


pergi. Damar men-stater motornya,

__ADS_1


yang ternyata menghalangi motor Oktia untuk keluar.


__ADS_2