
Curhat
Oktia
yang sudah gemas dengan sikap Dayat memilih untuk curhat dengan Risma. Ia tak
kuasa lagi menahan beban-beban kebingungannya melihat sikap Dayat padanya.
Meski tak ada kuliah, Oktia tetap pergi ke kampus untuk praktikum. Oktia sudah
sampai di laboratorium Elektronika dan Instrumuntasi. Risma datang meletakkan
tasnya di rak tas yang khusus dipersiapkan untuk meletakkan tas bagi para
mahasiswa yang praktikum.
“Ris, kamu nanti ada
acara nggak?”
“Nggak. Ada apa?”
“Aku mau tanya
sesuatu ke kamu.”
“Oh, iya.”
Setelah praktikum
selesai, Oktia mengajak Risma untuk ngobrol berdua. Mereka ngobrol di teras
laboratorium lantai satu.
“Kamu mau tanya apa
Ti?”
Oktia belum sempat
menjawab pertanyaan Risma. Tiba-tiba Okti datang ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua.
“Kok nggak pada
pulang nungguin apa sih?” tanya Okti.
“Aku pulangnya
nunggu jam lima. Risma nunggu jam empat. Kamu mau nunggu jam berapa?” tanya
Oktia.
“Ha? Kalau gitu aku
pulang aja deh.” kata Okti yang kemudian pergi meninggalkan Oktia dan Risma.
“Jadi gini Ris.
Kayaknya Dayat itu suka sama aku deh?”
“Ha? Siapa? Dayat?”
“Iya, waktu dia SMS
aku, pas aku tanya entar bisa ke perpus nggak ke kamu itu lho. Aku jadi
deg-degan. Deg-degan itu pernah aku alamin waktu aku SMA. Deg-degan itu
nyadarin aku kalau orang itu suka denganku.”
“Tapi, Dayat itu low
profile. Susah ditebak. Beda dengan Bowo yang suka dengan Rensa perhatiannya ya
cuma sama Rensa.”
“Ya sebenarnya aku
juga bingung Ris. Tapi dia pernah curhat ke Wulan kalau dia pernah nembak cewek
tapi ditolak. Dia bilangnya apa karena kulitnya putih terus ceweknya nggak
mau.”
“Dia kalau sama
cewek deket sama siapa aja sih?”
“Aku pernah denger
nama Nila disebut.”
“Nila kelas B?”
“Iya.”
“Nila itu kan putih
berarti bukan dia dong.”
“Ya maka dari itu.
Aku juga pernah lihat dia galau gara-gara aku duduk di sampingnya Damar. Coba
deh baca SMS-SMS dari dia.”
“Bahasanya tu kaya
bahasa cowok ke ceweknya. Kita kalau ngomongin dia pake kode aja Ti. W atau H?”
“Jangan O aja.”
Panjang lebar Oktia
menceritakan sikap Dayat yang suka padanya. Namun, sepertinya Risma masih ragu
dengan cerita Oktia. Waktu sudah sore. Mereka berjalan ke parkiran untuk
mengambil motor dan akhirnya pulang.
“Tapi, Dayat itu
lumayan lho Ti.”
“Rasa suka itu nggak
cuma ditentuin dari tampang Ris. Hati yang paling nentuin.”
“Kalau kamu sampai
jadian sama dia pasti mengguncangkan kelas.”
“Hah!! tau lah.”
Senin
pagi. Kuliah akan dimulai. Semua teman-teman sudah berkumpul di kelas. Dayat
duduk di pojok depan kelas.
“Iya, yang cantik
__ADS_1
itu kan?” kata Dayat pada seseorang menanyakan seseorang yang dicarinya.
“Sepertinya aku
mulai bisa membaca pikiran kamu lho Ti.” kata Risma pada Oktia yang melihat
raut muka Oktia sedang bad mood.
Setelah kuliah jam
pertama selesai, mereka menuju laboratorium untuk kuliah praktikum. Sehabis
praktikum, Oktia memilih keluar belakangan sambil mengemasi barang-barangnya
ditemani Risma. Dayat dan temannya Nudi seperti sedang menunggu seseorang.
Dengan kondisi seperti itu, Nila lewat. Dayat dan Nila saling bertegur sapa.
Tak hanya itu, Dayat seperti sedang menggoda Nila seorang gadis putih berparas
cantik. Nila tersenyum setelah melewati Dayat. Mood Oktia mendadak berubah dari cerah bersinar menjadi mendung
gelap dan badai angin topan entah apa sebabnya.
“Kamu badmood lagi?” kata Risma kepada Oktia.
“Hmm... Iya.” jawab
Oktia singkat sambil me-resetmood yang mendadak berubah.
Oktia dan Risma
berjalan melewati balkon Lab. Beberapa langkah lagi Oktia melewati Dayat dan
Nudi. Oktia lebih memilih menundukkan pandangannya. Dayat dan Nudi berpaling ke
arah pemandangan halaman dari balkon laboratorium. Dengan posisi mereka yang
membelakangi Oktia, Dayat dan Nudi terbatuk-batuk dengan sengaja. Beberapa
langkah setelah Oktia melewati Dayat dan Nudi, celotehan Dayat dan Nudi
terdengar dari belakang. Dayat dan Nudi berjalan di belakang Oktia. Langkah Oktia
seperti diikuti. Menuruni tangga Lab, menyebrang jalan, melewati trotoar,
menuju gedung kuliah. Masih dalam kondisi mood seperti sesaat keluar laboratorium Oktia mempercapat langkahnya.
“Jalan lebih cepat yuk
Ris, mood-ku masih nggak enak nih!” kata Oktia pada Risma.
“Ayo!” sahut Risma.
Sekiranya Oktia
berjalan lebih cepat dan sudah agak jauh dari Dayat dan Nudi, Oktia memasuki
gedung kuliah. Dengan denah gedung kuliah seperti ini, Oktia memilih untuk
lewat jalan lain meskipun sedikit memutar dan lebih jauh untuk sampai ruang
kelas. Oktia menoleh ke arah belakang untuk memastikan Dayat dan Nudi tak
melihatnya memilih jalan lain. Oktia menarik tangan Risma sambil berlari, agar
Oktia dapat menghindari Dayat dan Nudi. Waktu itu, Oktia mengenakan rok panjang
yang agak ribet kalau buat lari.
Setelah memastikan Risma ikut bersama Oktia, Oktia sedikit mengangkat roknya
agar bisa lari lebih cepat melewati lorong kampus. Melewati anak tangga menuju
melepaskan emosinya. Karena terengah-engah Oktia dan Risma memilih mampir ke
kamar mandi untuk mengatur nafas kembali dan cuci tangan.
“Ris, tadi itu rasanya
seperti Cinderela yang lari karena takut ketahuan jati dirinya oleh pangeran di
pesta dansa. Kira-kira sepatuku tertinggal nggak ya hahaha....” kata Oktia pada
Risma sambil tertawa-tawa setelah sekian lama Oktia bad mood. Di depan washtafel yang ada cerminnya Oktia mencuci
tangan, sambil memastikan mimik mukanya sudah normal kembali.
“Kalau sepatumu
tertinggal pasti yang nemuin juga Dayat hahaha....” Sambung Risma.
Oktia dan Risma keluar
dari kamar mandi menuju ruang kelas untuk kuliah. Dalam perjalanan menuju ruang
kuliah, seperti biasanya Oktia curhat tentang kelakuan Dayat yang menurutnya
aneh bin bingungke apa maunya dia
sama Oktia.
“Ris, aku tuh capek!!!
Apa sih maunya Dia?” keluh Oktia pada Risma.
“Ya nggak tahu. Udah
deh jalanin aja!” nasehat Risma.
Tinggal beberapa meter
lagi sampai di ruang kelas. Oktia berhenti berkeluh-kesah pada Risma. Setelah
menapaki beberapa anak tangga, Oktia menoleh ke arah kanan. Yaitu ruang kamar
mandi laki-laki yang pintunya terbuka. Jeglek.
Oktia melihat Dayat sedang mencuci tangannya di washtafel kamar mandi yang
ternyata juga menoleh ke arah Oktia dengan tatapan matanya yang tajam ke arah
Oktia.
“Ups....” Oktia
keceplosan. Setelahnya Oktia menghela nafasnya sambil melepas beban emosi yang
cukup berat.
“Untung kita tadi udah
nggak ngomongin orang lagi” kata Oktia pada Risma.
Waktu itu Dayat segera
mengikuti langkah Oktia menuju ruang kelas. Oktia memilih duduk di pojok depan
ruang kelas. Karena, ia pikir biasanya
dosen yang mengajar tidak datang. Oktia melihat Dayat duduk di baris nomor tiga
__ADS_1
agak tengah. Ekspresi mukanya seperti orang yang galau dan kecewa. Mungkin dia
kecewa karena Oktia lari untuk menghindarinya. Oktia memilih mengajak Risma
keluar kelas daripada Oktia bad mood lagi gara-gara melihat ekspresi muka Dayat. Seperti biasanya, dalam kondisi
seperti ini Oktia pasti akan curhat. Lagi pula, yang ada di depan kelas cuma
Oktia dan Risma.
“Ris, kapan sih ini
semua berakhir? aku tuh capek!!!”
“Udah deh pasti akan
berakhir. Coba deh dengerin ini.” Risma menyodorkan HP yang sudah terputar
sebuah lagu.
Ucapkanlah kasih satu kata yang kunantikan
Sebab kutak mampu membaca matamu
Mendengar bisikmu
Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
Sebab kutak sanggup mengartikan getar ini
Sebab kumeragu pada dirimu
Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada
Dalam rinai hujan dalam terang bulan
Juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta padahal ia terasa
Dalam rindu dendam hening malam
Cinta terasa ada
Dengan
cepat Oktia menjauhkan HP itu dari telinganya. Ternyata Risma sedang menyindir
Oktia. Ana keluar kelas dan akhirnya ikut ngobrol dengan Oktia dan Risma.
Mereka membicarakan pengalaman mereka yang baru saja melewati weekend. Setelahnya membicarakan
keinginan masing-masing untuk berada di suatu tempat.
“Aku inginnya berada di suatu pegunungan yang
luas dan hijau, lalu aku lari-lari di sana.” ungkap Oktia.
“Lari-larinya seperti pada film My Heart ya?”
sahut Ana.
“Lengkap sudah sindiran hari ini. Lagu yang
diputar Risma. Film yang dikatakan Ana.” batin Oktia.
Karena dirasa waktu untuk menunggu dosen sudah
lewat. Mereka memilih untuk pulang. Oktia masuk kelas dan mengangkat tasnya.
Oktia melihat Dayat berjalan ke depan kelas, sambil berkata nggak jelas.
“Bukan rizkinya.” gumamnya.
Kemudian Oktia dan
Risma ke luar kelas. Ternyata Ana dan Okti mengikuti Oktia dan Risma. Akhirnya
mereka keluar gedung kampus sambil ngobrol nggak jelas. Damar menyusul mereka
berempat. Akhirnya mereka berlima jadi ngobrol nggak jelas. Ana, Okti, dan
Risma langsung ke perpus, Oktia ke kost dulu, ternyata Damar juga mau ke
perpustakaan. Oktia dan Damar berjalan lebih cepat meninggalkan Ana, Okti dan
Risma. Oktia berbelok ke arah kanan berjalan menuju arah parkiran fakultas.
Damar tetap berjalan lurus sepertinya Damar akan langsung ke perpustakaan.
“Loh katanya mau ke perpus?” tanya Damar.
“Iya, tapi aku ke kost dulu.” sahut Oktia.
Oktia tetap dengan
langkahnya. Damar berjalan berbalik arah menyusul Oktia.
“Katanya mau ke perpus? Kok nggak jadi?”
“Aku mau ambil motor dulu.”
Akhirnya, mereka
berdua berjalan bersama menuju parkiran sambil berbincang-bincang. Kesempatan
seperti ini jarang Oktia dapatkan setelah Dayat seolah membatasi pergaulan
Oktia dengan Damar. Berjalan bersama Damar membuat Oktia cukup terengah-engah.
Satu langkah bagi Damar adalah dua langkah bagi Oktia. Maklum, Oktia menyadari
dirinya yang kecil, Damar seorang cowok yang tinggi besar. Damar berjalan lebih
dulu menyebrang jalan. Oktia melihat langkah Damar yang mulai menyebrang. Oktia
cukup kesulitan dalam menyebrang. Seperti biasa kalau berjalan sendirian
biasanya Oktia asal nyebrang yang kadang membuat dirinya membahayakan dirinya
sendiri. Memasuki area parkir, mungkin jarak antara Oktia dan Damar sekitar
sepuluh meter.
“Hai Wo!” sapa Damar pada Bowo yang kebetulan
mau pergi setelah mengambil motor. Oktia mencari kunci motornya sebelum pas
tepat di samping motor Oktia. Nudi mengamati Oktia dengan tatapan mata yang
tajam dari atas motornya sambil menunggu Bowo.
“Mati aku! Apa yang dia pikirkan setelah
melihatku berjalan di belakang Damar? Apa juga yang Bowo mungkin katakan
setelah melihat Damar berjalan tidak jauh di depanku.” batin Oktia. Oktia takut
akan terjadi apa-apa pada Damar setelah kejadian ini. Nudi dan Bowo akhirnya
pergi. Damar men-stater motornya,
__ADS_1
yang ternyata menghalangi motor Oktia untuk keluar.