Roller Coaster

Roller Coaster
Episode 9


__ADS_3

9. Waktu Cepat Berlalu


            Ujian


Matematika. Ujian dilaksanakan jam satu siang. Pagi itu Oktia sudah


bersiap-siap mengenakan pakaian yang rapi karena ia berencana untuk ke


perpustakaan dan belajar di sana. Bak gayung bersambut. HP-nya berbunyi. SMS


dari Dayat masuk.


“Ke perpus yuh!” isi SMS Dayat.


“Ok. Siap berangkat.” balas Oktia.


“Tapi aku di deksel dulu ada urusan.”


Setelah bersiap-siap ia langkahkan kakinya ke


perpustakaan. Menaiki anak tangga perpustakaan menuju lantai dua tempat di mana


mereka biasa belajar besama. Oktia melihat Dayat sudah tiba dan duduk di salah


satu bangku di perpustakaan. Namun, dia hanya sendirian.


“Yang lain mana? Kok belum pada datang. Serasa


dijebak ini.” batin Oktia.


“Hai Yat!” sapa Oktia pada Dayat yang lebih dulu


datang.


“Hai!” sapanya balik.


Bangku sebelah kanan Dayat kosong. Sebelah kiri


Dayat meskipun ada mejanya namun tak ada kursinya. Oktia memilih duduk di

__ADS_1


bangku sebelah kiri meja yang tak ada kursinya. Ada jarak antara mereka berdua.


Lagi pula Oktia tak mau terlihat hanya berdua saja dengan Dayat meskipun untuk


belajar bersama. Waktu itu Oktia sedang dekat dengan Damar. Damar kadang ke


kost-nya untuk mengerjakan laporan bersama, merekapun sering duduk bersebelahan


ketika kuliah berlangsung. Terbiasa bersama Damar, membuat hati Oktia tak


sanggup bila tiba-tiba saja ia belajar hanya berdua saja dengan Dayat. Meskipun


Oktia dan Damar hanya sebatas teman. Namun, hal itu sulit untuk Oktia lakukan.


Oktia tak sampai hati bila sebelumnya dekat dengan Damar tiba-tiba belajar


bersama berdua dengan Dayat. Sekitar satu jam, belum ada satupun teman yang


datang.


“Berarti, tadi yang di-SMS cuma aku.” batin


Oktia.


datang ke perpus via SMS. Meskipun Oktia belajar, namun Oktia tetap


memperhatikan tingkah laku Dayat. Ia melihat sepertinya Dayat kesal, lalu


menendang-nendang meja sehingga menimbulkan suara. Tanggannya memencet-mencet


tuts-tuts HP-nya. Mungkin dia SMS beberapa teman untuk datang ke perpustakaan.


Beberapa waktu kemudian, Rina dan Anti datang. Barulah Oktia mau mendekat dan


bertanya tentang materi yang belum ia bisa.


“Waktunya kok cepet banget sih? Nggak terasa


udah mau Zuhur. Gara-gara kamu duduk di dekatku ya Rin?” kata Dayat pada Rina

__ADS_1


yang sedang duduk di sebelah kiri Dayat. Sedangkan Oktia duduk di sebelah kanan


Dayat karena Oktia menanyakan materi yang belum begitu Oktia pahami.


Waktu sudah mendekati Zuhur. Mereka menghentikan


belajar bersama. Setelah sampai di lantai dasar, Oktia merasa ingin ke kamar


mandi untuk buang air kecil.


“Aku ke kamar mandi dulu ya.” pamit Oktia pada


Rina dan Anti. Setelah beberapa langkah dari mereka. Oktia mendengar mereka


tertawa cekikikan.


“Mereka itu ngetawain apa sih? Jangan-jangan


ngetawain kejadian tadi?” batin Oktia bertanya-tanya dan berfikiran negatif.


            Malam di mana ujian


Elektronika Analog akan dilaksanakan tiba. Tiwi ke kost Oktia untuk belajar


bersama Oktia. Setelah lelah belajar, mereka berbincang-bincang sambil melepas


lelah. Banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk teman-teman sekelas mereka.


Tak terkecuali Dayat.


            “Kata kakak tingkat,


yang bisa merubah sikap Dayat itu cuma pacarnya.” kata Tiwi.


            “Hah? cuma pacarnya? Ibunya atau


ayahnya masak nggak bisa? Kira-kira pacarnya Dayat itu orangnya kayak apa ya?


Tapi, kok sampai saat ini aku belum pernah lihat Dayat dekat dengan seseorang.

__ADS_1


Menurutku, pacarnya Dayat itu orangnya berhati kuat. Buktinya cuma pacarnya


yang bisa merubah Dayat yang keras kepala.” batin Oktia bertanya-tanya.


__ADS_2